Sword Akademi

Sword Akademi
Sword Akademi " maaf aku tidak bisa melindungimu "


__ADS_3

    Hawa angin yang mengalir dari langit yang diserrtai hawa panas berbenteran di udara membuat tidak stabilnya suhu bahkan suasana di sekitar menjadi sedikit menyiksa tenggorokan.


    " kalian berdua membuat suasana menjadi serasa aku ingin minum jus jeruk di tepi pantai, serasa dahaga yang di sebabkan angin panas yang berhembus." Ryuma seorang diri sedang berhadapan dengan para ranking s


    " aku yang akan menyelesaikan ini. setelah itu akan kuurus kau nanti." jawab ketus Asuna kepada Ryuma karena dianggap pengganggu.


    udara semakin menjadi berangin tanda Asuna sedang marah. Tanpa basa-basi Asuna menyerang Thamuz.


    " cring..." Thamus menanggapi serangan Asuna dengan santai.


    " oe oe oe, ini baru permulaan, janagan buru-buru." Thamus mengeluarkan Hawa panas dari pedangnya dan melontarkan Asuna.


    " Apa ini. seranganku tidak berarti tadi."


    Asuna tidak berhenti menyerang dan semua serangaannya berhasil di patahkan oleh Thamuz.


    "Apa hanya segitu seranganmu, sekarang giliranku. Bakar habis fire Abyss.


   Pedang Thamus menjadi dua dan menyerang Asuna secara brutal, saat serangan yang akan mengenai Asuna disitu Ryuma menangkisnya.


    "cring breg." serangan yang tak terhindarkan berhasil di tangkis Ryuma.


    "Cepat sekali dia.datang dari mana? dia dari tadi cuma berdiri disana dan bisa menagkis seranganku." Thamuz yang heran dengan kecepatan Ryuma yang melebihi kecepatan angin itu tanpa suara menangkis serangan yang di arahkan kepada Asuna.


    "hehehe, kali ini aku menyelamatkanmu."


    " jangan pasang muka mesummu itu didepan Asuna." suara Miki terdengar jelas dikepala Ryuma.


    " aaaa maaf Miki, aku lupa kalau Nyawaku sekarang ada di tanganmu." konflik batin antara mereka berdua terjadi.


    " bukan aku meremehkanmu, tapi elemen dia lebih unggul dibandingkanmu. sekarang kita mundur sebentar dan buat rencana." Ryuma dan Asuna mundur dari hadapan Thamuz.

__ADS_1


    tanpa aba-aba Ryuma menyerang Thamuz.


    "kita ikuti rencananya" Asuna memberitahu temannya untuk mengikuti rencana Ryuma.


    " tapi Asuna, apa kita hanya akan melawan anak buah Thamuz, sedangkan dia sendirian aku ragu dia sanggup, lagian dia kan Ranking A." penyangkalan dari salah satu teman Asuna.


    " apa kau tidak lihat tadi aku kualahan menghadapi Thamuz, meskipun dia masuk kategori Ranking A tapi dengan entengnya dia bisa menangkis serangan Thamuz, jadi tidak ada pilihan lain, ikuti saja Rencananya kali ini." Asuna mencoba meyakinkan teman-temannya yang ragu akan Ryuma.


    Serangan demi serangan berhasil di lancarkan dan Ryuma dengan Thamuz saling beradu serangan.


    " nampaknya ini menarik tapi aku tahu sesuatu, kau sedang menyembunyikan seseorang. Dan itu di sana." serangan tiba-tiba di lancarkan kearah Miki berada, sebuah sabitan dengan hawa panas menuju Miki.


    "ah tidak akan sempat, Miki....." Ryuma tidak sempat untuk melindungi Miki.


    "aaaa.... Ryuma..." Ryuma langsung menghampiri Miki yang terkena serangan.


    " Miki, maaf aku tidak bisa melindungimu. maaf, maaf, maaf." Ryuma sangat menyesali karena tidak bisa melindungi Miki, serambi menaruh Miki di belakang pohon dia berjalan merunduk kedepan.


    " Ri..yuu..ma." suara lirih Miki yang tak berdaya karena serangan tadi nampaknya membuat Miki tak sadarkan diri.


    "cring cring cring" anak buah Thamuz langsung tumbang semua.


    " sekarang tugasmu adalah membawa Miki pergi dari sini dan cepat minta pertolongan buatnya."


    "Hoe Ryuma. tunggu, cih orang itu. woe sekarang Hima, obati temannya Ryuma." Asuna meminta temannya untuk mengobati Miki.


    langit serasa dingin awan hitam menyelimutinya, petir menyambar dari sisi celah awan.


    "maaf aku akan membunuhmu." suara Ryuma berubah menjadi sedikit kosong tanpa perasaan.


    "kekuatan macam apa ini. bahkan pedangku merasakan hawa berbahaya darinya." Thamuz mundur sedikit tiga langkah

__ADS_1


    " apa kamu sudah siap?" Ryuma berlari dan tidak terhentikan menebas Thamuz yang tidak bisa bereaksi. kemudian Thamuz di tendang dan terpental.


    " kenapa aku tidak bisa bereaksi terhadap serangannya, apa yang terjadi?"


    "serangan kedua datang... gubrak....." Thamuz terpental lagi dan kini salah satu pedangnya ditangan Ryuma.


    " tangan Ryuma berdarah karena merebut paksa pedang Thamuz yang di genggamnya erat.


    "orang ini diluar nalar, aku harus menghindarinya." Thamuz mencoba pergi dari hadapan Ryuma.


    " jangan buru-buru. kita belum selesai." slash.... tebasan Ryuma membuat lengan Thamuz berlumuran darah dan tidak bisa memegang pedang yang satunya.


    Thamuz hanya bisa mundur meski langkahnya sedikit demi sediikit tersandung.


    " ohhh kasihan sekali.... akan ku akhiri sekarang." dengan keinginan untuk menebas Ryuma mengayunkan pedangnya.


    "cring...." tebasan Ryuma di tangkis oleh Asuna.


    " Ryuma, sudah cukup." lantang suara Asuna mengingatkan Ryuma.


    " jangan menghalangiku, atau kau ingin kubunuh dulu." tatapan Ryuma yang kosong tanpa emosi sedikitpun masih terlihat menyeramkan untuk sekarang.


    " hoe lihatlah kesana, temanmu baik-baik saja, dia sekarang memerlukanmu disampingnya." bujuk Asuna.


    " tapi aku tidak bisa melindunginya tadi. aku tidak akan berhenti sampai orang itu mati." sambil menutup matanya dengan telapak tangannya, Ryuma tidak berhenti bicara.


    Tiba-tiba suara lirih dari dalam Ryuma yang masih terhubung ke Miki membuat semua mereda.


    "Ri...yuma sudah cukup, aku baik-baik saja, maaf tadi aku kurang hati-hati. sekarang kamu kesini ya, aku perlu pelukanmu untukku." selagi kekuatan Miki masih diaktifkan, mereka berdua masih bisa terhubung.


    Tiba-tiba suara dari loudspiker terdengar.

__ADS_1


    " untuk semua peserta, seleksi telah selesai dan kalian akan kembali ke tempat awal mula kalian sebelum mulai seleksi, dan untuk yang terluka akan kami obati secepatnya. sekian dan terimakasih."


__ADS_2