
SEBUAH anak panah yang murni terbuat dari api melesat tajam menghantam atap sebuah rumah.
Jika atap itu terbuat dari aluminium atau semacamnya, tentu takkan mengapa. Namun, atap rumah itu sepenuhnya terbuat dari jerami yang dipintal pada bambu-bambu. Begitu anak panah api itu menancap, api seketika menyalak tanpa kenal ampun.
Rumah itu cukup kecil. Hanya memiliki sebuah kamar tidur. Dinding-dindingnya terbuat dari kayu. Ketika jerami yang menjadi atap terbakar, sudah pasti dengan cepat api menyebar. Hal itu membuat pemilik rumah—yang tengah terbuai dalam lelap malam—terbangun dengan tiba-tiba. Ia tersentak dalam balutan keringat lebat.
Wanita berusia akhir dua puluhan itu sempat bingung selama beberapa detik, tetapi begitu kesadarannya terkumpul sempurna dia langsung meraih putranya yang masih terlelap dan lekas berlari ke luar. Dia tak sedikit pun merepotkan diri membawa barang lain.
Hal yang mengejutkan, tidak ada raut keterkejutan, panik, takut, ataupun marah mewarnai wajah wanita berambut coklat panjang agak ikal itu. Mata merahnya hanya memandang datar rumah yang terbakar dalam tarian api. Ia tampak tenang. Sangat tenang. Pandangannya seolah mengatakan kalau dia telah memperkirakan apa yang terjadi.
“Ibu?”
Satu kata yang keluar dari mulut anak laki-laki berusia tujuh tahun yang berada dalam gendongannya sukses mengubah rona wajah sang wanita.
“Mariel, pegangan kuat-kuat.”
Anak berambut biru gelap bernama Mariel itu menampakkan raut penuh tanya, tetapi dengan cepat dia mengangguk—walaupun mata merahnya sempat melirik rumah mereka yang terbakar dengan khawatir. Anak lelaki yang digendong dari depan itu seketika memeluk ibunya dengan erat.
“Kita pergi mencari rumah lain,” berkata sang wanita, kedua kaki jenjangnya memacu tubuh berlari.
Untuk seorang wanita yang sedang menggendong anak berusia tujuh tahunan, larinya terbilang cepat. Sangat cepat malah, seperti seseorang yang terlatih. Dia berlari membelakangi rumah yang terbakar, lurus ke barat—menuju hutan lebat yang ujungnya berupa batas tebing.
Benar, mereka sekarang berada di dataran tinggi perbatasan antara dua negeri.
Wanita itu berlari tanpa sedikit pun melirik ke belakang. Anak dalam gendongannya memejamkan mata, membenamkan kepala di leher kiri sang ibu. Tak satu pun dari mereka panik. Karena, ini bukan kali pertama mereka terbangun di tengah malam lalu berlari seperti ini. Dalam sebulan, paling sedikit hal ini terjadi lima kali.
Dan, sebagaimana kejadian yang sudah-sudah, kali ini pun sang ibu bertekad meloloskan diri dan sang putra dari kejaran prajurit bayaran yang ditugaskan menghabisinya.
“...!” Sang ibu tersentak, spontan menghentikan langkah kaki.
“Kali ini kau takkan bisa kabur lagi.” Seorang pria berbadan kekar keluar dari balik batang pohon besar. Jelas sekali dia sudah menanti sang wanita. Sinar bulan yang menembus melewati celah-celah daun memperlihatkan kalau pria itu berambut pirang, berjanggut tipis, dan satu matanya tertutup sempurna. “Kami ditugaskan menghabisimu, dan itu adalah apa yang akan kulakukan.”
Wanita itu mendecakkan lidah sebal, kening mengernyit. Satu tangannya yang bebas mengepal, tangan yang satunya mempererat pelukan pada sang putra.
__ADS_1
“Menyerahlah, maka kematianmu akan cepat dan dengan rasa sakit yang minimal.”
Sang ibu diam tak memberi respons. Namun, dia sangat tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka telah mengekspektasikan dirinya untuk lari ke sini; pria itu ditugaskan mencegatnya. Pelaku yang membakar rumahnya berada di belakang, hanya masalah waktu sampai dia tiba. Sang wanita sangat tahu kalau tak ada jalan keluar baginya. Sekak mati, itu posisinya sekarang—sama seperti bidak raja dalam papan catur yang tersudutkan. Ke arah mana pun ia mau pergi, tidak ada jalan.
“…Biarkan anak ini tetap hidup,” ucap sang ibu, sorot matanya menajam. “Sebagai gantinya, akan kuserahkan nyawaku tanpa sedikit pun perlawanan. Kau bisa menyerahkan kepalaku pada orang yang membayarmu.”
Ekspresi pria berbadan kekar itu mengeras. Matanya memicing menusuk menerobos mata tajam sang wanita. Entah dia benar-benar mempertimbangkan permintaan sang wanita, atau dia punya pemikiran lain. Wanita itu tidak mengetahui ‒ dia hanya berharap putranya bisa selamat. Hanya itu yang dia utamakan sekarang.
“Aku mengerti,” putus sang pria setelah puluhan detik berlalu. “Ketika seorang ibu mengorbankan diri demi keselamatan putranya, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Klienku kehilangan putranya di tanganmu, dia pastinya akan sangat senang jika kepala putramu turut kubawa. Tapi baiklah, aku takkan membunuh putramu. Aku juga takkan menyeretnya ke klienku.”
Pria itu menarik keluar pedang besar berbilah ganda dari sarung pedang di punggung. Mata menatap intens sang wanita. “Sekarang letakkan putramu, lalu berjalanlah sepuluh langkah dan berlutut dengan kepala membungkuk ke depan. Aku akan membunuhmu secepat mungkin, meringankan rasa sakit yang akan kau terima semaksimal yang kubisa.”
“Apa kau bisa kupercaya?”
“Aku sekali pun belum pernah melanggar janji sejauh ini, dan aku tak berencana melakukannya sekarang. Aku berjanji takkan membunuh putramu.”
Ekspresi sang wanita mendatar.
Dia berlutut, meletakkan putranya dengan lembut. “Larilah, Mariel,” bisiknya pelan, kedua tangan memeluk erat sang putra. “Di ujung hutan ini ada batas tebing. Lompatlah. Di bawah sana dulu ada desa, mungkin sekarang masih. Orang-orang itu pernah menyelamatkan ibu saat dulu ibu melompat dari tebing. Ibu yakin mereka akan menyelamatkanmu juga.”
“Mariel,” sela sang wanita, melepaskan pelukan dan membingkai kedua pipi sang putra dengan kedua tangan. Bibir sang wanita melengkung lembut, matanya memandang penuh kasih. “Ibumu ini bukan wanita yang baik. Sebelum bertemu ayahmu, ibu hidup dengan mencuri. Ibu menipu. Tak jarang ibu membunuh. Ibu wanita yang sangat buruk. Maaf, karena kau harus terlahir dari rahim ibu.”
“I-Ibu, apa ya—”
“Tapi Mariel,” lanjut sang ibu kembali memotong suara sang anak, dahinya menempel pada dahi sang putra. “Memilikimu adalah kebahagian terbesar yang pernah ibu alami, kebahagiaan tak terkira yang kami rasakan. Dunia ini korup, busuk, dipenuhi kesengsaraan juga kebencian hebat. Tapi kau adalah cahaya dalam hidup kami. Kehadiranmu membuat kami kuat berjalan di dalamnya. Terima kasih telah terlahir dalam hidup kami. Terima kasih telah memberi ibu kesempatan menjadi ibu. Ibu bukan wanita yang menjelmakan kata ‘ibu’ dengan sempurna, tapi cinta ibu padamu jauh melebihi kata sempurna.”
Cairan bening menumpuk di pelupuk mata sang wanita, tetapi dia menahannya dari tumpah.
“Mulai saat ini kau akan hidup sendiri, sama seperti ibu dulu. Mungkin sang dewa menakdirkan kita sengsara, atau mungkin ini hukuman karena dosa-dosa ibu. Tapi, apa pun yang terjadi, teruslah hidup, Mariel, untukmu dan untuk kami jaga. Biarkan kami melihat kisahmu dari sisi dunia yang lain.”
“I-Ibu….”
Berbeda dengan sang ibu yang dapat menahan matanya dari menangis, sang putra tak punya kekuatan untuk itu. Betul memang dia tak sesenggukan, tapi kedua pipi putihnya telah dibasahi air mata. Ekspresinya lebih parah lagi. Terlalu menyakitkan untuk dilihat; ekspresi yang tak seharusnya melekat di wajah anak usia tujuh tahunan.
__ADS_1
“Untuk setiap waktu kehadiranmu, terima kasih banyak. Untuk semua ketidaksempurnaan ibu dalam hidupmu, dan untuk setiap kesusahan dan kesengsaraan yang akan menimpamu setelah ini, mohon maafkan. Ibu lemah, hanya mantan penjahat kecil di dunia yang gelap. Ibu tak bisa melakukan apa-apa untukmu. Karena itu, jadilah kuat, Mariel. Lalu hiduplah sesuai yang kau inginkan. Tidak peduli akan menjadi seperti apa kau ke depannya, ibu dan ayah akan tetap mengawasimu dari sisi lain dunia dengan penuh bangga. Untuk sekarang, ini perpisahan kita. Kau harus terus melanjutkan hidup. Selamat tinggal, Mariel.”
Mariel berusaha keras menahan ibunya, tetapi sang ibu tetap berbalik dan melangkah pergi. Mariel berteriak, memanggil sang ibu untuk tak pergi, agar mereka kembali berlari. Tetapi sang ibu terus melangkah, lalu berlutut tepat pada langkah yang kesepuluh. Kepalanya menoleh ke belakang, tersenyum dengan sangat lembut.
“Pergilah, Mariel, dan teruslah hidup.”
Mariel mencoba berdiri, menahan sang ibu dari memalingkan wajah.
Namun apa daya, tubuhnya lemas. Berdiri saja sangat sulit. Hanya bisa berteriak dan menggerak-gerakkan tangan untuk menarik perhatian sang ibu. Melakukan apa yang dia mampu, bahkan sampai memohon pada dewa, iblis, atau siapa pun yang mungkin mendengar.
Tetapi dunia tak pernah memihak. Kepala sang ibu menunduk ke depan, dan bilah pedang itu mengayun tajam.
Mariel mengerahkan segala kuasa untuk berdiri dan berlari, tetapi bilah besi tajam itu jatuh lebih cepat.
Mariel jatuh berlutut. Matanya melebar tak terbendung, hatinya hancur tak terkira. Mulutnya bahkan tak lagi mampu melepas suara. Matanya hanya mampu menatap pada kepala sang ibu yang bergerak menggelinding. Darah menyebar dengan cepat.
“Gob! Kau su—ah, kau belum membunuh bocah itu?”
Mariel tak lagi memedulikan apa yang terjadi di sekitarnya; mata dan pikirannya sepenuhnya tertuju pada kepala yang tak lagi menyatu dengan raga itu, pada wajah lembut dengan senyum paling menawan itu.
“Tidak. Aku sudah berjanji pada ibunya. Aku takkan membunuh bocah itu.”
“Bagaimana kalau aku yang membunuhnya?”
“Glanz, sudah kubilang aku tak bisa me—”
“Kan kau berjanji untuk tak membunuh anak itu, bukan melindunginya dari kematian. Kau sama sekali takkan melanggar janjimu kalau aku yang membunuhnya. Pikirkanlah, Gob! Klien kita akan membayar mahal untuk melihat kepala wanita ini dan anaknya! Bukankah kau bilang perlu uang untuk membiayai pengobatan istrimu?”
“…Aku akan menutup mata. Lakukan dengan cepat, dan lakukan tanpa membuatnya menderita.”
“Sip! Serahkan saja padaku!”
Mariel sedari tadi belum berkedip. Cairan bening masih belum berhenti dari membasahi kedua pipinya. Bahkan saat sebilah pedang berselimutkan api berada di belakang tengkuknya, Mariel sedikit pun tak bergerak, tak memberi perhatian. Tidak ada apa pun dalam kepala sang anak selain kilas ingatan tentang ibunya. Wajah lembut yang selalu tersenyum itu….
__ADS_1
Pedang berselimutkan api mengayun, dan—