
Lukhiel berhasil meloloskan diri dari kejaran sang wanita arogan. Setidaknya, itu apa yang ia pikirkan sekitar satu menit lalu. Sekarang? Ia hanya bisa mengatakan kalau kemampuan berteleportasi itu cukup menyebalkan. Terlebih lagi, wanita itu bukan penyihir; teleportasinya adalah kekuatan spirit yang dia miliki, itu sebabnya dia bisa lebih fleksibel dan leluasa dalam berteleportasi.
“Kau pikir kau akan kubiarkan pergi?”
Lukhiel hanya bisa menghela napas melihat kekeraskepalaan sang wanita. Ia sudah sengaja berusaha meloloskan diri darinya agar tak perlu membunuhnya, tetapi wanita itu benar-benar tidak mengerti. Jika sudah begini, ia tak punya pilihan lain. Ia harus membunuh sang wanita dengan cepat.
“Ini peringatan terakhirmu,” ucap Lukhiel seraya menjatuhkan sigaret dan memijaknya. “Pergilah sekarang juga sebelum aku benar-benar membunuhmu.”
“Ha-ha-ha-ha. Menggelikan sekali.”
Aku sudah mencoba, batin Lukhiel seraya melesat maju.
Dalam sekelip mata ia sudah berada tepat di hadapan sang wanita. Namun, sebelum cakar berlapiskan anginnya sempat mencabik leher sang wanita, sang wanita telah menghilang dari hadapan Lukhiel. Dia muncul belasan meter di belakang sang iblis, kedua telapak tangannya saling menyatu.
“Ini bukan satu lawan satu.”
Tepat setelah sang wanita mengatakan itu, Lukhiel menemukan dirinya dikelilingi lima manusia yang lain.
“Ini enam lawan satu.”
Kesemuanya memancarkan nafsu membunuh yang tinggi. Kekuatan mereka juga relatif sama. Ah, wanita pemegang Caliburn itu berada pada level yang berbeda. Pria berambut hitam itu juga lebih kuat dari yang lain.
“Kau sudah merencanakan hal ini sejak awal,” komentar Lukhiel—tubuhnya melepaskan gelombang angin ke segala arah.
Keenam manusia itu terkena hantaman gelombang angin, tetapi tak satu pun dari mereka terpental. Tentu saja itu bukan karena pijakan mereka terlalu kuat, melainkan karena Lukhiel memang tak melepaskan gelombang angin yang kuat. Ia hanya mencoba melihat tekad mereka, dan ia langsung mengerti kalau mereka sepenuhnya yakin akan bisa menghabisinya.
“Iblis Primordial Lukhiel.”
Panggilan itu keluar dari mulut wanita pemegang Caliburn. Dari apa yang bisa ia melihat, dia jugalah yang menjadi pemimpin dari mereka semua. Dia yang paling muda, tetapi dia yang terkuat. Dan karena Lukhiel belum pernah mendengar apa pun tentang pedang suci yang dicuri, berarti wanita itu masih keturunan Arthur Pendragon.
“Hari ini telah kuputuskan menjadi hari kematianmu. Kepalamu akan kubawa ke Pendragon sebagai bukti kekuatanku.”
Lukhiel sekali lagi menghela napas. Hanya karena ia dianggap sebagai Primordial Devil terlemah, terus mereka jadi besar kepala seperti itu? Mereka benar-benar perlu diberi pelajaran; mereka perlu mengerti apa perbedaan Ultimate Devil dan Primordial Devil. Jika mereka berpikir bermain keroyokan begitu akan dapat membunuhnya, mereka sudah tak bisa lagi diselamatkan.
“Majulah,” ucap Lukhiel—udara di sekitarnya mulai memanas. “Aku tak ingin membunuh kalian, tapi jika kalian memang mau mencari ma—!”
Keterkejutan akibat muncul lingkaran sihir di bawah kakinya membuat ucapan Lukhiel terputus.
Bukan Lukhiel saja yang terkejut dengan kemunculan lingkaran sihir, melainkan keenam manusia itu juga. Hal ini dengan jelas menunjukkan kalau ini bukan ulah mereka. Tak ada satu pun penyihir dari mereka berenam.
Kalau begitu…ini ulah Athrecia Le Fay?
“Lukhiel sialan! Apa yang kau la—”
__ADS_1
Lukhiel tak sempat mendengarkan lanjutan teriakan itu. Lingkaran sihir tersebut telah terlebih dahulu bekerja dan membuatnya terteleportasi.
“Senang bertemu denganmu, Iblis Primordial Lukhiel.”
Kata-kata sambutan itu adalah apa yang mengusik telinganya saat Lukhiel menemukan dirinya berada dalam arena persegi dengan panjang sisi tiga puluh meter yang dikelilingi barier berwarna keemasan berbentuk kubus. Ia berdiri agak di tepi arena, sedang beberapa meter di depannya berdiri dua manusia yang kuat.
“Mungkin kau sudah tahu, aku Arthur IV Pendragon. Wanita di sampingku Athrecia Le Fay. Tapi kau tak perlu khawatir, dia takkan ikut campur selain memastikan barier ini tetap aktif. Ini hanya akan menjadi pertarungan satu lawan satu. Tapi sebelum kita bertarung, kau tak keberatan berbicara, kan?”
...* * *
...
Peluru air yang melesat menyerang Mariel jumlahnya puluhan, dan kesemuanya meluncur dalam kecepatan hipersonik—lima kali lebih cepat dari suara di udara.
Menghindari puluhan peluru air berkecepatan hipersonik dalam jarak dekat hampir mustahil bagi siapa pun. Jika satu, dua, atau tiga masih sangat mungkin. Tetapi puluhan? Wah, kalau itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berada di atas rata-rata. Dan kebetulan sekali, Mariel salah satu dari mereka.
Namun, Mariel tidak melakukannya secara normal. Itu sulit bahkan baginya. Mariel menggunakan dinding angin untuk memperlambat laju peluru air, barulah kemudian ia menghindari setiap peluru yang meluncur. Semua itu ia lakukan dengan cukup terampil hingga peluru-peluru air seakan melambat tanpa sebab.
Namun, laju Mariel bukan berarti langsung mulus.
“Water Release: Colossal Wave!” seru sang ninja yang sudah berjongkok dengan kedua telapak tangan di atas tanah berumput.
Gelombang air raksasa seketika tercipta dan melesat dalam kecepatan tinggi menuju Mariel. Panjangnya lebih dari dua puluh meter, begitu juga dengan tingginya.
“Extending Blade.”
Pedang angin terbentuk di ujung jari Mariel dan melesat dalam kecepatan yang hampir dua kali kecepatan turunnya petir dari langit. Perpanjangan pedang angin itu menembus gelombang air dan menyentuh target sebelum gelombang air menghantam Mariel. Hal ini memberi Mariel kesempatan untuk memecah gelombang air menjadi dua bagian dengan dinding angin yang terbentuk lancip di hadapannya.
Ketika gelombang air itu melewati kedua sisi Mariel, terlihat jelas kalau perpanjangan pedang angin berkerapatan tingginya berhasil menembus bahu kiri sang ninja. Tak peduli jika kulitnya sekeras (atau mungkin lebih) berlian, Extending Blade akan mampu menembusnya. Itu adalah serangan paling cepat dan mematikan milik Mariel. Menghindarinya mustahil jika tak bisa mendeteksi terbentuknya pedang angin itu.
“Jawaban untuk pertanyaanmu tadi,” ucap Mariel seraya menghilangkan barier angin dan pedang anginnya, “aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang kau lakukan di sana. Yang lebih penting, katakan, apa kau bagian dari Serenity?”
Sang ninja tak menjawab pertanyaan Mariel. Dia justru berubah menjadi potongan batang kayu yang mengeluarkan asap putih. Namun, Mariel tak memperlihatkan keterkejutan. Ia juga dengan santai menghindari serbuan shuriken dari belakangnya. Kemudian ia menunduk menghindari terjangan dua kunai yang mengincar kepalanya.
“Kudengar ninja itu me—!”
Mariel refleks menutup mulut dan menoleh ke belakang saat salah satu kunai berubah menjadi sang ninja. Tak hanya itu saja, kedua tangannya telah sedikit memanjang dan berubah bentuk menjadi tombak.
“Matilah!”
Pada titik ini, Mariel refleks menggunakan kekuatan spiritnya. Bukan saja tangannya kembali normal dalam sekejap, dia juga sudah keluar dari wujud iblisnya. Perubahan pada dirinya yang tiba-tiba membuat sang ninja terkejut. Mariel spontan memanfaatkan kesempatan dan mencengkeram leher sang ninja—cengkeramannya sengaja ia ringankan agar tak menghancurkan tenggorokannya.
“Apa yang kau la—arghhhh!”
__ADS_1
Mariel refleks melepas cengkeramannya saat tiba-tiba sang ninja menjerit kesakitan sembari memegangi kepalanya.
Seiring dengan rasa sakit yang menghantam kepalanya secara bertubi-tubi, ingatan yang tak tahu ia miliki memasuki kepala Celinee. Ingatannya seolah bercampur-campur. Hal yang seharusnya tak pernah ia lakukan, ia lakukan. Namun, tak ada yang lebih mengejut-kannya melebihi ingatan saat ia bertemu dengan Madam Rhemea dan penyihir bernama Athrecia Le Fay.
Rasa sakit yang menyerang kepalanya menghilang setelah ingatan yang menyerbu secara bertubi-tubi berhenti. Namun, Celinee tidak merasa lega sama sekali. Ia justru syok – syok tak terkira. Jika ada kata yang menyiratkan keterkejutan dalam konotasi negatif melebihi syok, kata itulah yang tepat untuk dipakai menyimpulkan apa yang sedang Celinee alami.
Di dunia ini, tidak ada yang lebih Celinee percayai melebihi Rhemea. Dia yang menyelamatkannya dari kekejaman Dokter Lergen dan komplotannya. Wanita paruh baya itu yang memberinya tempat tinggal, memberinya arti kehidupan. Pendiri Organisasi Serenity itu memberinya teman dan keluarga. Celinee takkan berpikir dua kali untuk melakukan apa pun yang diperintah Rhemea.
Karena itu, mengetahui ia telah dikhianati oleh orang yang paling ia percaya sungguh membuat Celinee terpukul.
Organisasi Serenity didoktrinkan padanya sebagai organisasi yang bertujuan melindungi setiap setengah iblis hasil eksperimen Dokter Lergen. Itu organisasi yang menjadi tempat bernaung bagi mereka. Itu juga organisasi yang bertujuan mengakhiri eksperimen gila Dokter Lergen. Serenity adalah organisasi mulia, pelipur lara bagi mereka yang harus menderita akibat tangan kotor Dokter Lergen.
Tetapi kesemua itu palsu.
Celinee menggeram marah dengan kedua tangan mengepal saat mengulas kembali ucapan Rhemea dalam ingatannya.
“Aku mendirikan Serenity sebagai wadah bagi hasil eksperimen yang tak bisa Lergen kendalikan. Tujuannya demi memastikan takkan ada pemberontakan dan perlawanan yang tak diinginkan. Daripada memiliki musuh yang punya otak sendiri, lebih baik membuat musuh sendiri yang bisa dikendalikan. Apa kau tak bertanya-tanya, mengapa Serenity belum bisa menemukan markas utama Lergen meski telah beroperasi cukup lama? Lagipula, Muridku Celinee, Lergen itu sepupuku. Aku setengah iblis pertama yang berhasil Lergen ciptakan. Aku dan Lergen tidak pernah putus berkomunikasi.”
“Tapi kau tak perlu khawatir. Athrecia akan memanipulasi pikiranmu dengan sempurna. Saat peranmu selesai, kau bahkan takkan ingat kalau kita memiliki percakapan ini. Kau bisa kembali menjadi kacungku sebagaimana yang lain. Tidak, bukan, tapi kau harus kembali menjadi kacungku. Kau punya potensi mengalahkan ketiga seniormu setelah membangkitkan kekuatan spiritmu. Akan sangat disayangkan jika kau harus dimatikan. Athrecia, kuserahkan sisanya padamu—dan pastikan kau merahasiakan relasi kita dari Arthur.”
Celinee memutar perkataan-perkataan itu lagi dan lagi. Dan setiap kali pula kepalan tangannya menguat hingga berdarah. Ia begitu marah dengan apa yang terjadi hingga ia menghiraukan kenyataan kalau barusan ia baru saja bertarung dengan seseorang. Barulah ketika sebuah tamparan bersarang di pipi kirinya, Celinee tersadar dari alam pikirannya sendiri.
“Dari tadi kau tak merespons ucapanku. Kau baik-baik saja?”
Remaja ini…apa aksinya tadi yang menghilangkan sihir pemanipulasian pikiran yang ditanamkan padanya menghilang? Apa dia memiliki Spirit Raja tingkat tinggi sampai bisa menghilangkan sihir dari penyihir yang disegani Rhemea?
“…Kenapa kau belum membunuhku? Aku setengah iblis.”
Sekarang ia memikirkan pertanyaan itu. Keanehan dalam situasi ini langsung terasa nyata bagi Celinee. Remaja ini manusia. Manusia didoktrin untuk membenci makhluk setengah iblis sepertinya. Harusnya dia sudah membunuhnya. Harusnya Celinee sudah tak lagi bernapas. Harusnya Celinee sudah lenyap dari dunia atas ini. Namun, kenyataannya ia masih hidup. Bahkan ia ditanya jika ia baik-baik saja. Apa dia punya motif tertentu?
“Guruku iblis. Mungkin kau sudah pernah mendengar namanya. Karena itu aku mau pastikan kalau kau anggota Serenity atau bukan. Guruku punya relasi dengan mereka. Kalau kau bagian dari Serenity, aku takkan membunuhmu. Kalau kau bukan bagian dari Serenity, aku akan membunuhmu—kecuali kalau kau bisa memberiku alasan mengapa aku tak harus membunuhmu.”
Celinee tak perlu waktu yang lama untuk mengetahui siapa iblis yang dimaksud. Ia memang tak pernah mendengar kalau orang itu mengangkat seseorang menjadi muridnya. Namun, tidak ada kandidat lain yang bisa ia pikirkan. Satu-satunya iblis yang mungkin mengangkat murid seorang manusia dan memiliki hubungan dengan Serenity hanyalah Primordial Devil Lukhiel. Tidak ada yang la—
“Tuan Lukhiel!” Celinee spontan berdiri dan mencengkeram kedua lengan sang remaja. “Kita harus memberi tahu Tuan Lukhiel kalau semuanya adalah jebakan!”
Celinee tidak mampu melakukan apa-apa saat sihir Athrecia membuatnya membunuh kedua rekannya. Ia tidak dalam keadaan bisa melakukan sesuatu. Namun, sekarang berbeda. Ia telah terbebas dari pengaruh sihir itu – ia punya kesempatan mengoreksi kesalahan yang tak seharusnya ia buat. Meski iblis, Lukhiel bukan makhluk yang jahat—banyak manusia yang bahkan lebih jahat dari makhluk yang paling jahat. Celinee harus memberi tahu semuanya pada Lukhiel.
“Ayo pergi. Jelaskan semuanya sembari kita ke sana.”
Celinee tak menunggu kata apa pun lagi. Ia mengangguk dan melepaskan cengkeraman tangannya pada kedua lengan sang remaja. Kemudian langsung melesat pergi ke arah di mana terjadi pertarungan antara Lukhiel dan salah satu anggota Kesatria Meja Bundar. Ia sebelumnya berpikir untuk ke Birmithan, tetapi kemungkinan mereka takkan sempat. Langsung ke titik lokasi lebih tepat.
Anak ini kuat, dia akan bisa membantu Tuan Lukhiel jika situasi di sana sudah memburuk. Kemudian kami bisa melarikan diri.
__ADS_1