Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 7 — A Battle and the Truth


__ADS_3

“MAJULAH, Iblis Primordial Lucifer. Tunjukkan padaku kekuatan-mu sebagai satu dari delapan iblis terkuat!”


Lukhiel memenuhi tantangan sang raja. Ia melesat lurus, sedikit pun tak merepotkan diri untuk menggunakan trik-trik konyol. Sementara itu, Arthur membengkokkan lututnya lalu turut melesat. Exaclibur sang raja berpendar keemasan, kemudian mengayun dengan sepenuh tenaga.


“Golden Radiance!”


Lukhiel, walaupun berada dalam mode terkuatnya, tak mencoba melakukan hal nekat seperti memblok energi yang tebasan Excalibur lepaskan. Ia perlu menguasai teknik pengerasan kulit (Hardening Skin) yang lumrah dikuasai para petarung dari Benua Utara jika mau mencoba menahan tebasan tersebut. Itu pun tidak cukup teknik pengerasan kulit tingkat biasa; perlu teknik pengerasan kulit tingkat tertinggi. Atau, ia perlu Devil Curse yang sama dengan Celinee. Tanpa salah satunya, memblok kekuatan Excalibur tanpa senjata suci adalah suatu hal yang mustahil.


Lukhiel melengkungkan badan ke belakang, tipis menghindari energi tebasan Excalibur yang melesat cepat membelah udara. Tebasan itu lebih kuat dari tebasan yang lalu. Barier yang sebelumnya terbelah sedikit langsung hancur total. Tetapi Lukhiel tak punya waktu untuk melihat apakah Athrecia langsung memperbaikinya atau tidak; Arthur sudah dalam keadaan hendak menusuknya.


Iblis yang telah tersesat ke jalan kebaikan ini bereaksi dengan cepat. Ia menepis bilah tajam Excalibur dengan salah satu pedang angin berpijarnya. Kemudian ia memutar badan (masih dalam keadaan tubuh miring ke belakang) sembari mengayunkan pedang angin yang satunya.


Aksi Lukhiel mengejutkan Arthur. Sang iblis berada dalam posisi yang sulit. Menghindar saja sulit, apalagi menyerang balik. Tetapi Lukhiel berhasil melakukannya – pengalaman bertarungnya memang tak perlu lagi dipertanyakan. Arthur tak mampu mengindari tebasan itu.


Sayangnya bagi Lukhiel, tebasan pedang anginnya hanya mampu memotong zirah baja tipis yang sang raja pakai di balik pakaiannya. Pedang anginnya tak mampu mengenai kulit sang raja secara langsung. Bukan tak mampu dalam artian tubuhnya kebal, tetapi karena Arthur telah menjauh sebelum pedang anginnya dapat memberi luka.


“Refleks dan kontrol tubuhmu menakjubkan,” puji Arthur seraya mencopot pakaian lalu mencampakkannya ke atas tanah yang masih berpijar, membuat badan tegapnya langsung dijilati api biru. “Sudah kuputuskan, kau pantas menerima teknik pedangku.”


Lukhiel tak tertarik mendengar perkataan kosong tak berguna seperti itu. Ia langsung melesat maju sembari menciptakan lalu menembakkan puluhan peluru angin. Arthur tidak bergerak dari posisi melayangnya, tetapi dia telah menciptakan puluhan peluru api biru untuk mengatasi peluru angin sang iblis.


Dentuman terjadi setiap kali peluru angin menghantam peluru api, dan Lukhiel melesat lurus di antara dentuman-dentuman itu. Kedua pedang angin berpijarnya sudah lebih dari siap untuk menebas leher lawan.


“First Technique,” Arthur memasang kuda-kuda rapat dengan badan sedikit membungkuk—percikan petir mulai muncul di antara jubah api biru dan kulitnya. “Lightning Drive.”


Lukhiel melebarkan matanya penuh keterkejutan. Sang raja telah lenyap dari hadapannya sebelum ia bisa mendaratkan serangan. Bukan berteleportasi; Arthur melesat sama cepatnya dengan kecepatan sambaran petir. Itu pulalah alasan mengapa (walau terkejut) ia masih sempat menggerakkan salah satu pedang angin untuk menangkis tebasan berkecepatan super sang raja.


“Kecepatan reaktif dan refleksmu benar-benar merepotkan,” gumam Arthur yang melayang membelakangi Lukhiel dengan jarak belasan meter. “Aku sudah berpikir akan bisa menebasmu, tapi hanya pedang anginmu yang patah.”


Mendengar ucapan itu, Lukhiel refleks melihat pedang angin yang ia gunakan untuk memblok ayunan pedang Arthur barusan. Dan benar saja, pedang angin berkerapatan tingginya retak hebat di bagian tengah lalu patah. Lukhiel melihat bagian pedang yang jatuh mulai menguar dan kemudian menghilang.


Sang iblis mengerahkan prananya, membuat pedang angin patah itu kembali seperti sedia kala. Kemudian ia berbalik memandang Arthur yang juga sudah berbalik memandangnya.


“Elemen aslimu petir,” ucap Lukhiel. “Api adalah kekuatan spiritmu. Kau sengaja membuat orang-orang berpikir kalau api adalah elemenmu.”


“Tepat sekali.” Arthur tak mengelak. “Tapi tak ada yang bisa kau lakukan dengan informasi yang kubeberkan. Aku memiliki sepuluh teknik pedang; mari kita lihat jika kau bisa hidup sampai jurus yang kesepuluh. Jika kau bisa hidup sampai saat itu, akan kuperlihatkan puncak kekuatan spiritku.”

__ADS_1


Ucapan Arthur itu mengimplikasikan kalau dia bisa menggunakan tahap final kekuatan spirit. Itu berbahaya. Arthur belum pernah bertarung dengan orang yang bisa menggunakan tahap final kekuatan spirit. Terlebih lagi, kekuatan api yang spirit Arthur miliki membuat Devil Curse Lukhiel tak efektif. Dia bahkan tak terlihat kewalahan walau sudah beberapa kali berada di dekatnya.


Jika itu orang lain, tubuh mereka pasti sudah hangus hanya dengan berdekatan dengan Lukhiel. Namun, Arthur berbeda. Dia sekarang seperti kebal terhadap Devil Curse miliknya. Dan, itu masih tahap kedua—Tahap Penyatuan atau Union. Bagaimana jika dia sampai menggunakan Tahap Asal (Origin)? Lukhiel mengakui akan mustahil baginya untuk menang.


Menyadari hal ini membuat gambaran kekuatan Nessthanovla semakin jelas di kepala Lukhiel.


Iblis terkuat itu mampu mengalahkan Maharaja Gilgamesh dalam kekuatan penuhnya, sedang Gilgamesh adalah manusia terkuat yang ada dalam sejarah. Ia bahkan dijuluki setengah dewa karena menjadi manusia pertama yang bisa menggunakan Tahap Origin penguasaan spirit. Lebih dari itu, dia memiliki senjata suci Ishtar Gate, senjata yang lebih superior dari Excalibur. Dan, Nessthanovla benar-benar mengalahkan Gilgamesh.


Bagi Arthur IV Pendragon untuk mendeklarasikan ambisinya yang ingin mengalahkan Nessthanovla, sudah pasti dia benar-benar menguasai Tahap Asal. Dalam Tahap Dasar dia bisa menggunakan api dengan mudah. Dalam Tahap Penyatuan apinya menjadi lebih panas dan berubah warna; dia juga jadi punya resistansi terhadap panas. Bagaimana dengan Tahap Asal?


Tak mengherankan Nessthanovla mengatakan manusia punya potensi menjadi lebih kuat dari iblis, batin Lukhiel mengingat perkataan bijak sang iblis terkuat—tentu saja ia mengabaikan kelanjutan dari ucapan tersebut. Nessthanovla sedikit narsis: dia mengecualikan dirinya dalam kata “iblis” tersebut.


“Menggunakan tahap Origin akan memperpendek usiamu. Kau yakin akan menggunakannya kalau aku bisa mengatasi kesepuluh jurus pedang petirmu?” tanya Lukhiel setelah mengenyahkan tawa Nessthanovla dari kepalanya.


Arthur terdiam sejenak, tapi kemudian bibirnya melengkung dan memuji, “Walaupun kau iblis, kukira kau pantas dihormati. Kau cukup berpengatahuan dan tidak meremehkan. Dan, untuk menjawab pertanyaanmu, kekuatan besar memerlukan pengorbanan yang besar pula. Tapi, kukira kau sudah memahami hal itu.”


“Begitu, ya. Baik. Kalau begitu, aku hanya harus membunuhmu sebelum kau menggunakan tahap terakhir penguasaan spiritmu.”


Arthur tertawa lebar setelah mendengar deklarasi Lukhiel, tetapi sang iblis tak memedulikan hal itu dan justru kembali menyerang. Ia memang tak punya jurus pedang seperti Arthur; Lukhiel mengem-bangkan permainan pedang yang fleksibel tanpa ada jurus khusus seperti Arthur. Namun, bukan berarti ia tak bisa berbuat apa-apa di hadapan jurus-jurus itu.


Bersamaan dengan Arthur yang memasang kuda-kuda yang berbeda dengan sebelumnya, dua tornado terbentuk di kanan dan kiri sang iblis. Tanah yang tadi merah berpijar seperti lava telah perlahan mendingin, jadinya kedua tornado angin Lukhiel tak menjelma menjadi tornado api. Dan, sejurus seketika kedua tornado tersebut ia lesatkan pada Arthur.


“‒Lightning Cutter!”


Dalam sekelip mata, kedua tornado angin milik Lukhiel terpo-tong dua secara horizontal. Lengkungan petir masih samar terlihat setelah kedua tornado terpotong. Dan, jika bukan karena kecepatan reaktifnya yang menakjubkan, Lukhiel juga sudah terpotong dua. Kecepatan reaktifnya membuat sang iblis sempat mengarahkan kedua pedang angin memblok tebasan pedang Arthur.


Namun, keretakan mulai muncul pada bagian tengah kedua pedang anginnya. Hal itu membuat Lukhiel langsung mengambil tindakan. Sebelum kedua pedang anginnya patah, dinding angin bertekanan tinggi langsung menghantam tubuh Arthur. Dinding angin itu sama besarnya dengan dinding barier, jadi tak ada celah bagi sang raja untuk menghindar.


Sayangnya bagi Lukhiel, Arthur memang tak menghindar. Dia tak merepotkan diri melakukan hal yang tak bisa dilakukan. Sebaliknya, bersamaan dengan hantaman dinding angin itu, dia justri memasang kuda-kuda yang berbeda lagi – kali ini pedangnya mengacung ke depan. Lukhiel tak mendengar apa yang dia bisikkan. Namun, dalam sekelip mata perutnya telah tertembus petir.


Untungnya, yang menembus perutnya hanya petir, ia bisa meregenerasikan diri. Dan yang lebih menguntungkan, dinding anginnya menghantamkan Arthur pada dinding barier. Dinding barier itu hancur pada bagian yang dihantam tubuh Arthur, membuat sang raja terlempar keluar. Lukhiel memutuskan mengambil keuntungan.


Namun, niat itu langsung ia urungkan saat tiba-tibar barier kembali utuh dan Arthur muncul tepat di depan dinding barier tersebut.


“Aku minta maaf, tak seharusnya Athrecia ikut campur. Tapi, dia harus meneleportasiku kembali ke sini demi menghindari kerusakan yang berlebih.”

__ADS_1


Lukhiel tak memberi respons verbal; ia kembali melesat menyerang sang raja.


...——————————


...


Sebagai spektator, Athrecia harus mengakui kalau ia sedikit kesulitan mempertahankan barier. Baik Arthur maupun Lukhiel, keduanya bisa menembus keluar dari bariernya dalam keadaan mereka sekarang. Tubuh mereka cukup panas sampai bariernya tidak kuat. Hal ini kembali mempertegas kenyataan kalau yang sedang bertarung adalah dua individu yang berada di level teratas.


Terakhir kali Athrecia menyaksikan pertarungan dalam tingkat yang seperti itu adalah saat Rhemea melawan muridnya Merlin. Saat itu, ia dan Rhemea (berdasarkan catatan-catatan yang ditinggalkan Morgan Le Fay) berhasil mencapai Menara Babel. Walaupun Rhemea kalah telak setelah sang lawan serius, tetap saja pertarungan sebelum itu menakjubkan.


Dan walaupun mereka terpaksa melarikan diri, pengalaman itu tetap berharga. Pasalnya, karena ia dan Rhemea berhasil melarikan dirilah makanya Merlin menghilangkan Menara Babel dan berpindah posisi. Ia tidak tahu di mana sekarang penyihir sialan dan muridnya itu, tetapi Athrecia tetap berpuas hati karena telah membuat penyihir abadi itu jengkel.


Melihat pertarungan Arthur dan Lukhiel benar-benar mengingatkan dirinya pada pertarungan yang terjadi puluhan tahun lalu. Arthur berada pada posisi muridnya Merlin, dan Lukhiel berada pada posisi Rhemea. Bedanya, selain gaya bertarung mereka, Arthur perlu menggunakan tahap ketiga penguasaan spirit buat mempecundangi Lukhiel, sedang muridnya Merlin hanya menggunakan tahap kedua.


Arthur tidak lebih kuat dari gadis itu, simpul sang penyihir.


Walaupun matanya melihat jalannya pertarungan dari luar barier, sejatinya Athrecia tidak memedulikan jalannya pertarungan. Ia hanya sedang menunggu kesempatan agar bisa mengambil “Sword of Salvation” tanpa dicurigai Arthur. Sang raja tidak tahu kalau pedang yang di pinggang Lukhiel adalah pedang yang dia cari-cari. Dan, ia akan memastikan itu tetap begitu.


Athrecia telah banyak berdusta dan menyembunyikan informasi dari Arthur. Sebetulnya bukan karena disengaja, tetapi ia sudah terlanjur mengambil jalan yang salah sebelum bertemu Arthur. Jika saja sang raja terlahir seratus tahun lebih awal, mungkin semuanya takkan seperti ini. Apalagi Arthur benar-benar serius saat mengatakan mau membunuh Nessthanovla, jadi lebih baik dia tidak tahu.


Tapi selama aku masih di sisinya, akan kulakukan apa pun untuk memastikan dia takkan menjadi bidak siapa pun, apalagi sampai terbunuh.


...——————————


...


Arthur mengayunkan pedangnya dengan cepat menepis rentetan tombak angin super panas yang ditembakkan Lukhiel padanya. Panas angin setiap tombak tak masalah baginya, tetapi ketajaman tombak-tombak tersebut dapat menusuk tubuhnya jika ia lengah.


Kontrol Lukhiel terhadap anginnya benar-benar hebat; ia tidak bisa mengontrol elemen petirnya semudah Lukhiel mengontrol elemen angin. Maka dari itu ia mengembangkan jurus pedang petirnya. Dan karena itu pula ia memperlihatkan seolah-olah api adalah elemen yang ia pelajari.


“Aku punya satu pertanyaan,” ucap Arthur setelah melepaskan Golden Radiance yang mampu dihindari sang iblis. “Kenapa kau tak menggunakan pedangmu?”


Agak aneh rasanya Lukhiel belum juga menggunakan pedang yang ada di panggangnya. Padahal, ia sudah melepaskan lima teknik pedang petirnya dan sudah berkali-kali mematahkan kedua pedang angin sang iblis. Namun, bukannya menarik keluar pedang yang diperban dari ujung gagang sampai ujung bilah itu, dia justru mengor-bankan prana dan memulihkan kedua pedang anginnya.


“Pedang ini hadiah untuk muridku,” jawab Lukhiel sembari menciptakan sepuluh tornado angin dan melemparkannya pada sang raja.

__ADS_1


__ADS_2