
MARIEL yang hari ini berusia 15 tahun 1 hari memandang refleksi dirinya di cermin dalam diam. Refleksi itu memiliki kulit putih agak pucat ‒ itu seperti kulit seseorang yang sudah lama tak terjamah sinar matahari.
Rambut biru gelap Mariel sudah tak lagi panjang, tetapi tidak pendek juga. Ia potong seperlunya. Mariel membagi rambutnya menjadi dua bagian: bagian tengah hingga belakang ia sisir rapi ke belakang, sedang bagian tengah hingga depan ia sisir ke kanan dan kiri hingga membuat dahinya terlihat. Poni bagian kiri dan kanannya cukup panjang hingga membingkai wajah dengan sempurna.
Cermin menunjukkan kalau Mariel memiliki hidung agak mancung dan bibir tipis. Matanya merah terang laksana darah yang bermandikan cahaya. Menggantung di telinganya adalah sepasang anting berbentuk heliks ganda berwarna merah. Ada juga dua tindik merah di masing-masing telinga, membuat kedua anting tak kesepian.
Mariel mengenakan kaos hitam polos lengan pendek dengan bagian leher berbentuk V. Baju tersebut ditutupi jaket kulit berwarna merah dengan garis-garis hitam yang banyak. Jaketnya tak dikancing, membuat kaos hitamnya terlihat jelas. Untuk celana, Mariel memakai yang berwarna hitam dan berbahanutamakan karet. Ada sabuk merah yang melingkar sempurna di pinggangnya. Dan terpadu sempurna dengan pakaian Mariel adalah sepatu klasik biru tua.
Memandangi cerminan dirinya sendiri dengan intens, Mariel merasa dirinya telah tumbuh dengan baik. Tingginya telah mencapai 164 cm ‒ termasuk di atas rata-rata anak seusinya di Benua Barat. Lima tahun telah berlalu sejak ia bisa menggunakan prana, dan dua tahun telah berlalu sejak Mariel untuk pertama kali melihat spiritnya.
Spirit—menurut semua sumber informasi yang sudah Mariel dapatkan—dikelompokkan ke dalam empat tipe: Spirit Raja, Spirit Legenda, Spirit Alam, dan Spirit Hewan Buas.
Spirit Hewan Buas adalah yang paling umum. Spirit ini berbentuk hewan buas seperti namanya. Namun, berbeda dengan hewan buas di dunia nyata, spirit hewan buas sangat nyata besar dan kuatnya.
Spirit Alam adalah yang terbanyak kedua. Spirit ini umumnya berbentuk seperti manusia bertelinga panjang atau manusia kecil bersayap. Tetapi tak jarang pula bentuknya seperti tanaman yang punya tangan dan kaki. Ah, ada juga yang bersayap merpati.
Selanjutnya Spirit Legenda. Spirit ini terbilang jarang. Seperti namanya, spirit ini berbentuk sebagaimana makhluk-makhluk dalam legenda. Naga adalah contoh yang paling dikenal dari tipe ini. Ada juga yang disebut dinosaurus.
Dan terakhir adalah Spirit Raja. Ini adalah spirit para dewa dan makhluk-makhluk seperti dewa. Pemilik spirit ini sangat sedikit. Dikatakan bahwa Maharaja Gilgamesh memiliki Spirit Raja [Tiamat]. Dia, dalam keadaannya yang paling prima, disebut dapat menghancurkan satu benua hanya dengan satu serangan dalam kekuatan penuh. Tetapi tak ada bukti, bisa saja itu dilebih-lebihkan.
Dari wujud yang sang spirit miliki, Mariel meyakini spirit miliknya adalah Spirit Raja. Namun, ia tak bisa mengonfirmasi karena sang spirit enggan mengakui Mariel. Dia bahkan menolak memberi tahu Mariel tentang namanya. Karena itu pula hingga kini Mariel hanya bisa menggunakan kemampuan dasar sang spirit. Ia harus membuktikan diri pada spiritnya untuk diakui.
“Apa boleh buat,” gumam Mariel diiringi helaan napas.
Namun begitu, ia tak terlalu kecewa. Ia termasuk beruntung karena bisa bertemu spiritnya. Dari apa yang sudah ia baca, hanya satu dari sepuluh ribu orang yang bisa bertemu spirit mereka. Mayoritas manusia hidup tanpa pernah bisa menggunakan kekuatan spirit.
Terlebih lagi, walaupun belum bisa menguasai kekuatan spiritnya, Lukhiel telah mengatakan kalau Mariel cukup kuat hanya dengan mengandalkan prana dan elemen anginnya. Ia belum pernah mengetes kekuatannya dengan orang lain, tapi ia cukup kuat untuk memaksa Lukhiel serius. Dan sang iblis tak pernah memberi pujian palsu.
Hanya saja, Mariel belum cukup kuat untuk membuat Lukhiel berdarah. Lebih tepatnya, ia ingin menyembunyikan kemampuan spiritnya dari sang iblis. Bukan karena tak percaya, melainkan karena Lukhiel juga belum menunjukkan kekuatan spesial iblisnya. Sewaktu bertarung, mereka hanya sama-sama mengandalkan elemen angin. Ia akan memperlihatkan kemampuannya saat duel penentuan.
Lebih dari itu, hari ini untuk pertama kalinya Mariel akan meninggalkan gua yang telah ia tinggali selama delapan tahun. Lukhiel telah meninggalkan gua dua hari yang lalu; iblis itu takkan kembali untuk dua atau tiga bulan. Karena itu ia tidak punya waktu untuk kecewa. Mariel akan keluar dari hutan dan melakukan perjalanan ke Londinia.
Dalam delapan tahun ini ia tak pernah melihat dunia luar dan berinteraksi dengan manusia lain. Mariel akan memanfaatkan ketidakhadiran sang master untuk mengeksplor kota. Ia juga ingin melihat langsung seperti apa Organisasi Sterminatore. Barangkali ia akan menghabiskan beberapa minggu di sana. Lukhiel tidak melarangnya bepergian, jadi ia bisa melakukan sesuka hatinya.
Menarik napas dan memastikan tak ada yang salah dengan penampilannya, Mariel langsung berbalik dan meninggalkan gua. Ia tak membawa apa pun selain tas punggung yang berisikan dua set pakaian dan sejumlah uang hasil “pencarian” Lukhiel. Mereka juga tak punya barang berharga untuk dibawa. Hanya ada buku-buku dan perabotan biasa di dalam gua.
__ADS_1
Mulut gua Mariel tutup dengan bongkahan batu besar. Kemudian sebagian tanaman rambat ia turunkan dari atas gua untuk menutupi bongkahan batu tersebut. Baru setelah itu sang remaja pergi. Ia melesat lurus ke barat, mengambil rute tercepat untuk keluar dari hutan.
Ia tidak khawatir akan ada yang masuk dan mencuri. Tak ada barang khusus di dalam sana. Lebih dari itu, ia dan Lukhiel kerap menyisir hutan lebat yang di dalamnya terdapat dua buah danau ini. Tak ada lagi iblis atau perkumpulan kriminal di sini. Para manusia pun tak pernah masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Hutan Karb ini hanya dipenuhi para binatang dan tumbuhan liar.
Butuh tiga jam bagi Mariel untuk keluar dari hutan. Ia bisa lebih cepat jika berlari dengan kecepatan penuh. Namun, Mariel tak ingin terburu-buru; ia berlari dalam kecepatan sedang menyusuri rute tercepat.
Begitu keluar dari area hutan, pemandangan yang menyambut Mariel adalah padang rumput hijau dan bukit-bukit yang meninggi. Walau samar, ia melihat permukiman penduduk. Ada juga sebuah danau besar yang diapit beberapa bukit. Posisi berpijak yang lumayan tinggi membuat Mariel bisa melihat tepi danau dengan cukup jelas.
Kota Londinia berada di balik danau itu.
Karena jaraknya yang jauh, Mariel tidak bisa melihat tepi danau yang lain. Jadi, ia tak bisa melihat siluet kota. Yang jelas, seratus persen benar kalau Londinia berada di sini. Letaknya tepat di tepi danau. Sebab itu pula Londinia dikenal sebagai penghasil ikan air tawar utama kerajaan.
Dari apa yang disampaikan Lukhiel, ada tiga rute yang bisa ia ambil untuk tiba ke kota. Melalui danau, memutar ke sisi kanan, atau memutar ke sisi kiri danau. Rute yang paling cepat melalui danau. Ia bisa berlari di atas air atau menaiki perahu milik warga. Kalau melalui rute lain, ia hanya bisa membayar kereta kuda untuk membawanya ke sana jika tak ingin berlari.
Tentu saja Mariel memilih rute tercepat; ia mau mencoba naik perahu asli dan mengarungi danau. Ia sudah cukup berlari di atas air. Pun menggunakan rakit sudah cukup membosankannya. Bagaimana rasanya naik perahu dengan layarnya yang lebar? Bagaimana pemilik perahu akan mengatasi angin kencang yang berlawanan arah dengan tujuan perahu?
Mariel berlari cepat menyusuri padang rumput nan hijau; pandangannya tetap jelas meski melesat dalam kecepatan tinggi.
Prana sungguh adalah keberkahan bagi manusia. Jika sebelumnya mustahil bagi Mariel menantang kuda berlari, sekarang ia bisa beradu cepat dengan badai sekalipun. Prana memperkuat tubuhnya hingga secara signifikan melampaui batas fisik.
Mariel tiba di jalur utama menuju danau setelah hampir satu jam berlari.
“Hei, kau!”
Ah…mungkin ia harus berhenti berlari pada jarak yang lebih jauh dari jalan utama yang menjadi titik temu dari semua jalan yang menuju ke sejumlah pedesaan. Jika begitu, mungkin salah satu dari penumpang kereta kuda yang ia lewati takkan menyusulnya seperti sekarang.
Bagaimana aku harus menanggapinya?
Mariel berpikir sembari terus berjalan. Pasalnya, dalam delapan tahun ini ia belum pernah berinteraksi dengan orang lain selain Lukhiel. Apalagi pemilik suara adalah gadis seusinya. Tentu saja ia memahami cara berinteraksi. Namun, praktik memang tak pernah semudah teori.
Apa ia harus bersikap tenang dan misterius?
“Hei, jangan pura-pura tuli!”
Apa ia harus memainkan sikap ramah, ceria, dan mudah bergaul?
__ADS_1
Atau haruskah ia menggunakan sikap dingin dan tak peduli?
Mariel bingung. Ia sudah memelajari berbagai sifat yang bisa digunakan untuk bisa mendekatkan diri dengan orang lain. Namun, ia tidak tahu seperti apa sifat gadis yang menyusulnya. Itulah mengapa Mariel bingung. Memakai sikap ramah, ceria, dan mudah bergaul memang opsi yang paling bagus, tetapi itu akan jadi bumerang jika calon lawan bicaranya tidak suka orang sok ak—
“Oi!”
Mariel tersentak dan spontan berhenti, wajah refleks menoleh pada orang yang baru saja menarik tangannya.
Wajah cantik dengan kulit putih bersih dan hidung agak mancung. Rambutnya panjang berwarna merah menyala, diikat dengan model ekor kuda yang poninya membingkai wajah dengan sempurna. Mata yang memandangnya berwarna ungu – kepercayaan diri yang tinggi terpancar dari sorot matanya.
Dia memakai baju lengan pendek terusan sebetis berwarna hitam, bagian pinggangnya terbelah lurus sampai bawah di kedua sisi. Hal itu membuat celana biru polos selututnya terlihat. Di pinggangnya terdapat sabuk biru gelap yang lebar. Lalu, yang paling menonjol dari atributnya, dia menenteng pedang besar di punggung.
Remaja yang tujuh centi lebih pendek darinya ini memiliki tubuh yang ramping. Namun, bagian dadanya terlalu menonjol untuk gadis seusianya. Untung saja bajunya tertutup dan dia juga memakai baja tipis pelindung dada dan punggung. Jika tidak, rata-rata mata akan mengarah ke sana. Mata Mariel juga. Ah…ia jadi teringat mimpinya tadi malam.
“Oi!”
Cih, hormon ini sangat mengganggu. Aku ingin cepat-cepat melewati fase pubertas ini.
“Oi! Kau tuli, hah?! Aku bicara padamu!”
Tapi paling tidak, aku sudah mengetahui sedikit sifat gadis ini.
“Haloooo! Apa ada orang di sini? Oh, apa aku terlalu memesona sampai kau termangu seperti ini?”
“Kau….”
“Hah?”
“…Apa kau bidadari yang dikirim dewa untukku?”
“Eh?”
“Oh, maaf, kau terlalu cantik, jadi kukira kau ini bidadari yang turun dari kahyangan.”
“…O-oh, ah….” Sang gadis menggaruk-garuk pelan pipi kanannya yang tak gatal, sedang tangan kirinya telah sibuk memelintir rambut. “Emmm….mmmm…a-aku tidak secantik bidadari….”
__ADS_1
“Jadi, ada apa? Apa ada yang bisa kubantu?”
“Ah! Tepat sekali!” Sang gadis yang malu-malu sendiri sudah kembali normal dengan cepat. “Aku tadi melihat melesat dalam kecepatan tinggi. Aku juga merasa kau kuat. Apa kau bagian dari Sterminatore? Tapi kau tak mengenakan seragam, jadi sepertinya bukan. Oh! Apa kau mau mengikuti turnamen pemilihan Kesatria Meja Bundar juga?”