
“…Dia tidak ada di sekitar sini. Kami tak bisa menemukan sedikit pun jejak tentangnya. Kemungkinan iblis itu sudah kembali ke sarangnya, Nona Selena.”
Selena tak menyembunyikan kekesalannya saat mendengar hasil pencarian yang Ferguso dan kawan-kawan lakukan. Caliburn di tangannya sampai sedikit berpendar akibat emosi yang turut tersalurkan pada pedang. Bahkan tak satu pun dari anak buahnya yang berani membuka suara – mereka semua tahu Selena sangat kesal.
Bagaimana tidak? Mendapatkan kepala Lukhiel adalah syarat baginya untuk menjadi bagian Kesatria Meja Bundar. Dan kehilangan kepala iblis itu membuat kesempatannya menjadi bagian dari mereka sirna. Lebih buruk lagi, ia akan terpaksa menjadi kesatria sepupunya yang kadang menjengkelkan.
“Apa kau tak bisa meneleportasikan iblis itu ke sini, Clarent?”
Harapan terakhir Selena sekarang berada pada Clarent – satu-satunya pengguna teleportasi di antara mereka.
Dan harapan itu langsung pupus saat sang wanita menggeleng.
“Itu mustahil,” terang Clarent. “Aku bisa meneleportasikan semua yang di sini karena aku sudah terbiasa dan prana kalian sudah kukenali. Kalau Lukhiel, aku hanya bisa meneleportasikan dia hanya dan hanya jika dia di sampingku.”
“Aku juga tak bisa berteleportasi ke tempatnya,” lanjut Clarent sebelum Selena sempat menanyakan hal itu. “Seperti yang Nona tahu, aku hanya bisa berteleportasi secara bebas dalam radius seratus meter. Untuk berteleportasi lebih jauh dari itu, aku harus pernah ke sana terlebih dahulu.”
Selena berdecak sebal mendengar penjelasan itu. Sekarang harapannya benar-benar musnah. Ia takkan lagi bisa menjadi bagian dari Kesatria Meja Bundar untuk selamanya. Ia terpaksa menghabiskan kariernya sebagai pengawal khusus Marry. Betapa menyebalkan!
Aku bisa keluar dari kesepakatan itu dengan membuat Marry memberhentikanku atau bahkan menolakku, tapi mengetahui anak itu…dia justru akan dengan senang hati menaburi garam di atas perihnya luka.
Menghela napas panjang, Selena menyarungkan kembali pedang sucinya.
“Ayo pergi. Kita kembali ke Pendragon besok pagi.”
...* * *
...
Mariel tidak menemukan satu kata pun untuk dikatakan setelah mendengar cerita detail Celinee. Itu sangat sulit diterima, tetapi ibunya telah mengatakan kalau dunia ini korup. Cerita Celinee sangat mungkin terjadi, dan Mariel tidak meragukan kebenaran akan cerita sang wanita. Namun, tetap saja itu sulit diterima.
__ADS_1
Serenity bukan organisasi yang seperti Lukhiel katakan. Masternya telah diperalat. Rhemea…wanita paruh baya itu benar-benar berbahaya. Dia licik. Manipulatif. Busuk. Bukan saja dia telah memperalat masternya, tetapi juga memanfaatkan anak-anak hasil eksperimen yang memerlukan bantuan dan perlindungan. Organisasi Serenity benar-benar harus dihancurkan.
Tapi aku tak menyangka kalau pedang berbalutkan perban itu adalah “Sword of Salvation”. Aku tahu pedang itu tidak normal, sempat mengira itu pedang suci. Tapi tak pernah kuduga kalau itu pedang yang bahkan tak diketahui namanya.
“Mariel, kita harus lebih cepat!”
Seruan sang ninja mengembalikan fokus Mariel dari pikirannya. Ia mengangguk dan mempercepat lajunya. Keduanya bergerak dalam kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ia bisa lebih cepat lagi dengan zirah angin, tetapi mungkin Celinee tidak bisa lebih cepat lagi. Karena itu, Mariel tidak menggunakannya.
Lebih dari itu, Lukhiel adalah masternya. Iblis itu kuat. Tidak peduli sekuat apa Arthur IV Pendragon dan seberbahaya apa Athrecia Le Fay, tidak mungkin mereka bisa mengatasi Lukhiel dengan mudah. Mariel tidak memiliki keraguan akan hal itu; seorang murid selalu memiliki kepercayaan yang tinggi pada guru mereka.
...* * *
...
Lukhiel harus mengatakan ia tidak senang dengan situasi yang telah menimpanya. Ia tak sedikit pun memedulikan ocehan Arthur IV yang punya ambisi membunuh Nessthanovla. Lukhiel tidak senang bukan karena ia tak berani berduel. Excalibur memang berbahaya, dan Arthur sendiri bukan manusia lemah. Tetapi bukan itu alasan yang membuatnya tidak senang dan khawatir.
Yang Lukhiel khawatirkan adalah kehadiran Athrecia. Meskipun Arthur IV sudah mengatakan Athrecia takkan ikut campur, Lukhiel tak yakin bisa memercayainya. Penyihir itu pasti akan ikut campur saat Arthur akan kalah. Atau barangkali, wanita itu telah melakukan sesuatu yang membuat Arthur pasti akan menang.
Lukhiel menghela napas panjang dan menciptakan dua buah pedang angin di tangan. “Aku tak bisa memberi jawaban sebelum kucoba sendiri kekuatanmu,” katanya tegas—prana menguar dari tubuhnya dan menyebabkan gelombang angin yang menerpa ke segala arah. “Majulah kapan pun kau siap.”
Arthur tertawa lebar. Kemudian menoleh pada sang penyihir dan dengan tegas berkata, “Pastikan kau tak ikut campur, Athrecia.”
Setelah itu sang raja melesat maju dengan tubuh yang berlapiskan percikan api. Seluruh Benua Barat mengetahui kalau Arthur IV Pendragon adalah salah satu pengguna elemen api terbaik yang ada di benua. Jadi, Lukhiel tak terkejut saat tiba-tiba sang raja menyemburkan api dalam intensitas yang begitu masif dari mulutnya.
Lukhiel tak membiarkan api itu mendekat. Ia langsung menyemburkan angin bertekanan tinggi dari mulutnya. Angin itu membelah semburan api sang raja menjadi dua bagian, dan kedua bagian api itu mulus melesat ke sebelah kiri dan kanan sang iblis. Namun, Arthur telah menghilang dari pandangan. Semburan anginnya tidak pernah mengenai sang raja.
Sang iblis tak perlu bertanya akan keberadaan sang raja. Ia telah merasakan ancaman dari belakang. Arthur menggunakan apinya untuk mengelabui pandangan Lukhiel agar bisa melesat ke belakangnya tanpa ia lihat. Sang raja melepaskan tebasan yang mengancam.
Namun, Lukhiel iblis tingkat tinggi yang sarat pengalaman. Ia telah mengadopsi teknik bertarung dengan dua pedang setelah berpuluh-puluh tahun menghadapi ahli pedang. Karena itu, serangan Arthur tidak mengejutkannya. Ia dengan cepat melakukan tebasan memutar dan sukses memblok ayunan kuat pedang sang raja.
__ADS_1
“Golden‒”
Pedang yang Lukhiel blok seketika berpendar.
“‒Radiance!”
Energi berwarna keemasan seketika keluar dari pedang dan menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. Untung saja Lukhiel berhasil menghindar terlebih dahulu dengan mementalkan tubuhnya ke udara. Jika tidak, energi yang bahkan membuat barier hancur sebagian (yang langsung diperbaiki Athrecia) itu akan membuat tubuhnya hancur tak karuan. Dari udara, Lukhiel dapat melihat dengan jelas kehancuran yang disebabkan tebasan energi itu.
Arthur IV tak membiarkan Lukhiel mendarat.
Sang raja, dengan api yang menyembur keluar dari kedua kakinya, melesat cepat ke atas sembari mengayunkan pedang dengan keras. Lukhiel dapat mengan-tisipasi serangan yang datang, pedang anginnya kembali memblok Excalibur. Namun, berbeda dengan sebelumnya, pedang angin Lukhiel patah. Tetapi sang iblis dapat menghindari tebasan itu dengan mementalkan Arthur dengan gelombang angin.
Lukhiel juga tak berhenti di situ. Ia menukik tajam mengejar sang raja. Kali ini ia mulai menggunakan Devil Curse miliknya.
Lukhiel bisa menaikkan temperatur apa pun yang disentuhnya. Namun, karena merepotkan jika harus menyentuh musuh supaya bisa memanfaatkan Devil Curse, Lukhiel menggabungkan Devil Curse dengan elemen anginnya. Begitulah bagaimana Lukhiel bisa menyemburkan angin yang begitu panas sampai mampu melelehkan baja dan metal-metal yang lain.
Semburan angin panas Lukhiel membuat Arthur IV terpaksa menggunakan kekuatan spiritnya. Sebelum angin panas itu dapat menyentuh dan menghanguskan tubuh sang raja, gelombang energi yang pesat mementalkan segala sesuatu menjauh darinya. Lukhiel yang hendak menebas leher Arthur pun ikut terhempas, tetapi ia dapat segera mendarat.
“Aku takkan menahan diri, dan tak perlu juga kita membuang waktu. Membaralah dalam panas abadi, Flame King Erestheral!”
Sejurus seketika, gelombang api biru laksana tsunami yang menggulung-gulung seketika merambat ke segala arah berusaha memenuhi isi barier. Panasnya api melelehkan permukaan tanah, dalam sekejap tanah memerah menjadi lava yang berpijar. Api biru memenuhi seisi barier; tak ada celah yang tak dijamahnya.
Satu-satunya alasan mengapa Lukhiel masih baik-baik saja adalah karena ia juga telah tak lagi menahan diri.
Ia menggunakan Devil Curse pada dirinya sendiri. Tubuhnya sangat panas, lebih panas daripada api biru yang memenuhi barier. Pedang angin di kedua tangannya sampai memutih dan berpendar terang. Tubuh Lukhiel telah menjadi sangat panas sehingga apa pun—kecuali pakaiannya sendiri yang juga sama panasnya dengan tubuhnya—yang ia sentuh akan menjadi abu.
Api biru lenyap perlahan-lahan, memperlihatkan sosok Arthur yang telah berbalutkan jubah api biru. Rambutnya bahkan telah menyala seperti kertas yang dibakar. Dia tidak berpijak di atas lava, tetapi dalam melayang sama seperti Lukhiel. Dan seperti Lukhiel, tubuh Arthur juga memancarkan hawa panas yang besar.
“Majulah, Iblis Primordial Lucider. Tunjukkan padaku kekuatanmu sebagai satu dari delapan iblis terkuat!”
__ADS_1
...—End of Chapter 6—...