Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 2 — Sterminatore & Training (3)


__ADS_3

Mariel menjawab perintah itu. Tubuhnya menyongsong maju dengan kecepatan paling tinggi yang tubuhnya mampu. Hanya keseriusan yang mewarnai ekspresinya. Ia melesat dalam garis lurus, kepalan tangannya juga mengayun lurus. Lukhiel sudah mengantisipasi. Tetapi kemudian Mariel merendahkan tubuhnya dan meluncur melewati sisi kiri tubuh sang iblis.


Ia tidak tahu jika ia berhasil mengecoh sang master atau tidak. Pun Mariel tak membiarkan hal itu mengganggunya. Ia segera berdiri, berbalik, dan langsung menyerang Lukhiel dari belakang. Cara ini bekerja pada predator berukuran besar, Mariel berharap bisa sedikit memberi kejutan pada sang master. Ia memanfaatkan posturnya yang kecil untuk mengambil keuntungan.


Tetapi harapan hanyalah sebatas kata kosong yang tak bermakna bila tak didukung kekuatan yang memadai. Dan Mariel tidak memiliki kekuatan tersebut. Lukhiel hanya bergeser selangkah lalu berputar, dan pukulan Mariel berhasil dia hindari dengan sempurna.


Mariel tidak terkejut. Sangat mudah membayangkan sang iblis dapat menghindar. Karena itu, ia langsung mengambil tindakan dengan cepat. Memanfaatkan momentum yang membuat tubuhnya terdorong ke depan, ia menjatuhkan diri hingga kedua telapak tangan di tanah. Kemudian melepaskan tendangan ke samping dengan keras, menyasar sang iblis yang hendak menyerang.


Lukhiel memblok tendangan kedua kaki itu dengan mudah.


Namun, sebelum sang master memanfaatkan keadaan dan menendang kedua tangannya, Mariel memutar tubuhnya lalu berjungkir balik menjauhi Lukhiel. Ia tak mencoba mengulur waktu untuk melegakan napas; Mariel kembali menyerang, dan kali ini langsung dari depan. Paling tidak, ia perlu mencoba membangun momentum dengan serangan frontal.


Lukhiel memblok pukulan demi pukulan yang Mariel layangkan. Tendangannya juga diblok. Lukhiel tak bergerak dari tempatnya, dan ia juga hanya menggunakan tangan saja. Mariel tak mampu mendaratkan serangan walau hanya sekali. Ia terus-menerus menyerang secara beruntun dan agresif, tetapi Lukhiel terus memblok dengan efisien.


Pada detik ini Mariel tak punya pilihan selain bermain kotor. Mereka bertarung di area terbuka. Tak ada apa pun yang bisa dimanfaatkan. Lukhiel agak gila memintanya bertarung seperti bermain catur. Dalam catur, pion bisa membunuh bidak ratu, di dunia nyata? Lebih dari itu, ia tak punya bidak untuk dimainkan. Mariel terpaksa bergantung pada trik kotor demi menunjukkan perkembangan.


Mariel membungkuk menghindari tendangan sang master. Saat membungkuk ia memanfaatkan kesempatan untuk mengeruk permukaan tanah. Tanah yang ia remas itu ia sembunyikan dalam kepalan tangan. Kemudian Mariel berguling ke kiri, menghindari pijakan kaki yang Lukhiel layangkan. Sang master sepertinya mulai bosan bertahan. Gerak-geriknya menunjukkan dia ingin menyerang.


Situasi akan memburuk bagi Mariel jika ia biarkan sang master menyerang. Ia masih belum melupakan rasa sakit yang ia terima di awal. Karena itu Mariel tak menjeda waktu. Setelah berdiri ia langsung melesat kembali menyerang sang master. Mariel kembali melepaskan rentetan tinju seperti yang sudah-sudah. Bedanya, kali ini ia memiliki objekif yang lain.


Setelah beberapa lama melepaskan rentetan serangan (yang kesemuanya diblok dengan mudah), Mariel akhirnya menemukan kesempatan. Bersamaan dengan Lukhiel yang menepis tendangan memutarnya, celah terbuka dan Mariel tak menyia-nyiakan itu. Ia langsung melemparkan tanah berpasir di tangannya ke wajah sang master.


Namun, tiba-tiba Lukhiel lenyap dari hadapan Mariel.


Tanah berpasir yang Mariel lempar hanya mengenai udara kosong, ia memandangnya dengan keringat dingin memenuhi pelupis. Ia bisa merasakan seseorang di belakangnya. Lukhiel bukannya menghilang; dia bergerak terlampau cepat untuk mata Mariel ikuti. Lebih dari itu, ia merasakan firasat buruk yang nyata.


“Dengan melakukan itu, artinya kau sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk, kan?”


“Ma-Master, ma-mari kita bicarakan ini baik-baik.”


“Kita bisa lakukan itu nanti. Untuk sekarang, cobalah bertahan dengan mengerahkan segala yang kau punya.”


…Mungkin seharusnya ia tak melemparkan tanah berpasir itu?


Tiga jam kemudian, Mariel telah terkapar tak berdaya ‒ ia sudah terlalu lelah untuk bergerak dan napasnya juga seakan sudah habis.


“Kerja bagus.” Lukhiel berhenti empat langkah di kiri Mariel. “Staminamu sudah jauh meningkat. Dan untuk ukuran manusia biasa, kau sudah tergolong cepat. Kau cukup kuat untuk menghadapi sekelompok manusia biasa.”


“Aku bahkan tak merasa senang dengan pujian itu, Master.”


Tidak mungkin Mariel senang dengan pujian, tidak setelah ia dibuat tak berdaya seperti tadi. Mariel terlalu lemah. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya jika manusia tak bisa menggunakan prana. Mungkin dunia sudah berada dalam genggaman para iblis dan para manusia akan dikandangkan seperti ternak. Itu benar-benar mengerikan.


Tapi kalau semua iblis seperti master….

__ADS_1


“Tapi karena itu pujian dari Primordial Devil seperti Master, kukira aku harus merasa tersanjung.”


“Sekali lagi kujelaskan, aku sudah tak sekuat tiga ratus tahun lalu. Mungkin saat ini aku adalah Primordial Devil terlemah. Jangan menjadikanku patokan kekuatan. Tapi mari kesampingkan itu. Seperti yang tadi kubilang, setelah beristirahat aku akan mengajarimu menggunakan prana.”


“Aku akan ingat itu. Dan, aku sedang beristirahat. Apa kau datang mau bilang waktu istirahatku sudah habis, Master?”


“Oh! Aku akan senang untuk mengatakannya, tapi bukan. Aku hanya akan memberi tahumu tentang prana, kau bisa mendengarnya sembari tetap rebahan seperti itu.”


“Baguslah. Aku baru saja berpikir untuk menendang bokongmu saat nanti Master tertidur.”


“Ha-ha-ha. Lakukan itu, dan kau akan terbangun dalam keadaan tergantung di atas segerombol buaya. Sekarang dengarkan baik-baik.” Lukhiel menjeda lalu mendudukkan diri. “Semua makhluk berjiwa memiliki prana,” mulai sang iblis. “Prana adalah gabungan dari energi fisik dan energi spiritual. Jika kau kehabisan prana, tubuhmu akan lemah dan dalam situasi terburuk kau bisa mati.”


“Meskipun semua makhluk berjiwa memiliki prana,” lanjut Lukhiel, “tak semua orang bisa menggunakannya. Ada yang namanya ‘gerbang kekuatan’ yang mengunci prana agar tak keluar dari tubuh. Dikatakan, gerbang itu muncul karena keberadaan spirit. Karena itu, prana diperlukan untuk bisa bersinergi dengan spirit. Dan untuk bisa menggunakan prana, seseorang harus membuka gerbang tersebut.”


“Bagaimana dengan iblis?” tanya Mariel, teringat akan buku tentang spirit yang sudah ia baca. “Iblis tidak memiliki spirit di dalam diri mereka. Apa artinya Master bisa menggunakan prana sejak awal?”


“Pertanyaan bagus,” puji Lukhiel. “Dan seperti dugaanmu, iblis bisa menggunakan prana sejak awal. Iblis tidak memiliki spirit, fakta itu sebetulnya sedikit salah. Kau sudah tahu kalau iblis terlahir dari jiwa manusia yang memasuki dunia bawah. Dan yang harus kau pahami, spirit yang membersamai jiwa tersebut melebur ke dalam jiwa itu dan terlahirlah iblis. Setidaknya, itu menurutku. Kekuatanku merepresentasikan spirit yang dulu kumiliki semasa menjadi manusia.”


“…Karena itu makanya iblis menjadi kuat tanpa perlu berlatih.”


“Benar sekali. Tapi mari kita kembali ke topik pembicaraan.”


Mariel mengangguk.


Mariel spontan mendudukkan diri setelah mendengar hal itu. Ia menghadap Lukhiel dengan cepat. Raut wajahnya tak coba menyembunyikan antusiasme tinggi yang meluap-luap dari dalam diri Mariel. Ia seperti balita di hadapan mainan kesukaannya. Tetapi itu tak mengherankan. Menjadi kuat adalah hal pertama yang paling harus Mariel usahakan.


“Ada banyak kegunaan prana,” lanjut Lukhiel. “Tapi untuk sekarang, kita fokuskan pada hal yang tak berhubungan dengan spirit.”


Mariel mengangguk, sama sekali tak keberatan. Ia sudah mengerti metode sang master. Lukhiel melatihnya dalam tiga tahap: fisik, prana, spirit. Ia sudah difokuskan pada fisik selama hampir tiga tahun. Sekarang Lukhiel ingin memfokuskannya pada prana. Mungkin dalam dua sampai empat tahun ia akan dialihkan untuk menggunakan kekuatan spirit yang ada dalam dirinya.


“Prana bisa digunakan untuk berjalan di atas air dan berbagai objek cair lainnya. Para ninja dari Benua Timur menggunakan prana untuk berjalan pada langit-langit ruangan. Mereka juga punya yang namanya ninjutsu. Di Benua Selatan, prana digunakan sebagai energi sihir. Di Benua Utara, prana digunakan secara berbeda lagi. Namun, dari kesemuanya, bisa kubilang, tak ada yang bisa mengaplikasikan penggunaan prana lebih baik dari para ninja.”


“Di benua ini,” lanjut Lukhiel, “para petarung memfokuskan diri pada pengonversian prana menjadi elemen tertentu. Seseorang bisa menciptakan dan mengendalikan api, air, tanah, petir, dan bahkan angin dengan prana. Namun, seseorang umumnya hanya bisa menciptakan satu elemen saja. Ketika seseorang sudah bisa menciptakan air, menciptakan elemen lain akan sesulit menyatukan air dan minyak. Baik para ninja maupun penyihir, kesulitan ini juga menghantui mereka. Para iblis juga begitu.”


“Master mengatakan ‘umumnya’, berarti ada pengecualian?”


“Apa kau pernah menemukan nama ‘Merlin’ dalam buku-buku yang pernah kau baca?”


“Merlin…yang membantu Raja Arthur mendirikan Camelot?”


Lukhiel mengangguk. “Merlin adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan segalanya dengan prana. Dia bisa menciptakan berbagai elemen. Dia bisa menciptakan es, lava, dan bahkan mengontrol cuaca. Dia lebih tua dari iblis tertua sekalipun. Mungkin dia bisa menjawab pertanyaanmu tentang dewa. Namun, setelah Raja Arthur tewas di tangan Modred, Merlin menghilang. Hingga kini, tak ada jejak tentangnya.”


“Ah,” lanjut Lukhiel. “Di salah satu pulau yang aku sendiri tidak tahu di mana, ada yang namanya Menara Bibel. Beberapa penyihir memercayai kalau Merlin berada di sana. Namun, tak pernah ada yang bisa membuktikannya. Karena itu, orang-orang beranggapan kalau Merlin sudah tewas. Tapi aku takkan terkejut jika dia masih hidup. Jika itu berhubungan dengan Merlin, tak ada yang bisa kita bilang benar-benar mustahil.”

__ADS_1


“Sekarang kita balik lagi ke topik awal,” lanjut Lukhiel sebelum Mariel sempat memberikan respons terkait penjelasannya. “Petarung di benua ini memfokuskan diri mengonversikan prana menjadi lima elemen dasar. Petir adalah elemen yang paling jarang, dan api adalah elemen yang paling umum. Elemenku angin. Kau pun harus memper-timbangkan akan memilih elemen apa.”


Petir adalah elemen yang paling destruktif. Itu bisa menghancurkan apa saja yang dikenainya. Petir yang lemah bisa dinetralisir oleh tanah, tetapi petir yang kuat menghancurkan apa saja. Jika ingin fokus pada kekuatan destruktif, Mariel harus memilih petir sebagai elemen-nya.


Api adalah…api. Mariel tidak perlu berpikir banyak mengenai elemen ini. Ia sangat mengerti bahayanya api seperti apa. Yang jelas, ia takkan memilih elemen ini. Menggunakan elemen api berisiko besar merusak lingkungan. Pun itu akan mengganggunya jika ia diharuskan berada dalam situasi yang mengharuskannya menyerang secara sembunyi-sembunyi.


Tanah sangat berguna dalam berbagai hal, tetapi elemen ini kurang fleksibel. Mariel ingin menjadi petarung yang mengandalkan kecepatan; elemen tanah tidak cocok dengannya.


Hal yang sama berlaku pada elemen air.


Petir atau angin.


Mariel tidak bisa memilih selain satu dari keduanya. Itu kesimpulan yang Mariel dapatkan tentang elemen yang harus ia pilih.


“Tapi sebelum ke sana, pertama sekali kita akan membuka ‘gerbang kekuatan’ milikmu. Apa kau sudah siap, atau masih memerlukan waktu beristirahat?”


Ah, benar juga. Berpikir akan menggunakan elemen apa untuk ia gunakan tak berguna jika ia belum bisa menggunakan prana. Pertama sekali ia harus memastikan “gerbang kekuatan” miliknya dalam keadaan terbuka.


“Aku sudah siap, Master.” Mariel memutuskan.


“Bagus. Kalau begitu kuberi kau dua pilihan: mau cara yang mudah atau sulit?” tanya Lukhiel tanpa basa-basi, senyum tak menyehatkan bersemi di wajah sang iblis.


Mariel menelan ludah. Lukhiel adalah iblis, ia takkan melupakan fakta itu. Mudah bagi dia bisa jadi sulit, dan sulit bagi dia bisa jadi mudah. Namun, ada pula kemungkinan kalau mudah benar-benar mudah dan sulit benar-benar sulit.


“Kau takkan menjelaskannya sampai aku memilih?”


“Tentu saja. Tak ada serunya kalau kuberi tahu.”


Mariel mengelap keringat di pelipis, menarik napas dalam-dalam. “Yang mudah,” jawabnya, memutuskan memilih pilihan yang normal untuk dipilih.


“Kalau begitu berdirilah. Aku akan memukulmu dengan begitu keras sampai jantungmu berhenti, kemudian akan kupenuhi jantungmu dengan pranaku. Dan dalam sekejap kau akan bisa menggunakan prana.”


“Ka-Kalau pilihan yang sulit?”


“Kau hanya perlu bermeditasi sampai kau bisa merasakan keberadaan ‘gerbang kekuatan’ di dalam dirimu. Yang sulit dalam proses ini adalah waktu yang lama. Ada kemungkinan kau baru merasakannya setelah setengah tahun.”


Mariel tak bisa mengatakan ia telah membuat pilihan yang tepat, tetapi ia juga tak bisa mengatakan pilihannya salah.


“Sekarang berdiri dan persiapkan dirimu untuk rasa sakit yang tak terbendung.”


…Er, mungkin seharusnya ia memilih opsi yang sulit?


...—End of Chapter 2—...

__ADS_1


__ADS_2