
Mariel tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Ia diajarkan untuk tidak terlalu mudah percaya pada orang lain. Namun, iblis ini terlihat bersungguh-sungguh. Lebih dari itu, pengakuan Lukhiel menjelaskan banyak hal. Masalahnya memang hanya ada satu: apakah Lukhiel bisa dipercaya atau tidak. Tetapi yang jelas, jika iblis ini memang berniat membuatnya kuat, Mariel tidak punya pilihan selain menurutinya.
“Master…Lukhiel.”
“Itu…itu terdengar sangat pantas.” Senyum lebar bersemi di bibir sang iblis—dan Mariel semakin tidak mengerti akan kepribadian iblis ini. “Dan sebelum kita lanjutkan pembicaraan tadi malam yang tertunda, sudah saatnya kita nikmati ikan-ikan yang ada. Ini, ambillah. Makanlah pelan-pelan dan puaskan keinginan perutmu.”
Mariel menerima ikan bakar itu tanpa resistansi.
Namun begitu, ia tak langsung memakannya. Bukan, sama sekali bukan karena ia khawatir ada racun. Iblis ini takkan mendapatkan apa pun dengan meracuninya. Mariel hanya penasaran. Ibunya berkata kalau makanan iblis adalah jiwa manusia. Jadi, ia ingin tahu, apa iblis benar-benar bisa memakan makanan biasa? Untuk itu dia diam memerhatikan Lukhiel ‒ ingin memastikan jika dia benar-benar memakan ikan bakar itu apa tidak.
Mariel baru mulai memakan ikan setelah melihat sang iblis menelan kunyahan pertamanya. Hambar, batinnya. Tetapi Mariel tak heran. Mereka berada di gua—dan kemungkinan di dalam hutan luas. Tidak ada tempat bagi Lukhiel untuk mencari garam. Jika pun ada desa tak jauh dari hutan, Lukhiel tak mungkin membeli. Mariel tak melihat sekeping pun uang yang dimiliki sang iblis.
“Melanjutkan pertanyaanku tadi malam, apa kau mau berkelana untuk menemukan orang yang tahu bagaimana caranya menemui sang dewa?”
Mariel baru menghabiskan seper lima ikan saat Lukhiel melemparkan pertanyaan itu padanya. “Bukannya Master bilang akan melanjutkan bicara setelah ma—eh…kau…kau sudah menghabiskan semua ikan….” Mariel memandang sang iblis tak percaya. Secepat apa dia makan sampai bisa menghabiskan tiga ekan lumayan besar kurang dari satu menit?
“Tubuhmu kecil. Satu ikan itu sudah lebih dari cukup.”
“…Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya heran. Tapi lupakan saja. Tentang menemui sang dewa? Itu juga lupakan saja.”
Mariel mengembalikan pandangan pada ikannya dan melanjutkan makan.
Ia sudah memutuskan untuk melakukan apa yang ibunya suruh. Ia akan menjadi kuat dan hidup sesuai keinginannya. Ia hidup untuk mereka berdua juga. Mungkin, di masa depan nanti, tepatnya beberapa tahun sebelum ajalnya menjemput, ia akan mencari tahu cara menemui dewa. Untuk sekarang ia akan fokus menjadi kuat. Barangkali juga takdir telah mendukung pesan ibunya, sebab itu Lukhiel berada di sini.
“Kau sudah menerima kenyataan yang terjadi?” Lukhiel tak menunggu jawaban. “Ini terlalu cepat,” lanjutnya. “Tapi barangkali kehidupanmu sejauh ini tidak cukup normal sehingga kau dipaksa dewasa dengan lebih cepat. Dan bisa kutebak kalau ibumu benar-benar memberimu pendidikan yang cukup. Tulisanmu pada batu nisan itu cukup rapi. Tetapi ini juga normal. Aku pernah mendengar ada anak berusia enam tahunan yang dijuluki ‘Pembunuh Bengis’. Dibandingkan dia, kau masih normal.”
Mariel tidak mengatakan apa pun. Ia fokus pada ikan bakar hambar di tangannya. Ia tidak berminat menceritakan kehidupannya dalam pelarian bersama sang ibu. Pun ia tak punya ketertarikan mengetahui lebih jauh tentang anak berjuluk “Pembunuh Bengis”. Sesuai yang ibunya bilang, setiap orang memiliki masalah mereka tersendiri. Itulah kehidupan.
“Terima kasih untuk ikannya. Jadi, mengapa Master memutuskan untuk mengajariku ilmu yang Master miliki?” tanya Mariel setelah daging ikan bakar habis ia makan. “Apa ada alasan khusus? Atau hanya niat spontanitas?”
Lukhiel mendaratkan pandangan pada api yang masih menyala. “Bisa kubilang keduanya,” jawabnya. “Membiarkanmu terbengkalai akan membuat usahaku menyelamatkanmu menjadi sia-sia. Tapi aku juga tak bisa kembali ke kota lantaran ada dua anggota Sterminatore Tingkat 1. Akan merepotkan jika sampai berurusan dengan mereka. Alasan mengapa aku membuatmu pingsan juga karena kehadiran mereka. Itu spontanitas.”
“Untuk alasan khusus,” lanjut sang iblis—dan kali ini mata reptilnya memandang Mariel. “Aku melihat potensi yang besar darimu. Sayang sekali kau belum dilatih untuk menggunakan prana atau sekadar diajari cara bertarung, jadi aku tidak bisa memastikan apakah dugaanku benar. Namun, kau pintar. Kau tidak seperti anak-anak normal. Jadi, aku berpikir, akan berkembang sejauh apa saat anak sepertimu dilatih oleh iblis sepertiku?”
Mariel mengangguk mengerti. Namun, walaupun Lukhiel terlihat jujur dan alasannya tidak terdengar mencurigakan, ada kemungkinan itu tak semuanya. Mungkin dia memiliki alasan lain, mungkin juga tidak. Tetapi yang jelas, niat dia untuk melatih dirinya benar-benar serius. Akan hal itu Mariel tidak meragukan.
__ADS_1
“Master tadi berkata kalau kita akan melakukan perjalanan panjang, kapan kita akan berangkat? Aku ingin melihat pusara ibuku sekali lagi sebelum kita benar-benar pergi.”
“Ah, tentang itu…aku berubah pikiran. Aku ini diburu baik oleh manusia maupun iblis. Bagi iblis, aku adalah pengkhianat. Dan para manusia masih belum melupakan apa yang kulakukan dulu. Jadi, membawa dalam keadaan tak berdaya ini akan sulit. Kau yang sekarang bisa dibunuh hanya dengan satu tendangan.” Ekspresi Lukhiel kemudian mengeras. “Kita akan tinggal di sini untuk beberapa tahun,” tegasnya.
“Di sini…di mana tepatnya di sini itu?”
“Kau familier dengan peta benua ini?”
Mariel menggeleng, menejelaskan, “Peta adalah barang yang mahal; kami tak punya uang untuk memilikinya. Tapi aku tahu nama-nama kerajaan di sekeliling kekaisaran.”
“Itu cukup. Tebing tempat kita memakamkan ibumu berada ada di bagian barat Kekaisaran Neiracia, itu menjadi batas nyata antara kekaisaran itu dengan Kerajaan Besar Camelot. Kita berada di wilayah paling timur Camelot. Jika kau keluar gua, kau akan langsung melihat tebing itu saat memandang menengadah ke arah timur.”
“Jadi, aku bisa kapan saja mengunjungi pusara ibu.”
“Kesimpulanmu tidak salah.”
Mariel menarik napas panjang, matanya memejam menanamkan semua hal yang sudah ia ketahui dalam-dalam. Ia juga telah mengingat kembali percakapan ibunya dengan prajurit bayaran itu. Mariel perlu mengorganisir semua pikirannya agar bisa benar-benar fokus untuk menjadi kuat. Ia harus mempersiapkan diri untuk menerima semua hal yang akan Lukhiel ajarkan.
“Berbicara tentang membuatku menjadi kuat,” Lukhiel membuka mata dan memandang intens sang iblis, “kapan kau akan mulai mengajariku, Master?”
“Pertanyaan yang bagus.” Lukhiel berkata lalu berdiri. “Kita mulai latihanmu besok. Untuk hari ini kau fokus saja beristirahat. Aku perlu ke desa/kota terdekat untuk membeli semua hal yang kita perlukan. Terutama garam. Kita benar-benar memerlukan garam.”
“Tidak perlu khawatir masalah.” Lukhiel mengibaskan tangan-nya dan mulai melangkah. “Persiapkan saja dirimu untuk besok.”
“Kau akan mencuri?”
“Untuk memastikan keselamatanmu, aku akan memagari mulut gue dengan tombak angin. Jadi, kau takkan bisa keluar sampai aku kembali. Gua ini seluruhnya aman. Kau bisa mengeksplornya.”
“…Kau mengabaikan pertanyaanku.”
“Aku tidak mendengar kau bertanya.”
Mariel menghela napas mendengar kilahan itu, tetapi ia tak mempermasalahkan hal itu lagi. Lukhiel adalah iblis; Mariel tidak boleh melupakan hal yang paling penting itu. Lebih dari itu, mereka benar-benar memerlukan garam. Mariel tak bisa membayangkan mereka hidup bertahun-tahun dengan makanan hambar. Jadi, ia tak bisa mempermasalahkan bagaimana Lukhiel mendapatkan kebutuhan mereka.
“Pastikan kau benar-benar beristirahat.”
Itu adalah ucapan terakhir Lukhiel sebelum sosoknya menghi-lang dari pandangan Mariel. Ia pun lantas merebahkan tubuhnya bebe-rapa langkah di samping api yang masih menyala, wajah berhadap-hadapan dengan langit-langit gua. Adanya api membuat Mariel bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
Mungkin Lukhiel adalah pengecualian dari bangsa iblis, batin Mariel seraya memejamkan mata. Dan mungkin dia tidak menyembunyikan maksud lain. Lukhiel barangkali tak pantas disebut i—
...* * *...
—kutarik kembali kata-kataku! Mariel menyeru dalam hati sembari berlari sekuat tenaga menghindari kejaran para babi hutan. Lukhiel benar-benar iblis! Dia lebih iblis dari iblis!
Setengah jam telah berlalu sejak Lukhiel memulai pelatihan untuknya menjadi kuat. Tidak tanggung-tanggung, iblis itu langsung memulainya dengan menjatuhkan dirinya di hadapan kawanan babi hutan yang tengah berkerumun. Mariel sangat terkejut. Jika saja ia terlambat dalam berlari, dan jika saja mereka tidak berada di dalam hutan, riwayatnya mungkin sudah tamat.
“Teruslah berlari, Mariel! Jika aku sampai harus menyelamatkanmu, besok kau akan kujatuhkan di hadapan kawanan singa hutan!”
Ya, mungkin riwayatnya takkan tamat dalam artiannya yang paling dasar. Namun, penderitaannya akan meningkat. Mustahil baginya melarikan diri dari kawanan singa hutan. Mariel menggemeretakkan gigi-giginya sembari berbelok memutari pohon besar. Ia tak bisa berlari lebih cepat lagi. Kakinya juga sudah di ambang batas. Ia harus mengandalkan strategi di sini.
“Jangan berpikir untuk naik ke atas pohon! Jika kau nekat, akan kuhancurkan pohon mana pun yang kau naiki.”
Lukhiel benar-benar tahu bagaimana merusak kesenangan seseorang. Apa dia bisa membaca pikiran? Sepertinya tidak. Karena sang iblis yang membuatnya mengalami semua ini, kemungkinan dia sudah mengantisipasi opsi itu. Lukhiel benar-benar ingin membuat tubuhnya berada di ambang batas. Untuk tujuan itu, memaksanya terus berlari adalah metode yang tak buruk.
Tapi paling tidak, dia harusnya memulai secara bertahap!
Tentu saja Mariel mengerti kalau semua ini demi membuat tubuhnya menjadi kuat. Namun, ini sangat ekstrem. Sedikit pun ia tak menduga latihan di hari pertama akan langsung seperti ini. Mariel berasumsi Lukhiel akan memberikan latihan secara bertahap: ringan, sedang, lalu berat. Minggu pertama latihan ringan. Dua minggu sete-lahnya latihan sedang. Kemudian seterusnya latihan berat. Tidak langsung ke tahap berat seperti ini!
Namun begitu, Mariel tak punya niat untuk protes. Tidak ada jalan singkat untuk menjadi kuat. Ia tidak tahu akan berapa minggu ia akan dipaksa berlari setiap hari sampai kakinya menyerah. Ia akan menahannya dan berusaha sekuat tenaga. Mungkin ini juga metode latihan yang tepat untuknya. Iblis secara alami memiliki fisik yang lebih kuat. Jika ia tak bisa mengungguli mereka dalam hal itu, setidaknya ia harus unggul dalam kecepatan.
Melihat sungai tak jauh di hadapannya, Mariel berusaha keras mempercepat lari ke sana. Kemudian ia melompat ke dalam sungai dengan lebar belasan meter itu tanpa ragu. Ia berenang dengan cepat. Arusnya tidak deras, jadi ia tak kesulitan. Mariel berusaha secepat mungkin ke seberang sungai demi menghindari kejaran para babii hutan sialan itu.
Mariel langsung merebahkan diri secara telentang begitu tiba di seberang sungai. Napasnya memburu. Kakinya bergemetaran. Tetapi paling tidak, babii-babii itu tak mampu mengejarnya. Mereka hanya berdiam diri di pinggir sungai sebelum kemudian berbalik pergi. Mariel bisa bernapas lega. Ia bisa mengistirahatkan diri.
“Kerja bagus. Ini cara yang cerdik untuk meloloskan diri dari mereka.” Lukhiel berdiri di atas air sungai—dia berdiri dalam artian benar-benar berdiri! “Dan karena kau bisa berenang, selanjutnya kau harus berenang berlawanan arah arus sampai tubuhmu tak sanggup lagi. Agar lebih menarik, aku akan mencari buaya atau predator air lainnya untuk mengejarmu. Kau bisa berleha sejenak.”
Sebelum Mariel sempat membuka mulut melayangkan protes, sang iblis telah menghilang dari pandangannya. Sang anak hanya bisa mendesah pasrah dan lanjut beristirahat ‒ ia benar-benar perlu beristirahat jika tidak ingin dihadapkan pada latihan yang lebih berat dan berbahaya. Untuk menjalani latihan iblis dari sang iblis, untuk seterusnya ia harus lebih ber—
“Groaaaaaar!
—Mariel spontan mendudukkan diri lalu melompat ke dalam sungai. Kedua kaki dan tangannya ia gerakkan dengan cepat, berusaha untuk mencapai sisi lain sungai.
Apa dia sengaja membuat beruang itu ke sini?!
Untuk kali ke sekian, Mariel diingatkan kembali kalau Lukhiel adalah iblis.
__ADS_1
...—End of Chapter 1—...