
Selena tidak memberi balasan verbal. Petir membaluti tubuhnya, dan dalam sekejap ia sudah berada di hadapan Mariel dengan pedang yang hendak menusuk.
Dia cepat, Mariel hampir terkena tusukan pedang. Untungnya ia sempat memperlambat laju pedang dengan angin sebelam bergerak ke samping menghindari tusukan. Selena telah kembali mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat, tetapi kali ini Mariel telah menciptakan pedang angin untuk memblok tebasan Caliburn.
“Kau kuat,” puji Mariel disela-sela menangkis rentetan tebasan Caliburn. Itu bukan pujian semu; meskipun Mariel bisa menahan setiap tebasan yang datang, setiap tebasan yang Selena lepaskan membuatnya terdorong ke belakang.
“Kau juga lumayan.”
Perkataan Selena diiringi dengan melesatnya sambaran petir dari telapak tangan kirinya. Mariel bereaksi cepat menghendari sambaran petir itu. Namun, aksinya itu memberi celah bagi Selena untuk mendaratkan tendangan pada pinggang kiri Mariel. Mariel terhempas, tetapi ia sempat mementalkan dirinya dengan dorongan angin untuk menyeimbangkan diri dan mendarat dengan dua kaki.
Akan tetapi, pada saat itu Selena sudah melepaskan gelombang petir dalam cakupan luas. Menghindarinya mustahil; melompat ke udara akan menjadikannya sasaran empuk Selena. Ia hanya punya opsi untuk mengkonter gelombang petir dengan gelombang angin. Dan itu adalah apa yang ia lakukan.
Mariel berhasil melenyapkan gelombang petir dengan gelombang anginnya. Namun, tepat setelah itu, dua harimau es melesat dari kedua sisinya dengan cakar-cakar mereka yang tajam. Pada saat yang bersamaan, Selena melesat maju dengan Caliburn yang berbalutkan petir tebal.
Dia memiliki spirit berkekuatan es, batin Mariel sembari melapisi tubuhnya dengan zirah angin. Kukira aku perlu serius sekarang juga, lanjutnya seraya melemparkan pedang anginnya pada Selena yang menyongsong maju. Kemudian ia menciptakan dua pedang angin di kedua tangan dan menangkis cakar tajam kedua harimau es.
Mereka keras, terkejut Mariel. Es harusnya tak lebih keras dari baja, tetapi kedua harimau yang terbuat dari es ini benar-benar sekeras baja. Mariel perlu meningkatkan kerapatan pedang anginnya jika ingin menghancurkan kedua harimau es. Namun, itu tak sempat ia lakukan. Mariel terpaksa melompat ke udara menghindari tebasan pedang Selena.
“Itu kesalahan besar!”
Seruan Selena diikuti oleh munculnya ratusan jarum es yang menerjang Mariel. Ukurannya yang tipis dan kecepatannya yang tinggi membuat jarum-jarum itu sulit dihindari. Mariel takkan mungkin dapat menghindari dari situasi ini, setidaknya itu setahun yang lalu. Mariel yang sekarang sudah menguasai elemen angin sebaik Lukhiel. Menciptakan tekanan angin dalam skala besar adalah hal yang biasa baginya.
Dan itu adalah apa yang terjadi.
Semua jarum es melambat dengan drastis dan kemudian terhempas ke bawah. Bukan itu saja; kedua harimau es juga sampai terjatuh dan terjerembab hingga badan mereka berantakan. Selena jatuh berlutut ‒ dia menjadikan pedangnya sebagai tumpuan agar tak jatuh terjerembab.
Namun begitu, Mariel tak bisa memanfaatkan kesempatan untuk menyerang Selena. Begitu ia mendarat dan hendak menyerang, Selena melepaskan gelombang petir untuk mencegahnya. Mariel menebas gelombang petir itu dengan kedua pedang anginnya, tetapi setelah itu Selena sudah dalam keadaan berdiri.
“Kau benar-benar kuat; penguasaan elemen anginmu sangat hebat. Dan karena itu juga aku tak bisa melepaskanmu.”
Mariel mengernyitkan kening. Selena melepaskan prana dalam jumlah tinggi. Ia tak perlu mendekat untuk melihat. Saking banyak prana yang dia lepaskan, itu sampai terlihat secara nyata. Energi hijau pekat membaluti tubuh sang gadis.
“Bangkitlah dan bekukan dunia, Frozen King Leztheria.”
Sejurus seketika, prana yang membaluti tubuh Selena berubah menjadi mantel es yang menakjubkan. Pada saat yang bersamaan, temperatur udara menurun tajam dan rerumputan mulai membeku. Rambut Selena menjadi seputih salju. Begitu juga dengan bulu matanya. Kulitnya pun menjadi sangat pucat hingga pembuluh darahnya terlihat jelas.
Jadi, ini adalah tahap kedua penguasaan spirit? Mariel membatin. Ia bisa merasakan dengan jelas perbedaan kekuatan di antara mereka. Dia bukan lagi seseorang yang bisa Mariel atasi tanpa mengandalkan kekuatan spiritnya.
__ADS_1
“Sebaiknya kau menyerah,” ucap Selena dengan sangat serius. “Jika kita lanjutkan, kau akan terluka parah. Ini akan lebih dari sekadar membuatmu darah.”
“Kau memang telah menjadi lebih kuat secara signifikan.” Mariel memuji. “Tapi tidak apa,” lanjutnya seraya menghilangkan zirah angin. “Akan kuperlihatkan mengapa perubahanmu itu tetap takkan memberimu kemenangan. Majulah.”
“Baiklah jika kau bersikeras.” Selena mengangkat pedangnya yang sudah dibaluti petir tebal, dan dalam sekejap dia melesat menyerang.
Sang gadis telah bertambah cepat secara signifikan. Jika ia tak terbiasa dengan kecepatan Lukhiel saat iblis itu tak menahan diri, ia takkan bisa mengikuti pergerakan Selena. Namun, Mariel telah menghabiskan banyak waktu menerima pukulan sang iblis. Walaupun tubuhnya tak sanggup mengimbangi, kecepatan reaktifnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.
“Terima kekalahanmu, Mari—!”
Mariel menangkap pedang Selena dengan kelima jarinya. Tetapi yang lebih mengejutkan sang gadis sampai dia tak mampu berkata-kata adalah lenyapnya mantel es yang membaluti tubuhnya. Warna rambut dan kulitnya juga kembali normal. Kekuatannya yang melonjak menghilang dalam sekejap.
Selena begitu syok sampai matanya melebar dan tubuhnya mematung.
Mariel melepaskan tangannya dari bilah pedang Selena. “Aku tak ingin membuat kulit mulus terluka. Jadi,” Mariel menyentil pelan dahi Selena, “ini kekalahanmu. Aku ma—ah, kita akan bertemu lagi kapan-kapan. Saat itu aku akan menagih makan malam itu.”
Mariel langsung melesat pergi dengan tubuh yang sudah berbalutkan zirah angin; ia tak ingin anak buah Selena salah paham dan mengeroyoknya.
Hanya berselang tiga detik setelah kepergian Mariel, seorang pria mendarat dengan suara debuman di hadapan Selena. Dua orang lain tiba sedetik kemudian. Dan sedetik setelahnya muncul dua orang yang lain. Jimmy, Eliza, Axel, Ferguso, dan Clarent. Lima bawahan terpercaya Selena—dan kelimanya lebih tua dari sang gadis.
“Nona Selena, kau baik-baik saja? Kita perlu mengejar anak itu?”
“Tapi, Nona, anak itu berbahaya! Dia baru saja membatalkan perubahan Nona. Bagaimana kalau dia prajurit bayaran yang disuruh mencuri kedua pedang suci atau tujuan penting lainnya?”
“Dia tidak mengambil Caliburn,” respons Selena sembari memandangi bagian pedang yang tadi ditahan Mariel. “Aku tidak tahu jika dia prajurit bayaran atau bukan, tapi itu tidak penting.”
Selena tidak menggunakan kekuatan pedang suci, jadi tak mengherankan Mariel bisa menangkap pedangnya. Dan jika ia menggunakan kekuatan pedang suci, apa dia bisa membatalkan pengaktifan pedangnya sebagaimana dia membatalkan perubahan dirinya tadi? Spirit Selena spirit raja, tetapi Mariel bisa membatalkan perubahannya. Apa itu artinya Mariel juga memiliki spirit raja?
“Nona, kau tak boleh bersikap seenaknya seperti itu. Ingat, kau adalah putri bangsawan yang paling berpengaruh sekaligus juga keluarga kerajaan. Bahkan Nona memiliki hak menduduki tahta jika Yang Mulia Arthur IV turun tahta. Jika anak itu ke depannya menimbulkan masalah, nama Nona bisa tercemar!”
“Ferguso,” panggil Selena mengabaikan kekhawatiran Clarent.
“Ya?”
“Kirim surat untuk kakekku. Katakan padanya kalau aku ingin agar dia menyuruh ayah dan ibuku berhenti dari mencari pria untuk dijodohkan denganku. Aku sudah memutuskan akan membuat anak itu menjadi priaku.”
“…Hah?”
__ADS_1
“Nona Selena!”
“Nona Selena, kau sudah gila!”
“…Tindakanmu selalu mengkhawatirkan, Nona.”
“Nona Selena, …bisa kutanya mengapa?”
Selena menyarungkan pedangnya dan tersenyum polos. Ia berkata dengan enteng: “Dia baru saja mengalahkanku, apa aku perlu alasan lain?”
Selena tak memedulikan reaksi kelima anak buahnya, ia langsung melangkah pergi.
Ia adalah wanita terkuat sepanjang sejarah Camelot. Jika ia harus menikah, pasangannya juga harus kuat. Lebih dari itu, Mariel memuji kecantikannya dan tak berkomentar tentang sifatnya. Sejauh ini tak ada yang berani mengatakan itu karena ketomboiannya. Entah mereka takut ia akan tersinggung, atau mungkin karena tidak suka sifatnya.
Yang jelas, orang-orang menyukai wanita anggun dan penuh etika seperti Marryphimia. Selena tak mencerminkan perilaku wanita bangsawan. Ibunya bahkan sudah menyerah untuk memaksanya. Begitu juga dengan ayahnya. Meskipun takkan ada yang menyangkal akan keindahan tubuh dan parasnya, para bangsawan akan berpikir dua kali untuk menjadikannya istri.
Tentu saja Selena tak memedulikan itu. Ia masih muda; ia tak pernah memikirkan kapan akan menikah. Ia juga tak tertarik dengan cinta-cintaan. Itu pula sebabnya kedua orangtuanya berupaya menca-rikannya jodoh. Mereka tak percaya ia akan bisa menemukan pria yang tepat. Dan tentu saja, ia selalu menolak mentah-mentah setiap pria terpandang yang mereka bawa ke rumah.
Wanita kuat tak perlu mengikuti pemikiran dan tuntutan orang lain, batin Selena mengingat perkataan kakeknya. Wanita kuat hidup dengan prinsip, aturan, dan tuntutannya sendiri. Wanita kuat hidup dalam kebebasan.
Karena itulah Selena menjadi kuat. Ia ingin hidup bebas dan melakukan apa yang ia kehendaki tanpa ada yang berani protes. Tak ada yang boleh mendiktekan bagaimana ia harus hidup. Di dunia ini, kunci kebebasan satu-satunya adalah kekuatan, yang lainnya menjerat.
“Ayo pergi. Kita ke Birmithan sekarang juga.”
...* * *
...
Mariel terpaksa mengambil jalan memutar ke arah kiri perbukitan demi menghindari dari kemungkinan dikejar. Ia tidak tahu jika Selena akan menerima kekalahan atau tidak, dan takkan mengejutkan jika dia mengajak anak buahnya untuk mengeroyoknya. Niat Mariel untuk naik perahu demi menyeberang danau harus ia tunda lain kali.
Namun begitu, ia tidak bisa bilang ini mengecewakan.
Mariel baru saja mendapatkan informasi yang berharga. Bukan tentang Lukhiel; iblis itu terserah mau melakukan apa, Mariel tak mengkhawatirkannya. Ini tentang Merlin. Jika Selena mengatakan dia mau mencari Merlin, berarti Merlin memang benar-benar masih hidup dan berada di Menara Babel. Pasalnya, tak ada yang lebih tahu tentang Merlin selain keluarga kerajaan.
Segera setelah Lukhiel selesai dari melakukan apa pun itu yang menyita perhatiannya, mereka bisa langsung pergi mencari keberadaan Merlin. Pelatihannya sudah usai; Lukhiel bilang tak ada lagi yang bisa dia ajarkan. Jadi, mereka tak perlu menghabiskan lebih banyak waktu di gua. Mereka bisa memulai perjalanan panjang menelusuri seluk-beluk dunia.
Tapi sebelum itu aku harus menagih kesepakatan dengan Selena. Bibir Mariel melengkung sendiri membayangkan hal itu.
__ADS_1
...—End of Chapter 3—...