
Tak ingin membuat kedua orang itu sampai menemukan pusara ibu Mariel, Lukhiel melenyapkan sebagian pohon dengan elemen angin setelah berada beberapa ratus meter dari pusara. Kemudian ia melompat dari tebing. Lukhiel mengonversikan prananya menjadi angin untuk mengurangi laju jatuhnya. Dan sekitar empat menit kemudian, ia mendarat dengan elegan di tepi sungai.
Jika sebelumnya ia berada di wilayah Kekaisaran Neurocia, sekarang Lukhiel berada dalam kawasan Kerajaan Besar Camelot—kerajaan yang dikuasai raja para kesatria, Arthur IV Pendragon. Meskipun aturan di negeri ini lebih ketat dari Neurocia, setiap orang di sini memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Setidaknya, itu jika seseorang yang terjerat masalah tidak memiliki darah iblis dalam nadinya.
Lukhiel membawa Mariel menelusuri tepi sungai.
Ia berjalan berlawanan dengan aliran sungai. Tujuannya saat ini mencari gua tempat Mariel beristirahat. Kemudian besok pagi mereka bisa pergi mencari permukiman penduduk. Lukhiel memang pernah sekali menginjakkan kaki di negeri ini, tetapi hanya di Pendragon (ibukota Camelot) saja. Itu pun tidak lama. Kesatria Meja Bundar cukup merepotkan untuk ditangani. Lukhiel tidak tahu banyak.
Lukhiel baru menemukan gua yang bisa digunakan setelah hampir satu setengah jam berjalan. Ia membaringkan Mariel yang belum sadarkan diri di atas tumpukan daun. Kemudian ia duduk bermeditasi di samping sang anak. Matanya memejam. Meski begitu, Lukhiel tidak sepenuhnya tertidur; ia akan langsung sadar jika ada yang mendekat.
Mata Lukhiel membuka sekitar empat jam kemudian—saat itu hari sudah agak terang. Ia dapati Mariel masih belum sadarkan diri. Dia masih cukup terlelap. Kemungkinan dia tak akan bangun jika tak ia paksa. Apa ia memukulnya terlalu kuat? Atau barangkali, apa yang terjadi tadi malam cukup membebaninya sehingga dia tertidur lebih lama?
Hm, dia manusia, masuk akal jika mentalnya terbebani.
Memutuskan untuk membiarkan Mariel terjaga secara alami, Lukhiel bangkit berdiri dan melangkah ke luar gua. Ia akan mencari beberapa ikan untuk mereka makan. Iblis memang tak memerlukan makanan manusia, dan hanya iblis yang telah terbebas dari kekangan rantai neraka yang bisa menikmati rasa dari makanan manusia, tetapi Lukhiel cukup menikmati kegiatan yang disebut “makan”.
Namun, tentu saja, ia tak bisa membiarkan Mariel tanpa penjagaan. Jadi, sebelum benar-benar pergi, ia menciptakan delapan tombak angin dan menancapkannya di depan mulut gua. Dengan begitu, takkan ada binatang buas yang akan masuk dan mengancam keselamatan sang anak. Barulah kemudian ia melangkah menuju sungai.
Begitu suara langkah kaki itu lenyap dari pendengarannya, kedua mata Mariel membuka. Ia mendudukkan diri dengan perlahan. Sebenarnya ia sudah terjaga sedari tadi. Namun, setelah mengulas kembali apa yang terjadi tadi malam, ia menyadari kalau pria tua yang menolongnya adalah iblis. Wujudnya memang tidak menyeramkan seperti yang normal diketahui, tetapi ibunya pernah mengatakan kalau iblis tingkat tinggi memiliki rupa yang sama persis dengan manusia.
__ADS_1
Hanya ada dua hal yang membedakan antara manusia dan iblis tingkat tinggi. Yang pertama, kuku. Kuku iblis berwarna hitam kelam. Kuku mereka juga tak bisa diwarnai dengan pewarna apa pun – warna hitam pada kuku mereka akan selalu melenyapkan pewarna kuku apa pun. Lalu yang kedua adalah mata. Mata iblis memiliki pupil yang vertikal seperti reptil. Dan Lukhiel melihat dengan jelas kalau kuku pria tua tadi berwarna hitam, pupilnya juga vertikal.
Dia seratus persen iblis.
Mariel tidak tahu apa tujuan iblis itu menawannya di sini. Yang bisa ia pikirkan, jika iblis itu menginginkan jiwanya, dirinya sudah tak lagi bernyawa sekarang. Karena itu, ia bisa menyimpulkan kalau apa pun yang dia inginkan takkan mengantarkan Mariel pada kemati-annya. Jika begitu, apa iblis itu ingin menjadikannya budak? Atau, dia ingin menghadiahkan dirinya untuk iblis lain?
Sejujurnya, Mariel tidak begitu peduli. Ia ingin menyusul ibunya. Tak ada guna kehidupannya tanpa sang ibu di sisi. Siapa yang akan menenangkannya dari mimpi buruk saat ia terjaga di tengah malam? Siapa yang akan memberinya makan saat perutnya menjerit minta diisi? Siapa yang akan memberinya pelukan hangat saat tubuhnya menggigil kedinginan?
Tidak ada. Satu pun tidak ada. Sekarang Mariel benar-benar sendiri. Ia tidak lagi memiliki tempat bersandar. Maka dari itu, ia ingin mati saja. Paling tidak, jika ia mati, ia akan bisa bertemu ibunya lagi. Ia tidak takut menjadi iblis setelah mati nanti; Mariel bukan anak nakal seperti dalam cerita-cerita.
Akan tetapi, Mariel juga tak bisa mengabaikan perkataan-perka-taan sang ibu. Demi ibunya, ia harus terus hidup—untuknya dan untuk mereka juga. Ia harus menjadi kuat. Kemudian ia harus memutuskan ingin hidup seperti apa. Itulah yang ibunya inginkan. Mereka akan memantaunya dari sisi lain dunia sana, jadi ia harus benar-benar mewujudkan kata-kata itu. Mariel harus memenuhi keinginan terakhir sang ibu.
Mariel berusaha keras memutar otak. Ia memikirkan cara yang bisa digunakan oleh manusia lemah sepertinya. Ia bisa mengalahkan ibunya dalam permainan catur, tetapi untuk sekarang Mariel tak punya solusi. Ia bisa memikirkan cara untuk melarikan diri, sayangnya ia tak punya daya untuk mewujudkan cara-cara itu.
Pada akhirnya Mariel memilih tidur kembali.
Bukan. Bukan karena ia telah menyerah dan pasrah. Sama sekali bukan. Ini sama seperti permainan catur. Jika kau tak bisa menang hanya dengan bidak-bidakmu, kau harus memanfaatkan bidak-bidak lawan untuk memberimu kemenangan. Mariel tak punya apa-apa di sini, jadi ia sepenuhnya akan memanfaatkan sang iblis. Ia akan bergantung pada harapan kalau iblis itu memerlukannya hidup. Tentu saja Mariel tahu ini taruhan yang berhaya, tetapi ini juga opsi dengan peluang keberhasilan yang paling besar.
Mariel memejamkan kedua mata dan meninggalkan asa pada keberuntungan.
__ADS_1
Ketika kelopak mata Mariel membuka kembali, yang menyambut pandangannya adalah sosok sang iblis yang duduk di hadapan api unggun kecil. Memandangnya dengan lebih jelas, Mariel dapati kalau iblis itu tengah membakar ikan. Mariel tidak tahu jika iblis tingkat atas makanannya normal. Namun, jika itu bukan makanan iblis, apa dia menyiapkan itu untuknya?
“Di samping mulut gua ada air,” berkata sang iblis tanpa menolehkan mata padanya. “Basuhlah wajahmu. Kemudian ke sini. Kita perlu mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.”
Mariel tidak berpikir sang iblis akan berkata dengan ramah seperti itu. Namun, mengingat lagi bagaimana dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan tadi malam, keramahannya ini jadi tak mengherankan pula. Dan karena itu juga, keyakinan Mariel kalau dia tak menginginkan kematiannya semakin kuat. Namun, mengapa bersikap ramah jika ia akan dijadikan budak?
“Sepertinya kau sudah sadar kalau aku iblis.” Iblis itu kembali berkata—dan masih tanpa memandang ke arahnya. “Tapi jangan khawatir. Aku takkan membunuhmu setelah repot-repot menyelamatkanmu. Kau terlihat seperti anak yang pintar. Tentu kau mengerti apa yang kumaksudkan, kan?”
Mariel mendudukkan diri. “Kenapa kau bersikap ramah?” tanyanya, mata memandang intens sang iblis. “Kau memerlukanku dalam kondisi baik untuk diperbudak?”
Sang iblis berhenti mengatur posisi ikan bakar, wajah menoleh memandang sang anak.
“Sepertinya kau telah salah menyangka,” kata iblis itu setelah hampir semenit memandang diam Mariel. “Aku tidak punya niat menjadikanmu budak atau menjualmu sebagai budak. Tapi sebaiknya kau basuh wajah dan lalu kita makan. Kita bisa lanjut bicara setelah kita makan. Setelah ini kita akan melakukan perjalanan panjang.”
Mariel memandang sang iblis penuh curiga, tetapi kemudian ia menghela napas panjang dan melakukan apa yang dia suruh. Tidak ada gunanya berpikir lebih jauh. Lagipula, ini masih sesuai dengan rencana. Mariel membasuh wajah juga rambut. Setelah rambutnya agak kering, barulah kemudian ia menghampiri sang iblis.
“Lukhiel. Kau bisa memanggilku dengan nama itu.”
Sang iblis memperkenalkan diri bertepatan dengan duduknya Mariel dua langkah di kanannya. “Mariel Allvar,” balas sang anak. “Iblis Lukhiel bisa memanggilku Mariel.”
__ADS_1
“Iblis Lukhiel…? Itu tak terdengar buruk. Namun, itu akan jadi masalah jika berada di luar. Master, atau Master Lukhiel. Mulai sekarang dan seterusnya kau akan memanggilku begitu. Karena aku sudah memutuskan untuk mengajarimu ilmuku, memanggilku ‘Master’ sangatlah normal.”