
Selena tidak berbohong saat bilang akan kembali dengan makan malam. Mariel ingat ia sudah mengatakan agar makanannya diantar setelah tiga jam. Tetapi makanannya tiba satu setengah jam lebih awal. Makan malam tidak boleh terlalu larut, lebih awal lebih baik. Begitu jelas Selena saat dia masuk tanpa izin.
Namun, kedatangan Selena itu tidak seperti sebelumnya. Kali ini dia tidak ditemani satu pun anak buah, hanya sendiri. Selena tidak menjelaskan mengapa yang lain tak mengawalnya, dan ia pun tidak bertanya. Mereka menikmati makan malam tanpa banyak berbicara. Lebih tepatnya, mereka menikmati makan malam sembari mengamati satu sama lain.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau berada di penginapan ini?” tanya Selena setelah menghabiskan makanan mereka. “Bukannya kau mau ke Pendragon atau Londinia? Apa kau berubah pikiran dan memutuskan menuju Birmithan?”
Ah, telah terselip dari kepala Mariel kalau Selena dan anak buahnya berencana ke Birmithan. Padahal, ia tahu kalau Lukhiel berada di sana dari mereka, tetapi kehadiran mereka di penginapan ini tetap mengejutkan. Lebih tepatnya, ia tidak berpikir akan bertemu mereka karena merasa ia akan tiba terlebih dahulu di kota itu.
“Kau sendiri, bagaimana bisa berada di sini lebih dulu dariku?” tanya balik Mariel. “Bukannya kalian bepergian dengan kereta kuda? Bagaimana kalian bisa tiba di sini dengan sangat cepat?”
Mariel tidak memeriksa area parkir penginapan. Ia langsung memasuki penginapan begitu tiba. Jadi, tak mungkin ia akan mengantisipasi kehadiran Selena dan anak buah. Apa mungkin mereka meninggalkan kereta kuda dan berlari ke sini?
“Clarent punya kemampuan berteleportasi. Dia meneleportasikan kami ke sini. Kami sudah di sini sejak siang. Sebentar lagi kami akan pergi dan langsung ke Birmithan.” Selena menjeda sembari menelan jus apel beberapa tegukan. “Dan kau, kau masih belum menjawab pertanyaanku,” lanjutnya kemudian.
“Tujuanku Elchester,” kata Mariel lalu menengguk air putih. “Setelah dari sana,” lanjutnya, “aku mau langsung menjelajahi Kerajaan Denland. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku mau mengeksplor dunia. Keadaan semakin memanas antara Kekaisaran Neiracia dan Kerajaan Urakhna, jadi kuputuskan memulai petualanganku dari sekutu Camelot.”
“Oh, itu ide yang bagus. Aku pernah ke Denland. Kalau kau ke sana, cobalah berkunjung ke Mercusuar Sembilan Dewa. Tingginya sampai 2800 meter. Kau akan bisa melihat seluruh wilayah Denland dari puncak mercusuar.”
“Aku pernah mendengarnya. Itu mercusuar sekaligus menara tertinggi di dunia. Ada yang bilang Menara Babel lebih tinggi, tapi itu tak ada bukti makanya Mercusuar Sembilan Dewa diputuskan sebagai yang tertinggi. Apa mercusuar itu bisa dimasuki warga umum?”
“Kau harus membayar 200 escal untuk masuk, tapi itu harga yang pantas untuk pemandangan yang akan bisa dilihat.”
“Oh, itu terjangkau. Nanti akan kusempatkan diri ke sana. Terima kasih untuk informasinya.”
Selena tersenyum, kemudian berdiri. Pedang suci yang ia letakkan di samping sofa telah kembali ke punggungnya. “Kalau begitu kita berpisah di sini,” katanya lalu menghampiri Mariel. “Ini pegangan untuk nanti.”
Mariel hendak menanyakan apa maksudnya, tetapi niat itu langsung pudar saat tiba-tiba bibir Selena menerkam bibirnya. Mariel terdiam. Tubuhnya seperti disengat oleh petir yang membawa nikmat.
“Pastikan kau mengembalikannya padaku saat kita bertemu lagi.”
“…Tentu.”
Hanya itu yang bisa mulut Mariel keluarkan saat melihat Selena menutup pintu sambil memamerkan cengiran yang mengalahkan cerahnya mentari. Dan tanpa sadar ia telah membawa jemari kanannya menyentuh bibir.
“Ini jauh lebih berasa dibandingkan yang dimimpi….”
Mariel tak bisa menahan bibirnya untuk tak melengkung – ia senyam-senyum sendiri seperti orang gila.
Barulah satu jam kemudian ia tersentak dari lamunan fatamorgananya, itu pun karena dua orang pelayan datang meminta izin untuk membawa perlengkapan makan yang kotor. Jika bukan karena kedatangan mereka, mungkin ia masih terlarut dalam buaian fantasi yang memperdaya untuk satu atau dua jam.
“…Kurasa wanita memang berbahaya,” simpul Mariel—dan kali ini ia serius.
Namun, Mariel tidak membencinya. Sebaliknya, ia menginginkannya lagi. Hanya mengingat sensasi yang tadi menerpa sudah cukup untuk membuatnya candu. Ia mau merasakannya lagi dan lagi. Mimpi tak sanggup mengalahkan sensasi yang diberikan kenyataan.
“Sungguh berbahaya,” gumam Mariel sembari merebahkan diri di ranjang empuk yang kamar penginapan sediakan.
Kontra dengan kata “berbahaya” yang mulutnya keluarkan, bibir Mariel melengkung. Ia jadi tak sabar untuk mengembalikan ci—
—Mariel tersentak.
Remaja berusia lima belas tahun ini baru teringat kalau ia harus membantu Lukhiel yang mungkin dalam masalah besar. Terlebih lagi, Selena dan anak buahnya sudah berada di Birmithan. Sekuat apa pun Lukhiel, tidak mungkin dia bisa mengatasi Kesatria Meja Bundar dan Selena beserta grupnya pada saat yang bersamaan. Apalagi jika sampai Raja Arthur IV hadir, dan belum lagi Sterminatore yang pasti takkan diam saja.
Mariel berencana pergi besok, tetapi sepertinya situasi lebih buruk dari apa yang bisa dimengerti. Melanjutkan pergi besok sama saja mencoba merebus ikan bakar. Mariel harus mengubah rencana. Ia harus pergi sekarang jika tidak ingin Lukhiel mati konyol.
Menghela napas panjang, Mariel menarik tasnya dan membuka jendela.
Cahaya pucat bulan yang tengah purnama membuat malam agak terang. Mariel melompat dari jendela dengan kedua tangan dan kaki yang terbuka. Ia mengonversikan prana menjadi angin untuk mengarungi udara sebagaimana layang-layang. Mariel baru menginjak tanah setelah berjarak lebih dari satu kilometer dari penginapan.
Desa tempat penginapan tadi berada terletak tepat di tengah-tengah antara Londinia dan Birmithan. Artinya, ia sudah setengah perjalanan dari mencapai kota itu. Dengan kecepatan penuh, ia bisa mencapai Birmithan dalam satu jam—kurang lebih.
“Aku hanya bisa berharap tak tiba terlambat.”
...—Birmithan—
...
“Selain empat anggota Sterminatore Tingkat 2, Tuan Langgram sudah memosisikan tiga kapten Batalion Merah untuk berjaga di dalam gedung. Ketiga batalion yang mereka pimpin bersembunyi di utara kota. Bersama mereka ada Tuan Goliathra. Jadi, jika kita ingin memanfaatkan keadaan, kita harus memancing Primordial Iblis Lukhiel ke arah timur.”
__ADS_1
“Apa ini hanya perasaanku saja, atau memang ini terlalu berlebihan untuk mengalahkan Iblis Primordial Lukhiel, Ferguso?”
Ferguso—pria berusia 26 tahunan berambut hitam pendek dan berkacamata—yang dipercaya Selena menjadi otak dalam tim mereka menoleh pada pemilik pertanyaan: Eliza. Eliza dua tahun lebih muda dari Ferguso. Rambutnya coklat panjang bergelombang dan disisir ke belakang seperti ekor ikan.
Saat ini mereka duduk melingkari meja bundar di atap salah satu penginapan mewah yang ada di kota. Mereka hanya berlima: Eliza, Clarent, Jimmy, Axel, dan Ferguso sendiri. Pemimpin mereka, Selena, tidak hadir. Sang gadis tengah berada di salah satu kamar penginapan menemui pamannya: Raja Arthur IV. Karena operasi yang sedang berlangsung dipimpin sendiri oleh sang raja, Selena terpaksa meminta izin jika ingin terlibat.
“Lukhiel yang paling lemah dari kedelapan Primordial Devil, kan?” Axel turut bertanya.
Pria botak dengan bekas luka sayatan pada pipi kiri itu bertanya sambil menguap. Dia satu tahun lebih tua dari Ferguso, tetapi yang paling malas dari mereka semua. Jika bukan karena tahu kalau Alex sangat loyal, Ferguso sudah pasti menyarankan Selena untuk memecat Alex.
“Lukhiel paling lemah, tapi sarat pengalaman.”
Jawaban itu bukan keluar dari mulut Ferguso, melainkan Jimmy—anggota termuda di antara mereka.
Jimmy baru berusia dua puluh tahun. Dia pria berambut pirang pendek yang tak suka banyak bicara. Dari semuanya, Ferguso paling menyukai Jimmy. Ia bisa mengandalkannya saat Ferguso tidak ada. Namun, yang menjadi masalah adalah Jimmy sulit bergerak tanpa diperintah. Ferguso harus memastikan memberinya perintah jika mau menggunakan jasanya dengan maksimal.
“Dia sudah hidup lebih dari satu milenium,” sambung Clarent menyetujui ucapan Jimmy.
Clarent yang tertua nomor tiga. Wanita berambut abu-abu pendek sebahu itu baru berusia 25 tahun pada tiga minggu yang lalu. Dia yang paling cerewet dari semuanya, tetapi dia juga yang paling disiplin. Namun, mengingat Clarent adalah bangsawan, hal itu tidak mengherankan. Ferguso sangat berterima kasih pada Clarent.
“Tapi tetap saja berlebihan, kan?” tanya Eliza lagi. “Raja Arthur IV sampai turun tangan, lho! Apa kalian nggak berpikir kalau ada motif lain di sini?”
“Jika tujuannya menangkap Lukhiel hidup-hidup tanpa memberinya ruang untuk kabur, kukira semua persiapan yang dilakukan terbilang masuk akal.” Ferguso akhirnya memberikan pendapatnya. “Walaupun yang paling lemah, Lukhiel tetaplah kuat. Ada alasan mengapa Nona Guinerhea terbunuh. Ada alasan mengapa sampat detik ini dia masih bebas.”
“Itu masuk akal juga, sih.”
“Melanjutkan ucapanku tadi,” lanjut Ferguso mengembalikan perhatian rekannya ke topik permasalahan, “kita akan memancing Lukhiel untuk melarikan diri ke timur. Namun, kita harus bergerak sebelum yang lain bergerak. Jadi, kita harus menyerangnya sebelum dia memasuki gedung walikota. Ini akan menghalangi terwujudnya rencana Tuan Langgram, tapi Nona Selena takkan mendapat masalah jika kita berhasil memenggal kepala Lukhiel.”
“Clarent,” Ferguso memusatkan pandangan pada pemilik nama. “Karena kau yang memiliki teleportasi, kau yang akan jadi umpan. Alex akan menyerang penginapan. Kami akan berjaga di posisi-posisi yang berbeda untuk membuatnya berlari ke arah timur. Kau langsung menyerangnya begitu Lukhiel keluar. Kami takkan menyusulmu, jadi kau harus berhati-hati sembari tetap memastikan menggiringnya ke timur. Lukhiel akan menghabisimu saat dia yakin kau tak diikuti, sebagaimana yang dia lakukan pada Nona Guinerhea. Dan sa—”
“Dan saat itulah aku harus meneleportasikan kalian ke sana?” potong Clarent dengan pandangan bosan. “Oke, oke. Kau tak perlu menjelaskan panjang lebar padaku. Aku bukan Alex.”
“Oi!”
“…Aku tak bisa menyangkal.”
“Oi!”
“Tapi sebelum itu,” timpal Eliza tiba-tiba, “apa kalian yakin Yang Mulia akan mengizinkan Nona Selena berbuat seenaknya?”
Pertanyaan dengan ekspresi sok polos itu membuat mata Ferguso dan yang lainnya tertuju pada Eliza. Bagaimana tidak? Jika Raja Arthur IV tidak mengizinkan, rencana mereka tak bisa dijalankan.
“Kita serahkan hal itu pada Nona.”
Ferguso tak bisa memberi jawaban yang lain.
...—dalam salah satu kamar di penginapan—
...
“… Jadi, aku ingin Paman memberiku kesempatan.”
Setelah beberapa lama berbasa-basi, akhirnya Selena berhasil mengutarakan maksudnya. Paman sialannya ini telah membuat pembicaraan panjang lebar hingga tak ada ruang bagi Selena untuk mengambil alih pembicaraan. Setiap kali ia mencoba, sang raja akan memotong duluan. Ia baru berhasil memotong balik saat dia memberi tahu kalau Marry telah berhasil mengalahkan dua iblis kelas atas.
“Akan kupastikan aku akan membawa kepala Primordial Devil Lukhiel ke hadapan Paman. Jika gagal, aku tak keberatan menunggu satu setengah tahun lagi.”
Selena memandang tajam pamannya: Arthur IV Pendragon.
Pria berusia 37 tahun berambut pirang setelinga yang disisir tidak rapi itu memandang Selena balik dengan iris hijaunya. Pandangannya tidak tajam, tidak datar juga. Pandangan Arthur normal. Namun, Selena merasa dirinya tengah diadili oleh pria dewasa berbadan tegap tersebut. Tetapi Selena tidak keok; pandangan tajamnya tidak luntur.
“Baiklah.”
Bibir Selena merekah tak terkira.
“Tapi—”
Dan rekahan itu langsung lenyap dengan cepat.
__ADS_1
“—kau harus melupakan keinginanmu dan menjadi kesatria putriku kalau kau gagal. Aku sudah berjanji pada ibumu untuk tidak membuatmu berada dalam bahaya. Ini pertaruhan yang adil, kan?”
Cara Arthur IV memandangnya seakan terjemahkan dengan jelas apa kata-kata yang tak terucap. “Kau akan gagal, dan aku tak perlu mengkhawatirkan keselamatan Marry dan ocehan ibumu.” Selena sangat yakin kalau itulah ucapan yang tak Arthur suarakan.
“Baik, aku tak masalah dengan itu.”
Bukan Selena namanya jika ia tak berani menerima tantangan. Jika ia gagal, ia hanya perlu meyakinkan kakeknya untuk membuat sang paman membuatnya menjadi bagian kesat—
“Jangan berpikir untuk mengandalkan kakekmu. Jika itu kau lakukan, pedang itu akan kusita.”
“…Kau…! Kau terlalu berlebihan, Paman!”
“Jadi, kau berubah pikiran?”
“Tentu saja tidak!” Selena berdiri dari sofa tempatnya duduk dengan mata penuh determinasi. “Ini pertaruhan hidup mati. Akan kuletakkan nyawaku di dalamnya.”
“…Aku tak mau bertanggung jawab kalau ibumu marah.”
Selena mendengus. “Tentu saja,” katanya seraya berdiri dan menarik Caliburn lalu menaruhnya kembali di punggung. “Kalau begitu, aku pamit dulu, Paman.”
“Kudoakan untuk kemenanganmu.”
Respons atas ucapan Arthur adalah dengusan kekesalan, tetapi sang raja justru tersenyum terhibur. Ia bahkan sampai tertawa. Barulah ketika pintu ditutup dengan keras tawa itu berhenti.
“Apa Anda tidak berlebihan, Yang Mulia?” tanya wanita berpakaian pelayan yang sedari tadi berdiri di belakang sang raja.
“Tidak apa-apa, Athrecia. Ibunya memang tak ingin dia jadi bagian Kesatria Meja Bundar. Dan kau tahu sendiri aku selalu memenuhi keinginan adikku. Yang lebih penting, persiapanmu sudah selesai?”
“Ya. Aku sudah menyiapkan arena pertarungan di tempat Guinerhea terbunuh. Aku juga sudah memastikan Celinee telah menggoreskan darahku pada kulit Lukhiel. Aku bisa meneleportasikannya ke sana kapan saja.”
“Seperti biasa, Athrecia, kau cukup menakutkan jika menjadi musuh. Tapi, apa kau yakin membiarkan Celinee hidup? Bisa jadi ada orang yang akan mengembalikan ingatannya. Jika dia sampai ingat semuanya, itu akan merepotkan.”
“Apa kau meragukanku, Yang Mulia? Aku penyihir yang lebih baik dari Morgan Le Fay dan Merlin. Ah, aku harus membunuh Merlin untuk mengklaim lebih baik darinya. Tapi, kenyataan kalau aku lebih baik dari Morgan tak terbantahkan.”
“Oh, aku lupa kalau kau membunuh ibumu sendiri.”
“Dia duluan yang mau membunuhku!”
“Aku tahu, aku tahu. Tak perlu kesal begitu. Sekarang lebih baik pijat bahuku ‒ pijatanmu lebih enak dari istriku.”
“Kau pria yang cukup brengsek, Yang Mulia.”
“Aku tak mau mendengar itu dari wanita yang menggodaku duluan.”
“Aku tak bisa menyangkal hal itu, tapi kau bisa menolakku kalau tak brenggsek.”
“Bukannya saat itu kau mengikatku sampai aku tak bisa melawan?”
“Oh, lantas bagaimana bisa aku yang berakhir terikat?”
“…Ma-Mari kita lupakan hal itu.”
“Hanya jika kau mengajakku tinggal di istana.”
“Kau gila?!”
“Kau baru tahu kalau aku gila?”
“Istriku akan menghajarku, kau tahu? Dia tidak mau aku memiliki selir, apalagi istri.”
“Siapa yang bilang sebagai istri atau selir? Aku yakin kau bisa mengganti posisi kepala pelayan denganku.”
“Kau bermain dengan api, Athrecia.”
“Dan kau suka.”
“….”
__ADS_1
...—End of Chapter 5—...