Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 4 — Strange Shop & Problem


__ADS_3

LONDINIA adalah kota besar yang memiliki dua gerbang yang menjadi akses masuk. Jarak antara gerbang timur dengan gerbang barat mencapai lima kilometer. Dinding yang mengelilingi kota terbuat dari beton, bentuknya persegi seperti benteng. Tinggi dinding hanya sepuluh meter, tetapi lebarnya hampir satu meter—dengan empat menara pengawas di masing-masing sudutnya.


Mariel memasuki kota tersebut setelah membayar satu keping perak (10 escal) pada penjaga gerbang. Mereka tidak memedulikan jika seseorang merupakan penduduk kerajaan atau bukan. Selama seseorang itu tidak memiliki surat bukti yang menunjukkan kalau dia warga Londinia, wajib baginya membayar 10 escal untuk bisa memasuki kota. Inspeksinya cukup ketat.


Aturan yang seperti itu tidak hanya berlaku di Londinia. Di semua kota yang ada di Kerajaan Besar Camelot juga begitu. Pendragon tak terkecuali. Mariel tak bisa bertanya alasannya apa; mereka jelas akan mencurigainya jika itu ia tanyakan. Sudah sedari dulu aturannya begitu. Jika ia benar-benar warga Camelot, ia seharusnya paham. Mariel hanya menduga-duga saja.


Lukhiel jelas memasuki kota secara ilegal, batin Mariel seraya menyusuri jalan utama kota. Dengan inspeksi dan penjagaan yang seketat itu, dia tak mungkin bisa menyembunyikan identitasnya sebagai iblis.


Seiring dengan kedua kakinya yang saling kejar-kejaran, mata Mariel aktif bergerak memandang ke sana kemari. Prajurit kerajaan terlihat di mana-mana. Sebagian ada yang berlalu-lalang berpatroli, sebagian lagi ada yang bersiaga di titik-titik tertentu. Dan mengingat lagi kalau Kerajaan Besar Camelot sangat mengutamakan hukum, keberadaan prajurit dalam jumlah yang tak sedikit sangat normal.


Mariel tak melihat adanya ketidaktertiban. Tidak ada pula tindakan kriminalitas yang terlihat. Cek-cok kecil tentu saja ada, terlebih di antara sesama penjual yang berusaha menarik minat pembeli. Tetapi tidak sampai pada terjadinya perbakuhantaman. Apabila situasi mulai memanas, prajurit yang berpatroli akan langsung menghampiri mereka untuk menengahi.


Londinia adalah kota yang damai.


Setidaknya, itu adalah apa yang bisa disimpulkan dari apa yang tertangkap indra penglihatan. Namun, di mana ada cahaya di sana akan selalu ada bayangan. Semakin terang cahaya, semakin gelap bayangan. Karena itu, tidak menutup kemungkinan kota yang tertib, damai, dan tertata ini memiliki komunitas gelap yang tersembunyi dengan baik.


Mengesampingkan kemungkinan adanya komunitas gelap yang besar dan terselubung, ancaman satu-satunya yang siap menerkam kehidupan damai para warga adalah kehadiran iblis. Meskipun sudah menjadi pengetahuan umum kalau iblis akan muncul di sekitar lokasi kematian pada malam hari, tak ada yang bisa mengatakan kapas pastinya dan persisnya di mana. Ungkapan “di sekitar lokasi” tidak memiliki patokan yang pasti.


Mariel terus berjalan menelusuri jalan utama kota; ia tidak punya tujuan pasti sekarang.


Sterminatore lebih aktif di malam hari, jadi ia akan menuju markas mereka nanti sore. Ia juga tak perlu repot-repot mencari lokasi markas mereka. Dari ambang gerbang tadi ia langsung bisa melihat markas tersebut: bangunan terbesar ketiga di kota dan dicat dengan hitam bercampur putih.


Karena itu, Mariel ingin berjalan-jalan saja sekalian membuat dirinya familier dengan kota. Ah, ia juga perlu mencari penginapan. Karena ia akan tinggal di kota untuk dua atau tiga minggu, ia perlu menemukan penginapan yang murah tetapi dengan kualitas yang bagus. Ia sudah menghabiskan delapan tahun tidur di atas alas ala kadarnya. Ia sangat bisa memanjakan dirinya sekarang.


Setidaknya, itu adalah apa yang Mariel rencanakan. Namun, niat itu tertunda bahkan sebelum ia mulai laksanakan.


Mata Mariel tiba-tiba menemukan sebuah toko kecil dua lantai yang agak aneh. Letaknya di antara dua toko besar, Keanehannya terletak pada eksterior yang usang seolah tidak terawat, padahal kedua toko di kanan dan kirinya cukup mewah dan elegan. Tak mengherankan tak ada pelanggan yang datang. Siapa yang mau masuk ke sana saat kedua toko di sebelahnya sangat berkualitas?


Ironisnya, Mariel justru menjadi jawaban untuk pertanyaan itu. Rasa kepenasaranan yang tinggi membuat kedua kakinya melangkah ke sana. Bukan saja eksteriornya yang tak memenuhi standar, Mariel juga tidak tahu toko yang tertutup itu menjual apa. Namun, anehnya, ia cukup penasaran sampai-sampai tak mampu menahan kakinya dari melangkah ke sana.


Mariel langsung membuka pintu toko yang di bagian atasnya tertulis kata “buka”. Dan segera saja ia terdiam. Bagian interiornya sungguh berbanding terbalik dengan eksterior. Jika kusam dan tak terurus adalah kata-kata yang tepat untuk menyebut bagian interior, elegan dan sangat terawat pantas disemangatkan pada bagian interior. Meski tidak luas, tetapi bagian dalam toko sangat merilekskan.


“Selamat datang di kedai teh nomor satu di dunia.”


Kata-kata sambutan itu berasal dari mulut seorang gadis cantik berambut pirang panjang, berusia antara tujuh belas atau delapan belas tahunan. Dia memakai pakaian hitam-putih khas pelayan wanita di istana-istana raja. Rambut panjangnya dikuncir ke kiri. Dia juga memakai bando hitam di kepala. Mata birunya memandang intens Mariel; ia tak bisa mengatakan apa maksud pandangan itu.


“Silakan duduk di kursi tamu mana saja yang Tuan kehendaki,” lanjut wanita bertubuh ramping dan beraset lumayan besar itu. “Akan saya bawakan kertas daftar menunya.”


Wanita dengan tinggi tubuh yang sama dengan Mariel itu menundukkan kepala pelan lalu mundur selangkah dan berbalik.


Mariel mengedarkan pandangannya mencari kursi yang pas. Namun, niat itu langsung ia abaikan saat tiba-tiba matanya menangkap seorang wanita super cantik tengah duduk di sebuah kursi sembari menyeruput segelas teh. Ia yakin dia tadi tidak ada di sana. Mariel yakin tadi ada satu pelanggan pun saat ia membuka pintu. Ia yakin ia tidak keliru. Namun, bagaimana wanita itu bisa di sana?


“Tuan Pelanggan, Anda ingin menikmati teh sembari berdiri? Kalau begitu, silakan dilihat menunya.”


Mariel spontan memandang sang pelayan seolah-olah dia baru saja mengatakan hal yang konyol di seantero dunia. Ia berpikir dia bercanda. Namun, ekspresi sang wanita tak menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Wanita benar-benar serius ‒ dia sungguh-sungguh mengira Mariel ingin minum sembari berdiri.


Mariel menerima kertas menu dan membacanya sekilas. “Aku pesan ini,” katanya sembari menunjuk salah satu jenis teh, “dan ini dan ini.”


Mariel menyerahkan kembali lembar menu. “Antarkan ke meja yang sama dengan wanita itu,” tambahnya lalu melangkah pergi. Mariel berjalan lurus ke meja yang telah diduduki wanita yang warna rambut panjang bergelombang yang digerainya sama dengan perak.


“Tidak masalah jika aku duduk di sini, kan, Nona?” tanya Mariel dalam intonasi dan nada yang biasa. “Agak sepi jika duduk di kursi lain. Apa Nona keberatan?”


“Silakan.”


“Terima kasih.”


Mariel mendudukkan diri di kursi yang berhadap-hadapan dengan sang wanita. Tidak ada kursi lain selain kursi itu—dan tentu saja ia tak punya minat memilih kursi lain jika kursi itu ada.


Mariel tidak memulai berbicara dengan sang wanita. Berdasarkan semua pengetahuan yang sudah ia miliki, karakter yang berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda. Wanita di hadapannya ini jelas berbeda dengan Selena. Walau tak berpengalaman dalam hal ini, Mariel bisa menebak kalau kepribadian wanita di hadapannya berke-balikan dengan keponakan Raja Arthur IV.

__ADS_1


“Apa Nona sedari tadi di sini?” tanya Mariel setelah beberapa saat. “Soalnya, aku tidak melihat Nona saat masuk tadi. Dan aku yakin pandanganku tidak buruk.”


“Dari tadi aku di sini, Anak Muda.”


Dari jawaban singkat itu, kepala Mariel langsung bekerja cepat memformulasikan karakteristik wanita bermata violet yang lebih tua darinya tersebut.


Dia tipe yang tak banyak bicara. Terlihat cenderung abai terhadap keadaan sekitar, tetapi sebetulnya sangat observatif. Dia kuat, tetapi Mariel tidak bisa mengukur dia sekuat apa. Wanita ini juga cukup cerdas, pancaran matanya tak berbohong. Jika Mariel tidak terlampau percaya diri, ia akan grogi sekarang. Wanita ini, meski terlihat tak acuh, tengah memerhatikannya secara instens.


“Jadi, Nona berpikir pandanganku terganggu?”


Sang wanita mengalihkan pandangannya dari teh, memandang intens Mariel. Dia memandangnya cukup lama, sebelum kemudian menghela napas dan balik berkutat pada tehnya.


“…Meskipun aku lebih pendek, tapi aku jauh lebih tua darimu, Anak Muda. Pergi cari wanita seumuranmu untuk kau rayu. Remaja zaman sekarang memang tidak tahu bagaimana harus bersikap pada orang yang lebih tua.”


Wanita tersebut mengakhiri ucapannya sembari menggeleng kepala pelan, lalu menyeruput kembali tehnya.


“Jadi, Nona ingin dipanggil Bibi?”


Tepat setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, mata sang wanita langsung memelotot tajam Mariel. Dan ia harus mengakui kalau itu sangat mengintimidasi: wanita ini berbahaya.


“Ini pesanan Anda.”


Kedatangan sang pelayan menjadi alasan bagi Mariel untuk mengalihkan pandangannya. Jika ia mengalihkan pandangannya sebelum kedatangan sang pelayan, sang wanita akan berpikir mentalnya. Paling tidak, secara teori dari apa yang sudah ia pelajari sejauh ini, memutuskan kontak mata setelah lawan bicara mengancam atau menggertak adalah tanda kelemahan mental.


“Terima kasih,” kata Mariel dengan senyum elegan—berusaha menunjukkan kalau ia tak menyadari pandangan tajam sang wanita. “Tapi, apa kau tak keberatan jika kuminta duduk di sini? Atau, jika Nona ini keberatan, duduklah di kursi di sebelah meja ini. Aku punya beberapa pertanyaan.”


Sang pelayan memandang wanita tercantik yang pernah ia lihat ‒ menyaingi kecantikan spiritnya. Wanita berambut perak itu tak mem-beri respons. Sang wanita menganggap ketiadaan respons sebagai izin, jadi dia menarik kursi dari sebuah meja lalu mendudukkan diri di antara Mariel dan pelanggan yang satunya.


“Jadi, apa yang ingin Tuan Pelanggan tanyakan?” tanya sang pelayan dengan ekspresi formal di wajah.


Mariel tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia terlebih dahulu menenggak teh yang ia pesan.


“Apa pemilik toko yang membuatnya?” tanya Mariel setelah menelan tegukan ketika. “Ini pertama kalinya kurasakan teh semenakjubkan ini.”


“Bukan, master kami tak mung—er, maksud saya, master kami terlalu sibuk untuk meracik teh. Teh itu buatan rekan saya. Dia pemalu. Jadi, tidak ada yang bisa Tuan Pelanggan lakukan untuk bisa bertemu dengannya.”


Mariel tidak melewatkan delikan tajam yang wanita berambut perak lemparkan pada sang pelayan. Itu sama dengan delikan yang ditujukan padanya tadi. Kalau begitu, apa mungkin wanita yang duduk berhadapan dengannya bukan pelanggan, melainkan pemilik kedai?


“Wah, kalau begitu sayang sekali.” Mariel menampilkan ekspresi kekecewaan. “Jika aku bisa sekali saja bertemu dengannya, mungkin saja jalan takdir kami akan bersinggungan. Tak ada pria yang tak mau memiliki keka—”


“Dia pria,” potong sang pelayan.


“—sih yang a—eh….”


Mariel terdiam. Matanya mengerjap beberapa kali. Kemudian wajahnya kehilangan warna. Mariel tak memiliki kata untuk diu-capkan. Matanya hanya bisa memandangi sang pelayan dengan pan-dangan tak percaya.


“Saya bercanda,” ucap sang pelayan lagi—tetapi ekspresinya tetap formal, tak terlihat tanda kalau dia bercanda. “Saya sendiri yang meracik teh. Semua menu di sini saya yang membuatnya.” Sang pelayan menjeda sebentar seraya mencomot sepotong kue—yang Mariel pesan—dan memakannya. “Jadi,” lanjutnya setelah mengunyah, “apa yang ingin Tuan Pelanggan tanyakan?”


“Dan wanita ini adalah pemilik kedai ini, mastermu?” tanya Mariel spontanitas.


“Benar. Dia Nilrem, pemilik kedai. Jadi, apa yang ingin Tuan Pelanggan tanyakan?”


“….”


Mariel tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa telah kalah di sana. Sejak awal, ia telah berada dalam kontrol mereka. Mariel tidak punya kesempatan untuk menang. Ia telah dikalahkan dalam interaksi yang ia coba bangun.


“Tidak ada,” jawab Mariel setelah hampir satu menit. “Tidak jadi. Ah, aku jadi kepikiran satu pertanyaan. Tapi lupakan saja. Aku tak ingin mengetahui jawabannya.”


Mariel meneguk tehnya hingga habis lalu mengeluarkan dua koin emas dari dalam tas. “Ini bayarannya,” ucapnya sembari mencomot satu potong kue dan lalu berdiri. “Terima kasih atas keramahannya.”

__ADS_1


Mariel langsung melangkah terburu-buru ke pintu keluar. Pandangan kedua wanita mengikutinya, dan Mariel menyadari itu. Namun, pandangan mereka ia abaikan. Mariel langsung membuka pintu dan keluar tanpa kata-kata lagi.


Mariel khawatir. Kedua wanita itu berbahaya, terutama Nilrem. Mungkin ia paranoid atau semacamnya, tetapi ia tak bisa menghilangkan asumsi yang muncul di kepalanya kalau ia sengaja dipancing agar memasuki toko itu. Ia bahkan bisa membayangkan jika ia melihat ke belakang maka toko itu tidak akan lagi berada di sana.


Setelah berada di seberang jalan, Mariel memutuskan melihat ke belakang—berjaga-jaga kalau ia hanya paranoid saja. Namun—


“Astaga….”


—toko itu benar-benar menghilang!


Mariel langsung memacu kakinya dengan cepat. Ia tidak berlari; berlari hanya akan membuat perhatian para penjaga terpusat padanya. Mariel berjalan cepat, lurus menuju sisi barat kota. Sang remaja ingin cepat-cepat keluar dari gerbang kota ini. Ia tidak mau tahu apa yang akan terjadi jika tetap di sini.


Ibunya pernah bercerita tentang iblis wanita yang sangat menakutkan. Namanya Liliphia. Iblis itu penyuka jiwa anak-anak hingga remaja. Tetapi tidak sebatas pada jiwa saja, dia juga bermain-main dengan tubuh mereka. Saat kecil dulu ia tidak mengerti apa maksud ibunya, tetapi sekarang Mariel sudah paham. Karena itu ia ingin melarikan diri dari kota ini.


Iblis itu hanya bisa dilihat oleh korban yang dia pilih, semacam kemampuan ilusi atau hipnosis..


Korban yang dia pilih akan dia pancing ke suatu tempat yang unik. Ketika sudah di sana, iblis itu akan mengakrabkan diri dengan korbannya. Sang korban tidak tahu jika dia berbicara dengan iblis; ilusi sang iblis memperdaya panca indra sang korban. Sang korban akan terpedaya sampai tubuhnya lemas, dan saat dia sadar itu sudah terlambat. Liliphia akan langsung melahap jiwanya.


Mariel khawatir jika salah satu (kalau bukan keduanya) dari kedua wanita itu adalah Iblis Liliphia. Ia memang tidak merasakan kehadiran iblis, tetapi itu membuktikan kalau ilusinya cukup tinggi—bahkan ia tak merasakan efek ilusi yang dialamatkan padanya. Mengerikan. Ia hampir saja diperdaya iblis itu. Jika ia terlambat sadar, mungkin saat ini dirinya tinggal raga yang sudah kering kerontang.


Dua jam kemudian Mariel tiba di gerbang barat kota.


“Apa kau bisa menunjukkan kalau kau penduduk asli Londinia?” tanya salah satu penjaga gerbang saat Mariel tiba di garis terdepan antrian.


“Ini sepuluh escal,” katanya menyerahkan satu koin perak.


Sang penjaga menerima koin itu, dan Mariel langsung berlari meninggalkan Londinia.


Ia ingin mengetahui lebih jauh tentang Organisasi Sterminatore melalui cabangnya yang ada di Londinia, tetapi sepertinya ia tak punya pilihan selain mengurungkan niat itu. Lagipula, para anggota Sterminatore yang ada di Londinia tidak becus dalam bekerja. Bagaimana bisa mereka tidak sadar kalau iblis yang sangat berbahaya hidup di antara mereka?


Mariel harus pergi ke kota lain jika ia ingin lanjut mencari tahu lebih jauh tentang Sterminatore.


Pendragon adalah kota yang tepat. Bukan saja cabang Stermina-tore di sana lebih berkompeten, Kesatria Meja Bundar juga ada di sana. Belum lagi Raja Arthur IV. Tak mungkin Iblis Liliphia itu akan berani menginjakkan kaki di sana. Menuju Pendragon adalah keputu-san yang sangat sempurna.


Namun—


Mariel berhenti tiba-tiba setelah belasan menit berlari ke barat.


—ia jadi teringat dengan pembicaraan Selena dan Ferguso. Birmithan bisa menjadi pilihan. Lukhiel juga sedang berada di sana.


Jika ia ke sana, ia mungkin bisa melihat apa yang dilakukan sang iblis. Lagipula, jika Selena dan anak buahnya bisa mengetahui keberadaan Lukhiel, kemungkinan petinggi Sterminatore dan pihak kerajaan juga. Seperti Selena yang sedang menuju ke sana, takkan mengejutkan jika Raja Arthur IV mengutus satu atau dua anggota Kesatria Meja Bundar. Begitupun juga dengan Sterminatore. Jadi, jika ia ke sana, ia bisa membantu Lukhiel jika iblis itu terpojokkan.


Dengan kemampuanku yang menulifikasikan serangan apa pun, master bisa fokus pada penyerangan.


Namun, jika ia secara terang-terangan membantu Lukhiel (yang notabenenya iblis) di hadapan para manusia, bukankah itu artinya ia akan dianggap pengkhianat manusia? Ia bisa dijadikan buronan. Para pemburu buronan akan mengejar-ngejarnya untuk ditukar dengan uang. Lebih dari itu, setiap negeri mungkin akan tahu hal itu—dan akibatnya ia takkan lagi bisa masuk secara legal ke suatu kota.


Bukankah itu konsekuensi yang sangat besar?


Heh!


Mariel menghadap ke utara lalu melesat dalam kecepatan penuh menuju Birmithan.


Siapa yang peduli? Ini justru akan lebih menantang.


Yang menyelamatkannya saat hampir dibunuh manusia adalah Lukhiel. Yang membunuh pembunuh ibunya adalah Lukhiel. Yang mengajarinya banyak pengetahuan adalah Lukhiel. Yang membuatnya menjadi kuat adalah Lukhiel. Apa ada alasan mengapa ia harus berpihak pada yang lain selain iblis yang menjadi master?


Tidak ada.


Kapan pun dan di mana pun, pilihan Mariel jelas.

__ADS_1


Melapisi tubuhnya dengan zirah angin, Mariel melesat dalam kecepatan yang lebih tinggi. Jarak antara Londinia dan Birmithan cukup jauh, sekitar dua kali jarak antara Londinia dan Pendragon. Meskipun Mariel bisa tiba ke sana sebelum hari gelap, ia memilih menunda. Mariel ingin berhenti di desa besar untuk bermalam. Jadi, fokusnya sekarang menemukan desa, bukan ke Birmithan.


__ADS_2