
Arthur meliuk-liuk menghindari hantaman tornado, dan pada saat yang bersamaan ia memasang posisi untuk melepaskan teknik pedang keenamnya. “Sixth Technique,” bisiknya sembari melompat tinggi ke udara, “Lightning Eruption!”
Excalibur yang dibanjiri petir mengayun tajam dari atas ke bawah, mengikuti jatuhnya tubuh sang raja. Namun, Lukhiel bukan iblis bodoh; dia sudah menghindar sebelum bilah Excalibur berada di atas kepalanya. Hal itu membuat bilah pedang menghantam tanah.
Sayangnya, teknik Arthur belum selesai sampai di situ. Seperti nama teknik keenamnya ini, petir bererupsi dari belahan tanah yang pedangnya sebabkan. Kesemua petir itu meletup ke atas, kanan, kiri, dan ke depan. Area seratus delapan puluh derajat di hadapannya luluh lantak dibombardir erupsi petir. Dan kali ini, Lukhiel tak mampu menghindar.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, posisi Arthur langsung berpindak membentuk kuda-kuda yang berbeda lagi. “Seventh Technique: Lightning Fang!”
Sang raja lenyap dalam kerlipan petir, dan pada detik berikutnya ia sudah berada di tempat Lukhiel dibombardir petir dengan pedang dalam keadaan mengacung ke depan.
Iblis Primordial Lukhiel tidak lagi berada di posisinya dibombardir petir; dia langsung memaksakan diri menjauh saat Arthur melepaskan teknik pedang ketujuhnya. Namun, upaya sang iblis tak berjalan sempurna. Lengan bawah tangannya terputus oleh tusukan Excalibur yang berbalutkan petir. Tangan yang masih memegang pedang angin itu jatuh menghantam tanah yang sudah mendingin.
Api biru langsung membakar tangan itu hingga habis tak bersisa, lantas Arthur menghadapkan badannya ke kanan, memandang intens sang iblis yang satu tangannya telah buntung.
“Aku tidak pernah mendengar kalau kau mengangkat murid,” ucap sang raja. “Manusia, iblis muda, atau setengah iblis?”
Lukhiel tak memberi respons verbal. Dia memandang sekilas pada tangan kanannya yang tak lagi bisa beregenerasi. Kemudian matanya kembali mendarat pada Arthur. Prana menguar dari tubuhnya dalam intensitas yang besar, dan seketika tombak angin berkerapatan tinggi dan berpijar muncul di kanan, kiri, dan hingga di atasnya. Jumlahnya pun bukan hanya puluhan atau ratusan, melainkan ribuan. Tombak ini memenuhi area di sekitar sang iblis.
Melihat hal itu, Lukhiel langsung menyadari kalau mustahil baginya memblok kesemua tombak angin yang mulai berputar itu dengan teknik pedangnya atau api. Api dan petirnya akan ditembus; angin yang dirapatkan hingga sedemikian rupa menjadi sangat superior sebagaimana halnya air. Apalagi Lukhiel bukan saja merapatkan anginnya, melainkan juga memanaskannya.
Kecuali Arthur memutuskan menggunakan penguasaan spirit tahap ketiga, hanya ada satu cara untuk mengatasi apa yang sang lawan coba lakukan. Dan cara itu adalah apa yang akan ia lakukan.
Arthur mengangkat tinggi-tinggi Excalibur yang sudah berpendar keemasan, dan sejurus kemudian lonjakan energi keluar dari pedang laksana pilar yang ditinggikan. Barier yang dipasang Athrecia langsung hancur berkeping-keping, tak mampu menahan pilar energi keemasan yang dilepaskan Excalibur. Pilar energi itu terus meninggi hingga hampir seratus meter.
“Aegis’—”
“Excalibur—”
“—Spears!”
“—Devastation!”
__ADS_1
Bersamaan dengan melesatnya kesemua tombak angin itu, Excalibur Arthur ayunkan secara vertikal dari atas ke bawah dengan kecepatan tinggi. Sejurus seketika, pilar energi itu menghantam kesemua tombak angin, menciptakan suara gaduh yang keras. Pilar energi itu saat masih berdiri tegak memang kecil, tetapi begitu diayunkan dia mengembang seperti kipas yang dibuka.
Untuk satu detik awal, Aegis’ Spears Lukhiel seakan dapat menahan hantaman Excalibur Devastation.
Namun, pada detik berikutnya langsung berubah drastis. Tombak-tombak angin yang berpijar dan berputar itu hancur tak karuan. Dan pada detik berikutnya, suara ledakan yang memekkan langsung memenuhi udara saat energi itu menghantam area luas di hadapan Arthur, Lukhiel yang berada di sana tak punya ruang untuk menghindar.
Energi keemasan menghilang kurang dari setengah menit, tetapi asap dan debu yang tercipta bertahan hingga hampir tiga menit sebelum kemudian menghilang. Kubangan berbentuk segitiga sama kaki yang sangat masif langsung terpampang dengan jelas. Kubangan itu dalamnya bervariasi, dari beberapa centi hingga beberapa meter di bagian tengah. Dan, tanah itu menjadi hitam seperti arang.
Tergeletak belasan meter di hadapannya adalah Lukhiel dalam keadaan yang jauh dari baik. Separuh tubuh bagian kanannya hancur, sementara sisanya seperti terbakar. Namun, saat Arthur mendekatinya, dia terlihat masih hidup. Tangan kirinya, walaupun mengeluarkan asap seperti daging matang, telah bergerak menarik pedang yang (ajaibnya) masih berperban itu.
“Kau sungguh-sungguh mau memberikan pedang itu pada muridmu, huh?” tanya Arthur setelah berhenti dua meter dari tubuh tertelungkup Lukhiel.
Tidak ada jawaban yang datang. Pun Arthur tak mengekspektasikan adanya jawaban. Lukhiel baru saja terkena Excalibur Devastation. Tidak langsung mati saja dia sudah beruntung, tetapi mungkin itu karena tombak-tombak angin tadi telah mengurangi separuh kekuatan Excalibur Devastation. Namun, yang jelas, dia tetap beruntung.
“Tapi sayang sekali kau takkan punya kesempatan untuk itu,” lanjut Arthur sembari kembali mengangkat Excaliburnya yang sudah berpendar lagi. “Riwayatmu tamat di sini. Pedang itu sepertinya bukan pedang biasa. Pedang suci? Akan kuambil setelah kau mati dan kupajang di ruangan koleksiku.”
Tidak ada respons, dan barangkali dia juga tak mendengar ucapannya. Tetapi Arthur tak memedulikan. “Mati dan binasalah untuk selama-lamanya, Excalibur Judgment!”
…Paling tidak, itulah yang ia pikirkan.
Namun—
—tebasan Excalibur Judgment tidak mengenai Lukhiel.
Bahkan, kekuatan Excalibur Arthur memudar dan sirna sebelum pedangnya terayun sempurna. Ia juga sudah keluar dari wujud perubahan spirit-nya. Lebih dari itu, sang iblis telah menghilang dari tempatnya tertelengkup. Yang sekarang berdiri di sana adalah remaja berusia lima belas atau enam belasan dengan ekspresinya yang tajam.
“…Apa kau baru saja menyelamatkan iblis i—”
Arthur tak menyelesaikan ucapannya.
Perhatian sang raja tiba-tiba teralihkan oleh sang penyihir. Athrecia—yang sedari tadi menjadi spektator—telah berada di sebelah kanan remaja itu dengan tongkat sihir berbalutkan api yang terayun tajam, siap menghancurkan kepala sang remaja. Wajah sang penyihir benar-benar menampakkan hasrat membunuh.
__ADS_1
Namun, mengejutkan Arthur dan bahkan Athrecia, tongkat sihir yang berbalutkan api itu tak mampu mencapai sang remaja. Tongkat itu terhenti tepat sejengkal dari mengenai kepalanya. Bahkan api yang menempel pada tongkat tersebut tertekan ke belakang, seolah ada barier tak kasatmata yang menghadang.
“Ini peringatan,” kata sang remaja seraya berjongkok mengambil pedang yang masih dibaluti perban. “Jika Lukhiel sampai tak bisa diselamatkan,” tambahnya sembari berdiri, “suatu saat aku akan kembali. Saat itu, kerajaan ini akan memerlukan pemimpin baru.”
Anak itu langsung berbalik dan melangkah pergi – dia seolah tak lagi memedulikan mereka.
Arthur mengerjap melihat kepergian sang remaja. Begitu pun dengan Athrecia. Mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi. Arthur bahkan merasa bingung. Bukan saja anak itu telah menghentikan salah satu kemampuan Excaliburnya, dia juga telah membuat Arthur keluar dari mode Flame King Erestheral. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Athrecia keluar dari keterkejutannya lebih cepat dari sang raja. Dia langsung menancapkan tongkat sihir di tanah dan menyatukan jemarinya membentuk segitiga. Lingkaran sihir dari berbagai warna dan dalam beraneka ragam dan ukuran segera bermanifestasi. Kesemua lingkaran sihir itu mengelilingi sang remaja dalam bentuk limas segitiga.
“Maximum Gravitatis!”
Arthur mengenali spell sihir yang Athrecia serukan itu. Ia pernah melihat efeknya langsung. Itu spell yang membuat gravitasi di dalam kurungan lingkaran meningkat secara eksponensial. Jika spell itu dia-rahkan pada sebuah bukit, bukit itu akan hancur lebur menjadi abu. Keluar dari pengaruh gravitasi itu akan sangat sulit.
Anak berambut biru gelap itu spontan menghentikan langkah kaki. Dan, belum sampai sedetik setelah Athrecia menggunakan spellnya, semua lingkaran sihir itu sirna begitu saja. Itu sama seperti apa yang terjadi pada serangan Arthur sebelumnya. Remaja itu menulifikasikan serangan mereka semudah bernapas.
Mengabaikan umpatan yang keluar dari mulut Athrecia, Arthur kembali memasuki mode Flame King Erestheral dan melesat menyerang. Ia mengayunkan Excalibur dengan kuat, menebas dari kiri ke kanan secara horizontal. Arthur bermaksud memotong tubuh itu menjadi dua bagian.
Sang raja mengekspektasikan sang anak untuk kembali menulifikasikan mode Flame King Erestheral dan kemudian menggunakan barier tak kasatmata untuk menghentikannya. Namun, sang remaja justru membaluti diri dengan zirah angin dan kemudian menghindar ke kiri.
“Great Wind Pressure.”
Arthur terhempas akibat tekanan angin yang sang remaja layangkan. Namun, ia dapat mendarat dengan baik setelah bersalto sekali untuk mengurangi momentum. Kemudian ia langsung menyemburkan api biru dari mulut. Api itu melesat cepat, menyebar dan menggelombang seperti tsunami.
Pada saat yang bersamaan, tangan kiri Arthur terangkat ke atas. Percikan petir langsung menyelimuti tangan tersebut. Ia tidak bisa menggunakan petir dalam level tinggi seperti Lukhiel menggunakan angin, tetapi untuk sekadar membuat sambaran petir ia bisa.
Namun, sebelum ia sempat melesatkan sambaran petir itu, perutnya ditembus sesuatu. Hal itu spontan membuat konsentrasi Arthur buyar. Petir di tangan kirinya lenyap. Pada saat yang bersamaan, gelombang apinya lenyap begitu saja. Dan barulah kemudian ia melihat kalau yang menembus perutnya adalah pedang angin yang memanjang dari dua jari kiri sang remaja—padahal jarak mereka lebih dari dua puluh meter!
Arthur langsung jatuh berlutut saat pedang angin itu memudar dan hilang. Ia kembali keluar dari mode Flame King Erestheral. Athrecia langsung sigap menghampirinya. Belasan lingkaran sihir dari berbagai warna dan ukuran telah mengitari tubuhnya. Rasa sakit di perutnya mulai menghilang dengan cepat. Arthur selalu bisa mengandalkan untuk menye—
----Ingin membaca kelanjutannya? Silakan kunjungi: k a r y a k a r s a . c o m / Near
__ADS_1