
CELINEE—dengan kedua tangan yang masih berlumuran darah—memandang horor pada mayat kedua rekannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana itu bisa terjadi, tiba-tiba saat ia sadar kedua tangannya sudah menembus jantung mereka. Celinee sudah membunuh kedua rekannya bahkan tanpa ia sadari.
Ia sudah berdiri diam satu jam lebih memandangi mayat kedua rekannya sembari mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tak ada satu pun petunjuk yang bisa membantunya menjelaskan apa yang telah terjadi.
Ia ingat pamit pada Lukhiel untuk kembali ke markas Serenity. Kedua rekannya datang untuk menjemput, dan mereka meninggalkan Birmithan bersama. Namun, tak lama setelah mereka beristirahat dan berbincang ringan, tiba-tiba Celinee menemukan kedua tangannya telah menembus jantung mereka. Ia tidak tahu bagaimana, tiba-tiba sudah terjadi.
Celinee tahu tidak ada manusia, iblis, atau makhluk lain apa pun yang telah memanipulasinya sebelum kejadian. Ia yakin akan hal itu karena sudah mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari. Dan Celinee tak bisa menemukan jejak apa pun tentang kehadiran mereka, padahal ia seorang ninja!
Kepalanya disusupi asumsi kalau ia telah dimanipulasi sebelum meninggalkan Birmithan. Namun, Celinee tidak mengingat ada hal yang mengganjal saat berpergian dari sana. Ingatannya tidak salah. Ia ninja; Celine memiliki jurus pendeteksi ketidaknormalan. Dan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Oleh sebab itu, Celinee berdiri diam dengan pandangan horor.
Ketakutan kalau apa yang ia lakukan ternyata murni keinginan gelapnya membuat Celinee berdiri tak bergerak. Ia pernah mendengar tentang kasus kepribadian ganda. Bagaimana jika ternyata ada kepribadian lain di dalam dirinya yang bengis dan kejam? Bagaimana jika bukan ini saja pembunuhan tak beralasan yang ia lakukan?
Celinee tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Asumsi liar yang muncul di kepalanya membuat sang ninja paranoid. Ia takut jika kembali ke markas sekarang akan membuat yang lain mewaspadainya. Celinee juga khawatir akan reaksi Madam Rhemea. Namun, yang lebih memberatkannya adalah perasaan bersalah. Mereka berdua adalah tanggung jawabnya, tetapi kedua tangannya justru melenyapkan nyawa mereka.
Apa…apa yang harus ia lakukan sekarang?
...—Birmithan—
...
Sebentar lagi akan lewat tengah malam, dan kota telah cukup sepi ‒ lebih sepi dari biasanya. Dari jendela kamar tempat yang Celinee sewa, Lukhiel berdiri diam mengamati. Harusnya ia sudah bergerak sekarang, mencari titik yang tepat untuk menyusup ke dalam gedung walikota. Namun, ia masih diam tak bergerak.
Melihat kota yang lebih sepi dari biasanya membuat Lukhiel mempertanyakan satu hal: Apa Celinee benar-benar mendapatkan informasi itu? Atau, informasi itu sengaja dibicarakan agar sampai ke telinga Celinee. Yang artinya, hasil kinerja para arkeolog yang berada di gedung walikota adalah palsu?
Ini bisa menjadi jebakan untuk menangkapnya. Situasi kota yang lebih sepi dari biasanya cukup mencurigakan. Memang, Lukhiel tidak merasakan adanya keanehan apa pun. Mungkin memang tidak ada apa-apa, atau mungkin juga ada pengguna sihir yang luar biasa hebat yang telah mengeluarkan kemampuannya di kota—sehingga ia tak bisa mendeteksi kehadiran orang-orang kuat.
Lukhiel yang sibuk menimbang-nimbang seketika melebar matanya saat instingnya menjerit. Seketika pula ia menyadari kalau kekhawatirannya benar-benar nyata. Seorang pengguna sihir yang kuat telah mengelabui persepsinya. Semua ini adalah jebakan. Lukhiel benar-benar sedang diincar.
Tapi penyihir itu tak bisa mengelabui insting, batin Lukhiel sembari menghindari sambaran api yang melesat dalam garis lurus mengincar punggungnya.
“Seperti yang bisa diharapkan dari Iblis Primordial Lukhiel.”
Suara itu milik wanita berambut abu-abu pendek, memandang Lukhiel dengan pandangan meremehkan. Masing-masing tangannya telah berlapiskan api kuning yang tebal.
Lukhiel memandang datar sang wanita. Ia bisa menebak dia tak sendiri; mungkin ada beberapa orang lain yang sudah siap menyerangnya kapan saja. Ia bisa mengatakan hal itu dan membuat kepercayaan diri sang wanita menurun. Normalnya itu apa yang akan ia lakukan. Namun, menghabiskan waktu dengan Mariel membuatnya punya pikiran lain.
“Kau cukup berani menunjukkan diri di hadapanku seorang diri,” ucapnya setelah menarik sigaret dari celah bibir. “Sayang sekali jika aku harus membunuh wanita muda pemberani sepertimu. Mengapa kau tidak berbalik dan pergi? Aku lebih memilih untuk tak membunuh jika tak perlu dibunuh.”
__ADS_1
“Ha-ha-ha-ha. Menjijikkan. Aku mau muntah. Mendengarmu bilang begitu membuatku ingin merobek-robek jantungmu. Apa kau tak malu bilang begitu setelah menghabisi begitu banyak manusia? Akan lebih ironis kalau kau mati di tangan bangsamu, tapi apa boleh buat karena aku mau kau mati sekarang juga.”
Lukhiel mengisap sigaretnya sebagai respons, dan itu sudah cukup untuk membuat sang wanita jengkel bukan kepalang. Dia melesat maju dengan geraman marah, api di kedua tangannya berkobar hebat. Hal itu menunjukkan dengan jelas kalau dia sangat membenci sang iblis, tetapi ini bukan hal yang mengejutkan.
Lukhiel bersiap melepaskan gelombang angin untuk mementalkan sang wanita. Namun, dia tiba-tiba menghilang dan muncul begitu saja di belakang sang iblis. Lukhiel yang tak memperhitungkan hal itu harus terpental akibat pukulan berlapiskan api yang menghantam punggung.
Sayangnya bagi sang wanita, Lukhiel bukan iblis kemarin sore. Api yang mulai membakar bajunya langsung padam akibat hempasan angin yang tubuhnya keluarkan. Aksi Lukhiel itu juga membuat wanita muda itu terpental ke luar jendela. Sementara itu, Lukhiel dapat mendarat setelah berguling sekali.
“Terakhir kali aku melawan pengguna teleportasi sekitar enam ratus tahun lalu,” gumam Lukhiel sembari berlari ke arah yang berlawanan dengan posisi jendela.
Lukhiel tak merepotkan diri membuka pintu. Ia menabrak pintu hingga hancur lalu melakukan hal yang sama pada dinding di depan pintu. Dan dengan kedua pedang angin di kedua tangan, Lukhiel melaju luru hingga keluar dari penginapan. Kemudian ia melesat ke arah timur.
“Jangan lari, Bangsat!”
Lukhiel melirik ke belakang. Selain wanita yang meneriakinya dengan penuh amarah, ia melihat para prajurit turut melesat dari arah yang berbeda. Ia juga melihat dua anggota Sterminatore Tingkat 1 yang bertugas menjaga pintu masuk laboratorium di atas penginapan tempatnya keluar.
Siapa dalang di balik rencana ini? Lukhiel bertanya dalam hati sembari mempercepat lajunya. Apa Arthur IV ikut campur?
Satu-satunya penyihir yang mungkin melampaui persepsinya di seantero Camelot adalah Athrecia Le Fay.
Namun, setahu Lukhiel, wanita itu tak pernah meninggalkan Pulau Avalon. Asosiasi Penyihir Camelot hanyalah sekumpulan anak-anak yang bermain-main dengan sihir bila dibandingkan dengan Athrecia. Jangankan mereka, penyihir ternama di Benua Selatan pun lebih inferior dari putri Morgan Le Fay tersebut.
Aku punya firasat buruk.
Ketika firasatnya telah muncul, Lukhiel tak memerlukan alasan apa-apa lagi. Lebih baik jika firasatnya datang lebih awal, tetapi ia tak bisa komplain. Lukhiel menambah lajunya begitu ia mendarat setelah berhasil melompat dari dinding timur kota.
“Jangan lari seperti pengecut, Lukhiel! Hadapi aku kalau berani!”
Rata-rata manusia memiliki kearoganan yang tinggi. Tak mengherankan rata-rata iblis arogannya bukan main. Sebagai mantan manusia, iblis benar-benar mencerminkan ras asal mereka. Wanita yang mengejarnya itu tidak terlalu kuat, hanya teleportasinya yang merepotkan. Tetapi kearogansiannya seolah menantang langit.
Apa dia tidak belajar terhadap apa yang terjadi pada salah satu anggota Kesatria Meja Bundar yang nekat mengejarku sendirian?
Lukhiel tidak habis pikir, tapi ia juga ogah memikirkannya. Sekarang ia harus menghilangkan diri dari kejaran wanita itu dan kembali ke Londinia. Mungkin sudah saatnya ia dan Mariel meninggalkan Camelot. Ia juga perlu memberikan “Sword of Salvation” pada anak itu – sudah saatnya pedang di pinggangnya ini menemukan pemiliknya.
...* * *
...
Mariel tahu ia harus menuju Birmithan dengan cepat. Ia mesti ke sana dan membantu sang master. Namun, kakinya tiba-tiba berhenti saat matanya tak sengaja melihat seorang wanita berdiri di hadapan dua mayat yang tergeletak berlumuran darah. Kebetulan saat itu sang wanita juga melihat ke arahnya.
__ADS_1
Ekspresi marah seketika mewarnai wajah sang wanita. Sebelum Mariel sempat memikirkan apa yang membuat wanita itu marah, dia tiba-tiba sudah melesat ke arahnya dengan sebuah kunai (senjata khas para ninja) yang tersemat di masing-masing tangan. Salah satu kunai dia lempar dengan cekatan, melesat cepat melampaui kecepatan suara di udara.
Mariel memiringkan kepalanya menghindari lesatan kunai, tetapi tepat setelah itu ia dipaksa menunduk menghindari tebasan kunai sang kunai. Memukul wanita bukanlah hal yang baik, tapi berbeda lagi jika itu di dalam pertarungan. Maka, Mariel tidak menahan diri dari memukul perut sang wanita saat menunduk menghindari tebasan kunai.
Mariel sedikit terkejut saat tiba-tiba sang wanita berubah menjadi potongan batang kayu – ia juga tidak tahu dari mana asap putih keluar, padahal kayu tersebut dalam kondisi tak terbakar. Namun, yang ia hadapi adalah ninja, jadi tak seharusnya ia terkejut. Yang lebih mengejutkan dari itu, mengapa ada ninja di Benua Barat? Bukannya ninja paling anti meninggalkan Benua Timur?
Mariel tidak punya waktu untuk memikirkan pertanyaan itu. Sang ninja langsung muncul di belakangnya setelah tubuh yang ia pukul berubah menjadi potongan batang kayu. Mariel yang sedikit terkejut tidak punya opsi lain selain melepaskan gelombang angin ke segala arah.
“Water Release: Water Cannon!”
Sang ninja—walau dalam keadaan terhempas oleh gelombang angin Mariel—menyemburkan air berkompresi tinggi dari mulutnya dengan tangan kiri membentuk sebuah segel tangan.
Sayangnya bagi wanita itu, Mariel telah beranjak dari tempatnya berpijak sebelum semburan air itu mencapainya. Seperti sang wanita, ia juga menyemburkan angin dari mulut. Namun, berbeda dengan sang wanita, ia tak perlu membentuk segel tangan. Angin yang ia semburkan juga berbeda bentuk dengan airnya ‒ yang mulut Mariel lepaskan adalah bola angin.
Bola angin Mariel menghantam sang wanita. Namun, Mariel tak bisa langsung memotong jarak akibat lesatan tiga shuriken yang sempat dilemparkan ninja itu. Laju shuriken yang tajam memaksa Mariel berhenti untuk menghindar ke kiri, dan waktu yang singkat itu sudah cukup bagi sang ninja untuk bangkit setelah terkena hantaman bola angin.
Mariel tentu saja langsung melesat kembali.
Ia menghiraukan penggandaan diri yang sang ninja lakukan. Ia sudah membaca dan mendengar kalau klon yang diciptakan ninja itu memiliki dua jenis: ilusi dan nyata. Klon ilusi takkan memberi efek nyata seperti klon nyata. Dan meski klon nyata dapat memberi luka, mereka akan menghilang setelah terkena satu atau dua pukulan. Yang tak bisa Mariel hiraukan adalah perubahan yang terjadi pada mata sang ninja.
“Kau setengah iblis,” komentar Mariel setelah menghabisi ketiga klon yang sang ninja ciptakan secara sekaligus dengan kedua pedang angin di kedua tangan. “Apa itu alasan kau menyerangku? Bukannya yang para setengah iblis musuhi adalah para iblis dan komplotan Dokter Lergen?”
Sang ninja tidak mengatakan apa pun. Bersamaan dengan kulitnya yang menjadi hitam berkilauan seperti berlian hitam, dia mengayunkan kunai memblok tebasan pedang angin Mariel. Tentu saja kunai yang terbuat dari baja biasa itu terpotong dua dengan mudah. Namun, mengejutkan Mariel, tebasan anginnya tak mampu untuk sekadar menggores kulit sang ninja.
“Katakan, apa kau yang telah memanipulasi pikiranku?” tanya sang ninja sembari berusaha menyakar wajah Mariel dengan kuku hitam tajamnya.
Mariel menghindari cakaran itu dengan sedikit membungkuk ke belakang. Kemudian ia berbalik badan dan melayangkan ayunan pedang memutar. Tebasan pedang anginnya mengenai leher sang ninja, tetapi gagal memberi luka sebagaimana sebelumnya. Malahan sang ninja memanfaatkan kesempatan itu dengan menangkap pedang angin Mariel dan melesatkan tangan kirinya dalam gestur menusuk, target tusukan tangannya adalah leher Mariel.
Tentu saja Mariel mencoba memblok tusukan tangan itu. Namun, pedang anginnya patah akibat tusukan tangan tersebut. Kulit iblis ini sangat keras. Mariel tidak tahu Devil Curse apa yang dia miliki, tetapi yang jelas itu membuat kulitnya sekeras (atau mungkin lebih) berlian.
Sayangnya, itu tak cukup untuk mengalahkan Mariel: ia telah terlebih dahulu melompat ke belakang sebelum tusukan tangan itu menembus lehernya.
“Apa kau diajarkan untuk menyerang dulu baru bertanya?” tanya Mariel dengan senyum tipis di bibir, tetapi matanya mengobservasi sang ninja dengan detail.
Iblis memang tak bisa menggunakan jasa spirit sebagaimana manusia. Namun, sebagai gantinya mereka memiliki apa yang disebut sebagai Devil Curse. Setiap iblis memiliki Devil Curse, ada yang sama tipenya dan ada yang berbeda. Setengah iblis memiliki jantung iblis di dalam tubuh mereka, secara natural mereka akan bisa menggunakan kekuatan tersebut.
Mariel tidak tahu jika sang ninja bisa menggunakan kekuatan spirit juga atau tidak. Jika bisa, mungkin ia harus membunuhnya dengan cepat demi menghindari hal yang tak diinginkan. Jika tidak, ia bisa menangkapnya untuk diinterogasi. Lukhiel punya hubungan yang baik dengan para setengah iblis yang tergabung ke dalam Organisasi Serenity. Ia perlu tahu jika sang ninja bagian dari mereka atau bukan.
“Jawab saja pertanyaanku!” seru sang ninja sembari membuat segel tangan dengan kedua tangan. “Water Release: Multiple Water Bullets!”
__ADS_1