Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 4 — Strange Shop & Problem (2)


__ADS_3

...—Birmithan—...


Lukhiel menghela napas pelan sembari kemudian mengisap sigaret. Ia berada di salah satu kamar di lantai teratas salah satu penginapan mewah. Celinee dan kedua rekannya berada di ruangan yang sama. Lukhiel mengisap sigaret sembari memandangi gedung walikota, sedang ketiga wanita itu sedang sibuk menggerakkan pena memenuhi kertas kosong.


Kekhawatiran Lukhiel beberapa tahun yang lalu terbukti benar: masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang berkepanjangan.


Laboratorium yang dikhawatirkan Celinee memang melakukan eksperimen mengubah manusia menjadi setengah iblis. Dan dugaannya juga benar, walikota sendiri yang menyokong terjadinya eksperimen itu. Sang walikota ingin menjadi setengah iblis sebagai prajurit super untuk dikirim ke medan perang. Lebih parah lagi, walikota melakukannya atas perintah Raja Arthur IV.


Dokter Lergen benar-benar dimanfaatkan oleh kerajaan ini.


Dari dokumen rahasia walikota yang berhasil Celinee salin, tersebut jelas kalau Raja Arthur IV menginginkan walikota mengerjakan “Proyek Rahasia Prajurit Super” demi persiapan menaklukkan Kerajaan Besar Celtekhna yang juga memiliki proyek yang sama. Raja Arthur IV mendapatkan informasi tentang proyek ilegal Celtekhna melalui mata-mata yang dia kirim ke sana.


Namun, bukan itu semua yang membuat mereka kerap berkunjung ke kota ini. Alasan yang sebenarnya adalah keberadaan prasasti kuno yang berada di salah satu ruangan di laboratorium. Huruf yang digunakan pada prasasti itu sama dengan huruf yang terukir pada senjata suci. Itu prasasti peninggalan masa sebelum munculnya manusia: masa para dewa dan berbagai makhluk mistik lainnya.


Dari apa yang sudah mereka ketahui, prasasti itu ditemukan oleh Arthur Pendragon saat sang raja menyelami Danau Erebus—danau terbesar di Benua Barat. Merlin dengan sihirnya membantu Raja Arthur mengeluarkan prasasti itu dari dasar danau. Dikatakan pula kalau Merlin dan Morgan Le Fay bisa membaca prasasti. Namun, bukti yang membenarkan hal itu tidak ada. Belum ditemukan catatan apa pun tentang terjemahan tulisan pada prasasti.


Namun, menurut catatan-catatan para peneliti yang bekerja di dalam laboratorium bawah tanah itu, alasan mengapa prasasti tersebut disembunyikan adalah kekhawatiran akan apa yang tertulis di sana. Demi menghindari ada orang lain yang akan membaca prasasti lalu menyalahgunaan informasi/pengetahuan yang didapat, Arthur Pendragon menanam prasati itu di Pulau Avalon—pulau yang berada di tengah-tengah Danau Erebus (danau yang memisahkan Pendragon, Gothhant, dan Breathound).


Arthur IV Pendragon, dengan bantuan Athrecia Le Fay sang pemilik Pulau Avalon, berhasil menemukan prasasti. Namun, Athrecia Le Fay tidak bisa membaca prasasti sebagaimana leluhurnya—Morgan Le Fay. Jadi, laboratorium bawah tanah itu didirikan. Tujuan utamanya adalah menerjemahkan prasasti itu. Eksperimen yang asisten Dokter Lergen pimpin hanyalah kegiatan sampingan.


Itulah alasan mengapa mereka sering berkunjung ke kota ini dan menyusup ke dalam laboratorium. Lukhiel ingin mengetahui perkem-bangan penelitian mereka. Ia ingin tahu apa yang tertulis pada prasasti. Pada saat yang bersamaan, Celinee dan yang lainnya bisa menggagalkan eksperimen yang asisten Dokter Lergen lakukan.


Urusan mereka harusnya aman-aman saja. Celinee dan kedua koleganya bisa membunuh belasan manusia yang dijadikan eksperi-men setiap kali berkunjung; ia bisa mengamati kinerja para peneliti dengan aman. Namun, tiga bulan lalu mereka dikejutkan dengan kehadiran Guinerhea Modred—anggota Kesatria Meja Bundar yang berhasil menyandang nama Modred. Lebih tepatnya, Lukhiel dikejutkan dengan keberadaan Guinerhea di ruang prasasti.


Mereka berhasil melarikan diri dari kota.


Namun, Guinerhea berhasil mengejar mereka saat dalam perjalanan ke Londinia. Pertarungan pun tak terelakkan. Guinerhea lebih kuat dari mayoritas Sterminatore Tingkat 1. Namun, Lukhiel berhasil membunuhnya. Ia menghancurkan tubuh sang kesatria hingga tak meninggalkan jejak. Dengan begitu, keberadaan mereka tetap terjaga kerahasiaannya.


Sayangnya, Guinerhea telah memprediksi dia akan kalah. Jadi, dia sudah memberi informasi akan penyusupan mereka kepada kepala laboratorium. Pertahanan Birmithan diperketat. Penjagaan lab diperkuat. Jangankan menyusup ke dalam lab, memasuki kota saja jadi lebih sulit.


Karena itu, Lukhiel dan Celinee berhenti mendatangi kota selama hampir tiga bulan. Namun, hingga hari ini penjagaan mereka masih sangat ketat. Selain dua anggota Sterminatore Tingkat 1 yang berjaga di luar lab, dua anggota Kesatria Meja Bundar berada di dalam lab. Karena itu pula mereka tidak mencoba menyusup.

__ADS_1


Dan mereka juga tak perlu lagi menyusup. Celinee telah mendengar kalau hasil penelitian arkeolog dan sejumlah tenaga ahli lainnya sudah dipindahkan ke gedung walikota. Celinee sendiri juga sudah memutuskan untuk menyerahkan masalah eksperimen itu ke Sterminatore. Bukan cabang Sterminatore yang ada di Birmithan, tapi markas pusat Sterminatore Benua Barat. Karena itu dia dan kedua koleganya sibuk menuliskan bukti-bukti.


“Apa Anda memerlukan bantuan kami untuk malam ini, Tuan Lukhiel?” tanya Celinee setelah selesai menulis. “Jika tidak, kami akan langsung berangkat ke Kerajaan Esparossa sekarang juga.”


Lukhiel berbalik badan mendengar pertanyaan itu.


Markas Pusat Sterminatore Benua Barat berada di Erazora, ibukota Kerajaan Esparossa. Celinee dan kedua rekannya harus mengantarkan dokumen yang mereka tulis langsung ke sana jika tak ingin diintervensi. Pemimpin cabang Sterminatore Birmithan korup; meminta mereka menyampaikan dokumen tersebut ke sana adalah hal yang bodoh. Pun begitu dengan jasa pengiriman surat yang ada di kerajaan ini. Tak ada yang bisa benar-benar dipercaya.


“Apa kau tak bisa mengandalkan kedua rekanmu untuk mengirimnya?” tanya balik Lukhiel. “Aku hanya perlu bantuanmu saja. Aku mau kau mencuri berkas-berkas itu saat aku menarik perhatian semua penjaga di sana.”


“Saya sangat bersedia untuk membantu Tuan, tapi saya khawatir akan ada yang mengintersep perjalanan mereka. Lebih dari itu, saya khawatir Glazzier akan menyadari kedua rekan saya sebagai setengah iblis jika mereka diharuskan bertemu dengannya. Anda tahu sendiri, tak ada yang sebaik saya dalam menyembunyikan kekuatan iblis.”


Celinee benar. Mengandalkan setengah iblis lain untuk memberikan dokumen itu pada Glazzier adalah kesalahan. Pria itu akan langsung mencium bau iblis dalam diri mereka. Walaupun Lukhiel punya dugaan kalau Glazzier sudah mengendus kecurangan pemimpin Sterminatore di Birmithan, tetapi tetap saja dia akan menuntut agar orang yang membawa dokumen untuk memberinya secara langsung.


“Baiklah, aku mengerti.” Lukhiel tak punya pilihan. “Kalian bisa langsung pergi. Aku akan mengubah caraku. Aku akan menyusup secara diam-diam.”


“Saya kira itu cara yang terbaik, Tuan. Kalau begitu, kami mohon undur diri. Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Saya akan usahakan agar Madam Rhemea memberi balasan yang sesuai atas bantuan Tuan Lukhiel.”


Lukhiel hanya mengibas-ngibaskan tangan, tak memedulikan ia akan diberi balasan yang setimpal atau tidak. Lagipula, saat ia perlu bantuan ia memang selalu menemui nenek tua itu. Jadi, membantu anak-anak didik Rhemea sama sekali bukan masalah.


“Anda juga berhati-hatilah, Tuan Lukhiel.”


Lukhiel tidak merespons perkataan itu. Ia tidak mengatakan apa pun sampai Celinee dan kedua rekannya sepenuhnya pergi. Ia tidak punya kata yang tepat untuk dikeluarkan sebagai respons. Lukhiel seorang iblis. Ia merasa aneh mendengar kata-kata itu.


“Sekarang, bagaimana aku akan menyusup mencuri hasil kerja para peneliti itu?”


Jika Lukhiel belum mengubah haluan hidupnya, ia akan membunuh ratusan bahkan ribuan orang nanti malam. Kematian mereka akan membuat iblis-iblis bermunculan. Dengan kekacauan yang terjadi, ia akan dengan mudah menyusup ke gedung walikota dan mengambil hasil terjemahan prasasti.


Namun, Lukhiel yang sekarang sudah mengambil jalan yang berbeda dengan dirinya di masa lalu. Tidak mungkin ia melakukan cara keji seperti itu.


“Apa boleh buat, sepertinya memang harus cara klasik.”

__ADS_1


...—————∞—————


...


Mariel menemukan desa yang cukup besar untuk disebut desa saat matahari hampir terbenam—desa ini ia datangi setelah berkunjung ke lebih dari sepuluh desa.


Penginapan langsung menjadi tujuan Mariel. Ia bahkan tak perlu bertanya untuk mengetahui lokasi penginapan. Semua orang yang menginjakkan kaki di desa ini akan dapat melihat penginapan tanpa perlu bertanya. Selain karena bangunannya yang paling besar hingga berlantai empat, ada tulisan “Penginapan Hitam Biru” di titik tertinggi bangunan.


“Satu kamar untuk satu malam,” kata Mariel.


Petugas resepsionis mengangguk dan mengeluarkan tiga buah kunci. “Ini kunci kamar premium,” mulainya. “Harganya 500 escal per malam. Selain fasilitas kamar dan makanan yang paling baik, Tuan juga bisa memilih salah satu pekerja kami untuk memberi Anda ‘pelayanan khusus’.”


“Ini kunci kamar ekstra,” lanjut sang resepsionis. “Harganya 250 escal. Selain ‘pelayanan khusus’, fasilitasnya sama seperti kamar premium. Dan ini kunci kamar normal. Harganya 100 escal per malam. Jadi, kunci mana yang Tuan inginkan?”


“…Kunci kamar ekstra,” jawab Mariel setelah belasan detik terdiam seraya meletakkan dua koin emas dan lima koin perak. “Aku ingin makanannya diantar ke kamarku dalam dua jam.”


“Baiklah, terima kasih telah memesan. Ini kuncinya dan silakan temukan kamar Tuan di lantai tiga.”


Mariel menerima kunci itu dan bergegas menuju anak tangga yang ada beberapa meter di kiri meja resepsionis. Ia berjalan sembari menghela napas panjang. Ia telah salah memilih penginapan. Mariel tidak tahu kalau penginapan ini seperti itu. Untung saja ada kamar ekstra dan normal.


Setibanya di lantai tiga, Mariel langsung mencari keberadaan kamarnya. Kamar nomor 321 berhasil ia temukan setelah hampir tiga menit. Itu karena, meskipun semua kamar diberi nomor, nomor-nomor yang tertera pada pintu kamar tidak berurutan.


Mariel memasukkan kunci, memutarnya, dan mendorong kenop pintu ke bawah. Pintu pun terbuka. Namun, sebelum ia sempat melangkah masuk, pintu sebelah kiri kamarnya terbuka.


Mata ungu Selena memandangnya terkejut. Dua detik berselang, pintu di samping Selena turut terbuka, Ferguso juga terkejut. Sedetik setelah itu, yang terbuka adalah pintu di sebelah kanan Mariel. Terbukanya pintu itu disusul oleh tiga pintu di belakang sang remaja.


“Er, um, halo?” sapa Mariel dengan senyum seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan hal yang tak biasa.


“Kau….” / “Kau….” / “Kau….” / “Kau….” / “Kau….”


“Mariel!”

__ADS_1


Mariel langsung masuk dan menutup pintunya dengan cepat lalu menguncinya dengan rapat.


...—End of Chapter 4—...


__ADS_2