
Bibir Mariel melengkung, tetapi dalam kepala ia merangkai kesimpulan dengan cepat: wanita ini punya intuisi yang tajam.
“Kau masih sangat muda, bagaimana kau bisa begitu percaya diri untuk mengikuti turnamen itu?” tanya balik Mariel—ia tak menjawab satu pun pertanyaan sang gadis. “Kau tidak takut gagal? Ngomong-ngomong, namaku Mariel.”
Uluran tangan Mariel disambut sang gadis. “Aku Selena Hellvia Pendragon,” ujarnya ceria. “Aku calon Kesatria Meja Bundar, orang yang akan memenggal kepala Primordial Devil Lukhiel yang telah membunuh Nona Guinerhea tiga bulan lalu.”
Mariel tidak menunjukkan ekspresi berlebih saat Selena mengatakan itu. Sebaliknya, ia fokus pada tangan lembut Selena. Di dalam mimpi ia pernah menyentuh tangan spirit miliknya, tetapi menyentuh tangan wanita secara nyata memberi sensasi yang berbeda. Tangan Selena sangat-sangat lembut sampai Mariel enggan melepasnya.
Tak mengherankan wanita menjadi penyebab jatuhnya mayoritas penguasa, batin Mariel seraya menarik tangannya. Mereka memang berbahaya. Sangat mudah tertarik pada kecantikan dan kemolekan tubuh. Jika aku tak bisa mengontrol hormon, aku bisa-bisa menjadi penggila wanita. Mungkin aku perlu sedikit belajar meditasinya para pertapa.
“Aku percaya diri karena aku ini kuat. Kau lihat pedang di punggungku?” Selena menunjuk pedang di punggungnya dengan ibu jari kanan. “Ini Pedang Suci Caliburn. Aku mewarisi darah Maharaja Arthur Pendragon; aku keponakan Raja Arthur IV. Aku baru kembali latihan dari tempat kakekku, dia mantan Kesatria Meja Bundar. Pedang ini dia wariskan padaku. Aku tak punya alasan untuk tak percaya diri.”
“Wah, kau pasti hebat sekali. Dilatih mantan anggota Kesatria Meja Bundar secara langsung…. Pantas saja kau sangat yakin. Ah, aku jadi ragu mengikuti turnamen. Aku tak mungkin punya kesempatan melawanmu. Kukira aku akan berbagung ke dalam Organisasi Sterminatore saja.”
Mariel harus mengakui ia agak bingung.
Mengapa Selena membeberkan informasi penting itu dengan mudah? Apa dia tak khawatir pedangnya akan dicuri? Bagaimana pula jika informasi itu akan membuatnya diculik? Apa dia terlalu yakin dengan kekuatannya sehingga memercayai kalau takkan ada yang bisa merampas pedang atau bahkan menculiknya?
Jika begitu, ia bisa mengerti.
Namun, bagaimana jika gadis ini punya motif lain. Dia tadi membawa nama Lukhiel. Apa ada kemungkinan kalau Selena mencurigainya berhubungan dengan sang iblis?
“Eh, kau tak boleh begitu!” seru Selena sembari memukul pelan bahu kiri Mariel. “Ketika tadi aku bilang aku merasa kau kuat, aku serius. Apalagi aku melihat sendiri kecepatanmu. Memang tak bisa kita sangkal kalau aku ini sangat kuat, tapi jika berusaha kau mungkin bisa membuatku serius. Kita tidak tahu jika kita tak pernah mencoba, kan?”
“Ah, kau benar. Tapi tetap saja, aku tak suka melakukan hal yang sudah jelas kegagalannya. Terlebih lagi, aku sekarang jadi lebih ingin mendukungmu daripada berpartisipasi. Habisnya, bangsawan sepertimu sangat ramah dan perhatian pada rakyat biasa sepertiku. Aku jadi begitu tersanjung.”
“Ha-ha-ha. Kau bisa saja.” Selena memukul-mukul pelan bahu Mariel. “Oh!” tukasnya tiba-tiba. “Begini saja, bagaimana kalau kau mengikuti seleksi untuk menjadi kesatria pribadi Putri Marryphimia Pendragon? Dia bulan depan akan berulang tahun yang kelima belas. Sudah menjadi tradisi bagi para putri dan pangeran kerajaan untuk mengangkat seorang kesatria—yang akan memastikan keselamatan mereka di mana pun mereka berada—pada ulang tahun yang kelima belas. Aku bisa mendaftarkanmu langsung. Bagaimana?”
Mariel membiarkan kepalanya memikirkan tawaran itu.
Jika ia ingin membangun karier yang pasti akan disenangi ibunya, ia bisa mempertimbangkan tawaran itu. Ah, ia bisa langsung berpartisipasi dalam turnamen yang ingin Selena ikuti. Mariel tidak meragukan kekuatannya sendiri. Ada peluang yang sangat besar baginya untuk memenangkan turnamen. Namun, usianya baru lima belas. Jika pun ia menang, paling tidak ia baru akan diangkat menjadi Kesatria Meja Bundar pada ulang tahunnya yang ketujuh belas.
Benua Barat berbeda dengan Benua Timur. Di Benua Timur, usia minimal seseorang dianggap dewasa adalah lima belas tahun. Di Benua Barat, tujuh belas tahun adalah usia dewasa seseorang. Usia di bawah itu takkan diizinkan memegang posisi penting. Bahkan seorang raja sekalipun tak boleh menduduki tahta jika belum berusia tujuh belas. Entah Selena melupakan fakta ini atau dia mengabaikannya, Mariel tidak tahu.
Namun, yang jelas, masa depannya akan cerah jika ia mengikuti salah satu dari kedua pilihan itu. Terlebih lagi, Kerajaan Besar Camelot tidak memiliki ketimpangan tinggi antara bangsawan dan rakyat biasa. Di kerajaan ini, kemampuan individu lebih diutamakan daripada status sosial. Tentu saja Mariel mengerti kalau ada sebagian bangsawan yang biadab, tetapi mereka minoritas.
Namun begitu, secara pribadi Mariel tidak memiliki ketertarikan. Daripada diangkat menjadi bangsawan dan memiliki tanah kekuasaan, ia lebih ingin berpetualang bersama Lukhiel. Ia ingin menemukan Menara Babel dan meminta Merlin membagi pengetahuannya—tentu saja jika rumor itu memang benar adanya. Dunia ini terlalu luas untuk mengikat diri pada satu tempat.
“Oh, bagaimana kalau kau bergabung bersamaku?” tanya Selena sebelum Mariel sempat memberi jawaban. “Tapi kita akan berhenti di Londinia dua hari sebelum berangkat ke Pendragon. Kau bi—”
“Nona Selena!” Seorang pria berusia dua puluhan tiba-tiba datang memotong ucapan sang gadis. Dia kusir yang membawa kereta kuda yang Selena naiki, tetapi jelas dia pelayan multitalenta dari pakaiannya. “Ada informasi penting yang anggota saya kirimkan,” jelasnya sembari menunjuk burung elang yang berdiri di bahunya ‒ ada sebuah surat di sana.
“Tunggu sebentar, Mariel.”
__ADS_1
Mariel hanya mengangguk, memandang Selena yang menarik gulungan kertas yang terikat pada kaki elang.
Kemungkinan kekhawatiranku tak beralasan, batin Mariel mengenyahkan kemungkinan kalau Selena mencurigainya berhubungan dengan Lukhiel. Selena kebetulan tertarik dengan kecepatannya dan berpikir kalau ia kuat, sebab itu dia sampai keluar untuk memastikan. Beramah-tamah barangkali sifat aslinya, dan ini semakin didukung oleh sikapnya yang agak tomboi. Selena sensitif saat sisi femininnya dipuji.
“Oh, jadi mereka akhirnya menemukan persembunyian Lukhiel.”
Mariel memandang kertas yang tangan Selena pegang, kemudian mengalihkan pandangannya ke langit. Lukhiel tidak pernah bercerita tentang kegiatannya di luar, jadi Mariel sedikit tertarik dengan ucapan Selena. Pergi ke mana iblis itu? Apa yang sebenarnya dia lakukan tanpa sepengetahuannya?
“Nona akan pergi?” tanya bawahan Selena.
“Tentu saja! Bahkan jika aku memenangkan turnamen, Paman Arthur akan memintaku menunggu setahun sampai aku berusia 17 tahun untuk diangkat menjadi Kesatria Meja Bundar. Tapi, jika aku membawa kepala Primordial Devil Lukhiel ke hadapannya, dia dan semua anggota Kesatria Meja Bundar takkan punya pilihan lain.”
“Tapi, Nona, itu terlalu berbahaya.”
“Apa kau lupa sedang berbicara dengan siapa?”
“Haaaa. Mengubah niat Anda sama seperti mewarnai air. Tapi saya sudah terbiasa dengan hal ini. Karena itu, saya sudah meminta mereka menyelidiki perkembangan di Birmithan. Kita bisa langsung melaju ke sana tanpa perlu singgah di Londinia. Bawahan saya akan menemui kita sebelum kita tiba di sana.”
“Bagus sekali, Ferguso, kau memang bisa diandalkan.”
Kontras dengan senyum energik Selena, Ferguso menghela napas sembari memijat-mijat kening. Seolah memahami apa yang tuannya alami, elang di bahu Fergusa menggesek-gesekkan kepalanya pada kepala Fergusa. Burung itu cukup perhatian.
“Ah, Mariel, lupakan saja tawaranku tadi!” Perhatian Selena sudah kembali fokus pada Mariel. “Aku punya tawaran yang lebih baik. Bagaimana kalau kau jadi anak buahku saja? Kau akan kubayar sepuluh ribu escal seminggu. Bagaimana?”
Namun—
“Itu tawaran yang sangat baik, tapi dengan segala hormat aku harus menolaknya. Lagipula, kau masih belum tahu apa-apa tentangku. Bagaimana jika aku mata-mata yang dikirim Neiracia? Lebih buruk lagi, bagaimana jika aku pengikut Dokter Lergen? Kau harus lebih berhati-hati dalam merekut.”
—Mariel tidak suka mematuhi orang lain. Ia sudah jera disuruh-suruh oleh Lukhiel. Walaupun ini pertama kali ia bertemu Selena, tetapi Mariel bisa membayangkan ia akan dibuat bekerja keras. Ia bisa membayangkan Selena menyuruhnya melakukan hal-hal nekat dan berbahaya. Dia bahkan baru saja berbicara tentang menghabisi Lukhiel.
“Aku jadi makin ingin merekrutmu. 20 ribu escal, bagaimana?”
“Tidakkah kau dengar apa yang baru saja kubilang? Bisa jadi aku prajurit bayaran yang dibayar untuk merebut pedang suci itu darimu. Kau masih yakin mau merekrutku?”
“Ha-ha-ha-ha.” Selena menyerahkan surat kembali ke Ferguso dan menarik keluar pedang besarnya. “Kau benar-benar percaya kalau ini Pedang Suci Caliburn?” tanyanya dengan ekspresi sok misterius.
Mariel melakukan apa yang Selena ingin ia lakukan: memandang pedang tersebut dengan penuh observasi.
Itu pedang berbilah ganda yang warnanya didominasi platinum. Gagangnya bulat dan sangat pas untuk dipegang. Pedang itu besar di bagian pangkal dan mengecil di bagian ujung. Di kedua sisi badan pedang dilapisi tembaga. Pada bagian tembaga itu terdapat ukiran-ukiran unik yang Mariel tak ketahui. Dan yang paling jelas, aura yang dikeluarkan pedang itu benar-benar berbahaya.
“Dengan aura yang pedang itu radiasikan, takkan ada yang akan meno—!”
Mariel refleks melompat ke belakang menghindari tebasan yang tiba-tiba Selena layangkan.
__ADS_1
“Apa yang kau la—”
Mariel tak dibiarkan bertanya; Selena sudah berada di hadapannya dalam sekejap. Mariel memiringkan kepalanya menghindari tusukan pedang, tetapi dengan cepat Selena menarik pedangnya dan memutar tubuh sembari melepaskan tendangan kaki kanan.
Mariel menyilangkan kedua tangan memblok tendangan itu dari mengenai bahunya. Namun, ledakan petir yang tiba-tiba menyelimuti kaki Selena membuat Mariel terhempas. Dan tak berhenti di situ, Selena menembakkan bola-bola petir dari kelima jarinya. Kesemua bola petir sukses mengenai Mariel, membuatnya terhempas cukup jauh dari jalanan tak berbata.
Namun begitu, Mariel mampu mendarat dengan kedua kakinya. Ia juga tak terluka – tubuhnya berlapiskan zirah angin yang mementalkan petir sebelum menyakitinya. Mariel terpental karena gelombang kejut yang bola-bola petir itu lepaskan saat meledak. Mariel menghilangkan zirah anginnya saat Selena mendarat dengan kasar beberapa meter di hadapannya.
“Kenapa kau menyerangku?”
“Kau tidak terluka,” komentar Selena—sepenuhnya mengabaikan pertanyaan sang remaja. “Kau kuat seperti dugaanku. Jadi, ini tawaran terakhirku. 25 ribu escal perminggu. Ini bayaran yang sama dengan yang diterima Kesatria Meja Bundar. Pikirkan baik-baik.”
“Kalau aku menolak?” tanya Mariel, bibirnya melengkung.
Selena mengacungkan pedang. “Aku akan memaksa,” jawabnya. “Hanya orang yang setara atau lebih kuat dariku yang bisa menolak tawaranku. Aku ini serakah. Aku tertarik padamu, jadi aku ingin memilikimu.”
“…?”
“Ja-Jangan salah paham, hmph! Maksudku, aku tertarik dengan kekuatanmu. Aku suka mengelilingi diriku dengan orang-orang kuat. Ferguso, Clarent, Eliza, Axel, Jimmy. Mereka anak buahku yang kurekrut langsung. Kau akan jadi yang keenam. Aku punya ambisi untuk menemukan Nona Merlin dan memaksanya mengembalikan Tombak Suci Rhongonomyiad. Kekuatanmu akan sangat membantu dalam mengalahkan Nona Merlin.”
Ah…gadis ini…tidakkah dia sadar dia baru saja mengatakan informasi yang harusnya disembunyikan?
Walaupun ini bagus untuk Mariel, tetapi ia kurang senang. Ia dan Lukhiel memiliki kebiasaan yang sama: mereka selalu berhati-hati terhadap apa yang harus dan tak harus dikatakan. Jadi, mendengar Selena dengan mudahnya memberi tahu kalau Tombak Suci Rhongo-nomyiad berada di tangan Merlin adalah hal yang tak biasa.
Tapi mengetahui alasannya, mungkin Selena berpikir akan lebih membuahkan hasil jika berterus-terang.
“Sulit menolak tawaranmu,” jawab Mariel setelah beberapa lama. “Tapi masalahnya, aku tak suka diperintah, apalagi oleh orang yang lebih lemah dariku.”
“Oh, lebih lemah? Bukannya kau mengatakan ragu menang melawanku?”
“Wanita suka dipuji, bukan? Ah, tapi aku tak berbohong kalau kau sangat cantik. Mungkin kita bisa makan berdua kapan-kapan?”
“Oh, begitu? Baiklah. Jika aku bisa membuatmu berdarah duluan, kau harus jadi anak buahku. Tapi jika kau yang duluan berhasil membuatku berdarah, aku akan mengundangmu makan malam berdua di restoran termewah di Pendragon. Bagaimana?”
“Kau serius?”
“Aku selalu serius.”
Mariel tersenyum elegan. “Kalau begitu kupegang kata-katamu, Selena.”
“Begitu pun kau.”
Mariel mengangguk. “Majulah, aku siap kapan saja.”
__ADS_1