Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 5 — Et Cetera


__ADS_3

MARIEL memandang keenam individu yang berada di hadapannya dengan kedua pelipis yang sedikit basah. Selena duduk tepat di sofa di depannya (terpisahkan meja kaca), sementara kelima anak buahnya berdiri setia di belakang sang gadis. Dan mereka semua berada di dalam kamarnya!


Bagaimana bisa mereka masuk meski ia telah mengunci pintu kamar?


Jawabannya sangat sederhana: Status.


Hanya status.


Selena memanfaatkan statusnya sebagai bangsawan besar dan keponakan Raja Arthur IV untuk meminta kunci cadangan dengan alasan menginterogasi individu yang mencurigakan. Meskipun penginapan ini cukup elite, tak mungkin pemiliknya berani menolak permintaan anggota keluarga kerajaan, apalagi jika itu berhubungan dengan kemaslahatan kerajaan.


Jika Mariel pikir-pikir lagi, bukankah hari ini ia terlalu sial? Belum cukup ia hampir menjadi korban Iblis Philia, dan sekarang ia harus berurusan dengan orang-orang ini? Apa Lukhiel meninggalkan barang kutukan di dalam gua sebelum dia pergi?


Mariel menghela napas pelan dan berharap Selena benar-benar serius saat mengatakan kalau dia hanya ingin berbicara.


Jika sampai dia menginginkan pertempuran kedua dan mengajak serta kelima anak buahnya untuk menyerang, Mariel tidak punya opsi selain melarikan diri dari jendela. Pasalnya, kelima orang di belakang Selena (terutama Ferguso) terlihat cukup kuat. Menghadapi mereka berlima (berenam dengan Selena) sekaligus akan berakhir dengan kekalahannya.


Ia bisa menghabisi mereka dengan membuat mereka terpisah. Namun, menyadari kalau mereka sudah melihat kekuatannya, Mariel ragu bisa memisahkan mereka dengan mudah. Dan ia juga tak mau bertanggung jawab terhadap kerusakan yang akan terjadi; tak ada opsi lain selain melarikan diri jika Selena berniat macam-macam. Tapi mengetahui karakter Selena, sepertinya dia tak berdusta.


“Kenapa kau tegang begitu? Sudah kubilang, aku bukannya mau mengeroyok dan memaksamu menjadi anak buahku. Aku hanya mau bicara. Lagipula, aku berhutang makan malam padamu, kan?”


“Tegang? Tidak; aku hanya waspada. Bangsawan sulit dipegang ucapannya, apalagi dia membawa pengawal yang merepotkan. Tapi, aku akan menganggapmu berbeda untuk sesaat. Jadi?”


“Oh, aku jelas berbeda.” Selena mengibaskan poninya dengan tangan kanan, bibir melengkung lebar merajut senyum penuh bangga. “Jadi,” mulainya sesaat kemudian, “aku punya tawaran lain untukmu. Ini berbeda dengan dua tawaran yang lalu; tawaran kali lebih lebih memberimu kebebasan.”


“Aku mendengarkan.”


Mariel tidak punya niat untuk menerima apa pun tawaran dari Selena. Ia sudah memutuskan akan melakukan apa. Sembari berpetualang mencari Menara Babel bersama Lukhiel, ia akan menjadi prajurit bayaran untuk mendapatkan uang. Mau sekuat apa pun seseorang, uang selalu diperlukan untuk bertahan hidup. Menjadi prajurit bayaran akan memberinya penghasilan tanpa keterikatan.


Namun, tidak ada salahnya mendengarkan. Meskipun keputusannya takkan berubah, barangkali tawarannya menarik.


“Aku mau kau jadi pengawal pribadiku,” terang Selena serius. “Berbeda dengan mereka berlima, aku takkan menyuruhmu melaku-kan tugas ini itu. Tugasmu hanya terus berada di sampingku dan memastikan keselamatanku. Ah, ini tak berbeda dengan menjadi kesatria seorang putri/pangeran, tapi ini tak ada hubungannya dengan kerajaan. Bagaimana?”


Mariel memandang Selena tanpa mengerjap. “Apa kau hanya sedang mencari alasan untuk membuatku tetap di sisimu?” tanyanya diiringi senyum misterius. “Aku tahu aku kuat, memesona, cemerlang, rupawan, keren, dan pemuda terbaik yang bisa kau temui. Tapi, apa kau tidak terlalu berani? Aku merasakan pandangan tajam dari belakangmu.”


“Ha-ha-ha-ha. Kau lucu.”


“Itu juga!” timpal Mariel membenarkan sang gadis. “Mungkin semua hal positif yang bisa menarik gairah para wanita ada padaku, tapi mari kita kesampingkan kenyataan itu. Jadi, itu tawaranmu?”


“Benar. Soal bayaran, kita bisa diskusikan nanti. Yang terpenting jawabanmu dulu.”


“Tugasku hanya terus berada di sampingmu dan memastikan keselamatanmu?”


Selena mengangguk.


“Selalu?”


Selena kembali mengangguk.


“Berarti tidak bebas?”


“Ah…bebas dalam artian kau tak akan terikat dengan kerajaan. Kau juga akan memiliki pekerjaan yang sangat ringan. Aku kuat, jadi hampir-hampir kau tak perlu merepotkan diri. Kau bahkan bisa tidur atau bermalas-malasan saat bekerja. Bebas, kan?”


“…Itu…itu menarik.”


“Jadi?” Ekspresi Selena jadi lebih cerah, matanya memandang penuh ekspektasi. “Kau bersedia?”


Jika dia benar-benar punya motif tertentu, Mariel tidak bisa memikirkan selain lelucun yang ia kemukakan di awal. Namun, tidak mungkin lelucon itu bisa lebih dari sekadar lelucon. Selena hanya mencari alasan untuk membuat Mariel tetap di sisinya? Itu sungguh lelucon. Kecuali…dia ingin memerhatikan Mariel demi mencari kelemahan dari kemampuannya.

__ADS_1


Namun, mengesampingkan apa pun alasannya, jawaban Mariel sudah jelas sejak awal.


“Mengecewakan gadis sekuat dan semenawan dirimu akan menyakiti hati pria mana pun, tapi dengan berat hati tawaran itu harus kutolak. Aku sudah memutuskan, jika menjadi bagian dari Sterminatore kurang menjanjikan, aku akan menjadi prajurit bayaran. Lebih dari itu, aku ingin mengeksplor dunia.”


Kecerahan di wajah Selena menghilang. “Apa mustahil meyakinkanmu?” tanyanya mencoba meluluhkan sang remaja.


“Kenapa kau terlihat begitu ingin?”


“Kau sudah mengalahkanku dengan kemampuan yang tak pernah kubayangkan, jadi aku mau mencari kelemahanmu. Aku tidak suka kalah; kalau kalah aku akan berusaha membalasnya. Setelah aku berhasil mengalahkanmu, akan kupaksa kau menjadi milikku.”


“Ah…jadi kau menginginkanku?”


“Tentu saja. Kau pemuda terbaik yang akan pernah ada!”


…Mariel bercanda saat tadi memuji dirinya sendiri. Semua orang tahu kalau itu candaan. Namun, mendengar ucapan yakin gadis ini, kemungkinan dia menganggap Mariel serius. Atau barangkali, walau dia tahu Mariel bercanda, menurutnya Mariel memang sesuai dengan apa yang ia candakan?


Sebagian diri Mariel percaya, tetapi sebagian lagi menuntutnya waspada. Rayuan wanita sangat berbahaya, apalagi jika kelur dari mulut mereka yang berwajah memesona. Bisa jadi Mariel telah berada di dalamnya tanpa ia sadari. Mungkin itu adalah siasat untuk menggulingkannya dari puncak kejayaan, sebagaimana yang terjadi pada pria-pria hebat di masa lampau.


Oke, sepertinya aku harus berhenti memedulikan peringatan itu. Jika aku terus menganggap wanita berbahaya, bagaimana aku bisa mendapatkan istri?


Tunggu, tunggu, bukankah ia masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu?


Sepertinya ia telah terlalu banyak membaca tentang wanita, bukan begitu?


Ini salah Lukhiel.


“Mariel…?”


Mariel menghela napas panjang. Sepertinya ia memang perlu belajar pada seorang pertapa untuk bisa mengontrol pikirannya. Seperti sebelumnya, mengapa ia lari dari Iblis Philia ketika ia sendiri diakui kuat oleh Primordial Devil Lukhiel? Sangat tak masuk akal. Ia seperti orang yang tak kebagian otak.


Bahkan jika ia bisa dibuat terdesak, ada Sterminatore yang pasti akan bergerak saat suara pertarungan mereka menyebar. Lari adalah keputusan yang jauh dari kata “tepat”. Ketakutan terhadap hal yang tak beralasan itu sungguh membuatnya seperti orang bodoh.


Mariel mengerjap. Ini tidak baik. Mungkin sebaiknya ia berhenti mencoba untuk menjadi seseorang yang bersikap sesuai keadaan. Itu sangat tidak bagus. Pikirannya belum benar-benar terlatih untuk itu. Jika ia memaksakan diri menjadi seperti manipulator dan sosiopat, kejadian seperti sebelumnya akan terulang lagi: ia jadi dikendalikan pikirannya sendiri.


Itu benar. Ia hanya perlu menjadi diri sendiri dalam segala situasi. Dengan menjadi diri sendiri membuat pikirannya lebih tajam. Ia juga jadi tak perlu mendatangi pertapa. Menjadi diri sendiri bisa membuat seseorang lebih kuasa dalam mengontrol diri.


Tapi barangkali, ini efek akibat tidak pernah berinteraksi dengan orang lain selain Lukhiel?


“Mariel, oi! Kau mende—”


“Mariel Allvar,” potong Mariel. “Namaku Mariel Allvar, tapi kau tetap bisa memanggilku Mariel.”


“Huh?”


“Sejujurnya, aku sudah lama tidak berinteraksi dengan orang lain. Ini pertama kalinya aku keluar dari hutan. Kau tahu tebing yang menjadi batas nyata antara Camelot dan Neiracia? Aku jatuh dari sana. Tepatnya, aku dijatuhkan dari sana setelah melarikan diri dari prajurit bayaran. Aku hidup lumayan lama di dekat tebing itu. Jadi, ketika kau tiba-tiba mengajak bicara tadi, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Itu bukan diriku yang sebenarnya.”


“Aku tidak kuat,” lanjut Mariel. “Aku tidak memesona, tak cemerlang, tak rupawan, tak keren, dan tentu saja bukan pemuda terbaik yang bisa kau temui. Aku hanya pemuda biasa saja, tidak lebih. Perempuan menakjubkan sepertimu tidak pantas menunjukkan ketertarikan pada orang sepertiku. Lagipula, aku berasal dari Neiracia. Kau mungkin akan mendapat masalah jika nekat menginginkanku sebagai pengawal pribadi, apalagi lebih dari itu.”


Mariel membiarkan bibirnya melengkung tipis.


Ia telah mengatakan apa yang memang perlu dikatakan. Ia telah menga—hm…apa karakternya memang begitu? Apa saat ini ia telah bersikap alami, bersikap sebagaimana ia biasanya bersikap? Apa sikapnya masih bercampur-campur? Apa ia telah membingungkan dirinya sendiri?


“Apa kau sebegitunya tak mau menerima tawaranku sampai mengatakan omong kosong begitu?” tanya Selena dengan ekspresi yang mengatakan kalau dia baru saja melihat komedian terparah dalam sejarah.


Bukan Selena saja yang memandangnya begitu, kelima pengawal Selana juga. Bahkan salah satu dari mereka memandangnya seolah kepalanya telah tumbuh dua. Apa yang baru saja ia katakan sangat kentara omong kosongnya? Itu tak terlihat alami?


Jika begitu, ia sebelumnya sudah bertindak natural? Itu sikap alaminya? Ia bukannya bersikap sebagaimana sosiopat dan manipu-lator kelas kakap bersikap, melainkan itu memang sikap alaminya? Ia tidak sedang mencoba menjadi orang lain?

__ADS_1


Kalau begitu, ketakutan terhadap Iblis Philia bukan karena pikirannya yang tak terkendali? Ketertarikan (sekaligus kehati-hatian) yang berlebihan terhadap wanita murni datang dari dirinya? Artinya, sikapnya memang sudah rusak sejak awal?


Ini salah Lukhiel, tekan Mariel dalam hati.


“Ada apa? Kau tak mampu membalas?”


“Kukira aku memang tak lihai dalam berdusta,” ucap Mariel diiringi helaan napas panjang. “Apa boleh buat,” lanjutnya, “aku akan berterus terang. Aku tak bisa memenuhi permintaanmu karena aku mau mengeksplor dunia. Menjadi anggota Sterminatore atau prajurit bayaran akan membuatku leluasa dalam memenuhi hal itu.”


“Kebetulan sekali aku juga sama!” seru Selena dengan energik. “Aku juga perlu berkeliling dunia untuk menemukan Nona Merlin. Ah, tapi aku baru akan melakukannya setelah setahun menjadi bagian dari Kesatria Meja Bundar. Oh, bagaimana kalau begini?!”


“Begini bagaimana?”


“Kuterima penolakanmu sekarang, tapi nanti setelah aku mulai mengeksplor dunia untuk menemukan Nona Merlin kau harus bersedia. Keinginanmu terpenuhi, keinginanku juga. Bagaimana? Solusi yang sangat adil, bukan?”


Cara Selena mengatakan kalau itu solusi yang sangat adil sungguh meyakinkan. Orang-orang dengan pikiran tumpul akan lang-sung mengangguk setuju dan memuji kepengertianan sang gadis. Tetapi sangat jelas kalau itu tetaplah pemaksaan. Wanita ini tidak mau menerima penolakan, dan dia melakukannya dengan cara yang cukup elegan.


Namun, sebagaimana yang mereka sama-sama tahu, Selena tak akan bisa menjadi bagian dari Kesatria Meja Bundar sampai usianya tujuh belas. Dan jelas mustahil baginya memenggal kepala Lukhiel. Jadi, memberi jawaban yang memuaskannya takkan jadi masalah. Pasalnya, selama tak menginjakkan kaki di Pendragon pada saatnya tiba, mereka takkan bertemu. Kesepakatan ini akan percuma.


“Baiklah,” jawab Mariel setelah hampir setengah menit. “Aku setuju dengan perkataanmu, tapi hanya jika kau mau menjawab pertanyaanku.”


“Dan pertanyaan itu?”


“Mana yang lebih kuat di antara Excalibur, Caliburn, dan Rhongomyniad?”


Informasi tertulis tentang senjata suci hanya terbatas pada nama-nama serta legenda mereka saja—mengecualikan “Sword of Salvation” yang bahkan tak diketahui namanya. Mendapatkan detail tentang wujud mereka juga sulit, tapi bukan mustahil (Lukhiel memilikinya). Namun, kemampuan mereka? Tak ada informasi yang tertulis; hanya cerita dari mulut ke mulut.


“Menurutmu?” tanya balik Selena, tetapi dia langsung menam-bahkan: “Aku mau mendengar apa yang paling kuat menurutmu, baru kemudian kujawab.”


“Kalau menurutku, Excalibur terkuat. Tapi, Rhongomyniad menarik perhatianku.”


Selena tersenyum mendengar jawaban Mariel. “Jawabanmu tak salah,” jelasnya. “Dari segi serangan, Excalibur yang terkuat. Dari segi fleksibilitas, Caliburn nomor satu. Namun, dari segi pertahanan, Rhongomyniad yang terbaik. Kau pernah mendengar Menara Babel yang misterius?”


Mariel mengangguk.


“Itu Rhongomyniad,” lanjut Selena. “Rhongomyniad aslinya berbentuk tombak kecil seperti mainan kunci. Tombak itu bisa diubah ke bentuk apa saja. Dulu Maharaja Arthur sering menjadikannya tameng, makanya pertahanannya disebut paling kuat.”


Mariel tersenyum lalu mengangguk pelan. Ia sebetulnya ingin bertanya lebih detail, tetapi pandangan tajam dari kelima anak buah Selena sungguh mengganggu. Mariel khawatir mereka akan mencu-rigainya memiliki motif terselubung jika ia bertanya lebih lanjut.


“Itu kemampuan yang sangat berguna.”


“Makanya aku mau mengambil kembali tombak itu dari tangan Nona Merlin.”


Mariel bisa mengatakan kalau Merlin berhak memiliki tombak itu setelah memberi begitu banyak bantuan pada Maharaja Arthur. Terlebih lagi, bukankah semua senjata Maharaja Arhur adalah pemberian Merlin? Apakah Camelot telah melupakan fakta itu? Atau, mengambil kembali Rhongomyniad hanya keinginan personal Selena?


“Selain itu, apa masih ada yang perlu kau bicarakan?” tanya Mariel—sepenuhnya mengabaikan apa yang melintas dalam kepala.


“Kalau kita sudah sepakat, artinya aku su—oooh! Kita masih belum bicara tentang makan malam! Aku berhutang makan malam di Pendragon padamu!”


Ah, ya, tentang makan malam. Mariel sebenarnya berniat menagih itu sebelum meninggalkan Camelot. Namun, sekarang ia jadi berubah pikiran. Ia tidak tahu apa yang Lukhiel lakukan, tapi kemung-kinan besar dia akan mengajaknya pergi setelah kembali ke gua—itu mengasumsikan ia tak terlebih dahulu bertemu dengannya.


“…Kau bisa menunda membayarnya sampai saat itu.”


“Oh, sebuah alasan untuk bertemu? Cemerlang sekali caramu.”


Tentu saja bukan, tetapi akan merepotkan jika ia jelaskan. Mariel hanya merespons dengan senyum kecil sembari menunjuk pintu kamar dengan tangan kanan. “Jika tak keberatan,” katanya, “sekarang aku ingin mengistirahatkan diri. Tolong bawa anak buahmu melewati pintu itu dan tutup dari luar. Tidak keberatan, kan?“


Berbagai reaksi yang menjurus pada kekesalan ditunjukkan oleh kelima bawahan Selena, tetapi sang bos justru tersenyum terhibur.

__ADS_1


“Tentu,” ucap Selena. “Aku akan ke sini lagi dengan makan malam.”


__ADS_2