Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 2 — Sterminatore & Training


__ADS_3

MARIEL hari ini tepat berulang tahun yang kesepuluh. Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Lukhiel memberinya pelatihan fisik bak neraka. Dalam masa tersebut, Mariel benar-benar difokuskan untuk meningkatkan fisik dan stamina. Yang menjadi selingan dalam latihan hanyalah pelajaran berpedang dan bela diri tangan kosiong.


Di waktu kosong, Mariel menggunakannya dengan membaca berbagai buku yang Lukhiel bawa. Iblis itu selalu pergi di setiap hari ketujuh. Salah satu benda yang dia bawa adalah papan catur beserta bidak-bidaknya—permainan nomor satu yang digemari para bangsa-wan dan orang-orang kaya. Ia dan Lukhiel kerap bermain catur saat Mariel kehabisan buku untuk dibaca.


Dalam hampir tiga tahun ini, hubungan Mariel dan sang iblis telah benar-benar dekat. Sedikit pun Mariel tak lagi merasa perlu waspada di hadapan iblis itu. Kadangkala ia sampai melempar serapahan ke wajah iblis—terutama saat Lukhiel berbuat curang dalam duel catur mereka. Sebegitu dekatnyalah mereka. Walaupun penampilan Lukhiel tua, dia tak bersikap sok tua. Namun, tentu saja, Mariel tak sedikit pun mengorek masa lalu sang iblis.


Karena hari ini ulang tahunnya yang kesepuluh, latihan diliburkan sampai lusa. Lukhiel sudah meninggalkan gua sejak tadi pagi, dan iblis itu bilang baru akan kembali dalam tiga hari. Jadi, selama tiga hari ini, Mariel hanya akan sendiri di gua. Dan tidak seperti dua tahun yang lalu, kali ini Lukhiel tak memagari gua dengan tombak anginnya. Mariel bisa mengatasi serangan sekelompok singa hutan sekaligus; Lukhiel memercayainya untuk bisa berjaga diri.


Dengan sebuah tombak di tangannya, Mariel keluar gua setelah merapikan isi gua. Ia tak beralas kaki; sandal jeraminya putus—dan tak ada cadangan jerami yang bisa ia pakai. Mariel hanya mengenakan kaos hitam lengan pendek dan celana hitam panjang sebetis. Menutup mulut gua dengan tanaman rambat yang sengaja mereka tanam di atas gua, lantas Mariel berlari ke arah utara.


Di sana, sekitar dua puluh kilometer ke utara, ada bekas pedesaan yang telah lama ditinggalkan. Itu adalah desa yang ibunya maksudkan, yang katanya akan menolongnya jika ia waktu itu melompat. Namun, berdasarkan penyelidikan Lukhiel, desa itu telah ditinggalkan lebih dari sepuluh tahun lalu. Mariel sudah melihatnya sendiri beberapa kali, dan menurutnya ucapan sang iblis benar.


Mariel ke sana bukan bermaksud mengunjungi desa itu lagi. Tebing di sisi timur desa itu memiliki bagian yang bisa dipanjat. Lukhiel belum mengajarkan Mariel cara menggunakan prana. Dia juga tak memberinya buku-buku yang berhubungan dengan prana. Jadi, Mariel tak bisa ke atas tebing secara leluasa. Ia harus melakukannya secara konvensional, dan dinding tebing di sana adalah tempat yang sangat sempurna untuk dipanjat.


Tentu saja, Mariel tidak pergi dengan tangan kosong. Ia tak mau mengunjungi makam sang ibu tanpa membawa bunga apa pun. Ia terlebih dahulu mencari bunga-bunga untuk dibawa ke pusara. Meski sang ibu telah pergi hampir tiga tahun, ia ingin pusara itu selalu terawat. Mariel juga tidak tahu kapan Lukhiel akan mengajaknya pergi dari gua; ia takkan selamanya bisa mengunjungi makam sang ibu sering-sering.


Ini bukan kali pertama Mariel mencari bunga untuk dibawa ke pusara ibunya. Jadi, pencariannya tak memakan banyak waktu. Ia bisa mengumpulkan bunga-bunga hanya dalam beberapa menit. Dan tiga puluh menit kemudian, Mariel sudah merangkak pada dinding tebing berusaha mencapai puncak. Akan lebih mudah jika ia tak membawa tombak dan bunga-bunga, tapi ini juga bisa disebut latihan.


Mariel akhirnya tiba di puncak tebing setelah hampir dua puluh menit. Ia langsung menghempaskan tubuhnya beristirahat dengan kedua tangan terentang. Napasnya sedikit tak beraturan, dan kedua lengannya cukup pegal—terutama jari-jari tangannya. Mariel benar-benar memerlukan istirahat, walaupun sejatinya ia masih cukup kuat untuk beraktivitas berat lagi.


Tanpa prana, kemampuan manusia benar-benar terbatas. Meski Mariel telah berlatih keras di bawah siksaan Lukhiel hampir tiga tahun ini, dibandingkan pengguna prana terlatih ia masih tak ada apa-apanya. Untuk menjadi kuat seperti yang ibunya inginkan, Mariel masih harus menempuh jalan yang panjang. Tak ada metode kilat untuk menjadi kuat.


Menghela napas panjang, Mariel akhirnya bangkit setelah hampir lima menit beristirahat.


Belasan detik kemudian ia sudah berada di samping pusara sang ibu. Rumput-rumput yang tumbuh ia cabuti. Bunga-bunga yang ia bawa ia taburkan dengan rapi. Barulah kemudian Mariel berbagi cerita kepada sang ibu. Tentu ia tahu ada kemungkinan sang wanita takkan mendengarnya, tetapi ia tak peduli. Mariel sungguh tak peduli.

__ADS_1


...——————————...


Kerajaan Besar Camelot bisa dibilang berdiri di bagian tengah Benua Barat.


Di batas barat daya hingga barat laut kerajaan berdiri sekutu mereka, Kerajaan Denland. Di sisi utara Camelot ada Kerajaan Mangolla. Dari timur laut hingga sisi timurnya ada Kekaisaran Neiracia yang luas. Kerajaan Urakhna berdiri di arah tenggara. Dan berdiri tegak di selatan Camelot adalah musuh sepanjang sejarah mereka, Kerajaan Besar Celteckna.


Camelot adalah kerajaan yang kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Keduanya adalah alasan utama mengapa wilayah mereka tak pernah berhasil dicaplok negeri lain, padahal mereka dikelilingi negeri lain dari segala arah. Dan keduanya jugalah alasan mengapa Camelot tak berpikir untuk mengekspansi wilayah mereka. Camelot bisa dibilang sebagai salah satu kerajaan termakmur di Benua Barat.


Kerajaan Besar Camelot total memiliki delapan kota besar: Pendragon, Londinia, Liveroel, Elchester, Birmithan, Gothhant, Brenthound, dan Britticia. Pendragon berdiri di pusat kerajaan, sementara kota yang paling timur adalah Londinia. Dan di kota paling timur ini jugalah sekarang Lukhiel berada—tentu saja jari-jarinya tersembunyikan sarung tangan, dan matanya terhalang topi bundar lebar yang ia miringkan ke depan.


Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, Lukhiel kali ini datang bukan untuk membeli kebutuhannya dan Mariel. Itu bisa ia lakukan sebelum kembali ke gua. Lukhiel hari ini datang untuk menemui salah satu anggota Serenity yang di waktu kunjungannya yang lalu memintanya bertemu. Walaupun ia tidak menjadi bagian organisasi itu, tetapi mereka kerap berkomunikasi. Jika bukan ia yang mencari mereka untuk memperoleh informasi, merekalah yang mencarinya.


Lukhiel berjalan—dalam langkah yang menurutnya paling normal—pelan menyusuri jalan berbata Kota Londinia.


Celinee, nama setengah manusia setengah iblis yang meminta bertemu dengannya, tidak secara spesifik mengatakan lokasi pertemuan. Wanita itu hanya meminta bertemu di Londinia. Ia juga tak bisa merasakannya; Celinee adalah mantan ninja dari Benua Timur sebelum diculik dan dijadikan bahan eksperimen. Dia sangat lihai dalam menyembunyikan hawa keberadaan. Karena itu, sedari tadi Lukhiel hanya berjalan menyusuri jalan-jalan kota.


Panggilan yang datang tiba-tiba itu mengejutkan Lukhiel. Ia benar-benar tak merasakan kehadiran pemilik suara—seperti yang bisa diharapkan dari seorang ninja. Namun, Lukhiel tetap tenang ‒ ekspresinya tak sedikit pun menunjukkan keterkejutan. Ia langsung menoleh ke sumber suara setelah hampir dua detik berlalu. Ia bersikap seolah ia sudah mengekspektasikan kedatangan Celinee.


“Terima kasih sudah datang, Tuan Lukhiel.”


Celinee adalah wanita dengan tinggi 157 cm, berbalutkan baju panjang sepaha tanpa lengan dan kancing. Sabuk berwarna hitam menjadi penutup baju berwarna biru bermotifkan daun tersebut. Perban putih terlihat membaluti tubuh bagian atasnya, terlihat jelas dari sela-sela baju. Sementara itu, untuk bawahan Celinee hanya mengenakan celana hitam selutut dan perban putih yang membaluti seluruh kakinya. Dan melengkapi alas kakinya adalah sepasang sandal jerami.


Celinee memiliki rambut abu-abu panjang yang dia ikat dengan model ekor kuda. Warna rambut Celinee awalnya hitam, tapi berubah abu-abu sejak jantungnya diganti dengan jantung iblis saat dia berusia sepuluh tahun. Wanita berkulit putih cerah dengan hidung agak mancung ini telah hidup sebagai setengah iblis hampir dua puluh tahun. Dan karena dia setengah iblis, ciri iblis Celinee hanya akan terlihat saat dia tak menekan kekuatan iblisnya.


“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Lukhiel, memendekkan jaraknya dengan sang ninja. “Jika memakan waktu yang lama, ayo ke luar. Akan merepotkan jika anggota Sterminatore mencurigaiku.”

__ADS_1


Sterminatore ‒ organisasi pemburu iblis satu-satunya di dunia. Mereka memiliki markas di setiap benua dan di setiap negeri. Masing-masing negeri mendanai operasi Sterminatore di negeri mereka. Maka dari itu, tak ada negeri yang aktif memburu dan melenyapkan iblis. Semua negeri telah sepakat memberikan amanat itu pada Organisasi Sterminatore.


Karena itu pula, anggota Sterminatore diberikan akses bebas masuk ke semua negeri yang ada.


Londinia juga tak terkecuali.


Ada cabang markas Sterminatore di kota ini. Namun, pemburu iblis yang berada di sini tak ada yang berada pada Tingkat 1. Anggota Sterminatore memiliki enam tingkatan berdasarkan tingkat kekuatan dan pengalaman. Tingkat 5 yang terendah, dan Tingkat 0 yang tertinggi. Di kota ini, anggota Sterminatore yang tertinggi hanyalah Sterminatore Tingkat 2 ‒ jumlahnya pun hanya tiga orang saja.


Namun begitu, Lukhiel tetap tak ingin sampai keberadaannya diketahui. Ia telah berada di luar radar mereka cukup lama. Jika keberadaannya sampai kembali diketahui, Sterminatore akan kembali mengirim sekelompok anggota Tingkat 1 mereka untuk memburu dirinya. Tentu saja ia bukan takut. Lukhiel hanya tak ingin direpotkan saja.


“Kita bisa bicara sambil berjalan, Tuan.”


“Kalau begitu, ayo.” Lukhiel langsung melangkah melewati sang wanita. “Kita ke arah barat.”


Celinee tidak memberi respons verbal, tetapi ia sudah menyejajarkan langkahnya dengan sang iblis.


“Jadi?”


“Ada laboratorium bawah tanah di tepi utara Kota Birmithan,” mulai Celinee dengan setengah berbisik. “Kami tak bisa menyelidiki ke dalamnya; dua anggota Sterminatore Tingkat 1 mengawal pintu masuk. Namun, kami sempat melihat salah satu asisten Dokter Lergen di Birmithan. Kami memang belum melihatnya mendatangi labora-torium itu, tapi jelas alasan keberadaannya di Birmithan bukan sekadar jalan-jalan.”


Dokter Lergen adalah orang yang bertanggung jawab di balik terciptanya makhluk setengah iblis setengah manusia. Dia sendiri juga setengah iblis setengah manusia. Itu pula alasan mengapa dia masih hidup hingga sekarang. Lukhiel belum pernah bertemu pria itu secara langsung. Namun, dari apa yang ia dengar, dokter itu memiliki kekuatan besar dan sangat lihai bersembunyi. Itulah mengapa sampai sekarang Serenity tak kunjung bisa menghabisi sang dokter.


“Jika benar asisten Dokter Lergen punya urusan di laboratorium itu, dugaan kami selama ini kalau Anathema memiliki relasi dengan Sterminatore terbukti benar. Dokter Lergen memang selalu mengaku bekerja secara independen, tapi tidak mungkin dia bisa mendapatkan banyak suplai jantung iblis tingkat atas jika klaim tersebut benar. Kita perlu memasuki laboratorium itu dan memastikan segalanya, Tuan Lukhiel.”


Anathema adalah organisasi yang menaungi iblis tingkat atas. Pemimpinnya adalah iblis tertua yang pernah Lukhiel ketahui. Dia juga iblis yang dijuluki Primordial Devil sebagaimana halnya Lukhiel. Namun, kekuatannya berada dalam kelas yang berbeda. Mungkin semua iblis tingkat atas—iblis tingkat bawah tak punya akal yang tinggi—setuju kalau dialah iblis terkuat.

__ADS_1


Nessthanovla. Nama itu adalah teror bagi manusia mana pun yang pernah membaca atau mencari tahu tentang sejarah. Maharaja Gilgamesh yang pernah membawa Kerajaan Besar Babilonia menuju kejayaan terbunuh dalam pertempuran melawan Nessthanovla. Hal yang sama terjadi pada Alexander Sang Penakluk – dia tewas setelah menantang Nessthanovla berduel. Bahkan, di antara Primordial Devil pun tak ada yang berani mencari gara-gara dengannya.


__ADS_2