Sword Of Salvation

Sword Of Salvation
Ch. 1 — Human and Devil


__ADS_3

SEJAK AWAL PERMULAAN, dunia mengenal empat benua yang terpisahkan genangan air asin dengan luas total melebihi gabungan keempat benua tersebut.


Northama. Southema. Westhima. Easthoma. Begitu nama keempat benua yang tertulis pada peta dunia. Meski tulisan dan bahasa sama semua di keempat benua, tetapi masing-masing terkenal dengan keunikannya tersendiri. Tidak ada benua lain selain keempat itu.


Northama, atau yang lebih umum disebut Benua Utara, adalah benua yang dua per tiganya diselimuti es. Southema kebalikan Northama. Dua per tiga wilayahnya diselimuti padang pasir. Westhima memiliki lebih banyak danau dibandingkan gabungan ketiga benua lain. Dan khusus Easthoma, atau yang populer disebut Benua Timur, ada lebih banyak gunung di benua ini daripada jumlah hari dalam setahun.


Dunia ini terbagi dua: dunia atas dan dunia bawah. Keduanya dipisahkan cairan lava tebal yang tak mungkin ditembus. Dunia yang menjadi misteri bagi satu sama lain.


Para manusia dan berbagai jenis binatang hidup di dunia atas, sementara para iblis menguasai dunia bawah. Keduanya tak pernah saling bersinggungan sejak kehidupan terlahir, dan keduanya memang tak boleh bersinggungan. Karena iblis terlahir dari jiwa manusia yang tak bisa memasuki alam keabadian—jiwa yang dipenuhi dosa, sesal, dan kehampaan.


Tiada manusia yang tahu bagaimana keadaan dunia bawah atau seperti apa wujud iblis itu. Namun, tepat pada dua ribu tahun yang lalu, untuk pertama kali sejak kehidupan bermula, seorang iblis berhasil keluar dari dunia bawah menuju dunia atas. Bersama dengan pasukan yang dibawanya, dominansi para manusia mulai dipertanyakan. Itu adalah hari yang mengubah segalanya.


Dunia atas yang sebelumnya hanya memiliki konflik terhadap satu sama lain, kini menjadi sasaran keganasan para iblis. Iblis menjadi semakin kuat dengan memakan jiwa manusia. Ada juga yang mengatakan kalau mereka, setelah memakan sejumlah tertentu jiwa manusia, akan bisa terbebas dari rantai neraka yang membelenggu. Tak pelak, semua iblis menganggap manusia sebagai makanan.


Lukhiel adalah satu dari sekian banyak iblis yang berada di dunia atas. Ia telah menghabiskan lebih dari seribu tahun mengarungi dunia manusia dan makhluk hidup lain. Karena itu, Lukhiel tidak lagi sama dengan rerata iblis. Ia telah memakan total satu juta dua ratus ribu jiwa ‒ ia telah lama terbebas dari rantai neraka yang membelenggu. Lebih dari itu, Lukhiel adalah satu dari delapan iblis yang dikategorikan Primordial Devil.


Pria berambut putih panjang sedada yang disisir ke belakang ini berperawakan tua. Bila disamakan dengan manusia, ia terlihat berada di usia antara 50 dan 60-an. Tetapi itu tidak mengherankan. Lukhiel sudah tidak lagi terkekang oleh rantai neraka; tak ada yang menghala-nginya dari bertambah tua. Tentu saja Lukhiel bisa tetap awet muda jika tak berhenti mengonsumsi jiwa manusia. Namun, pertarungannya dengan pemegang “Sword of Salvation” pada tiga ratus tahun lalu telah mengubah sang iblis.


Meskipun ia satu dari delapan iblis yang dikategarikan Primordial Devil, sekarang ia juga menjadi buronan para iblis. Ia dicap sebagai pengkhianat. Lukhiel dimusuhi para iblis dan manusia. Manusia tak bisa melupakan kekejaman yang Lukhiel lakukan di masa lalu, dan para iblis menolak menerima aksinya yang menyelamatkan manusia dan membantai iblis.


Jika ada yang menerima kehadiran Lukhiel setelah mengetahui hal itu, maka itu hanyalah Organisasi Serenity—organisasi yang dibentuk sebagai wadah untuk menaungi individu-individu setengah iblis dan setengah manusia. Sebagaimana Lukhiel yang dimusuhi iblis dan manusia, mereka juga begitu. Namun, meski mereka memberi tempat khusus untuknya, Lukhiel menolak bergabung dan terus mengembara.


Lukhiel ingin menepati janjinya pada wanita yang telah mengubahnya itu: ia akan mencari manusia yang pantas untuk diwariskan “Sword of Salvation”.


Karena itu, meskipun ia seorang iblis, tubuh Lukhiel tergerak untuk menyelamatkan anak manusia berusia tujuh tahunan yang hendak dibunuh manusia lain. Ia menangkap tebasan pedang api salah satu dari mereka dengan telunjuk dan ibu jari kanannya. Keterkejutan menyerang sang pria, tetapi mulut dia tak sempat memberi reaksi apa-apa. Lukhiel telah menebas lehernya dengan tangan kiri.


“Glanz, kau sudah me—”


Lukhiel menghabisi pria yang satunya sebelum kalimatnya sempurna terucap.


Dan sebagaimana yang sudah-sudah, ia tak memakan jiwa mereka. Selain karena Lukhiel sudah berubah, memakan jiwa manusia hanya membuat kuat iblis yang masih terbelenggu rantai neraka. Bagi para iblis yang sudah terbebas, memakan jiwa manusia tidak lagi memberikan manfaat apapun selain menambah energi kehidupan (energi yang bertanggung jawab dalam menunda penuaan).

__ADS_1


“Bagi siapa pun yang membunuh, suatu hari nanti pasti akan terbunuh. Itulah kenyataan yang tak terelakkan. Sebuah karma. Aku pun…suatu hari nanti akan terbunuh.”


Lukhiel lantas mengalihkan pandangan pada anak manusia beru-sia tujuh tahunan yang hampir terbunuh.


Dia masih tak beranjak dari memandang kepala ibunya yang tak lagi menyatu dengan raga. Lukhiel tidak ingat seperti apa kehidupannya sebelum mati dan menjadi iblis; ia juga bukan setengah iblis yang terlahir dari hasil eksperimen. Jadi, Lukhiel tidak bisa mengatakan ia benar-benar memahami apa yang dia rasakan. Yang Lukhiel tahu, itu pasti menyakitkan.


Cukup lama Lukhiel berdiri diam memandang sang anak. Tetapi anak itu tak memedulikan kehadirannya. Bahkan, jika ia tadi tidak mengintervensi, anak itu juga tetap takkan peduli. Mungkin dia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, atau mungkin dia berpikir kalau sang ibu berpura-pura mencopot kepalanya. Lukhiel tidak tahu. Yang jelas, ia mengerti kalau sang anak sekarang tinggal sebatang kara.


Lukhiel tak bisa begitu saja meninggalkan sang anak. Ia sudah menyelamatkannya. Jika ia memutuskan meninggalkannya maka sejak awal ia tak perlu menyelamatkannya. Namun, sekarang mereka bera-da di hutan, tak jauh dari tebing; tidak ada perumahan yang bisa ia datangi untuk meninggalkan sang anak di sana. Jika pun ada, Lukhiel pesimis kalau mereka akan menampungnya.


Satu-satunya hal yang tepat untuk dilakukan adalah membawa sang anak ke kota, di sana ada panti asuhan yang bisa ia coba datangi. Namun, Lukhiel sendiri baru saja dari sana. Kepergiannya juga karena di kota itu ada dua orang Sterminatore Tingkat 1. Tak peduli seberapa hebat Lukhiel dalam menyembunyikan hawa keberadaan iblisnya, Lukhiel khawatir mereka akan tetap mampu mendeteksinya. Lukhiel tahu ia bisa menghabisi mereka berdua sekaligus jika perlu, tetapi ia tak ingin mencari masalah.


Menghela napas panjang, Lukhiel berjongkok dan menepuk pelan pundak sang anak. Ia tidak berpikir akan datang hari di mana ia memutuskan untuk merawat seorang anak manusia. Tetapi di sinilah ia. Lukhiel tidak memiliki solusi lain selain membawa sang anak bersembunyi. Ia bisa mengatakan anak ini memiliki spirit yang kuat di dalamnya. Mungkin, jika ia melatihnya, anak ini bisa mewarisi “Sword of Salvation”?


Lukhiel mengangguk pada diri sendiri dan memutuskan. “Ayo bangun,” ucapnya pelan. “Mari kita makamkan ibumu.”


Membutuhkan usaha yang ekstra untuk menarik sang anak dari keputusasaannya. Lukhiel cukup sabar membujuk, dan kesabaran itu terbayar tuntas. Sang anak akhirnya memandangnya setelah setengah jam meyakinkan, dan butuh setengah jam lagi bagi Lukhiel untuk membujuk Mariel—begitu sang anak menyebut namanya—untuk berdiri dan memakamkan ibunya. Tentu saja semua yang mengerjakan adalah Lukhiel. Ia hanya mengizinkan Mariel meletakkan nisan di bagian kepala pusara sang ibu.


Selain suara angin yang mendesau-desau dan hewan malam yang berisik, tak ada suara lain yang mengusik. Lukhiel memejamkan matanya. Ia tidak mencoba terlelap, hanya memejamkan mata saja. Ia tidak tahu kapan sang anak akan lelah berlutut seperti itu, jadi ia tak bisa melelapkan diri. Lukhiel berniat pergi membawa sang anak bersamanya sesaat setelah Mariel jatuh terlelap.


“Mengapa…?”


Mata Lukhiel yang memejam spontan membuka, bola mata melirik pada sang anak. Mariel tidak memandang ke arahnya; mata anak itu masih betah menatapi pusara. Namun, Lukhiel tahu kalau pertanyaan itu ditujukan padanya. Hanya saja, Lukhiel tidak langsung merespons. Ia menunggu sang anak memperjelas pertanyaannya.


“Mengapa ibu harus mati?”


Apakah pertanyaan yang keluar dari mulut anak berusia tujuh tahun itu normal atau tidak? Lukhiel tidak bisa menyimpulkan. Walaupun ia sudah hidup lama, ia tidak pernah melibatkan diri dalam hubungan para manusia. Namun, dalam pandangannya sebagai iblis, pertanyaan itu tidak normal. Iblis hampir-hampir tak pernah menanya-kan mengapa seseorang harus mati.


Walau demikian, Lukhiel mengerti maksud pertanyaan sang anak. Pun ia memiliki jawaban untuk pertanyaan itu: “Setiap yang hidup pada suatu waktu akan mati. Kau pun suatu saat akan mati. Aku juga begitu. Semuanya begitu. Sebagaimana matahari yang terbit akan terbenam, begitulah yang hidup pasti akan mati.”


Lukhiel tidak tahu apa masalah yang ibu sang anak sebabkan sampai ada yang membayar prajurit bayaran untuk mengincarnya. Karenanya, ia tak bisa memberikan jawaban yang tepat. Walau begitu, Lukhiel yakin kalau jawabannyalah yang tepat untuk diberikan. Anak itu masih kecil, jawaban yang tepat takkan baik baginya. Ketika dia sudah besar, dia bisa mencari jawaban yang tepat secara langsung.

__ADS_1


“Mengapa kami harus menderita?”


Anak itu bertanya lagi, dan kali ini pandangannya telah tertuju pada sang iblis. Dia menatapnya penuh ekspektasi.


Lukhiel berhenti bersandar. Ia spontan duduk bersila, mata turut memandang sang anak. “Kau percaya pada sang dewa?” tanyanya mengonfirmasi—Lukhiel tak bisa memberi jawaban yang memuaskan tanpa mengetahui apakah Mariel seorang pemuja dewa atau bukan. “Ibumu mengajari itu?”


“Ibu tidak suka dewa, tapi dia masih berdoa pada dewa. Aku mengikuti ibu. Aku berdoa padanya.”


Lukhiel mengangguk mengerti. “Di dunia ini, ada yang namanya takdir dan karma.” Sang iblis menjelaskan. “Sang dewa menetapkan, sebagian orang menderita dan sebagian lagi bahagia. Dia menetapkan ada yang kaya dan ada yang miskin. Dia menetapkan ada perempuan dan laki-laki ‒ ada ibu dan ada ayah. Bisa jadi, kalian menderita karena murni sang dewa ingin kalian menderita. Bisa jadi pula itu karma. Karma adalah efek timbal balik yang alami: kau mengerjakan kebajikan, kau akan menuai kebajikan; kau mengerjakan keburukan, kau akan menuai keburukan. Bisa jadi penderitaan kalian karena keburukan yang ibumu pernah buat.”


Mariel mengembalikan pandangannya pada pusara. Lukhiel tidak tahu jika jawabannya memuaskan ekspektasi sang anak atau tidak. Namun, menurutnya sendiri, ia telah memberikan jawaban yang sangat memuaskan. Lukhiel tak bisa memberikan jawaban yang lebih baik dari itu. Mariel terlihat seperti anak yang pintar dan terlampau dewasa untuk anak berusia tujuh tahun, jadi mungkin dia takkan puas. Namun, Lukhiel tak punya jawaban lain untuk diberikan. Jawaban apa yang lebih tepat? Lukhiel berpikir tidak ada.


Keheningan menguasai selama puluhan detik. Mariel kemudian mengembalikan pandangannya pada sang iblis. “…Kenapa dewa menetapkan sebagian menderita dan sebagian bahagia?” tanyanya agak tidak yakin. “Tidak bisakah dia menetapkan agar semuanya hidup bahagia?”


Lukhiel menghela napas panjang mendengar pertanyaan itu. Walau itu pertanyaan sederhana dan terkesan begitu mudah untuk dijawab, jawabannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Bahkan bagi Lukhiel yang telah hidup lebih dari satu milenium, jawaban untuk pertanyaan itu berada di luar pemahamannya. Tidak peduli berapa lama ia berkontemplasi, Lukhiel tak punya jawaban.


“Hanya sang dewa sendiri yang bisa menjawab pertanyaan itu.”


Hanya itu yang bisa Lukhiel berikan sebagai jawaban. Jika ini sebelum ia berubah haluan, Lukhiel akan menertawakan pertanyaan itu lalu menghina dan menjelek-jelekkan sang dewa. Mayoritas iblis (yang sudah terbebas dari belenggu rantai neraka) yang ia kenal juga akan bersikap seperti itu. Namun, bagi Lukhiel yang telah berubah, tak ada jawaban lain yang bisa ia berikan selain itu.


“Bagaimana aku bisa bertanya pada sang dewa?”


“Tidak ada bagaimana,” respons Lukhiel cepat. “Itu mustahil. Setidaknya, menurutku mustahil. Tapi aku bukan orang yang memiliki pengetahuan tak terbatas. Mungkin ada orang lain yang mengetahui jawabannya. Kau harus berkelana untuk mencarinya.”


“Berke…lana?”


Lukhiel memanfaatkan kesempatan untuk berdiri dan menghampiri sang anak. Mungkin ia akan menunggu beberapa jam jika harus menunggu sampai sang anak terlelap. Karena itu, ia akan memanfaatkan keingintahuan sang anak untuk sedikit mempengaruhinya.


“Benar, berkelana.” Lukhiel berjongkok di sisi pusara yang berhadapan dengan sang anak. “Dunia ini luas. Total ada empat benua. Sekarang kita berada di Benua Westhima. Kau harus berkelana menelusuri setiap wilayah benua ini. Jika tak menemukan jawaban, kau bisa berkelana ke benua lain. Apa kau mau berkelana untuk bisa bertanya pada sang dewa?”


“Apa aku…bisa berkelana?”

__ADS_1


Bibir Lukhiel melengkung. Namun, sebelum mulutnya membuka hendak menjawab pertanyaan itu, Lukhiel merasakan dua sumber prana pada jarak setengah kilometer dari tempat mereka. Tak salah lagi kedua prana itu milik kedua Sterminatore Tingkat 1 yang tadi ia lihat di kota. Situasi akan merepotkan jika mereka sampai menemukannya. Karena itu, ia langsung memukul tengkuk Mariel dan membuatnya pingsan. Kemudian ia berlari ke arah selatan tebing dengan Mariel berada di bahunya.


__ADS_2