
Keesokan harinya Fatih sudah bersiap untuk mendatangi rumah Zhafira kembali. seperti janjinya ia akan datang untuk mengkhitbah Zhafira sebelum ia berangkat lagi untuk tugas. Fatih sudah berpakaian sangat rapi, Azka menunggu nya sejak tadi di luar ia masih mengobrol dengan Farah. Azka menganggap Farah adalah adiknya, karena memang Azka tak punya saudara perempuan. Azka bersyukur dengan Farah yang menerima khitbah Arga.
" ayo berangkat". ucap Fatih ia mencari kunci motornya.
" sebentar minumanku belum habis, semangat amat sih yang mau nemuin pujaan hati". Azka meneguk jusnya hingga habis.
" kalau tak cepat aku tinggal."
" isshhh kejamnya jangan mentang-mentang sudah jadi tentara kamu jadi kejam". Farah yang mendengar adu mulut kedua kakaknya tertawa.
" bukan kejam tapi disiplin". Fatih memutar gas motornya, Azka jadi pontang panting berjalan.
" aku tinggal ya dek nanti kita lanjut cerita lagi". Farah tertawa lalu ia melambaikan tangannya.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, Fatih tak mau jika penampilan nya akan acak-acakan. tak etis jika ketemu Zhafira dalam keadaan yang awut-awutan.
Zhafira di kediamannya sejak tadi dadanya bergetar hebat, ia sampai memegang dadanya masih sama. Zhafira mengambil air wudhu, hal yang sama masih belum berkurang ia lanjut dengan shalat dua rakaat lalu tilawah. Anisa masih sibuk ikut membantu menghias rumah Zhafira.
" astaghfirullah kenapa tak mereda sama sekali, ada apa dengan dadaku ya Allah". ucap Zhafira ia mencium mushafnya.
Zhafira kemudian memutuskan untuk keluar kamar ia ikut bersama Anisa menghias rumah nya. tenda sudah berdiri tegak sejak kemarin, rumah sudah ramai bahkan semua saudara berdatangan untuk menyaksikan pernikahan Zhafira besok. tak di sangkanya nenek Zhafira yang ada di jawapun datang, itu di hadirkan oleh syahdan dengan mengirim mobil khusus untuk nenek Zhafira. Zhafira terkejut melihat nenek nya turun dari mobil, ia memeluk neneknya dan menciumnya Karen rindu.
" calon suamimu baik sekali ndok". Zhafira mengerutkan keningnya ia tak tau maksud nenek.
" iya Zhafira nenekmu bisa datang ke sini karena syahdan yang mengirim mobil untuk nenek". mobil itu syhadan isi dengan satu dokter dan perawat, syahdan ingin neneknya sampai ke rumah Zhafira tetap dalam keadaan baik-baik saja.
" MasyaAlloh nek bahkan Zhafira tidak tau". Zhafira lalu mengambil handphone nya ia mengetikkan pesan untuk syahdan.
' jazakillah Khair ustadz sudah menghadirkan nenek sampai di rumah Zhafira ' syahdan melihat handphone nya yang menyala ia buka ternyata pesan dari Zhafira, bahagianya seorang syahdan.
__ADS_1
' waiyyaki ustadzah aku bahagia melihat mu bahagia, jangan pernah sirna dengan senyum mu. teruslah bahagia ustadzah meski senja itu tenggelam.' Zhafira tidak membalasnya ia hanya membaca saja pesan itu.
Zhafira asyik mengobrol dengan neneknya, hingga tawa itu menggema. Anisa pun ikut nimbrung bersama nenek, ia di perkenalkan oleh Zhafira. Zhafira menuntun nenek ke kamar, nenek butuh istirahat setelah melewati perjalanan panjangnya.
motor berhenti di halaman rumah Zhafira yang sudah ada tenda. Fatih dan Azka pun kaget mendapati rumah Zhafira yang telah di penuhi denga tenda besar. deg... begitulah jantung Fatih berdetak, tak mungkin ia akan berjalan mundur.
" assalamu'alaikum"
" wa'alaikumsalam nak mencari siapa" Jawab seorang ibu-ibu.
" kami teman Zhafira bisakah kami bertemu dengan nya". Fatih sangat sopan lalu ibu-ibu itu memanggil uminya Zhafira bukan abinya karena abinya masih ada urusan di madrasah.
" silahkan masuk nak tunggu sebentar saya panggilkan Zhafira". umi masuk memanggil Zhafira. Zhafira dan anisa keluar kamar nenek ia berjalan ke ruang tamu, di mana umi menunjukkan ada temannya yang datang. hari itu Zhafira terlihat sangat cantik, karena kemarin sudah di bawa ke salon sama Farah. Zhafira kaget mendapati Fatih datang bersama Azka, tak ada ucapan namun tetasan air mata yang menetes.
" Zhafira". Anisa bingung melihat Zhafira yang meneteskan air mata. kemudian Zhafira duduk tepat berada di depan Fatih yang hanya terhalang oleh meja tamu.
" assalamu'alaikum Zhafira". ucap Fatih dengan lembut.
" apa kabar".
" Alhamdulillah baik,". air mata terus menetes.
" kenapa menangis, jangan menangis Zhafira maaf aku baru bisa menemuimu ". ucap Fatih ada anisa dan Azka masih menemani mereka. Azka punya kesempatan ia terpesona dengan Anisa.
" maafkan Zhafira kak." Zhafira semakin terisak.
" maaf jika boleh tau apa anda yang bernama Fatih ". tanya Anisa, Zhafira memegang erat tangan Anisa ia berharap Anisa tidak ngomong yang bisa menyakiti hati Fatih .
" iya saya Fatih Elsirazi ".
__ADS_1
" saya Anisa sahabat Zhafira ".
" saya Azka sahabat Fatih." azka menimpali sejak tadi dia hanya diam, diam-diam menatap Anisa.
" anda tau bagaimana Zhafira menunggu anda selama ini."
" maaf ini ketiga kalinya saya datang dan baru kali ini bisa bertemu Zhafira." deg Zhafira langsung mengangkat wajahnya ia tak tau jika Fatih sudah beberapa kali mendatangi rumahnya, Fatih tak pernah ingkar janji. hari ini Fatih tak bisa menahan tatapan matanya ke arah Zhafira, sudha bertahun-tahun baru kali ini mereka bertemu.
" maafkan Zhafira kak Fatih, maaf Zhafira....." Zhafira tak sanggup melanjutkan ucapannya ia semakin terisak. Anisa tak tega melihat Zhafira yang terus menangis ia memegang tangan Zhafira dan mengusap bahunya.
" katakan saja Zhafira kakak tau, kakak melihat tenda ada di rumah mu. selamat ya," hati Fatih sudah remuk bahkan hancur lebur, melihat hiasan bertuliskan Zhafira dan Syahdan. sejak ia datang Zhafira hanya menangis saja, tapi membuktikan jika Zhafira juga mencintai Fatih.
" apa maksudnya Fatih." tanya Azka ia mengerti maksud ucapan Fatih hanya menekankan saja.
" iya, Zhafira akan menikah besok". ucap Anisa, karena anisa lah satu-satunya sahabat yang di percaya oleh Zhafira. semua tentang Fatih Zhafira cerita dengan Anisa .
" astaghfirullah yang benar saja Zhafira, kalian saling berjanji kan". ucap Azka lantang. namun Fatih menyuruh Azka untuk diam karena Zhafira terus saja menangis. Fatih tak tega melihat air mata Zhafira yang terus menetes.
Hal yang sama di rasakan oleh Zhafira jika dirinya juga hancur, bahkan terasa di tusuk oleh pedang yang sangat tajam.
" maafkan Zhafira kak". hati Fatih dingin ketika mendengar suara Zhafira, ia sangat merindukan nya.
" aku tidak menyalahkan mu Zhafira, mungkin memang takdir tak menginginkan kita bersama. aku kembalikan sapu tangan pemberian mu, aku menjaganya hingga aku bertemu denganmu kembali. maaf aku tak bisa menyimpannya ada yang lebih berhak untuk itu besok." Fatih menyodorkan sapu tangan milik Zhafira, namun Zhafira tak menerimanya di letakkan nya di meja oleh Fatih.
" Zhafira tak bisa mengundangmu kak". ucap Zhafira sembari terisak.
" aku tau, jika pun aku datang maka akulah yang tak bisa melihatmu bersanding dengan orang lain. Zhafira terima kasih sudah menyematkan cinta di dalam hatiku, maaf atas segala kesalahanku. kakak pamit semoga kamu bahagia selalu." Fatih menangkupkan tangannya ia pamit, tanpa menoleh lagi ke belakang. hati mereka sama-sama perih mempunyai perasaan yang sama dan harus menerima takdir yang terjadi.
___
__ADS_1
"