
Rumah kiyai Rohman sudah di penuhi oleh semua kerabat, jenazah sampai di kediaman kiyai Rohman jam sebelas malam. jenazah Syahdan di letakkan di atas meja semua melihat nya, jenazah sudah di mandikan di rumah sakit oleh keluarga karena syahdan yang berlumuran darah bahkan ada darah dari kepalanya yang terus mengucur deras. Nyai Salma tak sanggup untuk melihat jenazah Syahdan lagi apalagi jas yang ia jahit berlumuran darah, kiyai Rohman meminta santri untuk menguburkan nya karena jas juga sudah sobek.
Zhafira di pegang oleh Tante Almira juga Anisa, Anisa memang menginap di rumah Zhafira ia akan menemani Zhafira besok. tapi takdir Allah berkata lain Syahdan Allah jemput di malam ini. Zhafira menangis histeris saat melihat jenazah Syahdan yang sudah terbaring di atas meja. Zhafira lemas ia di papah oleh tante Almira dan Anisa untuk di bawa duduk. om Billy kemudian memberikannya minum untuk Zhafira agar Zhafira tenang. Kiyai rohman mendekati Zhafira yang masih lemas.
" nak Zhafira maaafkan syahdan ya nak sudah tak menepati janjinya". ucap kiyai, bagaimana tidak pernikahan itu di gelar besok. undangan sudah di sebar masakan sudah siap untuk menyambut tamu esok pagi. Tapi kini semua langsung lebur bersamaan air mata yang terus mengalir.
" tidak abah, ustadz Syahdan tidak bersalah ini semua adalah takdir Allah yang harus Zhafira terima. insyaAlloh Zhafira ikhlas Abah, Zhafira mau mas syahdan jalannya terang menuju surganya Allah". ucap Zhafira ia berusaha untuk kuat dan menguatkan Abah serta keluarga.
Anisa terus mengusap punggung Zhafira, setidaknya orang-orang di sekitar menguatkan nya. Kiyai Rohman seorang kiyai yang tersohor ketika berita itu terkuak kediaman kiyai Rohman sudah di penuhi oleh petakziah.
Pagi itu jenazah akan di makamkan di pemakaman desa, orang-orang sudah siap untuk menyolatkan jenazah. Zhafira ikut juga yang lainnya, meskipun benar syahdan bukan cintanya tapi Zhafira sejak khitbah ia terima ia sudah ikhlas dan memantapkan hati untuk mencintai syahdan.
Farah di beri kabar oleh Anisa sudah pagi, padahal Farah sudah siap dengan gaun yang ia pilih di acara pernikahan Zhafira. Farah langsung bergegas menuju alamat yang di berikan oleh Anisa, ia datang sendiri dengan mobilnya. tak habis pikir hal ini terjadi oleh Zhafira, Zhafira kesulitan untuk masuk namun ada seseorang dari keluarga Zhafira yang mengenal Farah akhirnya Farah bisa langsung masuk.
__ADS_1
" kak Zhafira". ucap Farah ia pun di jalan tadi sudah menangis membayangkan bagaimana seorang Zhafira di tinggal oleh calon suaminya. Farah langsung memeluk Zhafira begitupun Zhafira ia memeluk Farah cukup erat, semua orang ikut merasakan kesedihan. apalagi melihat riwayat seorang syahdan yang sangat baik hati, tampan juga Soleh.
Pukul 10 pagi pemakaman sudah siap, jenazah Syahdan di angkat untuk di bawa ke pemakaman. Bejubel orang mengikuti mereka semua ingin mengantar syahdan di tempat peristirahatan terakhir nya. melantunkan doa untuk jenazah. nyai Salma sudah mulai membaik ia ikut mengantarkan syahdan ke peristirahatan terakhir nya.
Kiyai Rohman ikut memasukkan jenazah ke liang lahat. bahkan kiyai Rohman yang mengadzani sendiri jenazah Syahdan. miris sekali terdengar, semua ikut menangis saat suara adzan kiyai Rohman serak. kiyai Rohman menahan tangisnya sejak semalam, ia berusaha tidak menangis bukan karena tak sedih tapi berusaha mengikhlaskan Syahdan.
Banyak yang sudah pulang dari makam tapi masih banyak juga yang mendoakan jenazah. Zhafira dan yang lainnya masih berada di makam, mereka mendoakan sejenak semoga Syahdan di ampuni segala dosanya dan Allah tempat kan di tempat terindah.
Makam sudah sepi, Zhafira juga masih berada di rumah kiyai rohman. ia menemui nyai yang sejak kemarin masih di rundung kesedihan, sejak lahir Syahdan adalah anak yang penurut ia anak yang paling cerdas di antara anak yang lainnya. Terlintas besok adalah hari bahagia syahdan namun semua itu tidak akan pernah terjadi. syahdan sudah pergi dan tak akan pernah kembali, kini ia sudah tenang berada di sisi Nya.
" maafkan syahdan ya nak". umi Salma sudah mulai berbicara setelah ia melihat Zhafira ia ingat, bukan ia saja yang bersedih bahkan Zhafira lebih sedih daripada nyai.
" ustadz syahdan sangat baik umi ia tak bersalah, umi dan Abah juga tak bersalah apapun kepada Zhafira jangan terus meminta maaf. meskipun Zhafira tidak jadi menikah dengan ustadz syahdan Zhafira akan tetap menganggap umi dan Abah orang tua Zhafira. Umi melerai pelukan Zhafira, ia memegang jemari Zhafira sangat erat. Umi mengusap pipi Zhafira yang masih sembab ia semalam menangis.
__ADS_1
" terima kasih nak, kamu memang bidadari. itu yang selalu Syahdan katakan kepada umi. ia sungguh mengagumi mu Zhafira sejak sangat lama, ia tak salah memilihmu untuk di jadikan istri nya. Allah tidak berkehendak nak, jodoh syahdan bukanlah dirimu ada yang lebih pantas untuk mu. semoga kelak kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari syahdan, bahagialah nak Syahdan akan lebih senang melihat mu bahagia". umi salma mulai tersenyum ia harus kuat, syahdan sudah bahagia di sana.
" insyaallah umi". Zhafira duduk berdampingan dengan umi Salma, tamu yang bertakziah berangsur pamit untuk pulang.
Zhafira masih enggan meninggalkan kediaman kiyai Rohman. namun om Billy memintanya untuk pulang terlebih dahulu nanti ke sini jika tahlilan di gelar malam. Zhafira juga butuh istirahat apalagi rumahnya yang sudah di hias mengingat kannya pada Syahdan.
" Pulang dulu Zhafira kamu bersih-bersih bajumu juga kotor, mandi dulu nanti kita ke sini lagi." om Billy tau apa yang Zhafira rasakan pasti ia sangat sedih.
Akhirnya Zhafira pun pulang ia naik di mobil farah, hanya diam tak ada yang berbicara sedikit pun. Zhafira masih ingat dengan senyum syahdan yang begitu bahagia ketika ia menerima khitbah nya.
" ustadz syahdan itu sangat baik, mungkin memang ia tak pantas untuk ku ada bidadari di sana yang lebih pantas bersama nya". ungkap Zhafira ia mengingat betapa Soleh nya ustadz syahdan. laki-laki yang mungkin jarang di temukan di zaman sekarang.
" Benar apa yang dikatakan umi Salma Zhafira kamu berhak bahagia, jangan menutup dirimu karena kematian syahdan. Manusia hanya bisa berencana Zhafira namun yang berkehendak atas hidup kita tetaplah Allah. ia tau mana terbaik untuk umatnya.". Anisa memberi semangat untuk Zhafira, ia tak boleh bersedih karena kejadian ini.
__ADS_1
bersambung