Taat Tanpa Tapi

Taat Tanpa Tapi
Bab 30 #khitbah azzam


__ADS_3

Enam bulan berlalu Zhafira melakukan aktivitas seperti biasa, ia mengajar madrasah juga ikut mengajar di pondok milik kiyai Rohman. Setelah kepergian Syahdan sebenarnya sudah banyak yang melamar lagi tapi arsi menolak. meskipun melalui kiyai Rohman sekalipun, padahal semua calon yang di ajukan untuk Zhafira tak ada yang kaleng-kaleng semua berkualitas sesuai dengan standar ustadz syahdan. Karena mereka tau seperti apa ustadz Syahdan mereka mengukur diri untuk melamar Zhafira.


Semenjana meninggal nya ustadz syahdan kini Zhafira telah menjadi sorotan. Seperti berlian yang sangat sulit sekali untuk di ambil, cantik saliha begitulah ada dalam benak para lelaki.


" Zhafira apa kamu masih mau tetap begini saja". ucap Anisa ia sahabat yang selalu mendampingi Zhafira.


" begini saja gimana Anisa." tanya Zhafira ia mengerutkan keningnya.


" Sudah ada sepuluh laki-laki yang melamar mu tapi tak satupun kamu tertarik padanya, apa yang membuatmu tidak mau menerima satu di antara mereka."


" entahlah Anisa aku masih belum siap, setiap aku berta'aruf dengan mereka tak ada bisa membuatku bergetar ". ucap Zhafira.


" dulu saat kamu menerima ustadz syahdan apa hatimu bergetar." Zhafira menggeleng.


" terus kenapa sekarang seakan kamu menutup diri dari orang lain, semua yang melamar mu orang berkualitas Zhafira mereka pasti menyetarakan almarhum Syahdan untuk bisa melamar mu tapi semua kamu tolak ngga sayang apa". Zhafira terkekeh mendengar Anisa.


" kamu mau Anisa, aku belum siap".


" mau sih tapi pasti tak ada yang mau denganku, apalah aku Zhafira ".


" jangan begitu Anisa, bukan derajat yang mereka inginkan tapi saliha, kamu wanita saliha Anisa ".


" Aamiin, apa kamu menunggu fatih mu itu Zhafira ". tanya Anisa menebak pikiran Zhafira.

__ADS_1


" aku tak tau yang jelas saat ini aku belum bisa menerima siapapun, meski keikhlasan itu sudah ada untuk ustadz syahdan ataupun kak Fatih". ucap Zhafira sekilas mengingat kedua laki-laki itu.


" Mungkin dia sudah bersama wanita lain Zhafira, kemarin waktu ia ke rumah sudah melihat akan adanya pernikahan mu".


" hmmm...." Zhafira hanya berdehem ia tak ingin lagi membicarakan soal jodohnya, sudah Zhafira pasrahkan sama Allah. Zhafira benar-benar akan menerima yang cocok dengan hatinya.


" Zhafira plis move on dong, kalau kamu tak nikah-nikah terus giliran aku kapan ". Zhafira tertawa sembari menutup mulutnya.


" Kalau kamu ingin menikah, menikah saja Anisa kenapa menunggu ku".


" aku tak mau bahagia di atas penderitaan mu Zhafira ". ucap Anisa sendu.


" aku tidak akan menderita Anisa, aku tak selemah itu. suwerrr..." sembari mengangkat tangan dan kedua jari membentuk huruf V.


Zhafira pulang bersama Anisa dengan mengendarai motor maticnya. seperti biasa Zhafira akan mengantar Anisa ke tempat kosnya terlebih dahulu. Setelah yakin Anisa turun dengan selamat, Anisa melajukan motornya hingga ke rumah. Terdapat motor yang terparkir di halaman rumah, Zhafira tidak tau itu siapa mungkin teman abinya. Zhafira masuk lewat pintu belakang, itulah Zhafira ia selalu menutup diri apalagi semenjak kepergian ustadz syahdan. Salam terucap dan di balas oleh umi yang sedang menghindangkan minuman untuk tamunya.


" Nak ada letakkan tas mu dan ikut umi ke depan". ucap umi sembari mengaduk teh tarik.


" siapa umi tamu nya". tanya Zhafira ia penasaran juga.


" Teman Abi mu sewaktu di pondok". Zhafira hanya ber oh ria, ia tak begitu perduli.


Tiga orang, dua orang tuanya yang satu mungkin adalah anaknya yang telah dewasa. Zhafira duduk setelah memberikan minuman untuk tamu, Zhafira duduk di samping umi. Azzam yang melihat kecantikan Zhafira tak bisa berpaling sedikitpun. hingga Abi yang tau akan hal itu berdehem hingga membuat azzam menundukkan pandangan ia khilaf.

__ADS_1


" astaghfirullah ". lirih azzam.


" seperti yang sudah kita bicarakan tadi sobat saya datang ke sini untuk melamar putri mu untuk azzam anak ku". ucap Ali teman abinya saat di pesantren.


" Siapa saja saya akan menerima asal seiman Ali, tapi keputusan tetap ada pada anak ku Zhafira". ucap abi ia tak ingin memaksa Zhafira mengingat sudah sepuluh orang yang ia tolak langsung.


" Bagaimana Zhafira ini teman Abi sewaktu di pesantren dan ini anaknya azzam yang berniat mengkhitbah mu". ucap Abi lembut.


" Zhafira akan lakukan shalat istikharah dulu Abi, maaf aku tak bisa memilih nya ku pasrahkan semuanya pada Allah". Ali manggut-manggut ia senang dengan Jawaban Zhafira.


" anakku ini lulusan Kairo S2, " ucap istri Ali ia seperti tak terima dengan jawaban Zhafira, sedangkan azzam jika melamar gadis lain pasti sudah akan di terima.


" umi, ". tegur Ali pada istrinya, ia tau jika sahabat nya yang merupakan ayah dari Zhafira tak akan tergiur dengan status ataupun derajat yang lebih tinggi seseorang.


" maaf Ali itulah jawaban dari Zhafira anak ku ia akan melaksanakan shalat istikharah dulu, insyaallah dalam satu Minggu akan kami kabari lagi. " ucap Abi dengan sopan.


" baik terima kasih atas sambutan nya insyaAlloh kami akan menunggu jawaban dari putri mu, kami sangat berharap kita bisa meneruskan nya menjadi besan ". semuanya tersenyum, mudah saja sebenarnya bagi Abi karena Zhafira tak akan menolak jika Abi yang mengatakan nya untuk menikah dengan siapa. namun Abi kini menyerah kan urusan itu dengan Zhafira langsung.


" insyaAlloh Ali semua atas kehendak Nya jika memang di izinkan". ucap Abi membalas pelukan sahabatnya itu.


Azzam bukan laki-laki yang aneh-aneh ia bisa di katakan Soleh hampir sama levelnya dengan syahdan. Namun bukan itu lagi yang Zhafira pertimbangkan tapi atas shalat istikharah nya dan kemantapan hati darinya. Tak beda dengan sebelum-sebelumnya yang mengkhitbah Zhafira semua laki-laki di atas rata-rata pengetahuan soal agama dan perekonomian nya.


Kini semua tau bagaimana kualitas Zhafira ia bukan sombong ingin menjadi rebutan para lelaki tapi ia hanya ingin mengikuti kata hatinya. Dari ke sepuluh laki-laki yang telah melamar nya tak ada satupun yang keluar dari shalat istikharah nya. Zhafira tak pernah putus asa meskipun kini umurnya semakin bertambah tapi ia yakin jika sudah waktunya jodohnya pasti akan datang sesuai dengan yang Allah tulis dalam lauhul Mahfudz Nya. Zhafira tak pernah lelah menatap langit setiap malam meskipun hujan melanda ia mengintip lewat jendela, buatnya langit itu tetap terlihat indah.

__ADS_1


___


__ADS_2