
Sesampainya di rumah ia melihat tenda yang masih berdiri tegak bahkan bunga yang mereka letakkan kemarin belum ada yang layu sedikitpun. Nama itu masih terpampang dengan jelas terukir di pelaminan Syahdan dan Zhafira.
Zhafira menitikkan air mata kesedihan mengingat ustadz syahdan yang begitu baik dan Soleh. seharusnya hari ini banyak tamu yang berdatangan untuk mengucapkan salam kepada mereka. tapi tidak semua batal, orang yang memasak tak ada juga begitu tampak sepi rumah Zhafira.
" tenang kak, Allah pasti punya rencana yang baik untuk kakak". ucap Farah ia tak tau jika sebenarnya syahdan bukanlah cinta yang ia harapkan tapi seorang Fatih. namun Fatih sudah pergi di hadapan Zhafira karena yang ia tau kini hari inilah Zhafira menjadi seorang pengantin.
" iya Farah kakak terima kasih ya". Farah mengangguk ia ikut mengantar Zhafira ke dalam kamar. namun Farah heran dengan sapu tangan milik Zhafira sama dengan sapu tangan yang selalu kakaknya pakai. Farah berfikir mungkin memang hanya kebetulan saja.
" mandi dulu Zhafira biar tampak lebih segar, doakan syahdan setelah shalat". pinta Anissa, akhirnya Zhafira mandi begitu juga dengan Anisa dan Farah bergantian.
Farah menemani Zhafira hingga sore hari dan Anisa mungkin ia akan berada di sana menemani Zhafira beberapa hari. Farah pamit karena sebentar lagi adzan Maghrib.
" kak, Farah pamit pulang sudah sore takut di cari orang rumah mereka khawatir".
" iya Farah ya kamu hati-hati dan jangan ngebut".
" iya kak terima kasih". Farah meninggalkan rumah Zhafira, di perjalanan ia merasa sedih memikirkan Zhafira bagaimana jika itu terjadi padanya dunia seakan terbalik baginya.
Masih senja Farah sampai di rumah kakaknya Fatih dan Azka selesai olahraga lari. ia masih berkeringat melihat Farah datang.
" dek dari mana sampai sore."
" Ke rumah teman kak, calon suaminya meninggal". ucap Farah ia duduk dulu bersama kakaknya.
" meninggal siapa Farah". tanya syahdan.
" kak syahdan ia meninggal karena kecelakaan semalam padahal hari ini ia akan menikah". syahdan Azka mengingat nama yang tertera di dinding milik Zhafira tapi ia menggeleng mungkin Azka salah melihat hanya ingat nama depannya saja S.
__ADS_1
" innalilahi tragis sekali kisahnya, bagaimana itu calon istrinya pasti tak karuan rasanya".
" yah memang kematian itu adalah hal yang menyakitkan, tapi kita tak bisa mengelaknya kamu taukan jika takdir itu sudah sampai kepada kita tak mungkin kita akan menghindari nya bagaimana pun caranya ". terang Fatih apalagi mereka yang sebagai abdi negara segala tindakan nya di hadapkan dengan kematian. mereka akan pulang dengan selamat atau tinggal nama saja.
" begitu lah kak rasanya tak tega sekali Farah melihat calon pengantin wanita nya, ia sedih melihat tenda yang masih berdiri tegak di rumahnya".
" mandi sana dek sudah sore bau banget".
" isshhh kakak tak bisa sedikit sedih apa mendengar cerita Farah." ucap Farah sedikit kesal dengan kedua kakaknya itu.
" bukan tidak sedih dek, semua manusia itu akan di hadapkan dengan kematian. sedih boleh tapi jangan berlarut sampai kan kepada temanmu itu, mungkin memang yang sekarang meninggal ia bukanlah jodohmu ada jodoh terbaik yang Allah siapkan untuk nya. suruh dia move on, mungkin ada doa yang sedang berdiri tegak di pintu langit". Fatih berfikir seperti itu karena ia tau Allah tak pernah salah memilih kan jalan hidup untuk setiap umatnya.
" oke nanti akan Farah sampaikan, apa kakak mau aku kenalkan padanya. orang seperti bidadari ia sangat cantik kak".
" dek kamu ngga punya hati, ia lagi bersedih kehilangan calon suaminya masa mau kamu kenalkan sama kakak. jangan kakak ngga mau, temanmu itu pasti sednag tak karuan hatinya." Farah cekikikan kakaknya memang belum mau ia kenalkan kepada siapapun, ia tau kakaknya sedang patah hati. wanita yang di cintai nya menikah dengan orang lain, itu yang di dengar oleh Farah tentang Fatih. andai kamu tau Farah orang yang di cintai kakakmu adalah Zhafira kamu pasti saat ini tak mau melepaskan Zhafira untuk kakakmu.
" sudah mandi sana Farah, gadis jangan mandi malam-malam ". Farah cekikikan amia lalu masuk.
" ada-ada saja Farah itu temannya lagi sedih malah sudah mau di tawari menikah lagi". Azka juga tertawa.
" siapa tau memang jodohmu Fatih, ayolah move on dari Zhafira dan buka hatimu untuk yang lain".
" aku akan mencobanya Azka tapi tidak untuk hari ini, aku akan fokus untuk menerima beasiswa ke LN dulu."
" terus kapan dong kita nikahnya". Fatih tertawa Azka gelisah jika Fatih belum menikah karena janji yang ia ucapkan tak akan menikah jika Fatih belum menikah.
" ya nanti kalau jodohnya sudha ada." Azka lemas Fatih lalu masuk untuk bebersih sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang.
__ADS_1
***
Zhafira memang sedih karena ingat kebaikan syahdan ia juga tak ingin berlarut mungkin memang inilah jalan takdir untuk nya.
" Fatih, astaghfirullah ". seketika Zhafira teringat Fatih laki-laki yang ia sakiti hatinya.
" ada apa Zhafira ".
" tidak apa-apa Anisa hanya aku teringat Fatih kemarin, aku menyakiti nya".
" tidak Zhafira ia pasti mengerti posisi dirimu, aku liat fatihmu itu laki-laki yang baik bahkan ia tidak marah justru mendoakan mu. kamu tau di mana rumahnya, apa ia tak mendengar kabar ini ya". Zhafira menggeleng ia tak tau riwayat Fatih.
" aku sama sekali tidak tau Anisa, aku sudah berusaha untuk tak mengingat nya lagi. kalaupun ia mendengar pasti ia tak akan mau lagi bersamaku, aku sudah menyakiti nya". Anisa duduk mengusap bahu Zhafira.
" jangan begitu Zhafira kita belum mencobanya, semoga kamu nanti akan berjodoh dengan fatihmu itu."
" astaghfirullah Anisa, aku baru saja kehilangan ustadz syahdan rasanya tidak lantas saja memikirkan laki-laki lain". Zhafira menutup wajahnya ia merasa bersalah.
" tidak ada salahnya Zhafira hidup mu tak akan berakhir sampai di sini, kamu tetap harus berjalan ke depan".
" iya aku tau itu, tapi aku tak ingin berharap hal yang tak akan terjadi padaku Anisa. sudah cukup kali ini berharap kepada manusia, tetap berharap kepada Allah ia yang tidak akan pernah mengecewakan ". Anisa tersenyum ia senang melihat Zhafira sudah bisa sedikit tersenyum.
Mereka menunggu shalat Maghrib dan setelahnya akan pergi ke rumah syahdan untuk ikut berdoa bersama. Tak pantas jika ia dan keluarganya tidak datang.
Semua ikut tanpa terkecuali dengan menaiki mobil om Billy. niat om Billy datang untuk ikut berbahagia dengan keponakannya tapi tidak ia datang untuk menguatkan Zhafira.
bersambung
__ADS_1