
Zhafira merasa dirinya sudah kembali seperti dulu ada kelegaan dalam hatinya entah ia tak tau yang jelas ia lega. Di danau tadi hatinya merasa damai ikhlas dengan takdir yang ia jalani sekarang. Zhafira sudah tak memikirkan jodoh lagi siapa, setiap Zhafira shalat istikharah untuk beberapa laki-laki yang mengkhitbah nya belum ada satu jawaban pun.
" ini kita mau kemana lagi Farah". tanya Anisa.
" kemana ya, spesial deh pokoknya aku mau kasih kejutan". Anisa dan Zhafira saling pandang sebenarnya kejutan yang di maksud Farah itu apa.
Mobil berbelok masuk ke gang di mana rumah Farah berada, ia berbelok tepat di depan rumahnya. Nampak sepi memang di komplek di mana Farah tinggal itu sepi, di situ semua orang kebanyakan pekerja.
" ini rumah siapa farah".
" ayo masuk dulu." ajak Farah ia mengucapkan salam lalu membuka pintu. ada bunda di dalam yang menjawab salam nya, Anisa dan Zhafira di persilahkan masuk.
" Kejutan bunda..."
" kejutan apa yang di kejut Farah," tanya bunda , Anisa dan Zhafira terkekeh.
" bunda ini kak Zhafira, yang Farah sering ceritakan bidadari itu dan ini kak Anisa teman kak Zhafira. Gimana bunda cantik-cantikan teman Farah.".
" MasyaAlloh iya semua cantik dan ini Zhafira yang ..." bunda ingin keceplosan sedikit lagi, bunda mau mengatakan jika di tinggal calon suami nya meninggal.
" iya bunda jangan di teruskan ". ucap Farah ia tak enak.
" bunda minta maaf ya nak." Zhafira tersenyum dan mengangguk lalu keduanya Salim.
" ini rumah Farah nak silahkan kalian mengobrol di sini, bunda ke belakang sebentar". bunda membuatkan minum untuk mereka.
" ya ampun Farah kenapa tak bilang jika mau ke rumahmu kakak malu sama bunda tak bawa apa-apa gini".
" woles kakak tak apa, sekalian tadi dekat rumah Farah jadi Farah ajak mampir sekalian ".
" dasar anak nakal". Farah terkekeh.
" kalian sudah makan." tanya bunda membawa nampan berisi air.
" Alhamdulillah sudah bunda makan yang bunda bawakan tadi."
" syukurlah, maaf bunda ke belakang ya lagi bikin kue ada teman yang mau di buatkan ".
" Zhafira bantu ya Bun, pingin liat cara bikinnya." Zhafira beranjak mengikuti bunda ke belakang. sedangkan Farah dan Anisa jalan ke ruang sebelah televisi sembari menonton istirahat.
Mata Anisa memindai foto yang ada didinding di mana foto itu ada laki-laki yang memakai baju tentara. di kedipkan nya mata Anisa takut jika ia rabun, anisa berdiri mendekat ia tak percaya benar itu foto mirip Fatih yang waktu itu sehari sebelum pernikahan Zhafira ia datang. orang yang di tunggu Zhafira selama ini.
" itu kakak satu-satunya Farah kak Anisa".
__ADS_1
" Fatih..." Farah menghentikan mengunyah nya padahal selama ini Farah tak pernah cerita mereka tak tau nama kakak Farah.
" kak Anisa mengenal kak Fatih.
" benarkah ini Fatih Elsirazi ". tekan Anisa sekali lagi
" iya kak, itu kakak Farah."
" di mana dia sekarang ".
" sedang melaksanakannya tugasnya ke Amerika mendapat kan beasiswa. kak Anisa mengenalnya."
" MasyaAlloh benar jika kita masih berada di langit yang sama dan itu jodoh pasti bertemu." Farah tak mengerti apa yang Anisa katakan.
" apa sih maksud kakak, Farah tak mengerti." Anisa mendekat kepada Farah lalu ia menceritakan tentang Zhafira dan Fatih, kisah mereka selama ini. Farah pun terkejut dengan cerita Anisa.
" ya Allah benarkah itu kak." Farah menitikkan air mata.
" iya Farah aku juga tak menyangka dengan semua ini, lalu apakah Fatih sudah ada ganti wanita yang lain."
" tidak kak, kak Fatih masih fokus dengan tugas yang ia emban sekarang.".
" aku benar-benar seperti tak percaya Farah ya Allah semoga mereka benar-benar berjodoh. Farah gimana kita bekerja sama." Farah melongok dia ngga maksud apa yang Anisa katakan.
" kita pertemukan mereka berdua."
" tapi kakakku masih jauh kak dan untuk pulang masih beberapa bulan lagi, lalu gimana caranya sedangkan kak Zhafira kini yang mengkhitbah nya beberapa laki-laki ". ucap Farah panik.
" tenang kita belum mencobanya, pokoknya kita bikin bagaimana caranya agar Zhafira tak menerima semua calon yang mengkhitbah nya ".
" caranya gimna kak."
" kita akan terus mempengaruhi Zhafira agar ia tak menerima khitbah siapapun.".
" aku tak yakin kak bisa berhasil atau tidak".
" kita belum mencobanya Farah, aku akan terus pengaruhi Zhafira". Farah bersemangat juga dengan Anisa ia ingin melihat sahabatnya Zhafira bahagia.
" ya Allah aku tak sabar liat kak Zhafira dan kakakku bahagia."
" aku juga Farah, Zhafira sahabatku yang sangat baik."
" memang kak Zhafira ini bagaikan bidadari." Anisa mengangguk.
__ADS_1
Zhafira dan bunda ada di dapur mereka asyik membuat cake. Terlihat sangat bahagia mereka sangat cocok sekali. Bunda lalu membuat lagi untuk di bawakan pulang Zhafira dan Anisa.
" bunda ini berapa tepung nya."
" kasih satu gelas penuh sayang". Zhafira mengikuti perintah bunda, Zhafira senang saat bisa melakukannya.
" sudah jadi kue nya belum." sapa Farah ke dapur bersama Anisa, Farah tiba-tiba memeluk Zhafira.
" Alhamdulillah sudah yang ini tinggal di panggang, kamu kenapa dek ." ..
" mau punya kakak ipar seperti Kak Zhafira yang cantik."
" boleh bunda juga setuju, bunda punya satu anak cowok Lo kakaknya Farah tapi lagi ngga di rumah lagi menjalankan tugasnya. Zhafira sudah ada calon lagi belum, kalau belum bunda daftar deh untuk anak bunda." Zhafira justru tertawa..
" astaghfirullah bunda ngomong apa sih". Zhafira terkekeh.
" bunda serius nih." Zhafira kembali ia hanya nyengir saja.
" bunda nih bisa aja"
Kue sudah matang semua dan hari sudah sore, Zhafira dan Anisa pamit untuk pulang Farah yang akan mengantarkan nya.
" Kami pamit ya bunda".
" iya sayang lain kali mainlah ke sini, bunda senang ada yang menemani di dapur biasanya cuma bunda sendiri. Farah tak suka memasak ". Farah cekikikan.
" Farah lagi serius kuliah bunda biar cepat lulus kasihan kak Arga kalau Farah kuliahnya kelamaan ".
" Itu kan yang di pikirkan biar kakakmu dulu yang menikah baru kamu Farah." Farah tertawa ia suka menggoda bundanya. Zhafira dan Anisa ikut tertawa mereka merasa nyaman dengan seorang bunda yang begitu lembut.
Salim lalu pamit naik ke mobil, terlihat Zhafira yang sejak tadi senyum-senyum hati nya merasa bahagia.
" dek mama mu welcome ya". Anisa membuka pembicaraan nya.
" itulah bunda ku kak terbaik di dunia sangat cocok ya jika menantunya kak Zhafira, cocok Lo tadi di dapur barengan ".
" iya cocok banget suruh kakakmu cepat pulang lalu mengkhitbah Zhafira ikut ngantri ".
" apa sih Anisa, aku tak bermaksud membuat mereka mengantri tapi mereka saja dan belum ada jawaban dari shalat istikharah ku". ungkap Zhafira.
" kalau begitu nanti Farah mau bilang ayah mengkhitbah kak Zhafira dulu, terima ya kak sampai tunggu kakakku pulang."
"jangan Farah". ...
__ADS_1
__