
Anisa datang dengan Farah ke rumah Zhafira, hari ini hari libur mereka tidak mengajar. Seperti biasa Farah akan mengajak mereka jalan-jalan, untuk Farah Zhafira dan Anisa sangat asyik untuk di ajak berteman. Zhafira sedang menulis, itulah kesibukannya ia menulis di buku diary.
Anisa dan Farah mengucapkan salam tapi Zhafira sedang fokus sehingga ia tak mendengar nya. Anisa dan Farah masuk pelan-pelan tanpa berbunyi satu tapak kakinya menyusuri rumah Zhafira. kebetulan saat itu Abi sedang mengantar umi untuk ke pasar.
'Cinta yang tulus itu tak akan berisik di bumi, tapi ia akan menggemakan nya di langit'.
Anisa dan Farah saling pandang, ia tak tau jika Zhafira suka menulis bahkan buku itu sudah setengahnya. Farah mengacungkan jempol kepada Anisa sedikit ia membaca tulisan nama Fatih, deg... Farah langsung mengingat kakaknya. Ah mungkin hanya kebetulan saja nama yang sama batin Farah.
" MasyaAlloh tulisanmu bagus begitu Zhafira" ucap Anisa ia masih mengintip tulisan Zhafira.
" astaghfirullah Anisa, bikin aku jantungan saja". Anisa dan Farah cekikikan.
" serius amat sih ustadzah sampai tak membalas salam kami".
" kapan kalian datang aku tak mendengar suara kalian." Zhafira langsung menutup bukunya.
" Sudah sejak tadi akupun membaca separuh tulisanmu, kamu berbakat Zhafira kanapa tak kamu realisasikan saja menjadi sebuah novel". Zhafira tertawa kecil.
" Tulisan apa aku hanya mencoret-coret nya saja, bukan apa-apa".
" Iya kak bagus, kalau boleh tau siapa sih laki-laki itu kak".
" Bukan siapa-siapa Farah, eh kita mau jalan ke mana". Zhafira mengalihkan pembicaraan, Anisa dan Farah saling pandang tak biasanya ia semangat untuk di ajak jalan -jalan.
" Kemana yang kakak Zhafira mau, kita akan senang-senang".
" aku tidak tau tempat-tempat begituan, aku ngikut saja." ucap Zhafira ia sembari berdiri bersiap membawa tas yang ia isi dengan perlengkapan shalat juga kitab nya.
" Ada apa dengan sang tuan putri ini kenapa ia terlalu bersemangat". Zhafira hanya tersenyum ia tak menghiraukan pertanyaan Anisa.
Setelah Zhafira menelepon Abi nya izin untuk pergi bersama Zhafira dan Anisa mereka menaiki mobil. Di antara mereka jelas hanya Farah yang paham dengan tempat-tempat wisata terkecil di sekitar kotanya, dulu Fatih dan azka sering mengajaknya hanya untuk sekedar makan siomay. Farah berbelok ke suatu tempat, memang tak ramai hanya sebuah danau tapi cukup asri tempatnya. Pepohonan begitu rindang tampak air danau yang sangat tenang.
__ADS_1
Farah mengajak mereka turun, Farah sudah membawa makanan yang di masak oleh bundanya serta cemilan. Ada gubuk kecil di pinggir danau mereka duduk di situ sembari melihat bebek berenang. Bukan tempat wisata yang harus bayar dengan harga mahal setidaknya tempat itu begitu tenang.
" Farah kapan kamu menyiapkan semuanya, ya Allah komplit sekali". Anisa takjub dengan makanan yang Farah bawa.
" Bunda yang masak aku hanya memasukkan sebagian saja untuk makan siang kita." Zhafira tak menghiraukan pembicaraan mereka, ia hanya memandang tempat itu yang begitu tenang. Zhafira turun ia berjalan mendekati kayu besar yang tergeletak, tempat nya redup karena ada pepohonan di sana.
" Kakak ku juga suka duduk di atas kayu itu, ia senang melihat bebek berenang ". ucap Farah meneriaki Zhafira. Zhafira tersenyum ia senang hatinya sedikit tenang ia lalu mendekati air di cipratkan nya air itu mengenai bebek dan bebek ribut dengan suaranya. Zhafira tertawa kecil, hari itu ia terhibur soal bebek.
" Kak Anisa tau sebenarnya siapa sih laki-laki yang kak Zhafira nanti ".
" Kalau sekarang kakak ngga tau, dulu ada namun setelah ia tau Zhafira akan menikah ia sudah pergi".
" kenapa laki-laki itu tak mengkhitbah kak Zhafira sebelumnya ".
" aku ngga tau cerita lengkapnya dek, Zhafira sedikit tertutup dengan ku ia hanya menceritakan poinnya saja". ucap Anisa mengunyah kentang goreng yang di bawa Farah.
" Aku senang melihat kak Zhafira bisa tersenyum lepas, lihatlah kak". Anisa dan Farah melihat ke arah Zhafira yang masih sama melempar air untuk bebek.
" Semoga kebahagiaan akan menghampiri kak Zhafira selalu."
Setelah lelah dan hari mulai panas Zhafira berjalan ke gubuk itu, Farah mengajaknya makan siang sebelum adzan berkumandang. Ayam ungkep serta kering tempe kecap pedas sudah di hidangkan.
" ayo kak makan yang banyak, kata bunda ini makanan untuk tuan putri ". Zhafira terkekeh.
" Tuan putri Farah." ucap Zhafira.
" bukan kata bunda untuk tuan putri Zhafira agar senyum terus". Zhafira tersenyum.
" Nah senyummu itu kak yang kami rindukan".
" memang aku tak pernah tersenyum ".
__ADS_1
" sering sih tapi hari ini senyum kakak benar-benar tulus". Zhafira tertawa ia memang merasa hatinya sedikit tentram.
Makan siang bersama sembari memandangi keindahan danau, setelahnya mereka akan sholat Zuhur. Farah berencana mengajak Zhafira mampir ke rumahnya karena danau itu tak jauh dari rumah nya.
" Masakan bunda mu enak sekali Farah, jadi pingin belajar masak sama bunda".
" Jika saja kakak menjadi kakak ipar ku pasti akan bisa masak bersama bunda terus". Zhafira terkekeh.
" Kita jodohkan saja Zhafira dengan kakakmu itu Farah."
" husssttt... Anisa aku sedang dalam masa khitbah, tak baik main jodoh-jodohan pasti kakaknya Farah sudah punya calon sendiri." ungkap Zhafira.
" Kamu sudah mendapatkan jawabannya dari khitbahnya Azzam itu." Azzam anak dari teman Abi nya, pengusaha sukses tapi bukan itu yang Zhafira cari namun kemantapan hati atas istikarah nya.
" Belum Anisa, sama sekali belum ada kemantapan hati atau memimpikan nya. Aku masih terus mencoba hingga habis waktu yang telah di sepakati tiba".
" ingat Zhafira move on, jangan menunggu dia lagi mungkin sekarang diapun sudah ada pengganti dirimu." Zhafira hanya tersenyum.
" Kakak memang menyukai seseorang sejak lama, bahkan saat ia masih memakai seragam SMA. tapi aku ngga tau dia siapa, yang aku tau namanya Aqyla". Farah hanya tau dari lipatan sapu tangan yang telah Fatih bawa setiap hari dan itu nama belakang Zhafira.
" Aqyla itu nama belakang Zhafira apa mungkin itu namamu Zhafira ".
" hus jangan ngawur begitu Anisa nama yang sama di dunia ini banyak. Aqyla hanya nama belakang ku saja".
" Siapa tau kalian jodoh". Zhafira hanya tertawa.
" Aku sudah tau jodohku Anisa "
" siapa ".
" sudah Allah tulis di lauhul Mahfudz aku sedang menunggu nya".
__ADS_1
" hmmm... Zhafira kalau itupun aku tau " Zhafira dan Farah tertawa. Hingga pukul dua siang mereka beranjak pulang, Farah mengarahkan mobilnya ke rumahnya. Zhafira dan Anisa tidak tau, keduanya tidak tau jalan hanya ikut saja kemanapun Farah membawa mereka pergi. Mereka menikmati perjalanan hari itu dengan hati bahagia.
___