
Rumah kiyai Hasan sudah dipenuhi orang yang akan ikut mendoakan syahdan. Dari depan hingga ujung semuanya penuh tanpa terkecuali, santri yang berada di pondok pun juga mendoakan syahdan. Karena kiyai Hasan juga kiyai tersohor di beberapa titik kota, ucapan berduka cita dari segala penjuru pun sampai ke laman kiyai Hasan.
Zhafira datang bersama keluarga besarnya, banyak yang ikut mereka juga ingin mendoakan syahdan. tak ada yang tak memandang Zhafira calon istri syahdan, banyak yang ikut terenyuh hatinya ketika melihat Zhafira. Mata sembab jelas masih tertera pada keluarga besarnya, Zhafira pun sama masih sembab matanya. meskipun Zhafira belum mencintai syahdan tapi karena syahdan adalah calon suaminya hati itupun ikut merasa sedih.
" nak Zhafira makan dulu ya." pinta bibik dari syahdan adik kiyai Hasan.
" iya bik Zhafira belum lapar."
" syahdan akan sedih jika melihat mu bersedih begini, makan ya Zhafira.". Zhafira masih menggeleng, memang sejak tadi siang ia tak makan sama sekali. rasanya sulit menelan bahkan menelan ludahnya sendiri saja ia merasa kesulitan. banyak hati yang harus di jaga, Abi dan umi, kiyai hasan dan nyai juga semua keluarga syahdan.
" Zhafira sejak tadi belum makan nyai". nyai mengambil piring yang ada di tangan bibi arifah.
" nak semua orang sedih tanpa terkecuali, bahkan umi lebih kehilangan dari yang lain. tapi kita tak boleh seperti ini nak, hidup kita tak akan berhenti di sini hanya karena kehilangan Syahdan. syahdan sudah tenang di sana nak ia bertemu Rabb Nya, ia akan sedih jika melihat mu bersedih dan tak mau makan. makan ya syahdan akan senang jika melihat mu bahagia, bukan harus melupakan Syahdan nak tidak. Tapi hidupmu harus terus berjalan, Allah bukan jodohmu dan sebaliknya. Allah mungkin tak pantas untukmu ada yang lebih pantas mendapatkan bidadari seperti mu nak". Zhafira kemudian menggenggam tangan nyai ia menggeleng.
" bukan umi, Zhafira yang tak pantas untuk kak syahdan. bidadari surga lah yang pantas untuk ustadz syahdan makanya Allah menjemput nya lebih dulu untuk bidadari yang menunggu ustadz syahdan di surga." umi menitikkan air mata, Zhafira hatinya sungguh lembut.
" umi mohon kamu makan ya nak". akhirnya karena kasihan dengan nyai Zhafira meloloskan satu suap dari tangan umi.
Doa bersama digelar untuk mendoakan syahdan yang telah berpulang, tak hanya dua keluarga yang bersedih. bahkan penghuni pondok pesantren juga madrasah di mana syahdan mengajar.
Malam itu perasaan Fatih tak tenang, entahlah karena apa. mungkin memikirkan Zhafira yang saat ini sudah menjadi istri orang. Fatih tak tau kenyataan yang sebenarnya terjadi namun perasaan nya sungguh tak tenang ia gelisah. Minggu depan ia akan berangkat ke LN untuk menerima beasiswa yang telah ia dapat bersama Azka dan beberapa temannya.
__ADS_1
Fatih keluar ke dapur ia mencari minum, tenggorokan nya berasa kering sejak tadi ia juga sulit untuk terlelap. Fatih kemudian berada di balkon ia menatap langit, itulah yang ia selalu lakukan jika merindukan Zhafira.
" astaghfirullah kenapa aku melakukan ini lagi, Zhafira sudah milik seseorang sekarang aku harus move on." Fatih lalu masuk ke dalam . masih sama ia sulit terpejam, hanya guling-guling ke kanan dan ke kiri. ia lalu bangkit ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
" ya Allah hilangkan ia dari pikiran ku, Zhafira sudah milik orang lain tak sepantasnya aku memikirkan nya lagi. buang dari pikiran ku ya Allah hilangkan ia yang telah tersemat dari pikiran ini". Fatih berdoa sebelum ja berusaha lagi memejamkan matanya.
Zhafira bersama keluarga nya pulang ke rumah tak mungkin ia akan menginap di sana karena rumah kiyai Hasan yang penuh dengan keluarga besarnya. harusnya hari ini ia mengantar kan syahdan untuk menikah tapi tidak, mereka mengantar syahdan di peristirahatan terakhir nya.
Anisa tak pulang ia akan menemani Zhafira, Anisa tidak tega melihat Zhafira masih terlihat sembab. Zhafira keluar di tatapnya langit yang masih sama, ia terlihat cerah namun tak secerah hatinya.
" kenapa belum tidur Zhafira " tanya om Billy menghampiri Zhafira saat ia tau Zhafira berada di luar.
" belum bisa tidur om." Billy mengusap kepala Zhafira ia tak tega melihat keponakannya.
" Allah sedang mengujimu Zhafira, di depan sana pasti ada kebahagiaan yang sedang menanti mu. kamu harus percaya Zhafira, semua kehendak dari sang pencipta kita tak kuasa Zhafira ". Zhafira mengangguk ia kembali menatap langit.
" kamu sedang menunggu seseorang ".
" tidak om, Zhafira sudah tak akan menunggu nya tapi Zhafira senang menatap langit. mungkin ia bukan jodoh Zhafira."
" apa dia tak tau kabarmu saat ini" Zhafira menggeleng.
__ADS_1
" di mana rumahnya ". Zhafira menggeleng.
" jadi kamu juga tak tau." Zhafira diam.
" kamu masih mencintainya ". Zhafira diam lagi.
" diam mu menunjukkan jika kamu masih mencintainya Zhafira ". Zhafira menunduk ia menitikkan air mata. om Billy mengusap kepalanya.
" jodoh pasti bertemu di manapun kalian berada, pasrah kepada Allah Zhafira. teruslah berdoa jika memang ia jodohmu kalian pasti akan bertemu. syahdan akan bahagia jika kamu juga bahagia, jangan merasa bersalah jika kamu menerima orang lain dalam kehidupan mu. ini sudah takdir yang Allah tetapkan untuk mu." om Billy menemani Zhafira hingga larut.
" om Billy juga ada anggota TNI yang sama seperti mu, setiap malam ia memandang langit. anaknya baik dia juga pintar tak pernah aneh-aneh di banding dengan yang lain. kalian pasti akan cocok jika bertemu, satu ganteng satu cantik ". om Billy tertawa mengingat Fatih yang tak pernah absen memandang langit meski dalam cuaca mendung.
" semoga ia juga di pertemukan dengan yang di cintai nya om, tidak seperti Zhafira yang harus berliku menemukan cinta Zhafira bahkan ketika sudah ada di ujung ustadz syahdan Allah jemput ".
" jangan sesali semua nya yang telah terjadi Zhafira, semua itu atas kehendak Nya. jika kita bisa meminta mungkin kita kan terus meminta bahagia. tapi jika Allah tidak menguji dengan kesedihan kita tidak akan bisa merasakan betapa nikmatnya bahagia itu. om Billy lusa akan berangkat kamu harus baik-baik di rumah, jangan bilang merasa tak enak dengan Abi tapi jika kamu merasa tak mencintai seseorang yang mengkhitbah mu kamu harus berani bilang ke Abi ya. kehidupan yang di dasar kan cinta akan terasa nikmat. hapus kesedihan mu ya ."
" terima kasih om sudah selalu menasehati Zhafira, om Billy akan lama lagi tugasnya."
" tidak om Billy sudah menjadi atasan dan om Billy kerja nya hanya melatih TNI baru sudah tak seperti dulu lagi harus keliling dunia".
pembicaraan mereka selesai, dengan begitu banyak nasehat yang Billy ucapkan. kemudian Billy mengajak Zhafira untuk masuk karena hari sudah sangat malam.
__ADS_1
bersambung...