Taat Tanpa Tapi

Taat Tanpa Tapi
kemauan abinya


__ADS_3

" ya Allah aku gugup lebih dari berhadapan dengan sepuluh orang musuh sekaligus".


" maaf kami datang malam begini, kami mengantar anak kami Fatih".


" jadi dia adalah laki-laki yang akan menjadi suami Zhafira".


" iya paman saya Fatih Elsirazi dengan hormat mengkhitbah Zhafira, Fatih ingin menjadikan Zhafira sebagai istri Fatih." ucap Fatih gugup namun ia tetap harus mengungkapkan keinginan nya.


" apa yang kamu miliki sehingga kamu berani mengkhitbah anak saya." Abi berkata sedikit keras membuat semuanya melongo tak di sangkanya orang tua Zhafira akan sekeras itu ketika bertemu dengan fatih.


" Fatih punya diri ini paman, dan keimanan yang insyaallah tidak akan pernah goyah meskipun seribu wanita menggoda ku."


" kamu terlalu pintar Fatih, kenapa kamu menyukai Zhafira anakq"


" Fatih juga tidak tau paman, semenjak pertama kali Fatih melihat nya langsung ada sinyal yang terhubung ". ucap Fatih ia sebenarnya heran kenapa abinya Zhafira memberondong berbagai pertanyaan untuk nya.


" Apa kamu tau jika anak saya gagal menikah, karena di tinggal suaminya meninggal dia seorang ustadz. sedangkan kamu siapa berani sekali mengkhitbah anak saya, untuk saya ilmu agama lebih penting dari segalanya. Paman tak butuh pangkat mu jangan mengira kamu seorang tentara yang mempunyai gaji bisa mengelabuhi saya dan anak saya." Fatih pun tergelak kenapa abinya Zhafira begitu galak hari ini.


" Iya paman Fatih tau baru saja tadi sore, fatih memang tak mengenal begitu banyak tentang Zhafira. Namun hati ini yang membawa diri ini untuk mengenal Zhafira lebih jauh".


" Kamu benar-benar yakin"


" iya Fatih yakin seribu persen untuk mengkhitbah Zhafira ".


" Umi panggil Zhafira untuk keluar ". abinya ingin melihat bagaimana Zhafira berhadapan dengan Fatih.


Fatih berdegup lebih kencang lagi saat Zhafira kini duduk berhadapan dengan nya, Zhafira menunduk ia takut menatap ke depan. teringat saat tadi sore dengan sikap Fatih.


" Kamu mengenal Fatih nak". Zhafira mengangguk.

__ADS_1


" apa kamu bersedia menerima Fatih untuk menjadi suamimu".


hening


Zhafira meremas tangannya sendiri ia takut akan jawaban yang salah, Fatih tegang serta keluarganya. Hanya Abi yang terasa ingin tertawa melihat Fatih yang gugup sejak tadi.


" Apapun yang Abi katakan Zhafira akan menuruti bi".


" Baik, kamu memang sejak dulu anak Abi yang penurut."


" Zhafira menyerah kan semua keputusan kepada saya. Fatih, datanglah empat bulan lagi. Di waktu, jam, hari dan bulan yang sudah saya tetapkan. jika kamu tidak datang kamu akan kehilangan kesempatan untuk menikahi Zhafira. Carilah ilmu bagaimana kamu bisa menjadi imam yang baik. Saya tau ketaatan mu pada bumi Pertiwi harus kamu junjung lebih tinggi. Tapi saya ingin tau kamu lebih menjunjung tinggi ketaatan mu kepada sang pencipta karena saya ingin menantu saya adalah laki-laki yang bisa membimbing keluarga nya untuk membawanya ke surga. Saya tak butuh pangkat dan jabatan mu namun dirimu yang benar-benar menjadi suami yang juga mementingkan keluarga nya di atas bumi Pertiwi. Taat tanpa tapi, itu saya inginkan tidak dengan begitu banyaknya alasan". panjang lebar Fatih mendengar Abi.


" Benar paman saya memang seorang abdi negara yang lebih mengutamakan bumi Pertiwi, apakah tidak bisa tanggal dan bulan di ganti mengingat saya adalah prajurit TNI yang baru saya tak bisa seenaknya izin". terang Fatih.


" tidak, itu urusan mu bagaimana caranya kamu bisa sampai ke sini. Saya ingin lihat bagaimana keseriusan mu terhadap anak saya". Fatih menelan ludah, sebagai anggota TNI baru mana bisa dia izin seenaknya saja. kehidupan nya di atur oleh negara itu sudah menjadi sumpahnya.


" Bismillah insyaAlloh Allah akan memberikan jalan yang mudah jika memang Zhafira di takdirkan untuk Fatih".


" Baiklah kami tunggu kedatangan mu." Fatih pun mengangguk.


Zhafira masih menunduk ia lalu di perintahkan abinya untuk masuk agar Fatih tak menatapnya terus. Rindu yang membuncah kini Fatih bisa terobati di hadapannya bisa melihat Zhafira lebih dekat.


Waktu mulai larut akhirnya keluarga Fatih pamit, mereka menaiki mobil bersama. Fatih hanya diam saja di dalam mobil kurang ceria meskipun tadi abinya sudah memberikan nya lampu hijau remang-remang.


" Kenapa kamu diam saja Fatih, ngga perlu sedih pasti nanti ada jalan." ucap bunda.


" bukan itu bunda, tapi Fatih memikirkan Zhafira apakah Zhafira masih mencintai Fatih seperti dulu". bunda tersenyum ia mengusap bahu Fatih.


" Bunda yakin nak Zhafira masih mencintai mu, Anisa mengatakan nya kepada bunda tiap waktu ia juga menunggu mu untuk datang melamarnya. Jangan sedih Allah itu mengikuti prasangka hambanya, semangat yah bunda akan terus mendoakan mu. bunda juga ingin punya menantu secantik dan sebaik Zhafira bunda sudah sangat cocok". jelas bunda agar Fatih tenang.

__ADS_1


" tapi bunda abinya memberikan waktu empat bulan lagi, dan Fatih harus datang di waktu yang mereka tentukan. Fatih seorang abdi negara bunda tak ingin melanggar sumpah."


" ya bunda tau, kamu belum ikhtiar kenapa sudah melempem "


" bunda setelah ini Fatih akan di tugaskan untuk ke Aceh bunda, dan tak mungkin hanya empat bulan yang Fatih tau prajurit baru setidaknya sepuluh bulan mereka menjalankan tugas".


" Sayang kamu percaya kan akan Kun fayakun nya Allah ". Fatih mengangguk.


" nah kenapa kamu harus ragu Fatih sedangkan abinya Zhafira saja sama sekali tidak ragu untuk mengatakannya. Abinya Zhafira yakin akan keputusan nya".


" kakak jangan melow dong ayo semangat". ucap Farah.


" iya Fatih semangat dong biar aku juga cepat menikah, Farah gimna Anisa itu". ucap azka. Farah tertawa dia kira Azka tak akan mau dengan Anisa.


" kak Azka cepat juga menikah Arga sebentar lagi lulus ".


Ayah dan bunda geleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anak. Tapi ia bahagia kini anak-anaknya menemukan tambatan hati mereka.


" Nanti akan Farah tanyakan sama kak Anisa ya mau tidak sama kak Azka yang sangat bawel ini."


" Kelihatan nya Anisa itu baik juga Soleh ya, mama pasti senang bukan rambut pirang ". Azka sembari tertawa di ikuti yang lain.


" kak Anisa juga sama seperti kak Zhafira ia wanita saliha, mereka berada dalam satu pesantren. Kak datangi saja rumah orang tuanya, laki-laki yang serius itu yang berani mendatangi orang tuanya langsung untuk meminta izin melamar anaknya."


" aku siap dek, biar aku juga tak gigit jari melihat Fatih menikah".


" ya sudah kalau begitu besok Farah akan temui kak Anisa, kakak siap ta'aruf ya terus kita datangi orang tua nya".


Azka mengacungkan jempol sambil tertawa tanda jika ia sangat setuju.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2