Taat Tanpa Tapi

Taat Tanpa Tapi
Bab 33 #lakukan khitbah


__ADS_3

" jangan Farah" pinta Zhafira.


" Kalau kakak anggap aku teman kakak tolong kak tak ada salahnya kakak mencoba untuk bertemu kakak ku dulu. beberapa bulan lagi akan pulang, Farah janji jika memang kakak tidak ada getaran sama sekali kakak boleh menolaknya ".


" Farah jangan begitu kakak tak mau hanya karena hal ini kita akan jauh, kakak ingin seseorang yang memang ada dalam shalat istikharah kakak nantinya. maaf kakak takut mengecewakan keluarga mu".


" Tidak kak kita akan menerima semua keputusan kakak dan sampai kapanpun kita akan berteman Farah janji kak". ucap Farah serius.


" iya Zhafira tak ada salahnya kamu mencoba mungkin memang kakaknya Farah jodohmu". ucap Anisa, Zhafira diam ia bingung keduanya mendesak Zhafira.


" insyaAlloh kakak akan mencoba." Farah dan Anisa tersenyum mereka senang.


***


Istikharah kali ini belum ada jawaban, otomatis Zhafira akan menolak lagi laki-laki yang mengkhitbah nya terakhir kali. abinya mendesah ia takut Zhafira tak menikah hingga umurnya lanjut.


" Nak sudah beberapa orang yang kamu tolak apa kamu belum bisa melupakan ustadz syahdan". tanya Abi.


" bukan itu Abi, Zhafira sudah ikhlas atas meninggalnya ustadz syahdan namun Zhafira belum mendapatkan jawaban apapun dari shalat istikharah Zhafira."


" jika Abi menjodohkan mu kembali apa kamu mau menerima pilihan Abi."


" maaf Abi untuk kali ini Zhafiran tak bisa, tolong hargai keputusan Zhafira ya Abi kali ini".


" ya sudah tapi jangan terlalu berlarut dalam kesedihan, Abi terasa tak enak dengan semua yang mengkhitbah mu".


" maafkan Zhafira ya Abi merepotkan Abi."


" tidak nak orang tua tetap ingin anaknya bahagia".


" iya Abi." lalu Zhafira masuk ke kamarnya setelah ia memberitahu kan keputusan untuk khitbah laki-laki yang terakhir mengkhitbah nya.


" astaghfirullah maafkan Zhafira ya Allah bukan Zhafira bermaksud mempermainkan semuanya tapi Zhafira belum mendapatkan jawaban atas semua shalat istikharah Zhafira ". ucap Zhafira dalam diamnya menikmati dinginnya malam dengan angin yang bertiup pelan.

__ADS_1


" ayah bunda, Farah mau bicara penting sekali." kata Farah di sela obrolan.


" ada apa sayang."


" Farah mau ayah dan bunda mengkhitbah kak Zhafira untuk kak Fatih." ayah dan bunda saling pandang.


" apa maksudmu Farah, kakakmu Fatih belum pulang. ayah tak mau memaksakan soal jodoh dengan kalian, ayah mau anak-anak ayah bahagia." ucap ayah heran dengan anak gadisnya itu.


" ini juga demi masa depan kak Fatih ayah". kemudian Farah menceritakan semuanya persis saat Anisa ceritakan kepadanya.


" kamu serius nak". bunda terkejut dengan kabarnya.


" serius bunda masa tentang kak Fatih Farah bicara bohongan sih."


" apa kita akan memberitahu kakakmu soal Zhafira".


" jangan bunda kita berikan kejutan untuk mereka berdua, jika kak Fatih telepon katakan jika ayah sudah mengkhitbah wanita untuk kakak. Kakak itu anak yang penurut ayah ia tak akan menolak semua kata ayah.".


" baru sadar kalau kakakmu penurut daripada kamu." Farah nyengir...


Memang Farah dan orang tua nya tidak menghubungi Zhafira dulu jika akan ke rumah nya. Farah sudah siap dengan beberapa oleh-oleh yang di bawanya. Mobil berhenti tepat di depan rumah Zhafira sebelumnya Farah menghampiri Anisa agar ikut.


" assalamu'alaikum". ucap ayah.


" wa'alaikumsalam". jawab Abi kebetulan saat itu ada di depan.


" Abi ini orang tua Farah".


" oh ya Allah silahkan masuk pak Bu, " Abi merasa kikuk ia malu.


" Zhafira, umi ada tamu". kemudian umi dan Zhafira keluar keduanya kaget melihat Farah dan yang lainnya.


"ini hanya sekedar buah tangan dari kami". bunda menyerah kannya kepada umi.

__ADS_1


" MasyaAlloh terimakasih kasih banyak bu harus repot-repot begini" bunda tersenyum.


" Farah kamu tak kabari kak Zhafira dulu kalau mau ke sini, ya Allah maaf ya bunda".


" sengaja kak mau buat kejutan untuk kak Zhafira". pembicaraan bergulir canda tawa yang ada belum pada inti.


" pak Bu nak Zhafira kami memang ada niat baik datang ke sini".


deg... Zhafira sudah kepikiran dengan apa yang Farah katakan waktu itu.


" pertama kedatangan kami ke sini silaturahmi, kami ingin mengenal lebih dekat teman anak kami Farah. kedua kami ada niat untuk mengkhitbah nak Zhafira untuk anak saya. tapi maaf anak saya belum pulang insyaAlloh beberapa bulan lagi". ungkap ayah langsung, Zhafira sudah dag Dig dug sejak tadi. padahal baru proses khitbah tapi sinyal hati Zhafira sudah terlihat.


" bapak ibunya Farah kami sangat berterima kasih atas selaturahminya kami sangat senang. Tapi untuk masalah khitbah saya sebagai orang tua menerima siapapun itu, semua keputusan saya serahkan kepada Zhafira ".


" iya pak kami juga tidak memaksa, hanya saja coba nak Zhafira bertemu dulu dengan anak saya. tapi maaf ia masih dalam masa tugas belum bisa pulang. insyaAlloh beberapa bulan lagi".


" gimana Zhafira jika kamu menerima proses ini hingga kakak Farah pulang kamu tak bisa lagi menerima khitbah siapapun nak, kamu sudah terikat.". ucap Abi. diam sejenak pikiran Zhafira entah ia belum bisa menjawab, alih-alih ia tak enak sama Farah dan orang tuanya.


" bismillahirrahmanirrahim Zhafira menerima khitbah bunda, tapi maaf keputusan menerima atau tidak nanti jika Zhafira sudah bertemu dengan kakaknya Farah. saat ini hanya ikatan saja agar Zhafira tak menerima khitbah orang lain." ucap Zhafira dalam ketenangan.


" Alhamdulillah." Anisa dan Farah senang mereka berpelukan.


" Alhamdulillah terima kasih nak Zhafira iya kami mengerti memang kalian harus bertemu dahulu". ucap ayah senang Abi pun merasa ada kelegaan.


" maaf pak Bu memang kakaknya Zhafira sedang tugas apa ".


" anak kami tentara." deg... hati Abi sejujurnya ia ingin punya menantu yang paham agama bukan tentara namun ia sudah terlanjur menerima nya sudah tak bisa di balikkan lagi ucapannya.


" kak Zhafira terima kasih ya, Farah tak sabar menunggu hari itu itu tiba kakakku bisa lekas pulang." Zhafira hanya tersenyum, sebenarnya Zhafira hanya tak enak dengan Farah dan bunda tapi apa salahnya jika ia menerima toh ini belum keputusan final.


Pembicaraan bergulir entah sinyal apa ini hingga kedua keluarga itu sangat cocok mengobrol sudah seperti keluarga selayaknya. Zhafira yang melihat kebahagiaan semuanya berfikir apakah ia harus menerima kakaknya Farah sebagai suaminya yang terpenting semua orang bahagia.


" jangan melamun Zhafira kita sedang bahagia nih". ucap Anisa

__ADS_1


" iya kak Zhafira semoga kebahagiaan untuk kakak segera juga Farah tak sabar". Zhafira hanya ikut tersenyum mendengar candaan dari mereka. Hati Zhafira pun merasa dingin seperti angin malam ini.


_$


__ADS_2