
Zhafira terduduk lemas ketika melihat Fatih pergi, hatinya juga ikut hancur bersama Fatih. sapu tangan yang ia beri untuk Fatih ia ambil lalu ia berlari masuk ke dalam kamar. Tak di sangkanya cerita cintanya akan seperti ini. Anisa hanya bisa mengusap bahu Zhafira yang masih terus menangis, impian hidup bersama Fatih kandas. ketika ia sudah berusaha untuk melupakannya dan akan menerima syahdan dengan sepenuh hati, Fatih muncul kembali membawa cinta yang telah lama ia pendam.
" maafkan Zhafira kak Fatih." tangis itu masih pecah, Anisa tak bisa menasehati lagi ia hanya berusaha menenangkan Zhafira mengusap bahunya.
" Anisa aku terlalu jahat Anisa".
" tidak Zhafira mungkin inilah jalan Allah untuk mu terima dengan ikhlas ya, seharusnya kamu sudah tak boleh memikirkan Fatih lagi ada ustadz syahdan yang akan menjadi imammu". Anisa terus menasehati Zhafira agar tenang.
" kamu ingatkan kata Fatih tadi bahwa kamu harus bahagia, ia tak marah padamu ia ikhlas menerima takdirnya Zhafira ". Zhafira diam ia kembali duduk menatap Anisa, lalu Anisa mengusap air mata Zhafira.
Sedangkan Fatih dan Azka berada di pinggir danau, Azka sengaja membawa Fatih di sana supaya Fatih meluapkan kesedihannya, azka tak mengatakan apapun pada Fatih ia hanya diam membiarkan Fatih berjalan menyusuri danau. Hampir dua jam di sana, Azka menunggu di gubuk kecil pinggir danau itu. Fatih di terik yang panas itu berdiri melihat ikan-ikan yang sedang berenang bebas.
" Azka ayo pulang"
" sudah Fatih ..."
" cukup, kita tentara tak boleh sedih dan potek hanya dengan urusan cinta ". Fatih membawa motor nya ia melaju kencang ke sebuah tempat makan, rasanya ia rindu rumah makan di sana. itu yang sering ia datangi dengan Farah atau Azka.
tak seperti biasa hari itu Fatih makan sangat banyak, Azka juga heran padahal tak biasanya Fatih melakukan hal itu. Selesai makan Fatih melajukan motornya ke sekolahnya dulu. sore hari banyak anak yang sedang main basket, Fatih bergabung Azka hanya menjadi penonton ia lelah. itulah yang di lakukan Fatih kesedihannya ia lampiaskan dengan hobinya.
dua jam sudah kemudian Fatih dan Azka pulang ke rumah, azka terus mengikuti Fatih hingga ke kamar nya.
" apaan sih kamu Azka aku mau ke toilet mau ikut". Azka tertawa, ia khawatir dengan temannya yang sedang patah hati itu.
" aku cuma tak mau kamu bunuh diri"
" memang aku ini gila Azka, aku normal. aku memang menaruh hati padanya, tapi jika memang Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama. aku mau apa Azka, lebay". Fatih berlalu masuk ke kamar mandi ia langsung mandi badannya berasa tak enak, Azka lalu pulang hanya untuk mandi saja kemudian ia kembali ke rumah Fatih.
__ADS_1
" mana Azka pa, apa ia tak lapar mama sudah masak". mama mencari azka yang tadi pulang namun menghilang tak ada lagi.
" pasti ke rumah Fatih lah ma kemana lagi anak itu, udah bawa aja makanannya ke rumah Fatih kita makan sama-sama di sana". kata papa sembari mengusap motor bebeknya.
" ya udah mama siapkan kalau gitu kita ke sana setelah shalat Maghrib ".
Azka sudah berada di kamar Fatih lagi, Fatih masih berada di atas sajadahnya ia mengaji. Fatih lampiaskan semuanya ke hal yang positif. ia ikhlas dan pasrah bahkan ia mendoakan untuk kebahagiaan Zhafira wanita yang di cintai nya. ia tak pernah menganggap Zhafira seorang yang mengkhianati nya, Zhafira juga sudah lama menunggu nya mungkin memang takdir itu tak berpihak kepadanya.
" astaghfirullah ". Fatih kaget saat menoleh ada Azka di belakang nya. Azka hanya nyengir saja melihat Fatih yang kaget
" maaf Fatih aku tak tega meninggalkan mu".
" aku bukan anak kecil azka, pulang sana aku tak apa"
" meskipun kamu mengusirku aku tak akan pulang Fatih hingga tetes darah penghabisan". Fatih mencebik menurut nya Azka lebay, tapi memang Azka selalu menjadi teman setia Fatih.
***
Syahdan sedang mencoba jasnya yang ia akan pakai besok, semenjak beli ia belum mencobanya karena terlalu sibuk di madrasah. syahdan mencoba namun baginya itu terlalu kebesaran, dan syahdan tak menyukainya ia ingin penampilannya besok menarik. anak seorang kiyai Rohman pasti akan banyak yang melihat pernikahan nya bersama Zhafira.
" Abah, syahdan keluar sebentar ya." ucap syahdan.
" mau kemana nak." tanya Abah seharusnya malam ini ia harus istirahat.
" sebentar saja ke seberang jalan, ke rumah paman Toriq mau benerin jas."
" ada apa dengan jasnya syahdan." ..
__ADS_1
" terlalu kebesaran syahdan tak suka, ini tak akan pas dengan badan syahdan. besok syahdan harus tampil dengan baik Abah, malu Abah pengantin nya pasti cantik masa syahdan terlihat tak pantas bersanding dengan Zhafira".
" ya sudah kamu hati-hati dan langsung pulang". syahdan mengangguk ia lalu mengeluarkan motor nya, syahdan tak mau di temani adiknya karena dekat ia sendiri saja ke tukang jahitnya.
_
Zhafira keluar kamar ia berada di teras samping menatap langit seperti biasa ia lakukan jika rindu ataupun sedih. Anisa menemani Zhafira di sana, tetesan air mata keluar lagi..
" aku tau Zhafira itu pasti sulit bagimu" Zhafira tersenyum.
" tidak Anisa aku memang harus melupakan kak Fatih dia bukanlah takdir ku, semoga kak Fatih cepat menemukan jodohnya dan ia akan bahagia. esok aku akan menjadi milik orang lain, pastinya aku harus melupakan kak Fatih dan mengabdikan diri mu pada suamiku. ustadz syahdan mungkin memang di takdir kan untuk ku, aku ikhlas pasti itulah yang terbaik menurut Allah". Zhafira masih memandangi langit yang sangat selalu ia suka jika malam apalagi saat terang bulan di taburi bintang sangat terlihat indah.
" kamu benar Zhafira ustadz syahdan memang yang terbaik untuk mu" Zhafira tersenyum kembali ia menghapus air matanya.
" jangan pernah salah menempatkan cinta karena cinta adalah sebuah misteri kehidupan. siapapun suamimu ia yang lebih pantas mendapatkan cintamu." Zhafira menoleh ke belakang sepertinya ia tak asing dengan suara itu.
" om Billy " Zhafira terkejut ternyata asik dari ibunya datang tepat di hari pernikahannya, mereka memang jarang sekali bertemu mengingat pekerjaan Billy.
" bagaimana kabarnya calon pengantin " Billy mengusap kepala Zhafira dengan sayang
" Alhamdulillah baik, om Billy datang ngga tugas jauh".
" kebetulan sekali pas om Billy selesai akhir nya bisa juga melihat keponakan ku menikah. tak di sangka ya kamu cepet sekali dewasanya ". Zhafira memang sangat dengan Billy sejak dulu.
" om juga cepat tuanya " keduanya terkekeh, mereka ngobrol hingga larut. Zhafira banyak bercerita tentang hidupnya kemarin sebelum pernikahan nya.
______
__ADS_1