Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 1


__ADS_3

Dari mana aku harus memulai tulisan ini? Apakah harus dengan kalimat perkenalan namaku Dea? Jika iya maka perkenalkan namaku Dea Amanda, kamu bisa memanggilku Dechan karena itu nama pena yang selalu kugunakan dalam setiap tulisanku. Setelah empat tahun mengenyam pendidikan di prodi Sastra Indonesia ini adalah setahun aku setelah wisuda.


Di usia yang sudah kepala dua ini aku masih bertahan dengan status single. Single dan jomblo itu berbedakan? Jomblo untuk kamu yang sudah pernah pacaran, dan single untuk orang yang belum pernah pacaran. Ya, aku belum pernah pacaran meski sudah menginjak usia kepala dua.


Gak laku? No, bukan tidak laku. Selama ini aku bertahan sebagai pengagum rahasia, dari masih menginjakkan kaki di sekolah menengah pertama sampai sekarang aku masih setia menjadi pengagum rahasianya. Sakit? Tidak perlu kau tanya lagi. Sakit sekali, atau mungkin sakit sedunia? Tidak, terlalu berlebih jika sakit sedunia.


Sebenarnya aku bisa saja jadian sama teman kuliah ataupun kating- kakak tingkat saat aku kuliah dulu. Tapi tidak dilakukan karena cowok yang ku suka juga tidak pernah berpacaran. Selama ini dia selalu menjaga hati dan pandangannya untuk cewek-cewek yang bukan mahramnya. Uh, so sweetnya. Dan karena jodoh adalah cerminan diri maka aku pun tidak ingin berpacaran, biar bisa sama sepertinya. Hahahaha.


Doakan aku berjodoh dengannya ya! Hehehe.


Meski tidak pernah berpacaran bukan berarti aku membatasi diri berteman dengan anak cowok-cowok. Tidak. Aku ini bisa dibilang cewek tomboy. Temanku isinya cowok semua. Ya ada juga si beberapa anak cewek.


Hari ini seperti biasa aku akan pergi menuju Cafe Coco Bakery. Seperti namanya, kafe ini juga ada toko kuenya, cafe ini dibangun oleh temanku Dandi. Dandi itu temanku saat di SMA, gak cakep-cakep banget sih, tapi gak bakal bikin malulah kalau buat diajak undangan. Hati-hati kalau dekat sama Dandi, kamu harus kunci hati rapat-rapat, karena apa? Perhatiannya bisa buat kamu-kamu terbawa perasaan, istilahnya sekarang baper.


Dandi juga tidak pernah pacaran, tapi tiap kali dia mau jalan, dia bisa gonta-ganti perempuan. Perlu aku ingatkan, hati-hati sama Dandi!


Cafe Coco Bakery emang tidak pernah sunyi, tempatnya yang sengaja didesain dengan nuansa modern klasik membuat banyak pasangan muda-mudi ataupun remaja-remaja berkelompok menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Seperti yang aku lakukan saat ini, alasanku datang selain wifi gratis juga tempatnya enak banget buat nulis.


“Mbak datang ya? Bang Dandi lagi pergi.” Ucap Saras salah satu pramusaji di sini. Saras ini masih SMA, dia kerja separuh waktu. Aku yang merekomendasikan ke Dandi karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi Saras ini mempunyai semangat untuk sekolah. sayang banget kalau dia harus putus sekolah karena biaya


“Sama siapa Dandi pergi?” tanyaku sambil berjalan ke arah meja kosong dekat tangga yang menghubungkan dengan lantai dua.


“Sendirian, Mbak. Mbak mau makan apa?”


“Biasa aja deh, Ras. Coklat sama roti coklat keju.”


“Tunggu ya, Mbak.”                           


Seperginya Saras aku menyalahkan laptop sambil menatap sekeliling. Membuka file tulisan yang harus aku selesaikan dalam waktu dua bulan. Aku sengaja tidak bekerja menjadi guru bahasa atau apapun yang terikat dengan sastra Indonesia. Tujuanku masuk ke jurusan itu adalah karena aku suka menulis dan aku ingin menjadi penulis. Setahun setelah aku wisuda sudah ada dua novel yang aku terbitkan dan kini aku sedang menulis untuk melahirkan anakku yang ketiga. Seorang penulis biasa menyebutkan bukunya sebagai anak mereka.

__ADS_1


Aku sedang berpikir, konflik apa yang harus dibuat dalam novelku kali ini.


Saras membawakan pesananku, setelahnya dia kembali untuk mengantar pesanan yang lain.


Sebetulnya aku tidak suka dengan coklat, tapi Dandi dengan brengseknya membuatku harus menyukai makanan ataupun minum manis itu. Kedua orang tuanya adalah seorang petani berdasi. Mereka memiliki kebun coklat, teh, dan sawit.


Dandi ini sangat lari dari jurusannya, dia kuliah jurusan seni dulu dan setelah tamat menjadi pemilik cafe. Seharusnya dia kuliah bisnis bukan seni.


Sambil menikmati makanan dan minuman tanganku juga sibuk menari di atas keyboard laptop. Berhenti sejenak untuk berpikir lalu lanjut menulis.


“Eh, kamu di sini? Kenapa enggak bilang?” aku mendongak menatap Dandi yang kini berdiri menarik kursi di depanku. Mengeryit bingung melihat kedatangannya dengan tampilan acak-acakan dan bau apa ini? Dia merokok?


“Habis merokok ya? Bau banget sih!” Ucapku menutup hidung. Bukan hanya karena tidak suka dengan bau rokok, aku juga tidak bisa mencium bau rokok. Hidung langsung sakit saat mencium bau rokok.


“Iya, cuma satu batang. Tadi pergi nemuin si Rizka sama teman-teman, merekakan merokok jadi terpaksa ikutan juga.” Jelasnya menghabiskan coklat yang tinggal setengah.


“Ya daripada jadi perokok pasif, mending ikut jugakan?” Aku hanya menatapnya tak suka tanpa berniat melanjutkan perdebatan ini. Dandi ini teman-temannya banyak merokok dan terkadang hal ini emang sering terjadi, dia harus ikut merokok supaya tidak hanya menjadi penghirup asap rokok saja. Itu sebabnya dia tidak pernah mau mengajakku pergi gabung dengan teman-temannya yang suka merokok, bisa dipastikan rokok-rokok mereka patah dengan tidak elitnya jika aku sampai ikut.


“Aku mau ke Padang minggu depan, mau ikut nggak?”


Meski kami hanya berteman, setiap kali Dandi merokok aku tidak mau bicara dengannya. Aku emang sering bertingkah seperti pacar yang mengambek pada kekasihnya. Aku tidak peduli, sebagai teman yang baik aku tidak suka saat temanku mengkonsumsi rokok, tidak sehat untuk dirinya juga tidak sehat untuk sekitarnya.


“Marah, De? Aku ada perlu sama mereka, selesai urusankan aku langsung pulang, makanya cepat sampe sini.”


“Gak marah, cuma kesal aja.” Ucapku tanpa melihatnya. Dapat ku dengar suara kursi berdecit, Dandi pergi meninggalkanku menuju ruang kerjanya. Apa kalian pikir dia ikutan marah denganku? Dia tidak marah, dia ke ruangannya untuk mengganti baju.


Seperti yang aku katakan,  lima menit kemudian dia datang menghampiriku dengan kemeja hitam dan kaos putih di dalamnya.


“Udah ga bau asap rokok lagikan?” tanyanya. Aku mengulum senyum.

__ADS_1


“Dan, ini bukan tentang baunya aja. Itu enggak sehat loh, Dan.”


“Lebih enggak sehat kalo aku jadi perokok pasifnya ,De.”


“Iya-iya terserah deh.”


“Jadi, mau ikut nggak ke Padang?” tanya Dandi ulang.


“Oh, berapa hari?” tanyaku. Soal ngetrip kamu bisa ngajak aku ya. Aku suka banget melakukan perjalanan. Ini bukan pertama kalinya aku ikut saat Dandi pergi keluar kota.


“ Hem, seminggu. Kamu bisa kok sambil ngerjain tulisanmu. Aku mau motret di sana. Bakal ada pameran seni tentang budaya Sumatera Barat tiga bulan lagi, dan aku jadi salah satu pelukisnya.” Jelas Dandi. Tangannya sibuk mengetik sesuatu di gawai lalu menempelkannya di telinga.


“Mbak, bawakan jus jeruk dua sama nasi goreng. Laper banget.” Ucap Dandi di telpon, bisa kamu tebak dia nelpon siapa? Ya, dia sedang menelpon chef yang ada di dapur cafe.


“Nasi gorengnya satu aja, mbak. Oh, tapi dibanyakin ya. Makasih ya, mbak.”


“Kurang kerjaan banget si, kenapa enggak langsung pergi jumpa Mbak Friska?” tanyaku setelah dia kembali menyimpan gawai di saku celana.


“Malas, De. Jadi kamu mau ikut enggak?”


“Ikutlah, gratiskan?” tanyaku dengan cengiran yang ditanggapi dengan kekehan oleh Dandi.


“Bayar ongkos pergi dan pulang. Makan penginapan dan transportasi selama kita pergi-pergi aku yang tanggung.”


“Kok ga semuanya kamu yang tanggung?”


“Kita gak lagi pergi ke gunung atau pergi dalam waktu dekat, De. Kamu niat buat aku bangkrut? Aku belum halalin kamu ni, nanti kalau aku bangkrut kamu enggak mau sama aku.”


“Adek selalu mau kok sama abang.” Ucapku dengan nada yang sengaja dibuat genit.

__ADS_1


__ADS_2