
Dari bandara ayah datang bersama mama juga Dilla. Usai mengucapkan sumpah kami menemui Dilla yang menunggu di luar gedung. Dila dan karyawanku menyambut dengan tiga buket bunga yang langsung ku pelototi. Seingatku aku sudah mengatakan untuk tidak ada yang membawa hadiah.
“Selamat kakakku!” ujar Dila mengulurkan buket.
“Selamat untukmu juga.”
Aku beralih menatap pada karyawanku, terutama pada Bintang yang memamerkan deretan giginya.
“Ada yang akan kena potong gaji kelihatanya.”
“Mbak bilang tidak boleh bawa hadiah dan kita enggak bawa hadiah, ini kita beli di sana kok tanya deh sama mbak Dila kalau tidak percaya.”
“Halah kalian pasti sudah merencanakan ini semua. Sudah, ayo foto.”
Ayah bercerita gimana takutnya mama sewaktu di pesawat tadi dalam perjalanan menuju studio untuk foto bersama. Mama bahkan tidak henti berdzikir sangkin takutnya. Jika bukan karena aku wisuda sudah pasti mama tidak akan mau datang ke Bandung.
Mendengar cerita ayah jadi teringat, dulu kalau nonton ada berita pesawat jatuh ataupun kapal tenggelam mama selalu bilang “Dari pada pergi-pergi naik pesawat jatuh dan naik kapal tenggelam mending diam di rumah. Walaupun di rumah mati tapi setidaknya bisa dilihat mayatnya.” Aku suka tertawa kalau mama mengatakan itu, pikiran yang amat kolot.
Belum lagi kalau dengar kejadian tabrakan beruntun. Saat diajak pergi jalan-jalan mama akan langsung bilang “Enggak usahlah, mending di rumah daripada jalan-jalan terus kayak di tipi-tipi.” Alhasil kalau mau ajak mama jalan-jalan harus debat dulu.
Meski takut begitu mama enggak pernah larang kalau anak-anaknya mau melakukan perjalanan. Justru yang suka melarang adalah ayah. Walau poin pertama ayah melarang adalah karena yang pergi anak perempuan bukan laki-laki.
Kami sampai di studio milik kenalannya Bintang. Mula-mula berfoto keluarga, foto bersama para karyawan kemudian foto bersama keluarga dan karyawan. Setelah sepuluh kali foto dan meminta dicetak sesuai dengan jumlah karyawan ditambah tiga, kami pergi meninggalkan studio menuju kafe yang lantai duanya sudah aku pesan untuk makan bersama karyawan dan keluarga.
Ayah bertanya kenapa tidak makan-makan di kafe milikku saja. Kafe tutup karena karyawanku wajib datang ke acara bahagia yang sekali dalam seumur hidupku.
+62813735667XX
Selamat!
Aku mengerutkan kening bingung menerima pesan dari nomor yang tidak aku ketahui.
Terima kasih. Maaf, ini siapa?
Satu menit
Lima menit
Sepuluh menit
Tiga puluh lima menit
Sampai kami semua selesai makan lalu pulang dan aku pergi makan malam dengan keluarga lalu pulang lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Aku mengerutkan kening semakin bingung. Tidak biasanya aku penasaran dengan pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Kembali kukirim pesan menanyakan siapa tapi sampai aku terpejam dan bangun di pagi hari aku masih tidak menerima jawaban.
“Kak, kapan pulang ke Medan lagi?”tanya Dila saat kami berkumpul untuk sarapan.
“Rencana dua minggu lagi. Kakak mau urus surat pengunduran diri dan coba masukkan lamaran kerja di universitas yang ada di Medan.”
“Kenapa tidak di sini saja?” tanya ayah.
“Karena ayah dan mama sudah tua, kalau ada apa-apa dan Dea lagi jauh dari kalian susah jadinya. Dea juga mau buka usaha kafe kayak di Bandung ini. Kafe baca, entar nyusul buka toko buku dan perpustakaan mini.”
“Dila mau kasih tahu sesuatu.”
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Dila yang mengeluarkan kertas dari balik taplak meja.
“Dilla dapat beasiswa kuliah di Prancis.”
“Serius?” tanyaku penuh bahagia.
“Woah, ini harus dirayakan.”
“Tapi, Dila enggak niat ambil.”
“Kenapa? Soal biaya hidup kamu atau apapun biar kakak yang urus, kamu fokus kuliah aja. Kalau bisa di sana kamu coba jadi pemandu wisata buat bantu-bantu.”
Dari saat SMA Dila selalu cerita ingin pergi ke Prancil, kuliah di sana. Enggak jarang aku belikan dia buku-buku berbau Prancis. Dari segi kamus, cerita yang menggunakan bahasa Prancis bahkan peta kota menara Eifel itu berada kuberikan untuknya.
Mendengar Dila berhasil menggapai mimpinya adalah kebahagian tersendiri untukku.
Usai sarapan Dila ikut denganku ke kafe. Matanya menangkap bingkai foto Keisya yang sengaja aku pajang di ruanganku. Foto Keisya yang ku ambil saat kami sedang makan jagung bakar berlatar pantai dengan matahari mulai pulang dari peraduan.
“Ini siapa, kak?”
“Oh, keisyah. Anak temanku.”
“Kok kakak pajang?”
“Enggak apa, wajahnya lucu, buat ketawa.”
Dila tersenyum menyentuh pinggiran bingkai dan membawanya ke sofa. “Kakak tidak punya seorang yang spesial di sini?” tanya Dila yang membuat aku menghentikan tarian jari-jariku dari keyboard laptop.
“Kenapa nanya gitu? Kamu sudah ingin menikah?”
“Salah tidak kalau kakak masih mencintai Naufal?”
“Tidak salah, tapi jadi salah kalau kakak tidak ingin memiliki pasangan kalau bukan dia yang jadi pasangan kakak. Itu egois namanya.” Dila kembali meletakan foto Keisya pada meja kerja.
“Dila mau jalan-jalan deh. Kakak di sini aja, aku perlu sesuatu untuk difoto dan dimasukkan ke sosial media.”
***
Aku sedang berjalan untuk pulang ketika melihat Tasya menggendong anak laki-laki dan memesan makanan. Keningku berkerut memastikan kalau itu benar Tasya adik almarhum Naufal. Dan benar perempuan berkerudung merah yang sedang menggendong anak laki-laki dan memesan makanan itu adalah Tasya.
“Mbak Dea?”
“Tasya?” aku memeluknya. Tersenyum mengusap kepala anak laki-laki yang terlihat sudah menginjak usia 2 tahun.
“Keano, salam tante Dea, ini kakak mama.” Keano tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“Mbak sehat?”
“Alhamdulillah sehat. Semakin sehat setelah ketemu kamu. Putramu?”
“Iya, Mbak. Mbak sudah punya anak?” aku tersenyum lembut.
“Clara, pesanan mbak ini digratiskan ya!”
“Gratis?”
__ADS_1
“Iya. Ayo duduk di sana kita.”
Tasya duduk di sampingku. Meletakan Keano di sebelahnya.
“Ini kafe mbak?”
“Iya, nanti kalau datang ke sini enggak usah bayar.”
“Makasih, mbak. Bangkrut dong kalau terusan datang enggak bayar. Mbak sudah mau pulang atau gimana?”
“Tadi mau pulang, tapi lihat kamu mbak jadi pengin ngobrol banyak. Kamu tinggal di Bandung atau gimana?”
“Iya, Tasya tinggal di Bandung ikut suami. Mama meninggal dua tahun lalu saat Tasya melahirkan dan setahun kemudian ayah menyusul.”
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un.”
“Mbak gimana? Sudah punya berapa anak?”
“Mbak belum menikah.”
“Mami Dea!”
Keisya berteriak bersamaan dengan aku mengucapkan belum menikah. Fathan hadir di belakang bersama mamanya juga perempuan yang aku tebak sebagai tunangan Fathan. Hari itu saat Fathan bilang dia akan bertunangan malamnya aku kembali ke Bandung. Aku memberinya undangan wisuda walaupun tahu dia tidak bisa datang. Bagaimanapun aku mengambil magister ini berdasarkan dukungan dia.
“Anak teman mbak dan dia biasa panggil mbak mami.” Tasya mengangguk. Entah apa yang dia pikirkan. Aku cemas dia berpikir aku bohong. Belakangan ini aku mudah cemas akan hal-hal enggak tentu.
“Selamat ya sayang untuk wisuda kamu. Maaf mama enggak bisa datang.”
“Enggak masalah, ma. Ini tunangannya Fathan?” mama mengangguk, aku tersenyum mengulurkan tangan.
“Dea.”
“Risya.”
“Selamat ya untuk pertunangan kalian, semoga lancar sampai hari H.”
“Terima kasih.”
“Ayo duduk, ma!”
“Kamu lagi kedatangan tamu?”
“Enggak, ini adiknya Dea. Dea udah mau pulang karena mama lagi di rumah jadi Dea mau cepat balik.”
“Mama kamu lagi di Bandung? Mama pengin deh ketemu! Gimana kalau besok kita makan malam?”
“Nanti Dea kabari, ma.”
“Yaudah kalau gitu. Nanti hubungi mama ya?”
“Iya.”
Sebelum pergi aku meminta nomor Tasya untuk bisa kuhubungi nanti. Berada di sini bersama dengan Fathan dan keluarganya terasa mencekik untukku, belum lagi ada Tasya juga ikut menyaksikan.
Keisya menatap tidak suka kepergianku. Aku mengecup keningnya dan memberikan permen lolipop yang ada di kasir. Meski sempat menolak Keisya kemudian menerimanya dan membiarkan aku pergi.
__ADS_1