Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 17


__ADS_3

Meski memejamkan mata aku tahu mama sedang menangis di sisi kanan kasur yang kutempati. Entah jam berapa saat ini tapi yang pasti matahari belum menampakkan diri. Kepalaku masih terasa sakit dengan pikiran yang coba kutepis meski hasilnya justru semakin menambah beban di kepala.


Di hari pertama pulang ke rumah aku tidak menemukan ayah pada pagi hari. Dua dan tiga hari aku hanya bertemu usai magrib dan esok pagi saat kutanya ayah di mana mama selalu menjawab sudah pergi bekerja. Hari ke empat dan lima aku menemukan ayah tertidur di sofa. Aku pergi kemah dan saat pulang menerima kejutan ini. Entah apa, tapi yang kutahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi.


Merasakan tangan mama memelukku dengan napas yang teratur kuputuskan untuk membuka mata. Melihat dengan jelas sisa air mata di pipinya tanpa berniat menghapus sisa air mata itu demi mencegah mama terbangun. Lingkaran hitam pada mata mama menjelaskan betapa lelah harinya selama ini. Kesedihan semacam apa ditanggung mama yang aku tidak tahu? Rahasia apa yang tersembunyi?


Dila. Di mana adik perempuanku berada?


Jam satu pagi dan aku berhenti untuk bisa tidur lagi. Kepala dipenuhi dengan pikiran dan kemungkinan-kemungkinan gila yang terjadi di rumah ini. Kenapa dan apa? Argh.


Saat menjelang subuh dan merasakan pergerakan dari mama aku kembali memejamkan mata berpura tidur. Mengusap wajahku mama membangunkan untuk sholat shubu. Mataku tidak langsung terbuka demi menjelaskan bahwa aku benar-benar tertidur lelap. Saatku rasa cukup, mata ini terbuka demi mengakhiri drama pura-pura tidur.


Tidak menjawab aku langsung melenggang pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Dari balik tembok aku melihat Dila keluar dari kamarnya dan berbicara dengan mama tepat di depan kamarku. Mengabaikan itu aku lebih memilih diam berjalan ke ruang sholat.


Usai sholat mama mengajakku bicara. Pagi mendung seolah mendukung perasaanku yang hampa. Awan gelap menyelimuti terlihat jelas dari balik jendela ruang tamu.


“Ayah dan ibu bercerai.” Satu kalimat pembukaan dari mama membuat kedua tangan yang bertumpuh pada lutut bergetar hebat.


Mama melihat tangan yang bergetar dan mencoba menggenggamnya. Mencium punggung tanganku tapi tidak memberi hasil apapun.


Satu menit.


Tiga menit.


Lima menit.


Aku masih merasakan getaran itu. Mama menarik wajahku untuk menatapnya.

__ADS_1


“Kak Dea. Sadar kak! Kak Dea! Jangan begini, sadar kak!”


“Dea, lihat mama! Lihat mama, nak!”


Aku melihat mama. Aku mendengar mama dan Dilla bicara. Tapi jiwaku seakan hilang dari raga. Mama memelukku dengan air matanya yang tidak pernah kusuka. Hal ini semacam pernah aku rasakan dulu. Kilasan hitam membuat sakit kepalaku. Udara seolah ditarik paksa dan tidak dapat kuhirup.


Mengucapkan maaf mama memukul badanku yang kemudian baru kurasakan oksigen memenuhi paru-paru.


“Jangan begini, Dea. Jangan!” Dila memberikan air putih.


“Mama tidak akan cerita apapun kalau kamu seperti ini!”


Aku juga tidak ingin mendengar cerita apapun.


Aku pergi masuk ke kamar, mengunci pintu. Meninggalkan mama dengan teriakan namaku.


Ayah juga tidak terdengar datang mengunjungi rumah ini yang menjelaskan bahwa ayah dan mama benar berpisah. Sejak kapan? Karena apa?


Aku memilih menenggelamkan diriku di bak mandi. Membiarkan tubuhku tenggelam. Hal yang kulakukan seminggu ini ditiap malam. Rasanya lebih ringan dan tidur lebih enak setelah badanku menggigil kedinginan.


Gawai yang sudah lama tidak ku mainkan menampilkan pesan gambar dari Fathan yang mengirim wajah cantik Keisya dengan balutan gaun putih. Sudut bibirku tertarik membentuk senyum. Fathan juga mengirim pesan gambar kartu undangan pernikahannya yang dilaksanakan dua minggu lagi. Seharusnya undangan belum disebar tapi katanya dia memberiku yang pertama ketika desain undangan selesai dibuat.


  Selamat, tan. Aku akan datang. Sampaikan salamku pada si cantik Keisya juga calon istrimu. Katakan pada Keisya dia terlihat cantik dengan gaunnya.


Usai membalas pesan itu pada Fathan kulihat berhari yang lalu Dandi mengirimi pesan menanyakan apa benar aku telah pulang ke Medan bersamaan dengan puluhan panggilan yang tidak kujawab. Mengingat bagaimana sikap Della terakhir kali kami bertemu kurasa pilihan benar jika aku mengabaikan pesan itu. Menyesal kenapa aku memberikan padanya nomor teleponku hari itu.


Enggak boleh begini. Aku enggak boleh terus-terus di kamar. Aku enggak boleh hanya diam. Aku adalah Dea, cewek kuat yang tidak goyah meski diterjang badai karena aku adalah rumput bukan pohon besar yang tumbang ketika diterjang badai.

__ADS_1


Merapalkan kalimat itu di kepala, kaki ini bergerak menghampiri pintu, memutar kunci. Dan di sana, di ruang tamu, aku melihat Dila duduk memeluk mama. Apa yang terjadi? Apa mama menangis karenaku?


“Kak Dea?”


Mama menatapku dengan mata yang-. Apa yang terjadi dengan mata mama? Bengkak dan memerah. Aku bergerak mendekat menghapus pipinya yang basah.


“Jangan menangis!” tangan mama membawaku dalam peluk hangat yang kurindukan.


“Jangan menangis! Jangan menangis! Jangan menangis!”


Bukan berhenti menangis mama justru semakin menangis.


“Aku ingin mendengar semua yang terjadi. Jangan menangis lagi, tolong!”


Bermenit-menit dan mama hanya diam. Aku membiarkan menunggu sampai mama mau mengeluarkan suaranya. Sampai mama merasa tenang, aku diam membiarkan mama bicara dengan perasaan bergejolak marah dan kecewa.


 “Setahun kamu di Bandung. Dila menemukan ayah bersama perempuan. Satu kali sampai akhirnya menjadi sering. Ponsel ayahmu dibajak oleh Dila dan di sana ayahmu terbukti selingkuh. Mama tanyai ayah tidak mengaku sampai akhirnya mama memutuskan untuk mencari tahu dan ternyata. Ayahmu telah menikah siri. Butuh waktu setengah tahun mama mengetahui semuanya. Ayah ketahuan karena istri barunya sedang mengandung. Dibantu dengan nenek dan bude kamu, mama mengajukan surat cerai. Ayahmu marah, dia enggak terima dan mencoba membakar rumah nenek.


“Mama akan melaporkannya ke polisi dan dia mengancam. Katanya, jika sampai kamu tahu hal ini dia akan membunuh keluarga mama. Dia menyetujui perpisahan kami dengan syarat kamu tidak tahu tentang ini. Dia takut kamu membencinya karena sedari kecil dia selalu lebih terhadap kamu. Itu kenapa kami tidak memberitahu kamu soal perceraian ini. Di lain sisi, mama takut kamu jatuh sakit.”


Sekarang aku mengerti kenapa di hari bahagiaku saat wisuda aku menemukan kecanggungan di antara mereka. Aku paham kenapa tidak ada foto keluarga saat Dila wisuda. Inilah alasan kenapa ayah sibuk meminta pulang ke Medan saat di Bandung. Alasan juga bantal dan guling di kamar yang mama tempati dengan ayah disusun terpisah. Karena mereka tidak lagi sama.


Aku merasa jadi anak kecil yang dibodohi.


“Maaf ya, ma. Maaf sudah terluka.”


Aku tidak akan bertanya bagaimana istri ayah yang baru. Apakah dia seorang janda dengan anak ataupun wanita muda. Entahlah, terserah. Masa bodoh semua itu.

__ADS_1


Aku masih merasa hambar dengan penjelasan mama. Terasa masih ada yang beban yang memupuk di pundakku. Seperti ada hal lain yang terlewatkan dari cerita ini. Dan kembali kilasan hitam itu menyakiti kepalaku.


__ADS_2