Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 2


__ADS_3

Dandi adalah orang paling resek di hidupku. Dia mengajakku ke Padang tiga hari setelah dia mengatakannya di cafe.  Aku harus menyiapkan segalanya dengan terburu-buru karenanya, belum lagi harus meminta izin ayah dan mama.  Emang benar mengesalkan si Dandi ini. Minggu depan yang dia maksud adalah tiga hari kemudian. Bodoh!


Soal izin mama oke saja sama aku, karena mama percaya aku bisa jaga diri. Tapi ayah, minta izin ayah ini sulit. Ayah selalu punya argumen untuk tidak mengizinkanku pergi.  Apa lagi ini kepergian yang mendadak. Nanti malam kami akan berangkat ke Padang tapi ayah masih belum memberikan keputusan final dari perdebatan kemarin. Uh, dasar Dandi.


Setelah menyusun semua perlengkapan dalam dua tas ransel, aku melangkah keluar kamar menemui mama yang sedang masak. Dapatku dengar mama sedang bercakap-cakap dengan -. Dandi?  Sejak kapan cowok itu datang ke rumah?  Apa yang kulakukan sampai tidak tahu kalau dia datang?


"Kok di sini?" tanyaku bingung menarik kursi yang ada di dapur.


"Mau bantuin kamu minta izin." kata Dandi cuek. Aku mengulum senyum menatap mama yang tidak lagi asing dengan kedatangan Dandi ke rumah. Cowok pemilik Cafe Coco Bakery itu emang sering datang kemari.


"Ayah mana, Ma?" tanyaku karena tidak melihat ayah siang ini.


"Pergi sama Dilla ke fotocopy. Ambilkan piring dulu, kamu sudah lihat mama masak bukan dibantuin malah diam aja." protes mama yang membuat aku langsung berdiri mengambil piring-piring untuk tempat makanan.


"Itu yang udah siap letak di depan, biar kita makan siang sama-sama di depan." ucap mama yang otomatis membuatku bergerak tanpa membantah.


Rumahku emang tidak besar. Kami tidak memiliki meja makan, jadi tiap kali ingin makan bersama kami akan makan dengan lesehan di lantai yang beralaskan karpet. Dandi datang membantu, tentu dia harus membantu, jika dia tidak membantu aku dengan tidak sopannya akan menyuruh dia membantuku. Untuk seorang teman itu bukan hal yang bermasalah.


Ayah datang dengan Dila-adik perempuanku yang mengekor di belakang sambil membawa penuh plastik belanjaan. Dandi menghampiri ayah untuk bersalaman, lalu duduk di atas karpet yang telah terbentang. Diam-diam aku mengulum senyum melihat betapa santainya cowok itu menghadapi ayah.


Aku kembali ke dapur untuk membantu mama lalu kembali membawa makanan dan dibantu Dila membawa minuman. Dapat ku lihat ayah dan Dandi mengobrol santai menonton berita tentang permasalahan korupsi.


"Ayo makan dulu." kata mama ikut duduk di karpet.


***

__ADS_1


Selesai makan ayah mulai mengobrol dengan Dandi tentang kepergian kami nanti malam ke Padang.  Aku hanya duduk sambil menonton televisi dan sesekali ikut gabung dalam obrolan ketika ayah bertanya. Ayah menatap sekali lagi ke arahku dan Dandi, lalu menarik sudut bibir melengkungkan senyum.


"Jadi nanti malam perginya?" tanya ayah memastikan sekali lagi.


"Iya, yah. "jawabku dengan senyum.


"Kamu udah siap-siap?" tanya ayah yang langsung kuangguki dengan semangat.


"Semangat banget sih. Ya sudah boleh pergi, tapi kamu jangan pecicilan ya. Ayah bakal bolak-balik telpon kamu di sana." kata ayah dengan tatapan tajam.


"Oke, enggak masalah."


Dandi emang punya mulut manis yang bisa membuat orang-orang terbuai dengan ucapannya.  Hampir aku pikir dia akan gagal meminta izin ayah tapi ternyata, ayah juga luluh dengan ucapannya. Ku rasa hanya aku yang tidak mudah terbuai dengan ucapan dari mulut manisnya.


Sambil menunggu malam Dandi pamit untuk pergi kembali ke kafe dan akan datang lagi jam 9 malam untuk menjemputku. Kami tidak hanya pergi berdua, ada delapan orang yang akan pergi dan kami menggunakan dua mobil. Tidak semua aku kenal, paling hanya Rizka, Bayu dan juga Fina, dua cewek dan satu cowok lagi teman Dandi aku hanya tahu nama saja yaitu, Sri, Risma dan Bima. Fina sering pergi dengan Dandi dan kami sering kumpul di kafe kalau malam minggu. Dari yang aku tahu Sri itu pacar barunya Bayu, sedangkan Risma adiknya Bima yang merupakan teman Rizka dan Dandi.


***


Di Danau Toba kami berhenti sejenak untuk melihat pemandangan malam dari danau terbesar ini. Lampu-lampu dari rumah rakyat membuat danau ini tampak seperti dikelilingi bintang yang berkilau. Tidak mau menyia-nyiakannya aku mengeluarkan kamera yang ku beli dari hasil menulis buku. Sungguh, kamu harus datang kemari dan saksikan sendiri bagaimana indahnya langit malam di Danau Toba.


Bukan hanya aku saja yang sibuk membidik kamera di sini, mereka melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Udaranya sangat dingin, bahkan meski Dandi sudah mengalungkan syal yang dia beli di Brastagi ke leherku, hawa dingin masih terasa menusuk.


"Mau ku foto?" tanya Dandi mengarahkan kameranya padaku.


"No, thanks." tolakku tersenyum padanya.

__ADS_1


Bukan Dandi namanya jika tidak menyebalkan. Meski sudah ku katakan tidak dia tetap mengambil fotoku. Menyebalkan emang manusia satu ini.


Setelah menghabiskan beberapa puluh menit di Danau Toba kami pergi melanjutkan perjalanan,  kali ini Dandi yang mengendarai mobil dan Bayu yang tidur. Ya, aku satu mobil dengan Dandi, Bayu dan pacarnya-Sri.


Karena permintaan Bayu aku terpaksa pindah ke depan. Aku menyandarkan kepala pada jendela. Tidak ngantuk sebenarnya, hanya memejamkan mata saja. Merasa bosan aku mengambil gawai dan mencoba melihat-lihat akun sosial media.


"Tidur, masih lama perjalanannya!" ucap Dandi tanpa mengalihkan pandangan.


“ Kalo aku tinggal tidur enggak apa?" tanyaku menatapnya.


"Enggak apa. Asal jangan ditinggal pergi."  ucapnya terkekeh yang disusul sama Bayu dan Sri. Mengabaikan ucapannya aku memilih bersandar di jendela sambil memejamkan mata.


***


Kami sampai jam 8 malam di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Meleset dari waktu perkiraan, ini karena kami harus beberapa kali berhenti untuk istirahat. Ini benar-benar melelahkan, capek banget tapi seru.


Dandi menghampiriku yang tengah duduk di warung makan yang ada di dekat Jam Gadang. Kami menginap di salah satu penginapan dekat sini. Dan sekarang sedang menikmati makan malam.


"Capek?" tanya Dandi memberiku botol minuman dingin.


"Banget. " kataku meneguk minuman sampai setengah.


"Besok pagi kita keliling Bukit Tinggi, lalu trip lagi." jelasnya.


Aku tak menjawab karena Dandi sudah mengatakan  hal itu berkaki-kali sejak tadi.  Sate padang pesanan kami datang. Sebenarnya di Medan juga ada sate padang, aku juga sering memakannya, tapi rasanya akan beda jika kita makan disini. 

__ADS_1


Selesai makan kami langsung pergi ke penginapan. Ayah benar-benar melakukan apa yang dikatakan beliau kemarin siang. Ayah terus menelponku dan Dandi bergantian, sedikit menyebalkan sebenarnya karena ayah membuatku terkesan seperti anak yang manja.


__ADS_2