Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 4


__ADS_3

Tak banyak yang bisa ku lakukan. Setelah hari itu aku tak lagi tertarik untuk tersenyum. Seperti mati rasa, mungkin karena masih di rundung duka. Ini seminggu setelah aku mendekam di dalam rumah.


Banyak pertanyaan berkeliaran di atas kepala tanpa ada yang terjawab. Amara-temanku saat SMA datang mengunjungiku saat ku beritahu Naufal meninggal. Bersamanya ku habiskan waktu menceritakan perasaanku yang terluka. Amara tidak mengenal Naufal, dia hanya tahu nama dan wajah melalui ponsel saat kutunjukkan. 


Aku tidak berniat menceritakan sedihku pada Dandi. Selama ke rumah Dandi juga tidak pernah bertanya, dia hanya diam dan banyak mengobrol dengan mama. Aku merasa bersalah karena mengabaikannya dan lebih memilih diam menangis di kamar.


Dandi datang mengajakku jalan-jalan. Meski sempat menolak akhirnya aku pergi juga bersama dengannya menuju kafe live musik milik temannya. Aku tersenyum menyapa balik teman-temannya yang ku kenal.


"Pernah dengar aku nyanyi nggak?" tanya Dandi dengan senyum manisnya.


"Emang pande nyanyi?" tanyaku mengejek. Entah kenapa saat dengannya aku selalu mudah berbicara.


"Lihat aja nanti. " Dandi pergi meninggalkanku. Di depan sana dia berdiri mengambil gitar yang memang sudah ada.


"Selamat malam semuanya. " sapanya memberikan senyum manis yang selalu dia pamerkan ke cewek-cewek. Serempak para pengunjung menjawab sapaannya dengan mengucapkan  "malam".


"Aku pengen nyanyi untuk cewek yang lagi sedih di sana karena orang yang dia sayang telah pergi. Tenang, ada aku di sini kok." ucapnya mengerling nakal. Aku menarik sedikit sudut bibirku tersenyum manis. Lagu apa yang kira-kira akan dia nyanyikan? Entahlah, untuk apa menerka, sebentar lagi juga dia akan bersuara.


Suara petikan gitar pertama dia masih memamerkan senyum manis miliknya. Lalu setelahnya dia memejamkan mata dan membuat aku terdiam kaku di sana.


Aku tahu lagu siapa ini. Salah satu grupband favoriteku. Kangen Band dengan judul Tentang Jen.


 


Ceritakan tentang seorang wanita


Yang ditinggalkan kekasihnya


Dan dia menangis dalam pelukanku


Ku sadar dia bukan milikku


Dia bercerita tentang kekasihnya


Yang telah pergi meninggalkannya

__ADS_1


Dia bercerita tentang kekasihnya


Yang telah pergi menutup mata


Kekasihnya telah pergi meninggalkan dia


Tinggal deraian air mata


Sesungguhnya ku tak rela melihatnya terluka


Jadikan aku penggantinya                    


Aku terdiam menatap bola mata coklat miliknya yang tengah menatapku juga. Sorot mata itu seolah tulus menggambarkan perasaan sesungguhnya. Tidak. Aku tidak bisa menerka-nerka tentang arti sorot matanya.


Itu hanya lirik lagu, aku tidak boleh membawa perasaan. Dia hanya sedang menghiburku. Ya, dia hanya sedang menghibur. Merasa konyol jika dia memiliki perasaan padaku. Cewek-cewek yang sering diajaknya jalan banyak yang lebih cantik jika dibandingkan dengan aku.


Tak ada yang istimewa denganku. Tidak cantik dan menarik. Hidup penuh aturan yang membosankan.


Dandi kembali duduk di sampingku selesai membawakan satu lagu itu. Aku tersenyum menanggapinya dan bersikap biasa saja. Tidak, maksudku adalah berpura-pura bersikap biasa saja. Air mata sudah sempat menetes sejak dia masih bernyanyi.


"Ternyata suaramu enak juga ya. Baru kali ini dengar suaramu nyanyi."ucapku yang disambutnya dengan usapan di kepala.


"Yang penting bukan suaranya, tapi makna lagunya." jelasnya menyeruput jus jeruk yang baru saja di antar.


"Aku pengin dengar ceritamu sebenarnya, aku pengin bertanya banyak hal padamu, tapi sepertinya kamu emang enggak mau cerita ya?" aku mengulum senyum. Mengalihkan pandangan ke depan. Menatap seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang sedang bernyanyi di depan.


Aku masih diam tak menjawab. Aku emang tidak ingin membagi cerita ini pada siapapun kecuali pada Amara.


"Tapi enggak masalah kalo emang enggak mau cerita. Hanya saja aku benar-benar enggak suka saat kamu nangis berhari-hari dan mendekam di kamar hanya karena kepergiannya. Setiap manusiakan akan pergi. Kalo aku yang ada di posisinya kamu nangis enggak?" tanyanya menarik sebelah alis mata. Aku menatapnya tak suka. Tidak suka dengan yang dia katakan terakhir kali.


"Ngomong apa sih?" ucapku ketus.  Dandi mengeluarkan tawa yang amat sinis.


"Pulang aja deh kita sekarang. " sambungku.


"Ya udah, ayo pulang." aku kaget saat dia mengatakannya. Dia melakukan apa yang aku katakan. Aku tidak bersungguh-sungguh melakukan itu, aku pikir dia tetap akan bicara seperti biasa tanpa menghiraukan apa yang aku katakan.

__ADS_1


Dandi bangkit berdiri meninggalkan ku yang masih terdiam. Dia bahkan tidak berbalik lebih dulu menatapku atau apa. Apa dia marah?  Apa aku salah bicara?


Dan benar, sepertinya dia marah. Dia mengabaikanku selama perjalanan mau ke rumah. Tak ada candaan khas miliknya yang membuat kesal tapi tetap menarik senyum.


Aku benci merasa bersalah. Tapi biarlah, ku rasa aku tidak benar-benar bersalah. Kami berhenti membeli martabak bangka yang saat ini lagi trend  di Medan. Dia tak menjawab saat ku tanya beli untuk siapa. Karena sesampai di rumah aku mengerti dia membelinya untuk mama dan ayah.


Ku pikir dia akan langsung pulang setelah mengantar ku pulang, ternyata dia duduk bercerita sama ayah dan mama. Dilla-adik perempuan ku sibuk mencomot martabak sambil menatap acara komedi yang ada di televisi.


Aku ikut duduk di sana dan sesekali tersenyum menyaksikan pertunjukan yang justru membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak. Apa selera humor ku sebegitu parah? Atau mereka yang terlalu receh hingga tertawa sedemikian rupa?


Justru melihat mereka tertawa membuat perutku tergelitik. Wajah mereka lucu saat tertawa. Wajah serius ayah benar-benar berubah parah saat tertawa, entah ke mana hilangnya wajah tegas ayah.


Mama dan Dilla juga serupa. Dilla bahkan sampai terbatuk saat tertawa dengan mulut  yang masih berisi martabak. Jangan tanyakan Dandi, dia tertawa sambil memukul lengannya sendiri dan terkadang menepuk-nepuk lantai.


Aku tidak yakin, tapi tawanya itu terlihat aneh. Ah, lagi-lagi aku menerka tentang sesuatu. Sudahlah, aku tak mau terus menerka, ini bisa saja salah, tapi tak menutup kemungkinan benar juga.


Aku tak berani menyukai Dandi, bukan apa-apa, Dandi terbiasa dengan banyak wanita, jika memiliki hubungan yang serius dengannya aku pasti sibuk di rundung tak percaya, sedangkan dalam hubungan kuncinya adalah saling percaya, lalu apa jadinya jika hubungan selalu dipenuhi curiga? Pasti tak akan dapat berjalan lancar dan lama. Tapi jika tuhan berkehendak, aku bisa apa selain menerima?


"Kenapa lihat aku sebegitunya? Baru tahu kalau aku tampan?" ayah tersedak mendengar Dandi bertanya begitu padaku. Ibu mengulurkan minum.


"Pelan-pelan, om. Awas tersedak!"


"Sudah."


"Sudah malam. Aku mau balik dulu, jangan sedih lagi!" Dandi mengacak kerudungku tanpa peduli ayah yang memperhatikan kami. Ku pukul tangannya agar berhenti tapi sedetik kemudian dia malah tertawa.


"Om, bu, Dandi pulang dulu ya."


Aku mengantarnya ke depan. Motornya menyala, sebelum memakai helm dia berujar "Jangan sedih lagi! Setelah ini cuci gigi sikat kaki lalu tidur."


"Terbalik!"


"Sengaja. Jangan lupa baca doa sebelum tidur!"


"Iya. Nanti kabari kalau sampai rumah."

__ADS_1


"Oke. Aku pulang dulu ya."


"Jangan ngebut bawa motornya!"


__ADS_2