
Makan malam terasa hambar. Fathan diam dengan gawai, Keisya diam menikmati makanan. Menit-menit berlalu dengan percuma. Aku masih menikmati keterkejutan atas pertemuanku dengan Dandi di rumah sakit siang tadi. Selesai mengantar Keisya sekolah aku memutuskan untuk ke rumah sakit. Kemarin adalah ketiga kalinya aku mimisan dalam dua pekan. Jadi kuputuskan untuk cek kesehatan hari ini dan tidak menyangka akan bertemu Dandi di sana.
“Jadi, kamu sakit apa?” Fathan meletakan ponselnya dan tersenyum menatapku. Keisya menunggu dengan penuh tanya yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Menarik senyum aku menjawab.
“Belum tahu, besok hasil labnya keluar.”
“Lalu, apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Ada. Jawabku dalam hati. Pertemuan dengan Dandi tadi siang sangat menggangguku.
“Sejak kapan di Jakarta?”tanyaku.
“Dua minggu lalu. Cafe Coco Bakery sudah ada di lima kota sekarang. Medan, Aceh, Padang, Palembang, Jakarta dan aku lagi urus izin bangunan buat buka di Bandung. Besok ada pameran seni di kafe, kamu mau datang?”
“Selamat, ya! Besok? Kalau sempat aku datang.”
“Aku harap kamu mau datang.”
“Besok aku akan pergi dan enggak pulang ke sini. Temanku melakukan pameran seni jadi aku akan datang.” Kening Fathan berkerut.
“Di mana?”
“Aku enggak tahu, besok dia jemput.”
“Siapa?”
“Dandi.”
“Laki-laki?” Fathan orang yang cemburuan, dia enggak pernah suka aku dekat dengan laki-laki. Dia mengutarakannya langsung hari itu ketika menemuiku sedang makan siang dengan rekan kerjaku yang laki-laki.
“Ya, dia sudah punya istri dan anak kembar. Aku harap kenyataan bahwa dia sudah punya buntut tidak membuatmu cemburu.”
“Kalau aku ikut seharusnya enggak ada masalah.” Aku tahu Fathan akan mengatakan ini. Keisya sudah menghabiskan makan malamnya. “Kei, mami dan papi akan mengobrol. Boleh Kei ke kamar lebih dulu dengan Mbak Uti?” tanpa menjawab Keisya pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Aku menatap Fathan yang sedang mengupas jeruk.
“Han, aku benci mengatakan ini berkali-kali. Aku tidak suka dikekang, aku bukan merpati, aku berjiwa bebas. Dengan kamu ikut ke mana aku pergi itu artinya kamu merebut kebebasanku dan kamu enggak percaya sama aku.”
“Aku Cuma mau tahu teman kamu. Aku Cuma mau kamu kenalkan ke teman kamu sebagaimana aku memperkenalkan kamu ke temanku.”
“Han, kamu tahu aku enggak berniat berkomitmen. Hubungan kita hanya sebatas berteman enggak lebih. Aku menyayangi Keisya tapi bukan berarti kita akan menjalin hubungan yang serius. Aku sudah bilang ke kamu untuk cari perempuan yang akan menjadi ibu Keisya.”
“Tiga tahun apa enggak cukup buat kamu mau sama aku?”
“Han, bahkan sepuluh tahun belum tentu cukup.” Fathan bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga meninggalkanku.
***
Pagi setelah Keisya sekolah aku mengambil semua barangku dan membawanya pergi menuju penginapan yang telah aku pesan. Fathan mendiamkanku dan aku pikir memang seharusnya begitu. Aku merasa kejadian lalu terulang ketika bersama Dandi dulu. Aku enggak yakin akan bertemu lagi dengan Keisya setelah ini.
Setelah mengantar semua barangku ke penginapan aku pergi ke alamat yang dikirimkan Dandi kemarin. Saras menyambutku di meja pemesanan. Sekarang dia tumbuh jadi gadis cantik. Dandi memindahkannya ke Jakarta karena Saras diterima kuliah di kampus negeri yang ada di ibu kota.
__ADS_1
“Saras enggak sangka akan ketemu mbak di sini. Saras rindu banget!” peluknya dan menangis. “Jahat banget! Pergi enggak bilang-bilang.”
“Maaf!”
“Saras pikir mbak akan menikah dengan bang Dandi. Dandi dan Dea, sudah cocok banget sama-sama huruf D.”
Aku tersenyum mengusap kepalanya. “Tapi Della juga huruf D, mereka cocok jugakan.”
“Eh, kok Saras baru sadar? Iya juga ya. Mbak sudah lihat si kembar?” aku menggeleng karena memang belum pernah melihat anaknya Dandi yang katanya lucu.
“Aduh, gemes banget deh, mbak. Bang Dandi lagi ke bandara buat jemput mbak Della dan anaknya. Nanti kita lihat gimana gemesinnya si kembar. Mbak mau makan apa?”
“Seperti dulu aja.”
“Oke, tunggu ya mbak!”
Aku tidak yakin siap bertemu dengan Della mengingat bagaimana percakapan kami berakhir. Ah, mungkin dia akan kaget nanti. Dia membenciku seolah aku akan merebut Dandi darinya.
Masih jam empat sore dan acara baru akan dimulai jam 8. Aku meminta izin untuk naik ke lantai dua yang menjadi tempat pameran. Sudah ditata dengan apik. Ada beberapa orang yang tengah mengecek ulang untuk memastikan semua sudah siap sempurna.
“Sudah siap?” tanya Dandi pada dua orang yang tadi memeriksa ruangan. Menatap satu lukisan aku membiarkan Dandi berbicara dengan rekannya sampai aku tidak lagi mendenggar suara apapun dan menemukan Dandi menatapku dengan senyum.
“Kamu datang lebih cepat dari perkiraanku.” Dandi berjalan menatap lukisan yang tadi kutatap. “Terima kasih hadiah lima tahun yang lalu.” Aku mengeryit bingung.
“Maksudnya?”
“Sulamanmu.”
“Dila memberikannya sebagai kado pernikahanku.” Aku diam mendengarkan. Suara sepatu yang beradu membekukanku. Derap langkah Della bersama suara anak kecil.
“Ayah!” teriak kedua putri dan Dandi.
“Hai! Kenali, ini tante Dea, teman ayah. Beri salam dengan tante.”
Aku tersenyum mengecup kening kedua putri kembar Dandi selesai mereka menyalamku. Keduanya menjiplak wajah Dandi dan Della. Aku tersenyum mengulurkan tangan pada Della. Meski enggan dia tetap tersenyum membalas uluran tanganku.
Malam itu pameran lukisan Dandi ramai dengan pengunjung. Kembar bersama pengasuhnya, aku berdiri dengan segelas jus jeruk menatap lukisan mata dalam kelopak mawar hitam yang gugur dan Della datang menemani.
“Aku percaya diri saat melangkahkan kaki pergi ke bandara. Lebih percaya diri saat Saras mengabarkan pada Dandi dan Dandi mengatakan dia senang teman lamanya datang melihat pameran. Bertanya-tanya siapa teman yang datang sehingga membuat Dandi merasa begitu bahagia dan langsung menceritakannya tanpa kuminta. Dandi meninggalkanku untuk langsung menemui teman yang katanya sudah naik ke lantai dua. Kejutan! Dea Amanda datang, ternyata kamu masih sespesial itu ya.” Aku menarik sudut bibir menatap Della.
“Aku pikir, dibanding berdiri menemaniku di sini, kamu akan lebih memilih berdiri di samping Dandi agar dia memperkenalkan pada orang-orang kalau kamu adalah istrinya.”
“Kenapa kamu datang lagi?”
“Yang pasti karena takdir tuhan.”
“Apa kamu sebegitu tidak laku sampai kamu tidak juga menikah?” aku hampir saja tersedak minum jika tidak cepat menguasai tenggorokan. Sial, pertanyaan macam apa itu?
“Terlalu banyak yang menginginkanku sampai aku bingung harus memilih yang mana. Dan kuharap kamu tetap cemas seperti ini saat tahu aku kembali tinggal di Medan.” Ujarku melangkah meninggalkannya.
__ADS_1
Pamit dengan Dandi aku pergi meninggalkan kafe dan kembali ke penginapan. Aku enggak habis pikir dengan perempuan itu. Apa yang harus dia cemburui dariku. Jelas-jelas aku tidak tertarik oleh Dandi. Dandi sudah punya anak, yang benar saja dia masih takut Dandi meninggalkannya.
“Maaf, boleh saya pinjam telpon kamu?” aku menoleh pada laki-laki yang berdiri di sampingku saat lift membawaku pada lantai 6.
“Handphone saya hilang, saya perlu menghubungi seseorang.” Aku masih diam sampai dia memberikan kartu namanya. Kuulurkan gawai padanya, menarik satu sudut bibir dia menekan beberapa digit sebelum menempelkan benda pipih tersebut ke telinga.
Sambungan telpon tidak terjawab. Dia mengetik mengirim pesan dan kemudian mengembalikannya padaku tepat saat lift berhenti di lantai 6.
“Terima kasih.” Ucapnya tanpa kujawab.
***
Cuaca berubah mendung saat aku akan pergi kembali ke Bandung. Dering telepon dari Fathan masih terus kuabaikan. Mengambil tas dan ponsel aku pergi ke lantai dasar mencari coffee shop terdekat.
Fathan berdiri dengan tangan menempelkan gawai di telinga. Tatapannya dingin dan tajam. Berjalan menghampiriku yang baru saja melangkah keluar dari lift. Dari mana dia tahu aku di sini?
Tanpa bicara tangannya menarikku keluar menuju mobilnya yang terparkir. Menghempaskan begitu saja saat kami sudah berdiri di depan mobil. “Masuk!” perintahnya.
“Kita akan ke mana?”
“Masuk, De!”
“Tidak akan sebelum kamu kasih tahu kita akan ke mana.” Bukannya menjawab Fathan justru memutar badan menarik pintu dan mendorongku masuk.
“Han, kita akan ke mana?”
“ke kantor urusan agama.”
“Gila! Han, jangan bercanda!”
Mobil melaju membelah jalanan yang kini sudah basah disiram hujan. Kebisuan mengisi kotak berjalan ini sampai mobilnya benar berhenti di- aku tidak tahu ini di mana tapi bangunan isi berisi meja, kursi, bunga dan rak buku.
“Turun!” aku mengikuti Fathan yang masuk dan duduk di satu-satunya sofa di sudut ruangan.
“Han!”
“Duduklah! Tunggu, di belakang rak buku itu ada kulkas kecil, ambilkan minuman untuk kita.”
Aku meletakan dua botol minum kemasan dan duduk di sampingnya.
“Mama memasang penyadap di rumah. Mama tahu kamu tidak ingin menikah denganku.” Fathan menatapku yang tidak dapat menyembunyikan keterkejutan.
“Mama menjodohkanku dengan anak temannya. Kami sudah sering bertemu saat kamu di Bandung, Keisya juga sudah sering bertemu dengannya selama setahun ini. Mama tahu kamu tidak akan mau menikah denganku karena itu setahun yang lalu mama mulai menjodohkanku dengan anak temannya.”
“Dan kamu setuju?”
Fathan menunduk “Aku coba buat komunikasi dengannya. Belum menolak ataupun setuju. Tapi kemarin saat mama tahu kamu menolak esoknya mama menelpon.”
“Mama bilang apa?”
__ADS_1
“Sabtu pertunanganku.”