
Hari-hari ku isi dengan menulis. Sesekali pergi ke cafe agar tak terlalu jenuh karena terus mendekam dalam kamar. Dandi sibuk mengurusi lukisannya yang akan segera dipamerkan tidak sampai dua bulan lagi.
Hari ini aku telah menyelesaikan tulisanku tiga hari sebelum deadline. Perkataan Tasya waktu itu membuatku penasaran dan ingin segera pergi ke Jogja. Setelah semua urusanku selesai aku akan segera pergi menemuinya di Jakarta.
Dandi datang menghampiriku yang sedang memainkan ponsel untuk menunggu Editor yang akan menangani tulisanku.
"Serius banget sama ponselnya." ucap Dandi yang membuat aku mendongak dan tersenyum.
"Dan,"
"Hem, kenapa?"
"Aku mau cerita ini,"
"Jangan, jangan sampe enggak jadi. "
Aku mendelik tak suka. "Serius.!"
"Apaan?"
"Aku mau ke Jogja tiga hari lagi." Dandi mengerutkan kening bingung. Alisnya terangkat sebelah.
"Oh, ngapain?"
"Mencari cinta sejati." kataku bercanda.
"Enggak usah dicari, udah ada di depan mata kok. Aku kan cinta sejati mu." ucapnya menarik turunkan alis dengan senyum.
"Hahahah, enggak terayu dengan gombalan mu."
Mendengarnya bicara begitu jadi teringat ucapannya minggu lalu. Anak gila itu menertawakan ekspresi kagetku. Bisa-bisanya dia bercanda soal begituan. Dengan kekesalan tubuhnya kupukul sampai tanganku sendiri memerah dan kesakitan.
"Sekarang bisa bilang gitu, De. Liat nanti, jangan sampe nyesel ya kalo aku enggak di samping mu lagi." ucapnya dengan senyum miring.
__ADS_1
"Emang kalo aku sampe nyesel kenapa?" tanyaku menantang. Dandi masih memasang senyum miringnya. Wajahnya terlihat serius menatapku bicara.
"Kalau sampai kamu nyesal, aku bakalan tinggalin kekasihku demi kamu. "
Aku terdiam mendengar jawabnya. Mungkin kaget karena tak menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulutnya. Tidak bertahan lama menarik senyum aku menjawab " Kenapa gitu?"
"Supaya kamu tau aja kalo aku benar-benar sayang sama kamu."
Deg, perasaan apa ini? Kenapa jantungku memompa dengan lebih cepat? Menarik senyum disertai tawa aku menjawab "Kambing, candaan mu kayak orang beneran aja. Jangan bercanda ya dengan perasaan!" Dandi tertawa.
"Kalau ku bilang tadi itu serius pasti enggak percaya. Terserah kamu aja menilainya, nanti jangan sampe nyesal ya, aku bakalan jadi orang paling jahat kalo sampe ninggalin orang hanya demi cewek enggak peka kayak kamu." Wajahnya berubah serius dan lima detik kemudian kembali tertawa.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum-senyum saja. Lalu saat editorku datang Dandi bangkit pergi menuju ruangannya.
Aku sudah sibuk membahas naskah yang akan terbit ini. Aku juga sudah menjelaskan bahwa aku harus pergi selama seminggu lebih ke Jogja pada sang editor. Aku memintanya untuk memberitahu melalui email jika ada hal mendesak.
Setelah menyelesaikan semuanya aku pergi ke Plaza Medan Fair untuk mencari beberapa keperluan selama di Jogja. Aku tidak tahu pasti apa yang akan ku lakukan disana, tapi aku rasa aku perlu membeli beberapa keperluan.
***
Jadi ini rasanya ketika ucapan kita tidak didengar oleh orang lain? Menyebalkan, kesal banget rasanya dia menganggapku hanya bercanda.
Menciumi pipi mama dan ayah aku pergi meninggalkan mereka. Dilla sibuk meneriakkan jangan lupa bawa oleh-oleh. Adikku itu, nasib kakaknya saja belum jelas di sana, akan sedih atau bahagia, dia malah memikirkan oleh-oleh.
Perjalanan dari Medan-Jakarta hanya memerlukan waktu dua jam. Aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa novel di gawai. Waktu dua jam bukan apa-apa ketika aku membaca, itu waktu yang teramat singkat untukku.
Lalu saat sampai di Bandara Soekarno Hatta Tasya sudah berdiri menunggu ke datanganku. Dia tidak sendirian. Ada seorang wanita paruh baya yang ku kenal sebagai Mama Naufal yang juga merupakan Mama Tasya.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan memeluk menyambut ke datanganku. Aku merasa senang karena selalu diperlakukan baik sama Mama Naufal.
"Bagaimana perjalanan mu? Lancar?" tanya beliau dengan senyum dan mengusap lembut kepalaku.
"Alhamdulillah, Bu." di Medan kami biasa memanggil orang lebih tua dengan sebutan Uwak, Bu, bukan Tante atau semacamnya. Jadi meski pergi ke luar dari Medan, aku tidak bisa langsung mengubah gaya bicaraku dan juga bahasa yang ku gunakan.
__ADS_1
Kami berbincang-bincang ringan mengenai perkembangan ibu kota Indonesia ini. Beliau sangat ramah, tidak henti mengajakku bercerita agar merasa nyaman dan tak terasingkan.
Tasya tidak terlalu tertarik berbicara, dia benar sama persis seperti Naufal.
Kami pergi ke kediaman keluarga Naufal. Banyak sanak saudaranya di sana. Mereka juga menceritakan tentang akan pindah ke Kalimantan seperti yang pernah dikatakan Tasya sewaktu di Medan.
Lalu menjelang malam aku dan Tasya pamit pergi untuk ke Jogja melakukan perjalanan. Perjalanan Jakarta-Jogja membutuhkan waktu yang lama. Kami sampai shubu di stasius kereta .
Selesai menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim kami pergi menuju Malioboro. Beruntung aku tak pernah membawa koper saat travel, ini memudahkan ku untuk melakukan perjalanan dengan gerak cepat.
Tas ransel tersampir indah di punggung. Kami duduk di bangku-bangku yang disediakan di sana. Tasya memberikan botol minuman yang baru dia beli.
Kami Pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Jogja. Salah satunya Candi Prambanan. Lelah dan letih tidak perlu ditanyakan lagi. Menaiki anak-anak tangga yang aku sendiri tak berniat menghitungnya sangkin banyaknya.
Tapi kamu tidak akan menyesal karena pemandangannya sangat menakjubkan. Ini sudah sore saat kami ke sini. Cahaya jingga dan semilir angin menyapa.
Aku menunggu Tasya untuk bercerita, tapi gadis cantik berkerudung hijau itu masih tidak kunjung menceritakan segalanya.
***
Pagi ini kami kembali melakukan perjalanan, Tasya mengajakku pergi ke Pantai dan beberapa taman yang dipenuhi bunga-bunga yang dapat memanjakan mata. Sampai sekarang pun Tasya masih enggan untuk bercerita.
Hingga malam tiba kami pergi ke salah satu bukit yang ada di Bantul. Pemandangan indah dan tempat-tempat bagus yang dikenalkan Tasya ku abadikan dalam kamera polaroid yang ku beli dari hasil cetak ulang novel pertamaku.
Tasya memberiku teh hangat untuk mengusir dingin yang menusuk tulang.
Padanganku lurus menatap cahaya lampu dari rumah warga yang tampak seperti bintang mengkilap jika dilihat dari atas ini.
Cantik bukan main.
"Mbak." panggil Tasya di tengah keterpesonaanku dari pandangan yang terlihat indah dari atas bukit.
"Ya?"
__ADS_1
"Mas Naufal tidak meninggal karena kanker lambung. Mas meninggal karena AIDS"
Deg. Ku rasakan jantungku berdebar sekali lagi dengan ritme yang tidak biasa. Ada rasa ngilu yang menjalar ke hati. Kenapa dunia selalu punya kejutan seistimewa ini? Setelah diterbangkan selalu ada cara untuk menjatuhkan. Jadi benar ya kalau setiap yang ada di dunia ini selalu berpasang-pasangan. Saat bahagia akan ada sedih. Saat duka akan ada suka. Saat hilang ada ganti. Saat pergi ada pulang. Saat jatuh ada bangkit.