Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 10


__ADS_3

 5 tahun kemudian


Aku tersenyum menatap foto Dila memegang buket dan toga menghias surai yang tertutup kerudung biru. Resmi sudah adik nakalku itu mendapat gelar sarjananya  sebagai lulusan sastra Prancis. Raut bahagia tercetak jelas di wajah ayah dan ibu.


Aku sangat ingin pulang tapi minggu depan adalah giliran aku yang wisuda. Wisuda? Ya, setelah dua tahun tinggal di Bandung aku memutuskan untuk lanjut pendidikan. Minggu depan aku resmi menyandang gelar magister humaniora.


Lima tahun yang lalu aku mendaftar pekerjaan sebagai editor dan kurang dari setahun bekerja aku memutuskan berhenti dan mendaftar sebagai penerjemah. Semasa SMA dulu aku dan Amara pernah ikut kursus tiga bahasa asing. Ditawari oleh rekan kerja untuk menjadi penerjemah membuat aku harus berhenti sebagai editor. Dari gaji sebagai penerjemah aku membantu ayah kuliahkan Dila juga buka usaha warung makan. Dari warung makan dan gaji aku memutuskan untuk lanjut pendidikan.


Sekarang aku sudah punya satu cafe baca setelah empat tahun menjadi penerjemah. Gelar magister ini mungkin akan ku gunakan untuk mendaftar sebagai seorang dosen. Mungkin juga tetap menjadi seorang penerjemah.


“Mbak mau tambah minumnya?” Bintang-mahasiswa lulusan ekonomi yang kutemui di kereta dalam perjalanan menuju Surabaya. Kedekatan kami dimulai sejak dia meminjamkan jaketnya karena bajuku terkena tumpuhan air. Dari pertanyaan dia akan ke mana percakapan kami sampai pada ditolaknya dia dari lamaran kerja. Aku mencoba membalas kebaikannya dengan menawarkan pekerjaan untuk mengelola warung makan kecil yang ku punya dulu. Siapa yang sangka sekarang warung kecil itu menjadi kafe baca yang dikunjungi banyak muda-mudi sampai yang tua.


“Oh, enggak. Mbak akan pergi sebentar lagi. Besok dan seminggu yang akan datang mbak enggak ke kafe, jadi kalau ada yang mau dilaporkan kamu kontak mbak aja ya!”


“Mbak ada dinas di luar kota?”


“Enggak, mbak mau ke Jakarta nanti malam jumpai teman lama. Kamu jangan lupa datang ke acara wisuda mbak minggu depan!”


“Iya, mbak.”


“Kabari ke yang lainnya. Kalau sampai enggak datang, mbak potong gaji. Dilarang bawa kado, oke? Sampai ada yang bawa kado, mbak juga potong gaji kalian.”


“Tolong ya, kita mau foto, ya kali nanti mbak harus pegang kado dari kalian. Enggak mau, pokoknya enggak ada yang boleh bawa hadiah!”


“Oke, nanti Bintang kabari lagi ke yang lain.”


 


***


Jakarta-Bandung atau sebaliknya sudah jadi rutinitas dalam tiap bulan untuk aku kunjungi. Selain alasan pekerjaan, ada gadis kecil yang menanti kedatanganku. Kali ini keduanya bukan menjadi alasan kedatangan ku. Amara baru kembali dari Jerman setelah menyelesaikan kuliahnya. Setelah lima tahun ini adalah kali pertama kami bertemu lagi.

__ADS_1


Tanganku melambai padanya yang tengah duduk menatap kedatangan dari pintu cafe. Tiga tahun yang lalu Amara menikah dan sekarang anak laki-laki lucu berada pada pangkuannya. Seorang pria muslim Tionghoa yang menjadi seniornya berhasil menikahi Amara setelah bertahun-tahun menjalin hubungan jarak jauh.


“Jadi, kapan kamu akan nyusul aku? Si Dandi juga udah bayi kembar kudengar. Enggak pernah ngobrol lagi dengannya?”


“Empat tahun yang lalu terakhir ngobrol.”


Empat tahun lalu menjadi percakapan kami yang terakhir dan setelahnya aku memilih menjauh. Tidak-tidak, lebih tepatnya dipaksa menjauh. Aku bukan orang yang suka mengakhiri hubungan. Kedekatanku dan Dandi membuat hadir kecemasan dan cemburu pada Della yang telah menjadi istrinya.


“Kamu mungkin menganggap suami saya sebagai teman, tapi suami saya tidak. Dia pernah mencintaimu dan saya yakin sebenarnya kamu juga pernah mencintainya. Saya terang-terangan mengatakan kalau saya takut Dandi akan meninggalkan saya demi kamu. Saya cemburu saat Dandi begitu perhatian denganmu dan dengan saya dia terlalu abai.


Kamu seorang wanita, dan seorang penulis, kamu tahu pasti gimana sakitnya jika dilakukan seperti ini. Tolong, sebagai seorang istri aku meminta kamu untuk menjauh dari suami saya karena suami saya enggak akan mungkin menjauhimu, jadi biarkan kamu yang mengalah untuk menjauh. Aku yakin, cinta datang karena terbiasa, biarkan Dandi terbiasa denganku dan pergilah darinya. Aku memohon dengan sangat.”


Sejak Della memintaku untuk pergi dari Dandi aku mulai menjauhi Dandi pelan-pelan agar tidak terasa aneh. Aku sibuk dengan kerjaan dan sering mengabaikan pesannya. Lama aku terbiasa tidak membalas pesannya dan puncak kami tidak lagi berkomunikasi ketika  aku kehilangan gawai. Tidak seorangpun tahu hal ini, biar jadi rahasiaku, tuhan, malaikat dan Della.


“Kenapa?”


“Sejak gawaiku hilang aku enggak lagi simpan kontak dia.”


“Terus, gimana hubungan kamu dengan Fathan?”


“Terus mau sampai kapan enggak nikah? Jadi orang tua, kalau kamu ikhlas rasanya enak banget. Aku masih enggak percaya aku bisa lahirkan Keenan ke dunia ini.”


Aku tersenyum dan mengusap pipi gembul Keenan yang terlihat semakin lucu ketika tertidur.


“Mami!” seorang gadis kecil berlari dari pintu masuk menghampiriku. Mendengar teriakannya membuat banyak pasang mata menatap ke arah kami.


“Mami?” aku tersenyum dan mengangguk pada Amara.


Ada Fathan yang berdiri di sampingku setelah membawa Keisya dalam pangkuan.


“Mas, ini temanku Amara.” Mas Fathan tersenyum menyapa dan duduk di sampingku. Tidak ada jawab tangan karena dia emang tidak pernah suka melakukannya.

__ADS_1


“Sayang, salam tante Amara dulu!” Keisya turun dan menyalam Amara. Matanya menatapku penuh binar sesaat setelah melihat Keenan.


“Ada adik bayi-bayi!” serunya bahagia.


“Papi, foto!”


“Kakak siapa namanya?” tanya Amara.


“Keisya. Adik bayi-bayi siapa namanya?”


“Nama adik bayinya Keenan, kak Keisya.”


“Papi, tolong fotokan Keisya! Adik bayi-bayinya gembul, lucu.” Fathan mengeluarkan gawainya dan menyerahkan padaku. Ketiganya berfoto dan Keisya berseru kegirangan.


“Mami, kapan aku punya adik bayi-bayi?”


***


Aku sedang ada kerja di Surabaya hari itu. Dalam perjalanan ke Jakarta untuk lanjut kerja, seorang gadis kecil menghampiriku yang sedang iseng bermain permainan demi menghilangkan rasa bosan menunggu kedatangan kereta. Berdiri, dia asik menatap permainan pada gawai dalam genggaman.


“Mami, pinjam!” aku pikir anak yang masih berusia tiga tahun itu sedang bicara dengan ibunya yang pastinya berada di dekat si kecil. Hal yang sama dia katakan sampai akhirnya aku menatap mata kecil yang sudah berkaca-kaca dan siap untuk menangis. Aku bingung dan menatap sekeliling yang orang-orang juga menatapku.


Aku mengulurkan gawai padanya sebelum tangisnya pecah dan aku jadi tersangka utama penyebab nangisnya.


Seorang wanita setengah abad datang dan memarahi wanita yang tengah tertidur di bangku belakang ruang tunggu kedatangan kereta. Lalu datang menghampiriku dan mengatakan anak kecil ini adalah cucunya.


“Terima kasih, ya. Pengasuhnya tidur jadi cucu saya enggak dilihatnya. Untung cucu saya tidak hilang.” Aku hanya tersenyum dan menerima kembali gawai tersebut. Keisya, gadis kecil itu justru menangis saat aku akan dibawa pergi oleh sang nenek.


“Mami, mami, mami. Aku mau sama mami oma, aku mau sama mami.” Aku diam menatapnya yang menangis seakan rindu oleh seorang ibu.


Entah apa yang membuat aku menyusul keduanya dan membawa gadis kecil dengan poni yang berantakan dan air mata yang sudah membasahi seluruh pipinya masuk dalam pelukku.

__ADS_1


“Mamiii..”


Dari sana hubungan ini terjalin.


__ADS_2