Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 8


__ADS_3

Dilla sibuk menahan tawa saat aku melakukan sawala pada penjual. Soal tawar-menawar serahkan saja pada ku. Sudah membeli banyak dan tidak mendapat potongan harga rasanya itu kurang mantap, jadi perlu sedikit perdebatan agar bapak tukang jualannya mau memberi potongan.


Setelah membeli beberapa kain sulam, benang, jarum dan ringnya. Kami berjalan-jalan melihat kain bakal untuk membuat baju. Selain menulis aku senang menjahit dan memasak, yang aku tidak suka ketika harus memegang sapu, pel, kain lap dan segala jenis yang berhubungan dengan menyapu mengepel.


"Aku berasa lihat mama waktu kakak nawar tadi. Kok bisa mirip gitu ya cara nawarnya sama mama?" Dilla tertawa geli, aku tersenyum.


"Seharusnya tadi ku rekam terus tunjukkan ke Bang Dandi, pasti dia ketawa ngakak lihatnya." malas menanggapi celoteh Dilla, aku berhenti di salah satu kios.


"Kenapa? Mau beli?" tanya Dilla bingung.


"Enggak, cuma mau pegang kainnya aja." dapat ku dengar Dilla meninggalkan ku sambil tertawa. Aku tersenyum kepada pemilik kios, berjalan menyusul Dilla di depan. Ini sebenarnya caraku supaya Dilla tidak terus menyebut nama Dandi, ku rasa itu berhasil.


"Asli kak, hari ini kakak sakit ya? Kok buat lucu terus dari tadi?"


Punya adik bawel begini capek juga ya, tapi lebih capek kalau tidak punya adik, tidak ada yang bantuin bersihkan rumah. Hahaha


"Dil,"


"Ya?"


"Mau aku buatkan gantungan kunci dari kain flanel gak?" aku tertarik ingin membuat gantungan kunci ketika melihat kain flanel berwarna merah muda dan biru yang digantung di depan kios.


"Kalau gratis mau."


"Harga kain flanel berapa semeter, bu? " tanyaku kepada wanita paruh baya yang menatapku dengan senyum.


"Dua puluh ribu."


"Ambil yang warna pink, biru, merah, hitam, putih, nila, sama kuning, bu. Ambil setengah meter ya, bu."


"Oke, masing-masing setengahkan?" tanya si ibu. Aku tersenyum mengangguk "Iya. "


"Banyak banget, kak?" tanya Dilla penuh ingin tahu. Adikku ini emang selalu mau tahu saja, semua ditanyai.


"Pengen buat banyak, terus dibagikan sama anak-anak klub nulis." jelasku.


"Kak, beliin jam tangan untuk ku, jam tangan ku rusak." aku menatapnya dengan pandangan siap melempar semua belanjaan pada wajahnya. Dia pikir aku bank berjalan, bisa langsung mengeluarkan uang.


"Diam!"


"Pelit."


Setelah membayar belanjaan kami pergi meninggalkan pasar. Membeli empat bungkus bakso di kedai yang tidak jauh dari pasar. Lelah juga berkeliling pasar siang ini, meski tidak begitu padat,  tapi menaiki tangga cukup untuk membuat kaki terasa pegal.


***


Hari-hari ku mulai disibukkan dengan menjahit, membuat sulaman wajah Dandi yang tersenyum menatap kamera. Fotonya ini aku ambil dari salah satu foto yang dia posting ke facebook. Ini foto ketika kami berada di Bukit kubu atau biasa disebut bukit teletubies yang ada di daerah tanah karo, Brastagi. Perjalanan dari Medan Ke Berastagi membutuhkan waktu dua sampai tiga jam.

__ADS_1


Kamu bisa tidur-tiduran dan berguling-guling seperti teletubies. Tiap orang yang datang akan diberi layang-layang gratis. Angin dan tempatnya memang cocok untuk bermain layang-layang. Aku tidak pernah bosan mengunjungi tempat ini, tempatnya memang memberi kenyamanan yang membuat siapa saja betah berada di sana.


Ketika melakukan hal yang ku suka, aku kerap lupa untuk memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut. Aku tidak biasa sarapan, jadi bangun tidur setelah menunaikan kewajiban sebagai umat muslim aku langsung sibuk membereskan rumah. Setelah semua pekerjaan rumah bersih aku mulai menghabiskan waktu untuk menyulam. Lalu berhenti saat masuk waktu sholat dzuhur dan makan siang. Lalu setelahnya kembali menyulam dan berhenti saat masuk Ashar, kemudian membersihkan kembali rumah. Setelah sholat Isya aku kembali menjahit sampai jam sebelas malam. Bisa dihitung berapa kali aku makan.


Lupa makan dan hanya fokus pada jahitan membuatku terbaring sakit di kasur. Tukak lambung luka, itu yang dikatakan dokter. Kemarin sebelum terbaring di kasur mama membawaku ke rumah sakit, sempat menginap satu malam.  Tidak ingin berada di dalam rumah sakit membuat ku meminta mama untuk melakukan infus di rumah. Dan sekarang, berteman infus aku terbaring diam menatap langit kamar.


Suara ketukan pintu mengalihkan pandanganku. Dandi datang bersama Dilla.


"DANDIIII TUTUP MATA SEKARANG!" teriakku membuat sakit tenggorokan. Terkejut dengan teriakan ku Dandi refleks menutup mata dan Dilla menutup telinga.


"Jangan bergerak! Tetap tutup mata! Berani buka mata, aku enggak akan mau ketemu kamu lagi!" ancamku.


"Ada apa si? Kenapa harus tutup mata?"


"DIAM!"


"Iya. "


Dilla menatapku penuh tanya. Aku mengabaikannya dan memilih mengambil infusku dan membawanya pergi bersamaku menuju meja belajar yang ada di kamar.


"Jangan buka mata!" peringatku sekali lagi.


"Iya. Mau ngapain sih?"


Ku ambil jahitan  bergambar wajah Dandi ke dalam genggaman. Jahitan bergambar yang sudah dibingkai cantik dengan kaca ku letakkan di balik lemari. Aku tidak ingin Dandi melihatnya sekarang. Aku belum membungkusnya dengan kertas kado.


"Udah belum?" tanya Dandi yang seperti orang sedang main petak umpet. Dilla terkikik pelan yang membuatku mendelik tajam.


Dandi membantuku menggantung kembali infus ke tali yang sengaja dibuat sebagai tempat infus. "Terima kasih." ucapku berbaring.


"Lihatkan, berdarah jadinya. Emang ngapain sih tadi?" tanya Dandi dengan suara yang sedikit membentak.


"Nanti malam bisa ikut aku pergi enggak?" tanyanya dengan raut serius. Dilla berbaring di samping ku memainkan ponsel.


"Ke mana?"


"Mama buat acara di rumah. Hari inikan ulang tahun ku kalo kamu lupa. Keluarga pada kumpul bakar-bakar." terangnya.


"Aku ikut boleh enggak?" sambung Dilla dengan menerbitkan senyum.


"Bolehlah."


"Masih lemas sih sebenarnya, agak nyeri juga." aku meminta Dilla mengambil novel yang ada di sampingnya. Susah juga bicara berdua gini, detak jantung memompa kayak lagi balapan, jadi ku rasa bicara sambil membaca novel bisa membuatku tidak perlu merasa berdebar seperti ini. Diajak makan dan diperhatikan sebenarnya hal biasa, tapi jantung ini malah kayak orang balapan.


"Jadi ga bisa ikut?" tanyanya dengan wajah tidak suka.


"Ikut. Santai aja kenapa sih ngomongnya, kayak orang lagi balapan aja, ngegas kali."

__ADS_1


"Entah apa pula sakit. Sudah tahu orang ulang tahun, malah sakit. Besok kita lihat toko bukunya!"


"Kalian kayak orang yang pacaran aja." celetuk Dilla yang membuat tanganku melayang mencubit lengannya.


"SAKIT." teriaknya bersiap memukul lenganku.


"Untung ada Bang Dandi, kalo enggak sudah ku pukul balik ya. Kurang ajar kali cubit-cubit, dipikir enggak sakit apa." Dilla bangkit berdiri berjalan ke luar. Menendang pintu sebagai pelampiasan kekesalannya.


Dapatku dengar mama memarahinya karena menendang pintu. "Pulaan dicubit kakak lengan awak, Ma." adunya yang membuat mama giliran memarahiku.


"Si kakak pun ringan kali tangannya sama si adek. Enggak boleh gitulah, sudah besar pun masih ribut aja." protes mama yang ku sahuti dengan ucapan maaf.


"Dilla!" panggil ku yang tidak mendapat sahutan dari sang punya nama. Ini ciri-ciri ngambek.


"Udahlah jangan dilawanin lagi." protes Dandi. Aku mengulum senyum.


***


Dilla tidak jadi ikut karena masih dalam mode mengambeknya. Aku dan Dandi pergi ke kafe sehabis Sholat Isya. Cafe? Ya, Cafe Coco Bakery. Dandi berbohong ketika tadi dia mengatakan bahwa mamanya membuat acara di rumah, nyatanya dia membuat acara di kafe yang dihadiri teman-teman seperjuangannya.


Aku menatap sinis karena kebohongan yang dia lakukan. Ada surprise nanti, bisiknya sebelum kami berdua disambut Bunda (panggilanku pada Mama Dandi). Aku tersenyum hangat dan mencium punggung tangan Bunda. Wanita setengah baya itu tersenyum mengusap rambut ku yang tertutup kerudung biru.


"Cantik banget si hari ini." kata Bunda menyentuh pipi kanan.


"Dandi bilang kamu sakit, udah baikan?" tanya Bunda lagi, kami berjalan menuju kursi kosong yang ada di tengah ruangan. Jangan tanyakan keberadaan Dandi, dia sedang sibuk menyapa temannya yang datang bergabung.


"Udah lumayan lah, Bun."


Seminggu tidak mengunjungi kafe banyak perubahan yang terjadi. Dandi membuat promo besar-besaran selama seminggu. Makan gratis bagi siapa saja yang membawa pasangan makan di sana, juga bagi siapa saja yang berulang tahun pada hari selama seminggu itu. Dan khusus hari ini, tepatnya malam ini, dia buat makan gratis bagi siapa saja yang datang ke kafe.


Terlihat seorang wanita yang seumuran denganku bergabung di meja aku dan bunda. Reaksi bunda sama seperti saat bunda menyambut ku. Aku tersenyum hangat membalas senyum yang dia lemparkan.


Bunda bilang namanya Della, teman Dandi saat SD. Tidak lama kemudian Dandi datang bergabung. Bunda begitu semangat menceritakan tentang Della pada ku, sesekali aku hanya tersenyum sebagai respon.


Della lulusan Sastra Perancis di salah satu universitas negeri di Medan. Ternyata selama ini dia satu kampus dengan Dandi, aku merasa bodoh karena tidak mengetahui hal ini. Dandi juga tidak pernah bercerita dengan ku perihal ini.


Bunda bilang Della baru saja menerbitkan komik tiga bahasa, Inggris, Indonesia, dan Perancis. Komiknya menceritakan legenda-legenda yang ada di Indonesia. Hal yang paling tidak ku sangka adalah Dandi terlibat di dalamnya, Dandi yang menggambar komik-komik tersebut.


Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan. Terasa nyeri di bagian tubuh ku saat mendengarnya. Inikah definisi kecewa? Seperti tak dianggap sebagai seorang sahabat. Sahabat? Apa aku dan dan Dandi bisa dibilang bersahabat? Atau hanya sekedar pertemanan?


Dari semua cerita bunda yang paling menyakitkan adalah ketita bunda mengatakan. "Nanti bunda mau mengumumkan bahwa dua minggu yang akan datang Dandi dan Della akan bertunangan. Cocok ya mereka, sama-sama dari huruf D namanya."


Oh Dilla adikku, seharusnya kamu ikut bersamaku  ke sini. Menemani ku dalam percakapan menyakitkan ini. Sedikit banyaknya Dilla pasti dapat menghilangkan perasaan tidak menyenangkan ini.


Aku tidak mau menatap Dandi. Dari sudut mata aku dapat melihat kalau Dandi tengah menatapku dengan ekspresi yang aku tidak tahu menjelaskannya. Ternyata ini maksud dia akan ada suprise.


"Dan, ini kado untuk mu." Lamunanku teralih ketika mendengar Della memberikan kotak yang dibungkus cantik dengan kertas bergambar langit biru yang cerah. Mengenai kado, aku tidak membawa sulaman yang aku buat untuk Dandi ke sini. Aku masih meninggalkannya di rumah. Aku tidak ingin jadi orang pertama yang memberinya hadiah, biarkan saja aku jadi yang terakhir.

__ADS_1


Malam ini aku tidak lagi bersemangat. Tidak lagi merasa spesial, aku lupa, spesial itu untuk nasi goreng, dan aku bukan nasi goreng spesial yang telurnya ada dua yang pakai daging rendang dan ayam suwir, paket lengkap.


Bawa aku pergi dari tempat ini boleh? Jangan deh, belum potong kue, kelihatannya kuenya enak dan aku pengen makan.


__ADS_2