Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 5


__ADS_3

Malam minggu ku isi dengan menulis cerita yang tinggal beberapa part lagi akan menuju ending. Amara tidak jadi datang ke rumah karena dia harus kembali ke Aceh, kampung halamannya. Mungkin kamu sedikit bingung kenapa namanya Amara. Nama itu diambil dari istilah kefarmasian. Amara artinya penambah nafsu makan, maksud dibuat namanya Amara karena menurut orang tuanya Amara akan menjadi penambah nafsu makan mereka, dalam artian lain Amara menjadi semangat mereka. Orang tua Amara seorang farmasi yang sekarang bekerja di rumah sakit yang ada di Singapura. Sebelumnya mereka tinggal di Aceh, lalu di Medan beberapa waktu, dan beberapa tahun lalu orang tuanya memilih pindah dan menetap di Singapura.


Pertemanan ku dan Amara sama halnya dengan aku dan Dandi. Hanya saja saat kelas dua kami berpisah karena Amara mengambil Ipa dan aku Ips, dan sejak itu aku menjadi kenal dan berteman dekat dengan Dandi. Saat kuliah aku tidak lagi bertemu dengan Amara karena dia kuliah di Jawa, dan kami tetap berkominikasi dan saling sapa meski tak jumpa. Amara sering menginap di rumah saat liburan dulu, dan sekarang pun sesekali Amara tetap melakukannya.


Dandi dan aku juga tidak satu kampus saat kuliah. Tetap di Medan, hanya saja perguruan tinggi negeri di Medan tak hanya satu bukan?


Aku kuliah jurusan sastra dan si Dandi kuliah jurusan seni. Meski beda kampus tak menutup untuk kami tidak berteman dan bertemu. Gambaran Dandi sangat bagus, aku pernah memintanya menggambar di kertas dan setelahnya aku membuat komik anak-anak. Tidak ku terbitkan, hanya ku fotocopy lalu setelahnya ku bagikan ke beberapa tempat membaca yang sedikit minat.


Siapa yang menyangka setelah itu dia menjadi pengusaha? Dan untuk menghemat desain kafenya, dia membuat sendiri tanpa wacana.


"Kak!" Dilla yang sedang membaca novel karangan Dee Lestari menatapku sejenak lalu kembali menyembunyikan wajahnya dalam buku.


"Kenapa?"


"Kehidupanmu seperti yang ada di dalam novel perahu kertas ini. " ucapnya yang ku tanggapi dengan raut bingung.


"Maksudnya gimana?"


"Iya. Bang Dandi anak seni dan bisa gambar, kakak bisa nulis cerita. Dalam novel perahu kertas Bang Dandi ibarat si Keenan dan Kugy ibarat kakak. Kalian juga berteman baikkan. Aku si setuju aja kalo emang kakak sama Bang Dandi." celetuk Dilla yang aku tanggapi dengan melempar bantal.


"Jangan asal bicara ya!" aku menatap tak suka, Dilla tertawa dan menutup novelnya.


"Bang Dandi kok enggak kesini? Lagi marahan ya?"


"Diam deh!"


"Jadi bener lagi berantem?" tanya penuh keingintahuan.


"Nggak!  Aku lagi mikir, jangan berisik deh!"


Dilla mulai menutup mulutnya dan kembali sibuk membaca.


Dering telpon terdengar nyaring yang membuatku lupa seketika apa yang ingin ku tulis, menyebalkan. Siapa si yang menelpon?


Saras calling...


"Mbak Dea?" Aku mengerut Kening bingung.


"Iya. Kenapa, Ras?" tanyaku.


"Mbak ga ke kafe? Bang Dandi lagi kumpul ni sama teman-temannya." aku mengulum senyum. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


"Iya, lagi banyak kerjaan, mau menyelesaikan tulisan. Dandi kumpul sama siapa?"


"Sama Mas Rizka, dan yang lainnya. Gak merokok kok. Saras mau bilang kalau kita ada menu baru, yang pernah Mbak kasih itu."


"Besok deh Mbak ke sana nyicipinnya. Pasti bakalan jadi menu favorit ni."


"Iya, aku tunggu besok ya Mbak. "

__ADS_1


"Kamu besok tetap masuk?"


"Iya setengah hari aja. Gantiin Mbak Widia."


"Oh gitu, yaudah. Hati-hati nanti pulangnya ya."


"Iya, Mbak. Aku tutup telponnya dulu ya. Assalamualaikum."


Sambungan telepon terputus. Dilla sudah sibuk menatapku penuh tanya. Aku berpura-pura tidak tahu saja. Pertanyaannya yang menanyakan telpon dari siapa kuabaikan begitu saja.


***


Seperti yang ku katakan kemarin, aku datang menunjungi Cafe Coco Bakery tanpa memberitahu Dandi. Biar saja dia merasa kaget nanti.


Aku tidak sendiri datang ke sini. Masih ingat dengan Tasya? Ya, Tasya. Adik dari Naufal. Kemarin setelah Saras menelpon Tasya menghubungiku dan mengajak ketemuan, jadi aku mengajaknya kemari.


Saras terlihat bingung, aku memperkenalkan Tasya padanya lalu memesan makan.


Jangan tanya padaku kenapa Tasya mengajakku bertemu, aku sendiri tidak tahu alasannya. Dan sekarang mungkin akan ku tanyakan mengenai alasannya.


"Saya mau ngajak Mbak ke Jogja, bisa?"


Aku menatapnya terkejut "Kapan?"


"Minggu depan, Mbak bisa?" aku tidak bisa menyetujuinya begitu saja.


"Maaf, tapi Mbak ada keperluan selama dua minggu ini, Mbak harus bolak-balik ketemu editor untuk proses penerbitan novel."


"Emang kenapa kamu mau ajak Mbak ke Jogja?"


"Tasya akan cerita kalau Mbak sudah disana."


"Apa ada hal yang penting?" Tasya mengulum senyum tipis. Senyumnya sangat mirip dengan Naufal.


"Mungkin sangat Penting. Tapi karena Mbak akan sibuk, Tasya harus kembali ke Jakarta lebih dulu. Temui Tasya di Jakarta saat Mbak tidak sibuk lagi ya! Setelah itu akan Tasya bawa Mbak ke Jogja. Tiket akan dikirimkan saat Mbak akan pergi. Dan pastikan Mbak mengosongkan jadwal selama seminggu, atau mungkin lebih."


"Kamu tidak bisa mengatakan saja di sini?"


"Tidak. Tasya dan sekeluarga juga akan pindah ke Kalimantan. Jadi Mbak harus menemui Tasya sebelum kami pindah ke Kalimantan."


"Ya, nanti akan Mbak sisikan waktu ke sana. Boleh Mbak bawa seseorang menemani?"


"Tidak."


Aku tahu apa yang ingin dia bicarakan, sudah pasti ini tentang Naufal. Tapi apa aku harus menangis lagi saat mendengar apa yang nanti Tasya katakan?  Entahlah, aku tidak tahu apa air mata ini sudah mengering atau masih ingin keluar seperti gunung api yang terus erupsi.


Jika boleh memilih, aku tak ingin lagi larut dalam sedih. Aku sudah ikhlas. Meski terkadang rasa tak percaya masih sering datang.


Sesuatu yang berakhir malang, jangan pernah minta untuk dilupakan, tapi pinta untuk diikhlaskan. Meski mengikhlaskan tak semudah membuang nafas, tapi itu lebih baik dari melupakan.

__ADS_1


Semakin kamu memaksa untuk melupakan sesuatu semakin kamu akan terus memikirkannya. Ikhlaskan, bukan lupakan.


\*\*\*


Dandi menelpon ketika aku membaca buku filsafat yang sejak lama kubeli tanpa dibaca. Siang tadi saat aku di kafe dia tidak datang. Enggak kasih kabar juga kenapa dia sampai enggak datang.


Dering kelima aku menjawab panggilannya.


"Lagi apa?"


"Membaca."


"Aku ganggu?"


"Enggak."


"Jalan-jalan malam, yok! Pengin makan jagung bakar."


"Jemput."


"Udah di teras rumah ngobrol sama ayah dan mama."


"Ck, bentar, pake kerudung dulu."


"Jangan cantik-cantik ya, cuma mau makan jagung bakar bukan di restoran mahal."


"Iya. Matikan telponnya dulu."


Dandi dengan ketidakjelasannya. Tiba-tiba hilang, tiba-tiba datang. Setelah menggunakan kerudung dan memoles wajah sedikit aku keluar dan menemukan ayah, mama dan Dandi sedang tertawa.


"Om, bu, pergi dulu ya. Mau titip sesuatu?"


"Titip Dea jangan sampai pulang lecet."


"Kalau itu sudah pasti, om."


Dandi melajukan motornya. Malam di hias bintang dan bulan.


Di depan Unimed-Universitas Negeri Medan penjual jagung bakar dan kelapa muda berderet. Tapi suasana yang gelap membuat Dandi melajukan motornya menuju jembatan layang di jalan metrologi. Suasana di depan unimed cocoknya untuk orang yang berpacaran tapi karena kami tidak pacaran jadi Dandi pilih makan di jembatan layang yang juga banyak penjual jagung bakar.


"Gimana novel kamu?"


"Daripada bahas novel aku mending Kita bahas kamu. Lagi ada masalah?"


"Dikit."


"Soal apa?"


Bukannya menjawab Dandi hanya tersenyum sambil memainkan jari-jari tanganku.

__ADS_1


"De?"


"Nikah samaku, yok!" senyumnya merekah dan jantungku lomba lari karenanya.


__ADS_2