Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 19


__ADS_3

Semua orang menangis melihat jenazah mama. Aku yang tidak juga meneteskan air mata membiarkan orang-orang memelukku memberikan kata-kata yang membuat muak. Dila menangis dengan tersedu-sedu dan tetap membacakan yasin. Dandi datang memberi pelukkan yang sama dengan air mata. Aku diam saja saat dia memelukku seperti ini, seolah jiwaku terbang entah ke mana.


Ayah datang bersama istrinya. Biar saja, ini kali terakhir dia akan melihatku juga mama. Aku tidak akan membuat keributan apapun, aku hanya akan diam.


Amara datang dari Jakarta. Meski dia memintaku untuk bersuara aku tetap memilih diam. Tubuhku digunjang olehnya, menarik wajahku menatap matanya.


“Sadar, De. Kamu enggak boleh gini. Kamu harus nangis, jangan ditahan! De, kamu bisa sakit kalau gini caranya!”


Biarkan saja Amara bicara. Aku tidak ingin bicara apapun. Biarkan mereka menangis, aku tidak akan menangis..


Mereka membacakan yasin. Amara memberikan juga padaku dan ku lafazkan dalam hati. Aku tidak ikut memandikan mama, biar saja kakak dan adik mama yang melakukannya. Bilal menyuruhku menciumnya untuk terakhir kali. Dila dan Amara juga menyuruhku dan mengikuti titah mereka kucium kening mama lama. Mengucapkan kata maaf dan terima kasih. kucium kelopak mata mamabegitupun kedua pipi juga dagunya. Kucium tangannya yang sudah terbungkus kain kafan, tangan ini yang dulu menggendongku. Kucium kakinya dan terakhir kucium kembali keningnya.


Maafkan aku, ma. Maafkan aku.


Hatiku menangis tapi air mata enggan turun mengalir membasahi pipi.


Usai disholatkkan dan jenazah mama tertimbun dalam tanah yang ditaburkan bunga-bunga di atasnya baru kurasakan ada air menetes di pipi. Ini nyata, mama benar sudah tidak ada. Mama benar pergi meninggalkanku.


Aku menangis tanpa suara. Melihatku menangis Amara ikut menangis. Peluknya hangat tapi tidak cukup menghangatkan hatiku yang menggigil kedinginan menerima kenyataan mama telah pergi.

__ADS_1


Kami kembali ke rumah. Amara menemaniku selama pengajian tiga hari digelar di rumah. Dan usai pengajian selesai, ku pesan tiket untuk ke Bandung.


Dila tidak jadi mengambil beasiswa ke Prancis. Dia diterima kerja ke Kalimantan. Aku memberikan uang untuknya agar dipakai membeli rumah di Kalimantan. Setidaknya dia tidak perlu mengontrak dan kesusahan seperti pertama kali aku hidup sendiri di Bandung. Ku beri juga sejumlah uang untuk pegangannya selama hidup di sana.


Saat akan berangkat aku baru sadar kalau mama sama sekali tidak mengemaskan satupun pakaiannya. Hal ini menyadarkanku kalau mama benar-benar enggak ingin pergi sebenarnya. Itulah kenapa dokter bilang mama tidak makan selama beberapa hari karena perutnya kosong. Kerena tidak ada tenaga mama mungkin akan pingsan tapi hasilnya mama jadi terantuk lantai kamar mandi.


Kepalaku berdenyut sakit. Pelan-pelan kumasukan pakaian mama sebagian ke koper dan sebagian kubiarkan adik dan kakak mama memintanya. Sebagian pakaian mama akanku jadikan obat penawar rindu saat mengingat dirinya.


 Amara ikut menemani ke Bandung. Dila akan tinggal di rumah kakak mama untuk sementara. Rumah telah dikosongkan. Ayah tidak tahu perihal kepergianku ini. Izinkan aku menjadi durhaka setelah apa yang ayah lakukan.


***


Aku menginap di hotel sementara waktu sampai mendapat rumah kecil yang kuberikan sebagai tempat tinggal untuk Bintang. Setelahnya aku kembali tinggal di rumah yang menjadi hasil pertama setelah kerja dan mengumpul uang. Kembali nyeri menyerang kepalaku disusul dengan darah yang mengalir lewat hidung.


Meminum obat aku memutuskan untuk tidur.


Berhari-hari aku menghabiskan waktu dengan bersikap hedon. Belanja yang tidak perlu, pergi dari satu mall ke mall yang lain sampai malam. Entah berapa pundi uang yang habis dengan sia-sia.


Nomor Dandi, bang Ridho, Fathan, dan siapapun laki-laki yang namanya tertera di kontak telepon kublokir. Pernikahan Fathan tidak jadi kukunjungi. Semua karyawan lelaki kupecat tanpa terkecuali. Bintang sempat tidak terima tapi aku tidak peduli. Aku benci lelaki.

__ADS_1


Aku menutup kafe. Membuat tanda bangunan ini di jual. Rumah yang kubeli untuk Bintang juga kujual. Aku pergi ke Jogja dan membeli bangunan dari hasil jual kafe dan rumah. Aku pindah ke Jogja dan membuka coffe shop baru. Aku juga membuka toko buku. Sementara waktu aku tinggal di toko buku sampai rumah yang ada di Bandung laku.


Tidak ada yang tahu perihal kepergianku ke Yogya. Alhasil aku memilih untuk mengganti nomor telepon. Biarkan aku mulai dari awal semuanya. Kehidupan baru yang mungkin lebih baik atau malah jadi lebih buruk karena aku membatasi hidup.


Tidak ada karyawan lelaki. Setiap kali melihat lelaki aku akan merasa emosi dan berakhir kepalaku berdenyut sakit disusul dengan darah keluar dari hidung. Jangan sarankan untuk pergi ke rumah sakit karena itu tidak akan kulakukan. Sejak dokter mengatakan mama meninggal aku menjadi benci rumah sakit.


Mendengar rumah di Bandung ada yang beli dan segala urusan beres. Aku membeli rumah kecil yang hanya berisikan satu kamar dengan halaman yang luas. Tidak ada ruang makan, hanya berisi satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi, lalu ruang tamu. Ini sudah cukup untuk aku yang tinggal sendiri.


Satu per satu ku urus surat pindah untuk memiliki KTP Yogya. Halaman depan kuisi dengan bunga mawar, anggrek juga kertas dan beberapa bunga yang aku enggak tahu namanya tapi karena bentuknya bagus aku jadi suka.


Perabot rumah sudah kembali lengkap. Sisa uang sebagian kuberikan ke masjid atas nama mama. Sebagian ku buat untuk bangun masjid dan sisanya sedikit tetap kubiarkan dalam tabungan.


Seorang menepuk bahuku dan sadar itu adalah seorang lelaki langsung kutepis tangannya dengan kasar. Dia kaget sama dengan respon diriku.


“Maaf, mbak. Mbak menjatuhkan ini tadi.” Kuambil dompet dari tangannya.


“Terima kasih.”


Berlalu aku meninggalkannya menuju toko buku. Mengecek buku-buku yang sudah masuk dan belum. Buku yang sudah masuk langsung di input ke aplikasi jual daring. Setelah urusan di toko buku selesai kini giliran coffe shop yang harus diperiksa.

__ADS_1


Denyut di kepala semakin hari semakin menjadi. Obat sakit kepala tidak cukup menghilangkannya. Aku meminta salah seorang karyawan membeli obat penghilang rasa sakit dan obat itu hanya bertahan satu atau dua jam dan kembali berdenyut dengan rasa yang lebih menyakitkan.


Tidak lagi mampu menahan rasa sakit di kepala alhasil aku membiarkan tubuhku jatuh di tengah kerumunan orang-orang yang sedang mengisi perut. Aku mendengar salah seorang karyawan yang berteriak memanggilku sebelum akhirnya semua terasa gelap.


__ADS_2