Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 14


__ADS_3

“Kamu yakin mau berhenti? Kenapa kamu berhenti? Ada kesulitan?” aku tersenyum menyeruput teh.


“Saya mau kembali ke Medan, Pak.”


“Kenapa? Kamu mau menikah?”


“Bukan, pak. Orang tua saya sudah tidak muda lagi, akan susah jadinya jika terjadi sesuatu dengan mereka tetapi saya tidak ada.”


“Saya paham, tapi saya jadi kehilangan penerjemah keren sepertimu. Kamu kalau menikah jangan lupa undang saya ya! Kalau umur tiga puluh kamu belum menikah nanti kamu saya jodohkan dengan anak saya saja.”


Usai pamit dengan rekan-rekan kerja di kantor aku pergi menuju kafe. Tasya duduk di sudut kursi dengan Keano. Aku berjalan menemui mereka.


“Assalamualaikum anak sholeh.” Sapaku mengecup kening Keano yang dibalas dengan gelak tawa yang menular padaku dan Tasya.


“Mbak dari mana?”


“Kantor. Nyerahkan surat pengunduran diri. Mbak mau balik ke Medan.”


“Kenapa?”


“Biar dekat dengan keluarga.”


“Kenapa tidak pindah ke Bandung saja, mbak?”


“Bagaimana pun Bandung bukan rumah. Saudara banyak di Medan. Selama apapun tinggal di Bandung tetap saja kota ini asing. Saat mati nanti akan semakin terasa asingnya sebab tidak ada saudara yang bisa menziarahi kubur. Ke mana pun pergi kampung halaman tetaplah rumah.”


“Tasya sudah menikah, wajar jadi pindah ke Bandung, saudara juga banyak di sini jadinya. Mbakkan masih belum. Anak kecil kemarin yang panggil mbak mami itu sebenarnya anak teman mbak. Cowok yang semalam ingat gak? Keisya kehilangan ibunya di usia tiga tahun, dia terbiasa memanggil siapa saja mami atau mama. Perempuan yang semalam tunangan papanya Keisya.”


“Kenapa mbak tidak sama papanya Keisya saja? Kalian terlihat cocok apalagi anak kecil itu lebih akrab dengan mbak.”


“Karena mbak masih menyayangi masmu.”


***

__ADS_1


Aku sudah mengemasi barang-barang yang perlu dikemas untuk dikirim ke Medan. Segala jenis perabot aku biarkan tinggal di sini karena sewaktu-waktu aku pasti kembali ke sini untuk memeriksa kafe. Selama aku di Medan rumah ini akan ditinggalkan oleh Bintang dan dua karyawan lain yang memang biasa ngekost di Bandung. Sengaja aku biarkan mereka tinggal biar mereka bisa berhemat.


Ayah, mama dan Dilla akan kembali malam ini sedangkan aku baru kembali besok karena masih harus ngurus kafe. Tidak ada yang spesial di kota ini. Kembali ke Medan dan meninggalkan kota ini sama-sama terasa hambar.


Kilasan percakapan dengan Tasya kembali.


“Mas Naufal pasti sedih dan bahagia kalau tahu ini. Saat di rumah sakit dia enggak pernah berhenti cerita tentang kalian. Di tiap kesempatan dia akan cerita tentang mbak. Janjinya mengajak mbak naik ke gunung, menikmati malam dengan bintang yang terasa dekat untuk digapai. Ternyata yang ditakutkan mas Naufal terjadi. Hari itu sebelum mas Naufal pergi meninggalkan dunia dia bilang


‘mas tidak takut harus pergi hari ini. Mas takut ketika pergi dia tidak ingin lagi membuka hati. Kami pernah berjanji bersama dalam canda yang mas harap itu bukan hanya sebuah guyonan. Dia bilang kalau kami tidak jodoh di dunia maka di akhirat kami akan berjodoh. Caranya adalah dia tidak akan dekat dengan siapapun. Mas takut dia jadi sendiri di dunia demi mewujudkan itu semua. Dia cewek paling keras kepala yang pernah mas kenal. Kalau dia mau satu dia enggak akan mau yang lain bahkan meski yang ia mau sudah usang. Katany cewek penyuka biru itu setia, dan nanti kamu akan lihat. Dia selalu menggunakan warna biru, akan ada satu barang warna biru yang dia kenakan dalam sehari. Itu ciri khas dia, si penyuka biru, setia.”


Aku tahu semua yang kita impikan tidak selalu bisa kita dapatkan. Namun, dari semua yang aku impikan kenapa dirinya yang tidak bisa aku dapatkan. Aku tahu aku tidak boleh serakah. Salahkah jika aku tetap mencoba memilikinya meski tidak bisa di dunia?


Naufal, saya rindu kamu sampai pada tahap keterlaluan yang sangat keterlaluan. Maaf karena saya merindukanmu.


Segalanya telah selesai. Barang-barang sudah masuk ke mobil. Beberapa karyawan menangis usai memelukku. Aku menepuk pelan bahu Bintang. “Jaga restoran, jaga rumah, jaga diri baik-baik ya.”Ujarku yang dibalasnya dengan pelukan.


“Pasti, Mbak. Mbak baik-baik ya di sana. Sering-sering ke Bandung ya nanti.”


***


+62813735667XX


Sampai bertemu, lagi, Dea.


Aku mengerutkan kening menerima telpon dari nomor yang tidak kuketahui siapa. Ah, ini nomor yang sama yang mengirim ucapan selamat di hari aku wisuda. Tidak sabar menunggu responnya aku tekan panggilan untuk nomor tersebut. Deringan berganti menjadi suara operator. Berulang-ulang dan dia tidak juga menjawabnya. Kesal, kupilih untuk memblokir nomornya.


“Kita bertemu lagi.” Aku menatap pria yang duduk di depanku. Pria yang sama yang kutemui saat di Bandung dulu, yang meminjam ponselku karena dia kehilangan ponselnya. Keningku berkerut bingung. Tiba-tiba satu pemikiran terlintas, mungkinkah pria ini yang mengirimkanku pesan?


“Apa kamu yang menghubungiku selama ini?”tanyaku langsung.


“Hah?” tanyanya bingung. Ah, tidak mungkin. Pemikiran macam apa ini. Tidak mungkin dia.


“Maaf-maaf.”

__ADS_1


“Namaku Iqbal. Muhammad Iqbal Setiawan. Terima kasih untuk hari itu. Boleh kita berteman?” belum usai aku menjawab dari sebrang Dila berjalan dengan seorang lelaki yang tidak aku kenali. Mengabaikan ucapan lelaki bernama Iqbal ini aku membawa barangku pergi bersama langkah kaki menghampiri Dila.


Aku tahu perbuatanku tidak sopan, tapi wajah dan namanya terdengar akrab yang membuatku sedikit merasa takut.


“Lama banget ya kak nunggunya? Maaf ya.” Cowok di sampin Dila membawa barangku bersamanya. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban atas ucapan maaf Dila dan kembali menatap ke belakang. Iqbal masih di sana dengan senyum miring menatap kepergianku.


Aku yakin sekali namanya tidak asing diingatan.


“Ada yang ketinggalan kak?”


“Hah? Oh, enggak. Cuma kepikiran sesuatu aja.”


Sambil menatap rumah-rumah yang dilewati kepalaku mencoba mengingat siapa cowok itu. Entahlah, nanti kucoba untuk mengingat kembali.


“Oh, iya. Belum kenalan. Kamu temannya Dila, pacarnya Dila atau mantannya Dila?”


 


“Kak!”


“Mantan yang jadi temannya Dila, kak.”


“Oh aku tahu ini, Bagas’kan? Mantan terindahnya adikku.”


“Kak!”


“Kenapa harus pacaran sih kalau akhirnya putus?”


“Tujuan pacaran untuk putus, kak.” Sahut Bagas.


“Kamu jangan cemburuan, adikku ini emang banyak teman cowoknya.”


“Dila yang putuskan aku, kak. Katanya aku terlalu banyak cewek padahal itu teman semua.” Aku menatap Dila yang kini sudah menatap ke luar jendela. Kami tertawa melihat Dila yang merengut kesal.

__ADS_1


“Maafin adikku ya kalau gitu.”


__ADS_2