
Dandi tidak henti menerorku dengan telepon dan pertanyaan kamu tinggal di mana sekarang. Mengabaikannya tetap menjadi hal sia-sia karena dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau. Dengan kesal ku jawab panggilannya dan mengabarkan di mana letak rumahku sekarang. Dandi tetaplah Dandi, dia enggak berubah meski lima tahun telah berlalu.
Dengan martabak bangka dia datang ke rumah tepat sejam setelah aku memberitahunya alamat rumah. Kekesalanku bertambah sebab dia datang tanpa Della padahal aku sudah dengan jelas mengatakan istrinya wajib ikut. Sesuai yang aku katakan padanya ‘jika sampai istrimu tidak ikut, kupukul kau!” dan aku memukulnya dengan gagang sapu yang sudah kupegang sejak mendengar motornya masuk perkarangan rumah.
“Ampun, De, ampun!” seolah tuli aku tetap melayangkan pukulan padanya.
“Udah ku bilang jangan datang kalau enggak bawa anak dan istrimu masih aja bandal!”
“Iya, iya, lain kali aku datang Della dan Keano.”
“Mau apa ke sini?”
“Suruh masuk dululah, De.”
“Udah duduk di teras aja!”
“De!”
“APA?”
“Iya, duduk di teras aja. Salaman sama ibu dululah, De.”
“Masuk!” memamerkan cengiran Dandi masuk mengikutiku menemui ibu.
“Assalamualaikum, bu. Yaallah, rindu banget Dandi. Lama banget ya kita enggak ketemu. Dea enggak mau kasih tahu alamat ibu di mana, pelit banget dia sekarang sementang udah sukses.”
Aku meninggalkan keduanya untuk membuat minum di dapur. Dengan nampan berisikan sirup juga kue aku menghampiri ruang tamu yang diisi dengan polusi suara dari Dandi. Entah apa saja yang dia ceritakan walau sesekali sudut bibirku tertarik untuk tersenyum.
“Bapak mana, bu?” pertanyaan Dandi kali ini sukses membuat raut wajah mama berubah sendu.
“Sekarang mulutmu enggak bisa berhenti ya, Dan. Berisik banget. Nyerocos aja dari tadi. Mau ngapain sih ke rumah? Entar istrimu tahu cemburu dia langsung. Senang ya kamu kalau aku dibenci.”
Mama pamit meninggalkan kami.
Dandi tidak lagi banyak bicara. Bermenit-menit kami lalui dengan suara televisi. Sampai ketika aku menatapnya dan ternyata dia sedang menatapku.
“Aku tahu kamu enggak baik-baik aja. Aku tahu sesuatu terjadi sama kamu. Itu alasan kenapa aku di sini.”
Mengalihkan wajah aku mencomot satu kue. “Ngomong apa sih kamu.”
“Aku ketemu ayahmu juga menggendong anak laki-laki di cafe Coco Bakery. Beliau kelihatan kaget kayak enggak nyangka dan malu gitu waktu lihat aku. Coco bakery ganti nama jadi beliau mungkin enggak tahu kalau itu kafe aku.”
“Kalau esok aku mati bunuh diri, Naufal mau enggak ya ketemu aku lagi?”
__ADS_1
“Jangankan Naufal akupun enggak mau ketemu kamu.”
“Terus ayah ada ngomong apa sama kamu?”
“Enggak ada. Kamu enggak mau cerita sesuatu ke aku?”
“Enggak ada. Kamu bukan lagi temanku Dandi yang tempat aku bercerita. Kita enggak lagi di lingkup itu.”
“Kenapa? Karena aku telah menikah?”
“Lebih dari itu.”
“De, enggak ada yang berubah meski aku telah menikah dan punya anak sekalipun. Kamu tetap Dea dan aku tetap Dandi. Kita tetap teman yang saling melindungi. Belum ataupun telah menikah kita tetap teman yang saling melindungi.”
“Menurutmu, tapi tidak denganku. Della bukan temanku, aku harus menjaga hatinya. Menurutmu gimana perasaan Della saat kamu sepeduli ini sama aku. Ada batasan antara teman. Aku bisa melewati semua ini dan kamu tidak perlu seperhatian ini.
“Bisa melewati ini tapi kamu mengurung diri sampai berminggu. Itu menurut kamu bisa melewati ini?”
“Setiap orang punya caranya sendiri, Dan.”
“Terserah.”
Dandi bangkit berdiri. Pergi menghampiri pintu. Sebelum dirinya benar hilang aku memanggilnya. “Besok. Biarkan aku meminjam satu ruangan di cafe kamu. Aku ingin bicara ayah. Kupikir kamu bisa melakukan itu jika benar ingin membantu.”
***
Dandi mengebari bahwa dia sudah menyiapkan ruang khusus di lantai dua untukku dan ayah. Selain merubah nama, Dandi juga merubah bentuk Coco Bakery. Di lantai dua tempat makannya khusus untuk orang yang pesan secara berkelompok maks 10 orang. Dan di sini dibagi ruangannya, ada pintu yang menjadi sekat. Terkesan jadi lebih pribadi biar tidak terganggu. Anak-anak komunitas ataupun organisasi yang ingin rapat atau apapun cocok banget di sini.
Ayah sudah datang jelas Dandi saat aku sampai di depan tangga ketika bertemu dengannya. Tangannya di bahuku seolah mengatakan aku kuat dan aku bisa melewati ini walau kenyataannya tidak seperti itu. Senyumku membalasnya dan kaki ini bergerak dengan langkah pasti.
Yang kulihat pertama kali adalah wajah perempuan tengah memangku anak laki-laki. Entah apa yang merasuki ayah sampai bisa meninggalkan mama. Dilihat dari manapun mama tetap lebih baik. Melihat bagaimana polesan bedak dan teman-temannya terlukis di wajah aku menyimpulkan itulah alasan ayah berpaling. Mama tidak tahu cara berdandan. Yang mama tahu hanya bedak dan lipstik lalu menutup mahkotanya dengan kerudung.
Sesederhana itu mama. Kesederhanaannya pula yang berhasil menjadikan aku seperti ini. Membentukku menjadi pribadi yang tidak tinggi hati dan tetap hidup dalam sederhana. Seseorang pernah bilang “Kekayaan jika tidak dibatasi adalah kemiskinan terbesar.”
Aku tidak berniat makan apapun yang telah dipesan. Bermenit-menit kuhabiskan dengan menatap layar ponsel. Mama dan Dilla enggak tahu tentang pertemuan ini. Sengaja kubisukan karena takut mama mungkin akan khawatir.
“Enggak makan, De?” tanya perempuan itu yang membuat aku menarik sudut bibir.
“Ayah enggak niat menjelaskan sesuatu ke Dea?”
“Semua sudah terjadi. Enggak ada yang perlu dijelaskan.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Ayah yakin kamu enggak akan siap mendengar alasan ayah. Sudahlah, kamu marah juga segalanya enggak akan bisa kembali.”
“Menurut ayah begitu? Ayah mengkhianati mama, mengecewakanku dan Dila. Laki-laki yang kami anggap pahlawan ternyata enggak lebih dari seorang pengkhianat. Ayah sudah merusak psikis kami. Karena ayah mungkin kami tidak percaya dengan pria. Hidup itu timbal balik, hari ini ayah mengkhianati mama dan esok mungkin karena kelakuan ayah ini aku dan Dila yang dikhianati orang. Ayah mikir enggak sih waktu melakukan ini semua? Ayah gagal jadi seorang nahkoda, ayah tenggelamkan kami semua.”
***
Kembali aku mengurung diri di kamar. Sibuk mengistirahatkan pikiran dari peliknya kehidupan. Pindah. Satu kata yang terus berputar di kepala selama mendekam di kamar.
Jam makan siang aku menemui mama yang sedang menyiapkan makanan.
“Ayo makan, kak.” Aku menarik salah satu kursi. Mama menuangkan nasi ke piring dan mengulurkannya padaku. “Terima kasih, ma.”
“Ma, ayo kita tinggalkan kota ini.” Mama menghentikan kunyahan menatapku penuh tanya.
“Kenapa?”
“Enggak ada apa-apa lagi di sini. Ada baiknya kita pergi dan buat hidup baru di tempat lain. Kota ini jadi asing untukku, ayo kita hidup di Jogja.”
“Ayahmu mengabari kemarin kalian ketemu. Ayah bilang apa? Apa itu jadi alasan kakak ingin pergi?”
“Ya. Untuk apa kita di sini kalau keluarga kita udah hancur? Lebih baik kita pindah karena di kota lain ataupun di kota ini sama aja. Sama-sama asing, sama-sama enggak ada keluarga.”
Mama diam cukup lama.
“Kak, kamu benar di sini ataupun di kota lain kita tetap asing. Lebih asing lagi kalau kita di kota lain. Tidak ada sanak saudara di sana. Saat kita sakit tidak akan ada yang mengunjungi. Saat kita meninggal tidak ada yang menziarahi kuburan kita. Bukankah di sana lebih asing?”
Kini aku yang terdiam.
“Jika kakak memang ingin pergi, baiklah, mari kita pergi.”
Mendengar jawaban mama aku langsung membuat pengumuman jika rumah yang saat ini ku tempatkan di jual. Papan bercetak rumah ini dijual sudah terpasang. Aku mengabarkan pada Bintang akan kembali ke Bandung dalam waktu dekat.
Sehari aku menyatakan rumah ini di jual sudah ada yang berniat beli. Tidak ingin membuang waktu kuterima langsung tawarannya yang tidak murah-murah banget. Setidaknya di atas dari awal aku beli pertama kali.
Segala perabot sudah kubagikan dengan saudara-saudara yang menginginkan. Dan ketika menyusun pakaian ke koper aku mendengar suara terjatuh yang keras. Dengan panik aku berlari mencari ke sumber suara dan kaget menemukan mama jatuh di kamar mandi dengan kepala yang berlumur darah.
Aku berlari keluar meminta tolong. Warga datang dan membantuku membawa mama ke rumah sakit. Aku panik luar biasa sampai kata-kata tidak sanggup keluar dari mulutku.
Kepalaku sibuk menyalahkan segalanya padaku. “Ini salahmu, Dea. Ini salahmu, Dea. Kamu egois, kamu udah buat mama kepikiran dan berakhir seperti ini. Kamu egois Dea.”
Mama masuk ke IGD. Aku menunggu dengan cemas. Tanganku tidak bisa untuk tidak bergetar. Saudara mulai berdatangan menenangkanku. Dan ketika dokter keluar aku enggak sanggup berdiri menopang diri sendiri.
“Mohon maaf, nyawa ibu tidak datang tertolong.” Semua terasa gelap. Kesadaranku ditarik paksa. Hari ini dan seterusnya semua hanya berisi kegelapan.
__ADS_1
Ma, maafkan aku. Ma, jangan tinggalkan aku.