
Setelah tadi malam Dandi mengajak pergi ke acaranya, siang ini dia mengajakku pergi ke toko buku yang baru dibangunnya. Aku tersenyum sinis, apa sih ini semua? Kenapa begitu banyak drama. Dia sebenarnya mau apa? Baru kemarin aku mendengar ibunya mendeklarasikan bahwa dua minggu lagi hari pertunangannya, tapi perhatian tidak juga surut melainkan bertambah. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa sih tujuannya ingin ikut andil mengujudkan mimpiku?
Kembali dia membuatku terpesona dengan caranya yang tidak biasa. Bangunan itu, bagaimana aku mendeskripsikannya? Ku bilang cantik luar biasa, kamu pasti tak akan percaya, tapi itulah yang aku lihat dari sini dengan mata dihalang kaca minus.
Toko itu sudah diisi dengan lemari buku dari kayu. Lalu dinding-dindingnya dihiasi dengan gambar-gambar bervariasi. Ada banyak kata-kata mutiara yang tertulis di dinding, dibuat seperti komik-komik. Di sudut ada beberapa kursi dan meja untuk membaca. Lalu di lantai dua ada perpustakaan mini.
Jika kamu berpikir perpustakaan itu diisi penuh dengan rak buku dan meja serta kursi untuk membaca, kamu salah. Ruang itu seperti kamar tidur bagiku. Dinding-dinding bercat biru langit itu, tiga sisinya ditutupi dengan rak buku. Lalu lantai yang dingin diselimuti oleh karpet berwarna senada. Langit-langit ruangan dilukis bergambarkan awan. Terdapat juga bantal-bantal kecil jika kita ingin membaca sambil bersandar. Ada beberapa meja lipat kecil yang diletak di sisi ruangan yang tidak berisikan rak buku. Dibagian itu juga aku menemukan kembali ada lukisan. Lukisan itu bergambarkan wajahku yang membelakangi kamera karena menatap indahnya matahari terbenam. Ya, lukisan itu diambil dari momen saat di Padang.
"Terpesona?" tanyanya dengan cengiran.
"Aku pengin nangis karena terharu." ucapku bersungguh-sungguh. Jika boleh, aku benar-benar ingin memeluknya.
"Apa iya? Kok aku enggak percaya?" Dandi tersenyum mengejek. Aku mencibir ejekannya. Aku benar-benar merasa sedih. Sangat sedih. Kesedihan ini bercampur antara sedih karena haru bahagia, dan sedih karena tidak lama lagi aku akan kehilangannya. Membayangkan dia punya orang yang akan jadi prioritas, huft.
"Aku melamar pekerjaan." pandangnya beralih pada ku cepat. Terlihat jelas keterkejutan dan tidak setuju di raut wajahnya. Aku tersenyum dan dia membuang muka.
"Kenapa? Kamu mau melamar pekerjaan di mana?" tanyanya dengan nada tidak suka.
"Bukan mau, tapi aku sudah menyerahkan surat lamarannya." kali ini aku menunduk untuk menghindari tatapan mata Dandi.
Ya, aku sudah menyerahkan surat lamarannya tadi malam. Tadi malam? Ya, tadi malam. Setelah Dandi mengantarkan ku pulang jam sepuluh, aku mengirimkan surat lamaran yang sudah ada sejak dua minggu lalu di laptop secara online. Editor yang menangani bukuku yang memberitahu tentang lamaran pekerjaan ini.
"Di mana? " tanya Dandi yang aku dengar seperti dia sedang menahan emosinya.
"Bandung. Di salah satu perusahaan percetakan buku, sebagai editor. Pengumuman penerimaan kurang dari tiga bulan."
"Lihat aku, De!" ucapnya tajam. Aku mendongak menatapnya. Senyum sinis terlukis disana.
“Ini karena pertunanganku?” geramnya. Aku berjalan menjauh tapi tangannya menarik membuat tubuhku berbalik menghadapnya.
“ Jawab!”
“Bukan. Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Dan kurasa ini adalah waktu yang tepat.”
__ADS_1
“Tepat?” Dandi tertawa. Tawanya menggema memenuhi ruangan.
"Lalu bagaimana dengan bangunan ini?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Dan, sudah kukatakan aku akan mewujudkan mimpi tapi tidak sekarang. Di saat aku telah mempunyai cukup uang. Kamu tidak mau mendengar ucapanku yang lalu." sungguh. Aku tidak bermaksud menyalahkannya karena telah membangun tempat seindah ini. Ini memang kesalahanku yang tidak pernah percaya padanya.
Tadi malam saat ku tahu ternyata dia akan bertunangan dengan seseorang dan dia tidak pernah cerita, hal itu membuatku sakit kecewa. Dengan gegabah aku mengirim lamaran pekerjaan itu tanpa berpikir lagi dan lagi. Kami enggak mungkin selalu sama dan jalan ninja dari semua ini adalah dengan salah satunya pergi.
"De, belum pernah aku sekecewa ini. Selamat, untuk pertama kalinya dalam hidupku, kamu menempati posisi dengan rekor tertinggi yang tidak bisa digantikan orang lain sebagai ORANG YANG MENGECEWAKAN DI HIDUPKU.
“Kamu tidak pernah menghargai perasaan cinta dan kasih yang aku beri. Selama ini ucapanku hanya kamu anggap candaan. Aku mengajakmu menikah itu sungguhan. Mama berniat menjodohkan denganku dengan Della tapi yang ku mau kamu bukan orang lain. Kamu enggak mau dan mama dengan tanpa diskusi langsung memberikan keputusan soal pertunangan itu. Aku masih berusaha membuat pertunangan itu tidak terjadi dan kamu seenaknya bilang melamar kerjaan di Bandung. Hahahaha, secepatnya akan kamu lihat aku mengirim undangan pernikahan." Dandi berlalu setelah mengatakannya. Aku mencoba memanggilnya tapi dia abaikan.
Bodoh.
Aku tidak akan bersuara jika kamu memaki dengan mengatakan aku bodoh. Siapa saja pasti akan melakukan kesalahan. Bertahun-tahun sekolah aku tidak pernah menyangka akan menjadi sebodoh ini. Gegabah dalam bertindak, ikut larut dalam biusan emosi, dan sekarang terjebak lalu hancur tidak tertebak.
Dandi. Perasaan macam apa ini? Air mata meluruh membasahi pipi melihat Dandi pergi melajukan motornya dan meninggalkanku dengan dua petugas yang menjaga bangunan ini.
Untuk orang seperti mu, kata tidak pantas memenuhi diri ku. Aku tidak pantas untuk mu. Mungkin akan menyesal karena menyia-nyiakan dan mengabaikan, tapi itu emang pantas dirasakan di kemudian.
***
Dandi tidak pernah hadir lagi ke rumah. Aku sudah menyiapkan koper untuk kepindahanku ke Bandung. Penerbangan sore dan malam ini hujan turun dengan kecemasan menyelimuti pikiranku.
Maaf.
Besok aku akan berangkat ke Bandung.
Kamu tega kita berpisah dengan cara begini?
Pesan terkirim sejak berjam-jam yang lalu dan sampai sekarang masih tidak ada balasan.
Sebelum berangkat sore nanti aku sempatkan pergi bersama Dila ke cafe Coco Bakery dan kafe tutup sudah tiga hari. Aku menghubungi Saras menanyakan kenapa kafe tutup. Dandi meliburkan karyawan dengan alasan memberi liburan.
Bunda ada di rumah saat aku dan Dila pulang. Terlihat berbincang serius dengan mama. Senyum keduanya menyambut kami. Aku duduk di samping mama usai bersalaman dengan bunda.
__ADS_1
“Dari mana?”
“Temani Dila tadi, bun.”ucapku berdusta.
“Bunda sudah lama di sini?”
“Lumayan. Dea jam berapa nanti berangkat?”
“Jam lima, bun.”
“Masih sempat ke rumah sakit bentar?” deg.
“Dandi sakit, bun?”
“sok-sok jadi pembalap dia. Kemarin nabrak pembatas jalan, belum bisa jalan dan masih diinfus.”
“Maafin Dea ya, bun?”
“Tidak apa-apa. Ayo berangkat, biar kamu enggak ketinggalan pesawat nanti.”
Di sana aku melihat kaki, tangan dan wajahnya penuh perban. Matanya terpejam sebelum akhirnya terbuka melihatku dan beralih ke jendela. Menghela napas aku menghampirinya.
“Seharusnya kalau marah sama aku lampiaskannya marahi aku bukan malah buat tubuh kamu jadi luka kayak gini.” Aku enggak bisa untuk tidak menangis. “Ini pasti sakit banget.”
“Masih lebih sakit saat tahu kamu pergi ke Bandung.”
“Maaf, maaf, maaf.” Aku menangis tersedu. Menutup wajahku dengan tangan mencoba menghalangi air mata melaju lebih deras.
“Jangan nangis! Tangan aku belum bisa hapus air mata kamu!”
“Sudah Dea! Jangan nangis!”
“Aku enggak marah lagi. Sudah jangan nangis! Masih nangis kuhancurkan semua yang ada di sini!”
“Di Bandung hiduplah bahagia. Jangan lupa makan dan minum, sholatnya paling penting, jangan mau diajak orang yang belum dikenal ke mana-mana! Sudah kenal juga tetap jangan asal mau! Aku enggak nyangka ayah izinkan kamu pergi. Kalau ayahmu mengizinkan, mana berani aku marah. Aku akan bertunangan dengan Della, dua bulan kemudian akan menikah dan setahun kemudian kamu akan lihat aku punya anak. Kamu harus sehat supaya lihat aku bahagia!”
__ADS_1
“Ucapanku tempo lalu masih berlaku. Jangan pernah menyesal!”