
Keisya terlalu sibuk menceritakan hari-harinya di sekolah. Minggu pagiku sudah dihiasi dengan buku-buku sekolahnya. Mulai dari berbagai tugasnya yang mendapat nilai A sampai pada celotehan dia yang tidak bisa melukis, tidak seperti Fira dan Aji temannya di sekolah yang lukisannya dipajang. Dia sudah menangis untuk minta ikut les melukis demi lukisannya terpasang di dinding kelas, tapi sang ayah enggan mengikuti permintaannya alhasil aku yang harus bicara dengan Fathan.
“Mami akan bicara dengan papi, kan?”
“Kenapa Keisya tidak belajar dengan Fira atau Aji saja?”
“Keisya malu.”
“Kenapa malu?”
“Keisya pernah minta tolong ajarkan membuat origami terus Fira bilang Keisya anak orang kaya, seharusnya tidak minta diajarkan dengannya.”
“Kenapa Dira bilang gitu?”
“Enggak tahu.”
“Kalau gitu kenapa enggak minta ajarkan sama Aji?”
“Aji marah sama Kei karena pernah habiskan bekalnya, Aji enggak pernah mau teman sama Keisya. Padahal Keisya sudah minta maaf dan ganti bekalnya dengan masakan mbak Uti.”
“Kenapa Kei makan bekal Aji? Kei enggak bawa bakal?”
“Masakan mamanya Aji enak banget, sama enaknya dengan masakan mami. Keisya sering rindu sama mami. Mami kenapa tidak tinggal di sini setiap hari saja”
***
Sejak pertemuan di stasiun Oma Keisya sering menghubungiku untuk main ke Jakarta. Si kecil Keisya tidak pernah absen untuk merecoki waktu istirahatku. Sebelum tidur setidaknya dia harus mengucapkan selamat malam. Hal itu pula yang membuat aku jadi sering berinteraksi dengan Fathan.
Aku tidak pernah mau bertanya ke mana mama Keisya. Setahun kami bersama Fathan mulai cerita. “Perempuan itu selingkuh. Aku mencintainya tapi dia enggak. Aku yang minta agar dia dijodohkan denganku. Keisya ada karena aku yang selalu mencampurkan obat pada makanannya agar dia mau berhubungan denganku. Saat dia tahu dirinya hamil dia berniat menggugurkan kandungan. Aku beri dia ancaman dan seketika dia jadi istri yang baik. Aku harus meninggalkannya untuk kuliah di Amerika setelah Keisya berusia tiga bulan.
Selama kurang dari dua tahun aku tidak pernah pulang dan kami hanya komunikasi lewat panggilan video. Saat aku pulang, usia Keisya belum genap tiga tahun. Keisya tidak terawat dengan baik. Aku diam karena kupikir dia tidak terbiasa mengurus anak kecil. Dan hari-hari saat aku pulang kerja dia enggak ada di rumah, dia baru di rumah saat tengah malam. Pucaknya pada hampir tengah malam dan aku dapat kabar dia kecelakaan. Dokter bilang bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Dia mengalami pendarahan dan perlu banyak darah. Aku bisa saja mendonorkan darah untuknya tapi aku memilih tidak.
Ponselnya hanya berisi pesan dari satu orang dan percakapan itu enggak pernah dihapus. Dari sana aku tahu dia selingkuh dengan kekasihnya dulu sebelum menikah denganku. Dia hamil masuk usia kandungan empat bulan yang bodohnya aku malah enggak sadar kalau perut dia membesar. Kekasihnya tidak mau bertanggung jawab. Kecelakaannya karena disengaja, dia bunuh diri. Dan aku menuruti kemauannya untuk bunuh diri. Aku membiarkan tim medis mengumumkan tanggal kematiannya.”
***
Aku mengetuk pintu ruang kerja Fathan dan masuk ketika dia berucap “Masuk!”. Selesai lari pagi biasanya dia akan menghabiskan waktu dengan membaca. Jika enggak ada aku Keisya sudah ikut serta menghabiskan minggu paginya dengan membaca hingga menjelang makan siang.
“Mas, mau makan siang di luar atau di rumah?”
“Coba tanya Keisya! Kalau dia mau makan di rumah kamu mau masak apa?”
“Mas mau aku masakan sesuatu?”
__ADS_1
“Boleh?”
“Tentu.”
“Tolong masakan arsik ikan mas. Kemarin ada karyawan yang masak arsik ikan mas dan rasanya enak banget.”
“Kalau gitu kita harus belanja ikan masnya.”
“Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil dulu.”
“Naik motor saja biar cepat.”
“Serius?”
“Iya, pinjam motornya pak Hendra.”
“Tapi panas.”
“Enggak apa. Ayo buruan.”
“Keisya, mami sama papi pergi bentar ya!” teriak Fathan yang melihat Keisya sedang asik bermain dengan kucing di halaman belakang.
“Ikut!” Fathan menatapku dan Keisya langsung berlari menggait tangan kiriku.
“Yakin. Mami pernah ajak Kei pergi naik motor, terus rambut Kei terbang-terbang jadi cantik.” Fathan menatap minta penjelasan. Aku hanya tersenyun dan membawa Kei pergi ke halaman depan.
“Kok aku enggak tahu kamu pernah ajak Kei naik motor?”
“Lupa.”
“Jangan diulangi!”
“Enggak janji.”
“Harus janji!”
***
Fathan tertawa ketika kami sampai depan pintu rumah. Enggak, sebenarnya dia sudah tertawa sejak kami masih di pasar berbelanja. Ini semua karena dia melihat bagaimana caraku melakukan sawala pada penjual di pasar tradisional tadi. Padahal tawar-menawar hal biasa yang dilakukan penjual dengan pembeli.
Melihatnya tertawa aku jadi teriangat ketika Dila juga tertawa dan terkagum saat aku berbelanja dengannya dulu. Katanya mirip banget sama mama. Ah, rindunya dengan mereka.
“Perlu aku bantu?”
__ADS_1
“Boleh.”
“Keisya ikut juga dong!”
Fathan membantuku menyiangi ikan sedang Keisya ikut memetik kacang panjang. Ada saja pertanyaan yang lolos dari bibirnya. Fathan dan aku sampai kewalahan menjawab pertanyaan cerdasnya.
“Eh, lagi sibuk masak ternyata, pantas mama datang enggak ada sambutan.” Tante Diana- mama Fathan datang dengan kantong plastik berisi kue juga buah. Aku mengulurkan tangan untuk menyalami beliau.
“Oma!”
“Mama enggak bilang kalau ke Jakarta hari ini. Sendirian?”Fathan merangkul dan membawa tante Diana ke ruang tamu. Keisya menatapku lalu beralih pada punggung dua orang dewasa di kanannya. “Kei bantu mami saja, deh.”
“Temui oma dulu, oma rindu dengan Kei. Biar mami yang lanjut masak.”
“Tapi,”
“Kei!” teriak Fathan.
“Sudah dipanggil papi, buruan temui oma!”
“Bentar ya, mami”
***
“Menikahlah dengan anak saya!” tutur tante Diana selesai kami menghabiskan makan siang. Fathan menatapku. Kami sudah pernah bahas ini sebelumnya.
“Berapa lagi waktu yang kamu perlukan? Tidakkah cukup tiga tahun?”
“MA!”
“Oke, mama tetap tunggu kabar baik kamu, Dea.”
“Masakan kamu selalu enak, terima kasih untuk makan siang ini. Secepatnya, kabari mama keputusan kamu! Mama harap kamu memberi jawaban yang mama inginkan.”
“Mama sudah harus terbang ke Malaysia, sepulang nanti berikan jawaban kamu ya? Mama pamit!” tante Diana mengecup kepala Keisya yang sedang menghabiskan ayam gorengnya kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.
“Maaf membuatmu enggak nyaman. Aku ke depan dulu.” Fathan pergi menyusul tante Diana.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku dengan Fathan. Aku tidak pernah ingin dia menjadi pasangan hidupku meski Keisya telah aku anggap sebagai putri kecilku. Entahlah. Siapapun laki-laki yang dekat denganku tidak pernah lebih kuanggap lebih dari seorang saudara laki-laki.
Kilasan wajah Naufal terputar. Ini yang terjadi tiap kali aku akan menjalin hubungan serius. Ada janji-janji yang kami utarakan dulu dan hal ini membuat hatiku tertahan. Sungguh, aku telah ikhlas melepas perginya. Namun, aku enggak bisa cegah ketika kenangan lalu datang menyerangku.
“Mami, hidung mami berdarah!”
__ADS_1