
Sejak pertemuan hari itu di lapangan merdeka aku jadi kembali akrab dengan bang Ridho seperti waktu silam. Tidak jarang dia datang ke rumah. Dan kedatangannya mengingatkan kepalaku pada sosok Dandi yang dulu sering main ke rumah. Bedanya kalau Dandi biasa datang sendiri sedang bang Ridho sering datang bersama teman tripnya walau pernah juga datang sendiri membawa martabak bangka.
Perlengkapan sudahku siapkan. Dengan motor yang dominan diramaikan vespa kami pergi ke bukit Holbung. Seharusnya kami pergi ke Sibayak tapi beritanya gunung Sinabung sedang Erupsi gantinya kita pergi ke Holbung.
Bukit Holbung ini adanya di kabupaten Samosir yang mana ketika kita naik ke bukit ini akan disuguhi pemandangan Danau Toba. Orang lebih sering menyebutnya bukit teletubis. Kalau beruntung kamu akan dapat melihat keindahan matahari terbit. Tidak sulit naik ke bukit ini karena ada tangga untuk aksesnya utamannya sebelum berjumpa dengan tanah.
Bukit ini tidak lagi asing di telinga para anak muda yang sering berkecimpung dengan alam, tapi untuk para orang tua yang tidak asli penduduk daerah Samosir mereka jelas akan bingung di mana letak bukit Holbung. Berhubung sekarang banyak begal kita berangkat siang usai sholat dzuhur dan sampai tepat menjelang senja menghilang. Ada lahan parkir yang menjaga motor, jadi atas izin Allah kendaraan aman ditinggal di bawah.
Bang Ridho membiarkanku mendirikan tenda. Saat kemah dengan Naufal ataupun Dandi biasanya mereka membantuku. Aku bilang begini bukan karena ingin dibantu, tapi karena aku merasa perbedaan ini menciptakan hal baru untukku. Aku merasa hidup dan bebas.
“De, jadi bawa garam kasar?” aku membuka tas dan memberikan satu bungkus garam yang belum dibuka. Bang Ridho menaburkannya di sekeliling tenda lalu mengikat sisa garam dengan karet dan mengembalikan padaku.
Sudah lama banget enggak lihat bertaburan di atas kepala kayak gini. Danau toba di malam hari tampak mempesona dengan kilauan lampu rumah rakyat. Aku tidak tahan untuk tidak memotretnya.
“Semoga besok enggak mendung, jadi kamu bisa lihat gimana cantiknya pas lagi matahari terbit.” Bang Ridho memberikan secangkir teh.
“Kapan-kapan kita ajak kamu ke bukit Siattar Atas. Itu juga bagus banget.” Sambung bang Satya.
“Banyak bukit ya sekarang. Aku belum tahu tempat yang kalian bilang. Selanjutnya kita ke sana dong!”
“Santai. Entar diajak main ke sana.”
“Dia tinggal di Bandung lima tahun tapi enggak pernah naik gunung. Padahal di sana banyak.” Ejek bang Ridho yang ditertawai bang Satya.
“Bang Satya ini orang Bandung. Asli orang Sunda. Banyak temanan sama orang Medan, hilang logat Sundanya.” Jelas bang Ridho.
“Beneran?”
“Iya. Kamu mau coba bakar jagung?”
Nah, ini dia. Selama ini segalanya aku tinggal terima bersih. Kali ini aku kemah dengan cara yang beda. Aku pasang tenda sendiri, disuruh masak jagung juga nasi untuk kami makan besok. Aku mengambil beberapa jagung dan mulai mengolesnya dengan margarin.
Melihat bang Ridho bermain gitar dan bernyanyi bukan hal asing untukku. Saat sekolah dulu dia tidak pernah jauh dari yang namanya alat musik petik. Kantin akan ramai dengan suara gitar dan juga nyanyian dari teman-temannya. Beberapa kali kami kemah bareng dia juga yang menjadi penyanyi dan pemain gitar.
Jam dua dini hari saat orang lain tertidur aku justru sibuk menulis dan menatap bintang dari dalam tenda yang jendelanya sengaja kubuka. Sedari dulu aku tidak pernah mau tidur saat pergi kemah. Sia-sia rasanya jika harus menghabiskan waktu tertidur saat sudah melakukan perjalanan jauh.
Sadar aku belum tertidur bang Ridho menghampiriku di jam tiga pagi dengan kopi untuknya dan teh untukku. Rokok diampit pada jari-jarinya.
__ADS_1
“Kamu di dalam tenda saja. Udaranya dingin. Tapi kalau mau keluar juga enggak apa. Pakai sarung tangan.” Aku memilih duduk di sebelah bang Ridho. Di ambilnya masker dari tas obat dan menyerahkannya padaku.
“Pakai! Aku lagi merokok.”
“Kalau aku pakai masker gimana minum tehnya?” bang Ridho menatap sebelum akhirnya menyentil dahiku dengan telunjuk dan ibu jari.
“Pakai dulu maskernya, selesai aku merokok baru minum. Cara adil biar aku enggak perlu matikan rokok.” Tertawa aku ikut apa katanya.
“Aku pikir akan dapat undangan bertulis namamu dan Dandi.”
“Aku pikir akan menyebarkan undangan bertulis namaku dan Naufal.”
“Bajingan. Kamu tahu enggak kalau si Dandi suka kamu sejak lama?”
“Mana tahu, Dandi enggak pernah bilang. Sesuatu yang enggak diutarakan enggak pantas dipercayai. Selama inikan hanya dengar orang lain yang bilang begituan.”
“Emang cewek gila ya kamu. Jadi udah pernah jumpa Dandi lagi?”
“Kemarin di Jakarta aku datang ke acara pamerannya.”
“Lah, kok kita enggak jumpa? Aku datang ke sana sebelum balik ke Medan.”
“Sendirilah.”
“Makanya bawa cewek.”
“Ke mana?”
“Ke mana abang pergilah.”
“Udah aku lakuin.”
“Kapan?”
“Saat ini. Kan aku bawa kamu.”
“Receh ya kamuuuu.” Jawabku memutar mata jengah yang dijawab dengan gelak tawa.
__ADS_1
“Tidur gih, entar ngantuk di motor.”
“Tanggung udah mau shubu.”
“Nanti aku bangunkan. Tidur dulu!”
Usai menghabiskan teh aku masuk ke tenda dan memejamkan mata. Tidak benar-benar tidur. Sampai bang Ridho menyuruh untuk sholat subuh dan kemudian kami sholat barengan.
Menjelang fajar udara jadi lebih dingin. Aku sudah siap dengan kamera untuk menyantap matahari terbit. Kala sinar aftab mulai malu-malu menampakan dirinya aku tersenyum menatap hasil bidikan.
“Kamu enggak ikutan difoto?” tanya bang Satya saat keluar dari tenda.
“Boleh tolong fotokan?” tanyaku. Satu lagi yang beda dari kemah yang pernah ku alami. Selama ini aku selalu ditawari ‘mau aku fotokan?’ ataupun sudah difoto dengan sendirinya. Kali ini aku justru mengucapkan kata tolong.
“Dho, ambilkan gih foto dia!” bahkan dioper ke orang lain.
Usai menikmati bukit Holbung kami pergi ke air terjun Efrata yang isinya hanya dikunjungi oleh kami. Menghabiskan waktu dua jam untuk mandi-mandi jam empat kami balik ke Medan. Alhasil sampai Medan jam sepuluh malam dan itu karena beberapa orang yang motornya mogok.
Aku kaget ketika pulang disuguhi dengan pemandangan ayah dan mama yang bertengkar. Suara mama berteriak nyalang diikuti dengan ayah yang tidak mau kalah. Aku menatap bang Ridho yang diam menatapku.
Kepalaku sudah dipenuhi pertanyaan ‘sejak kapan ayah dan mama bertengkar dengan suara begitu?’ ‘apa yang membuat mereka bertengkar?’
“Kamu okey?” tanya bang Ridho yang aku sendiri bingung mau jawab apa.
Ayah ke luar dari rumah dan kaget menatapku yang kini diam mematung. “Kamu sudah pulang?” tanya ayah yang aku tahu itu hanya basa basi yang basi. Aku tidak menjawab.
“Ayah pergi dulu!” masih enggan menjawab aku membiarkan tubuhku mendengar suara motor ayah yang perlahan menghilang tanpa berniat menggerakkan tubuh untuk melihat langsung kepergian ayah.
Bang Ridho menepuk pundakku. “Dea?” dia menarikku untuk menatapnya, melayangkan satu kecupan di dahiku dan menempelkan dahinya dengan dahiku. Seharusnya seperti yang pernahku baca di novel dulu, seharusnya aku merasa berdebar diperlakukan seperti ini. Seolah mati rasa aku tidak merasakan apapun, diam adalah respon yang kuberikan.
“Dea?! Seharusnya kamu pukul saya bukan diam!” otakku menyetujui tapi diam tetap jadi responku.
“Dea?! Dea! Dea!”
“Pulanglah! Sudah malam.” Aku pergi begitu saja meninggalkannya. Sebelum benar-benar pergi tanganku ditahan.
“Semua baik-baik aja.”
__ADS_1
Kepalaku pusing karena seperti pernah merasakan hal ini. Kalimat motivasi, kalimat penguat diri. Rasa sakit itu semakin menjadi hingga gelap merebut kesadaranku. Suara mama yang panik bersama bang Ridho adalah hal terakhir yang kudengar sebelum tidak sadarkan diri.