Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 7


__ADS_3

"Maksudnya?" tanyaku gemetar.


"Saat di Bandung, Mas sempat kecelakaan karena ditabrak oleh pengendara motor. Mas hanya terluka kecil tapi tetap mengeluarkan darah. Melihat si pengendara yang terluka tidak sadarkan diri membuat Mas menolongnya ke rumah sakit. Darahnya mengenai kaki dan tangan Mas Naufal yang terluka, dan ternyata pengendara itu positif AIDS dan penyakitnya menulari Mas Naufal. Kita sudah mencegahnya sejak lama dan kemarin adalah finalnya. Mas akhirnya pulang kepangkuan Allah."


"itu sebabnya Mas tidak pernah memberi kabar pada Mbak lagi. Mas memintaku menyampaikan minta maaf karena ternyata tidak bisa menepati janjinya yang mengatakan ingin mengajak Mbak travel ke pulau Jawa. Itu sebabnya saya yang mengajak Mbak kesini menggantikan Mas Naufal."


"Ghina yang Mbak baca dalam kertas undangan itu sebenarnya Mbak. Ghina bisa berarti Ratu. Dia mengatakan Mbak adalah Ratu dihatinya. Itu keingin Mas Naufal sebenarnya. Dia ingin bisa menikahi Mbak saat Mbak selesai kuliah, tapi sayangnya tuhan berkata lain. Itu undangan hanya dicetak untuk Mbak."


"Mas orang yang baik, aku tidak menyangka dia akan meninggal seperti itu."


Aku menghapus jejak air mata yang entah sejak kapan jatuh. Tasya menggenggam tanganku erat.


"Kita tetap akan melanjutkan perjalanan ini sampai seminggu, saya mengajak cowok pemilik cafe itu kemari, kita akan menjemputnya besok di Bandara."


***


Aku masih tidak percaya kalau si Dandi manusia menyebalkan hadir di sini. Kacamata hitam bertengger masis di hidungnya.


Oh dasar!


"Hai." sapanya dengan tampang paling sombong. Aku membuang muka tidak suka.


Sudah pernah ku katakan kalau di dunia ini saling berpasangankan? Kemarin aku bersedih karena kenyataan yang mengejutkan. Bagaimanapun kronologis Naufal terkena penyakit menyeramkan itu, pandangan masyarakat tak bisa diubah. Mereka tetap akan mengklaim itu hal yang buruk dan hanya dilakukan oleh orang yang suka bermaksiat. Wajar saja jika meninggalnya Naufal kemarin disamarkan dengan mengatakan bahwa Naufal terkena sakit Kanker lambung. Dari sedih kemarin, hari ini aku kembali merasakan senang saat melihat makhluk ciptaan tuhan yang amat menyebalkan,menurutku, sedang berdiri dengan tampang sok ganteng.


Setelah bercerita-cerita cukup lama kami kembali mengunjungi Jalan Malioboro menuju Pasar Beringharjo. Pasar ini merupakan tempat yang harus kamu kunjungi saat berada di Jogja. Kamu akan menemukan banyak souvenir cantik dengan harga murah disini. tidak hanya menjual batik, pasar ini juga menjual barang-barang antik dan uang kuno. Jangan lewatkan tempat ini kalau sedang berkunjung ke Jogja.


Selesai dari sini kami pergi ke Candi Ratu Boko. Ini merupakan tempat romantis yang bisa kamu kunjungi bersama dengan pasangan. Melihat akan sangat bagus dari sini.


Aku menyuruh Dandi mengambil gambarku dan Tasya yang menghadap kearah sunset. Tasya juga mengambil foto ku bersama Dandi. Aku memasang wajah tak suka sedangkan Dandi tersenyum dengan tampang sok gantengnya.


"Saya akan balik ke Jakarta malam ini. Mbak tetap harus melakukan travel ini sampai selesai." itu yang dikatakan Tasya sesaat kami mengantarnya ke stasiun kereta.


Ada beberapa daftar list yang masih harus aku kunjungi. Besok kami akan pergi ke keraton jogja dan juga Museum Ullen Sentalu. Lalu lusa harus mengunjungi kebun buah mangunan dan lanjut ke Kulon Progo untuk mengunjungi tempat wisata Hutan Mangrove Kulon Progo, Air terjun kedung pedut dan kalibiru di kulon progo.


Dandi menjadi fotografer mendadak sekarang. Kami juga mencicipi banyak makanan khas kota Jogja, rasanya tidak ingin pulang dari sini.


Setelah menyelesaikan semua daftar listnya kami kembali ke kota Jogja. Ini saatnya berburu oleh-oleh. Aku pergi mengunjungi pasar yang menjual buku bekas tahun 80an untuk ku bawa pulang.


Novel Belenggu karya Novel belenggu karya Arjjimin Pane. Lalu disusul dengan novel salah asuhan, keluarga cemara, tenggelamnya kapal van der wijck, lalu kumpulan puisinya chairil anwar yang tertulis dalam buku Deru campur Debu.


"Itu semua mau dibaca?" tanya Dandi kaget dan penuh takjub.


"Iyalah, gak mungkin dibakar. Gak pernah tau ya? Buku yang telah lama, usang, dan tua mempunyai bau yang dapat menenangkan jiwa." ucapku dengan senyum manis.


Penjual buku tersenyum geli melihat kami berdua. Aku mengeluarkan tawa renyah padanya.


Setelah membayar semuanya kami pergi meninggalkan kota penuh cinta ini menuju Bandara. Hari ini aku akan meninggalkan kota penuh kenangan ini dan kembali ke Medan.


Naufal.


Biarlah namanya tetap tertanam di hati. Meski tak lagi ada musim semi, tapi musim gugur pun tak perlu hadir lagi.


Untuk cinta yang pernah ada, kuucapkan terima kasih. Untuk kasih sayang yang tersamarkan, tidak akan ku lupakan. Untuk cinta dan doa yang tidak sempat ku dengar, Aku ikhlaskan.


Jogja,  selamat tinggal. Terimakasih  untuk kenangan indah saat di sini. Tetap indah dan jangan berubah.


Dandi menepuk tas ranselku dan mengajakku untuk segera pergi.


Rindu..


Jika nanti kau hadir menyapaku,


Tolong jangan sampai menyiksaku,


Sebab dia sudah jauh,            


Jauh pergi dan tak akan kembali

__ADS_1


Karena bukan dia rumah untuk hatiku pulang nanti


Dia hanya cinta dalam diam dan sepi


Yang pada akhirnya harus kulepas tanpa ku miliki


Ku biarkan namanya tetap tertanam di hati


Meski tak mekar dan berbuah lagi,


Tak apa, kenangannya masih bisa menyejukkan hati


Teruntuk mu, ku ucapkan terima kasih.


-Naufal Ramadhan-


 


\\*


 


Malam minggu yang cerah. Aku duduk di lantai tiga bersama Dandi di sana. Menatap kerlap-kerlip bintang yang bertabur berteman satelit dan bulan.


Coklat panas dan roti keju jadi teman kami mengobrol. Aku tersenyum menikmati manisnya coklat. Lalu menatap jauh ke jalanan yang ramai. Suara klakson dari kendaraan menjadi nyanyian pengisi sunyinya malam.


"De."


"Hmm."


"Masih ingat gak sama impian yang kamu tulis dulu di buku tahunan sekolah?" aku menatap manik mata coklat milik Dandi yang juga menatapku.


"Impian yang mana? Aku nulis banyak impian dulu." ucapku bingung.


"Poin nomor sepuluh, yang setelahnya kamu bilang kamu mau buat sekolah. "


Belum sempat ku tuntaskan proses mengingat apa yang tertulis dalam buku tahunan, Dandi datang menyahut " Kamu ingin membangun toko buku yang ada perpustakaannya. "


Aku mengulum senyum. Menganggukkan kepala karena telah mengingatnya.


"Oh yang itu, ingat. Masih dalam proses. Kenapa?"


Jujur. Aku tidak pernah berpikir bahwa Dandi akan mengingat apa yang menjadi impianku dahulu. Ini terasa aneh.


"Aku berbohong perihal kepergian kita ke Padang." ucap Dandi yang membuatku semakin bingung.


"Bohong? Bohong apa?"


"Minggu depan hari ulang tahun ku, kamu ingat?" tanyanya membelit ke sana ke mari.


"Tentu."


"Boleh aku minta hadiah?"


"Apa?"


"Boleh tidak?"


"Boleh. Mau hadiah apa?"


"Izinkan aku ikut serta dalam mewujudkan impianmu membangun toko buku bersamaan dengan perpustakaan itu."


Kaget. Aku menatap tak percaya apa yang aku dengar.


"Apa?"


"Kamu sudah bilang akan memberikan ku hadiah."

__ADS_1


"Iya, tapi masalahnya ini, kenapa malah mau ikut mewujudkan impian ku?"


"Melihatmu senang merupakan suatu kebahagiaan untukku."


Bolehkah aku berharap bahwa yang bicara seperti itu bukan Dandi, melainkan Naufal? Tidak perlu ditanya lagi bagaimana detak jantungku.


Aku benar-benar tidak ingin jatuh cinta pada Dandi, kami akan terluka bila bersama. Dia sosok yang welcome bersama siapa saja, dan aku tidak bisa jika harus menerimanya.


"Aku belum berpikir untuk mewujudkannya sekarang. Mungkin nanti setelah aku menikah akan aku wujudkan, jadi ku rasa aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu."


"Kenapa kamu tidak mau mewujudkannya sekarang?"


"Uang tabunganku masih belum mencukupi, dan koleksi bukuku juga belum banyak."


"Jika aku tetap memaksa ingin meminta itu bagaimana?"


Aku tidak menjawab. Lebih memilih tertawa. Tawa yang terdengar aneh sebenarnya.


"Mau ikut aku ke suatu tempat?"


"Ke mana?"


"Tidak akan tahu jika tidak dicoba."


Dengan ragu aku ikut pergi bersama Dandi. Lokasinya tidak jauh dari Cafe Coco Bakery. Kami berhenti di depan ruko tiga tingkat. Tertulis jelas disana ToBu Per Min D.


Aku menatap haru bangun itu. Belum sepenuhnya jadi, tapi sudah kelihatan sangat elegan. Aku tahu kepanjangan dari ToBu Per min D. Itu pernah aku tulis dengan tinta biru di dalam buku tahunan dan juga dairyku yang usang.


Toko buku perpustakaan mini Dea.


Aku berlari memeluknya. Siapa yang tidak terharu diperlakukan sedemikian? Aku semakin merasa tak pantas jika harus mencintainya. Untuk hati tulusnya, seharusnya dia bisa bersama orang yang juga tulus mencintainya.


***


Dandi melarangku untuk menceritakan tentang toko buku yang dibuatnya. Katanya aku boleh bicara setelah bangunan itu selesai nanti. Dan katanya bangun itu selesai tepat dihari Dandi ulang tahun, satu mei.


Kamu harus bersabar menunggu hari itu tiba jika ingin mendengar penjelasan yang dia berikan. Selama menunggu, ku rasa ada baiknya jika ku ceritakan sedikit tentang Dandi. Aku tidak yakin kamu mau mendengarnya, tapi bukan masalah jikalau kamu tidak mau.


Dandi. Dandi Putra Mahesa. Aku berpikir bahwa Mahesa merupakan nama Ayah Dandi. Ternyata salah. Arti namanya adalah Dandi putra yang kuat, yang berguna bagi orang lain. Lahir pada tanggal satu Mei di Riau dan dibesarkan Di Medan.


Dia memiliki adik perempuan bernama Meera. Tapi di usia sepuluh tahun gadis manis yang pernah ditunjukkan Dandi fotonya padaku meninggal karena keracunan makanan di sekolah. Wajahnya sekilas sangat mirip dengan Dandi. Berbola mata coklat terang, jernih dan bersih.


Saat di SMA tak sedikit yang menyukainya. Tiap kali sekolah mengadakan acara banyak siswi memberi coklat ke dalam tas Dandi secara diam-diam. Dan setelahnya coklat itu kami buat untuk eksperimen makanan baru ataupun dibagikan ke orang-orang.


"Kenapa dikasih ke orang-orang?" tanyaku saat itu.


"Mau gimana lagi, mau dikasih ke kamu, kamunya gak suka." ucapnya santai.


"Tapikan kesannya kamu kayak gak berterima kasih ke orang yang udah ngasih kamu coklat."


Dandi berhenti berjalan dan menatapku penuh selidik. Aku ikut menatapnya, tapi dengan raut bingung penuh tanya 'ada apa?'


"Kenapa kamu marah saat aku tidak memakan coklat itu? Jangan bilang kamu memberikan coklat juga padaku." ucapannya nyaris membuatku jatuh.


ku pukul jidatnya. "Dibanding kasih ke orang-orang mending kita buat untuk eksperimen makanan, terus nanti bisa kita jual kalau rasanya enak."


"Setuju!"


Apa aku setidak punya kerjaan itu sampai memberinya coklat? Apa aku sebegitu bodoh sampai menjadi salah satu pengagumnya? Oh tidak. Aku tidak akan pernah mau melakukan itu. Menjijikkan. Dandi tidak sekeren itu sampai mempunyai banyak fans.


Senyum menyebalkan dan juga perhatiannya yang membuat banyak gadis-gadis bodoh menyukainya. Ketika berjalan seperti ini bersamanya adalah hal yang paling menyebalkan di sekolah. Cewek-cewek itu emang tidak menatapku tak suka, juga tidak membullyku di sekolah. Tapi sesampai aku di rumah. Tidak terhitung berapa banyak pesan yang menanyakan tentang Dandi padaku.


Kesal? Sudah pasti, itu tidak perlu ditanya lagi.  Bakatnya di seni gambar membuat dia kerap menggombal dengan mengirim lukisan wajah disertai bunga mawar.


Saat aku berulang tahun dia juga pernah  memberiku lukisan bunga mawar hitam yang diberi bingkai kaca. Entah dari mana dia belajar menggombal, katanya bunga mawar hitam itu berarti kesetiaan. Karena warna hitam mau dicampur dengan apapun tetap akan menjadi hitam. Ku rasa dia keliru. Nyatanya, warna abu-abu ada ketika hitam dicampur putih.


Semua orang pasti akan berubah, cepat atau lambat. Tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini. Dunia sekalipun akan berubah seiring berjalannya usia. Jika perubahan tidak ada, maka kata berubah pun tidak akan pernah ada menjadi kosakata. 

__ADS_1


__ADS_2