Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 3


__ADS_3

Aku tidak bisa menjelaskan kemana saja kami telah melakukan perjalanan selama di Padang, karena ini benar-benar melelahkan juga menyenangkan. Ini hari terakhir kami melakukan perjalanan, Dandi membawa kami semua menuju Pantai Pariaman.  Pantai Pariaman salah satu tempat pariwisata yang banyak dikunjungi warga lokal maupun luar lokal. Keindahannya masih terjaga.


Aku terdiam menikmati angin sore yang menerpa kerudung biru pemberian Dandi saat hari ulang tahunku dua tahun lalu. Ombak berlari menjilati kaki yang kubungkus dengan kain. Dandi duduk di pondok bersama Rizka dan beberapa temannya. Hari sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, sebentar lagi suara adzan magrib akan berkumandang dan aku masih setia menunggu tenggelamnya sang surya di ufuk barat.


Entah sejak kapan, Dandi berdiri dengan mengalungkan kamera kebanggaannya.


"Mau aku foto?" tanyanya.


"Pembohong banget, padahal sebenarnya diam-diam sudah ngambil foto aku." Dandi menarik sudut bibir ke atas. Aku mendelik tak suka melihat senyum miringnya.


"Kok bisa tau si?" tanyanya menatap ke kakinya yang basah dijilat ombak.


"Maklum aja, Ki Joko Pintar dulu teman aku main guli, jadi ketularan bisa cenayang." dapat ku dengar suara kekehan keluar dari bibirnya. Dia mengarahkan kameranya dan memotret wajahku tanpa permisi.


"Dandi!" bentakku kesal.


"Suka banget sih buat kesal." ucapku tak suka.


"Kalau enggak buat kesal bukan Dandi namanya." ucap Fina merangkulku.


"Fin, kau ganggu orang itu pedekate aja si. " celetuk Rizka yang ikut bergabung.


"Diam!" bentakku yang membuat mereka tertawa.


Matahari mulai tenggelam, aku meminta Dandi mengambil fotoku yang membelakangi kamera. Lalu dengan tanpa permisi Rizka mengambil foto aku dan Dandi yang sedang berada sangat dekat saat aku sedang melihat hasil dari fotoku yang diambil Dandi. Dan lebih menyebalkannya Dandi justru mengucapkan terima kasih atas tindakan Rizka mengambil foto tanpa permisi.


Setelahnya kami pergi mencari masjid untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Islam. Lalu setelahnya kami bergerak menuju kampung halaman, kembali ke Medan.


Berhari-hari melakukan trip membuat tubuhku ingin remuk karena kelelahan. Sampai di Medan dapat ku pastikan akan terkapar berhari-hari di kasur.


***


Tiga hari sudah aku terpaksa meminum obat penurun demam dan juga antibiotik. Dan selama itu pula Dandi rajin mengunjungi rumah sehari dua sampai tiga kali. Tidak perlu ditanyakan makanan apa saja yang dia bawakan untukku, cowok menyebalkan itu terus mengirimkan makanan.


Hari ini aku sudah bisa melanjutkan tulisan meski mama tidak mengizinkanku untuk pergi keluar. Awalnya mama tidak mengizinkan, tapi mendadak aku mendapat berita kalau cowok yang selama ini ku taksir diam-diam sudah pulang ke Medan, membuatku pamit pergi dengan mama dan melupakan tulisan yang harus segera aku selesaikan.

__ADS_1


Begitu aku sampai di Lapangan Merdeka, tempat yang biasa digunakan untuk upacara tujuh belasan dan sering dijadikan tempat pameran atau acara-acara besar, aku melangkah menuju salah satu tempat makan yang ada disana.  Benar,  dia sudah kembali,  dan sekarang dia tengah duduk bersama seorang gadis cantik yang aku kenal sebagai adiknya.


Dia sedikit kurusan, wajahnya pucat, seperti orang sakit.


"Assalamualaikum." ucapku tersenyum manis.


"Waalaikumsalam." ucap mereka bersamaan.


"Akhirnya bisa lihat wajah Mbak secara langsung ya." ucap Tasya dengan senyum. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui facebook dan beberapa sosial media. Begitu juga dengan Naufal, kami sesekali berkomunikasi melalui sosial media.


"Iya bener. Lagi libur atau gimana?" tanyaku basa basi karena sebenarnya ini sedikit canggung.


"Ambil libur sendiri." jelas Naufal yang kusahuti dengan anggukan.


"Aku akan menikah dua minggu lagi."


Door. Suaranya bagai tembak yang mengelurkan timah panas dan mendarat tepat mengoyak hatiku. Menghancurkan segala mimpi dan impian yang ingin ku bangun dengannya. Aku berharap telingaku tuli sekarang, aku tak ingin mendengar hal yang menyakitkan ini.


Kertas undangan berwarna biru diberikan Tasya padaku. Aku tersenyum getir menahan butiran kristal yang mendesak keluar membasahi pipi. Tidak. Aku tidak boleh menangis, setidaknya jangan sampai menangis di sini.


Aku berharap Dandi menghubungiku sekarang dan membawaku lari dari sini.


"Selamat ya. Tapi acaranya jauh banget, aku enggak janji bisa datang ke Jakarta untuk undangan."


Acaranya dilakukan di Jakarta, begitulah keterangan yang tertulis.


"Tidak masalah Mbak,  yang terpenting adalah doanya. " aku menarik kembali senyum untuk tetap terpasang di wajah, setelah ini aku akan pergi menangis di kamar.


"Ya, benar."


Dering ponsel yang dari tadi aku tunggu akhirnya berbunyi nyaring. Aku tersenyum melihat nama Amara ada di layar ponsel.


Tanpa menunggu aku menjawab panggilan itu dengan ucapan salam.


"Aku lagi di luar, kenapa? Oh yaudah, aku ke sana sekarang. Iya, tunggu bentar, enggak lama kok ke sana. Oke."  setelah panggilan terputus aku kembali menatap mereka masih dengan senyum.

__ADS_1


"Maaf banget, tadi editor aku nelpon, aku harus pergi untuk membahas naskah novel yang akan aku terbitkan, jadi aku harus pamit sekarang, ga papakan?" ucapku penuh dusta.


"Oh gitu, yaudah enggak apa, teman-teman yang lain juga pada di jalan menuju ke sini." aku kembali terdiam penuh kesakitan. Jadi dia tidak hanya mengajakku, tapi juga teman-teman yang lainnya? Kenapa rasanya sesak sekali Ya Allah?


Inikah risiko mencintai dalam diam? Hingga sakitnya pun hanya menahan sendirian. Aku tidak tahan lagi berada di sini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya di rumah. Aku kecewa, terluka, bagaimana menghapus sedihku?


***


Ini sudah tiga hari aku di dalam kamar dan menangis sedih. Mama tidak bertanya perihal mengapa aku menangis, sebab alasannya sudah tercetak jelas ketika melihat nama Naufal ada di kertas undangan.


Bahkan waktu tiga hari pun tak juga menghabiskan air mataku.


Jangan pernah mengatakan ku berlebihan karena menangis sampai berhari-hari, kau tidak tahu bagaimana kesedihan ini. Bisa kau hitung berapa tahun aku mencintainya dalam diam? Lebih dari satu atau tiga tahun. Sembilan tahun telah aku melangitkan namanya, bagaimana bisa aku tak merasa sesedih ini?


Selama kami berkomunikasi melalui sosial media, tidak jarang dia memberi perhatian dan ungkapan yang seolah menyatakan dia akan datang padaku.  Apa dia juga sama dengan pria lain? Hanya berpura-pura memberikan perhatian yang sebenarnya tak ada.


Aku terluka. Dandi tidak tahu perihal ini. Dia sedang sibuk untuk mengurus pamerannya kurang tiga bulan lagi.


Dalam isak tangis yang masih menguasai, Dita-temanku saat SMP dulu yang kini bekerja sebagai perawat di rumah sakit menelpon.


Tangan ku bergetar mendengar apa yang dia katakan. Tangisku kembali pecah, kali ini lebih deras yang membuat mama berlari ke kamar melihatku.


"Kenapa?" tanya mama di bingkai pintu. Aku segera mematikan telepon itu dengan kasar. Mama berhambur memelukku dan aku menangis semakin kencang.


"Kenapa?"tanya mama lagi.


"Naufal meninggal, Maaaaaa. Dia terkena kanker lambung. Dita di rumah sakit menghubungiku. Mamaaaa. Tiga hari lalu dia datang menemuiku dan mengatakan akan menikah, sekarang dia justru pergi meninggalkan dunia. Mama,  dia jahat, dia tinggalin akuuuuu."


Dengan air mata yang masih setia mengalir, aku pergi bersama mama melayat ke rumahnya. Tubuh itu bebaring kaku dan pucat. Senyum tercetak di bibirnya yang kian pucat.


Ya Allah, lindungilah dia, pria yang selama ini hamba cintai karena Engkau. Terima amalan ibadahnya selama hidup di dunia, ampunkan segala dosa yang dengan atau tanpa sengaja dia lakukan. Masukkan dia ke surgaMu tanpa hisab Ya Allah. Dan ikhlaskan hati hamba menerima ini semua.


Satu per satu aku melihat teman-temanku datang melihat jasadnya. Aku tak punya tenaga untuk menutupi kesedihan ini. Aku menangis tanpa peduli pandangan orang.


Tasya ikut menangis sambil memanggil "kakak". Aku mengusap lembut pundaknya. Tak peduli dengan air mata yang mengalir, ku ambil buku yasin dan mulai membacanya.

__ADS_1


Cinta dan rinduku tak terbalas, maka biarkan hati ini terbang bebas. Rindu? Cinta? Kenapa kalian harus menyiksa?


__ADS_2