Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi

Tak Semanis Tebu Tak Sepahit Kopi
Bab 15


__ADS_3

Aku menatap rumah minimalis yang kini tampak lebih indah di pandang dari dua tahun lalu saat aku membelinya. Ada pohon mangga yang tumbuh tidak terlalu tinggi, bunga anggrek yang tergantung indah bersama deretan bunga mawar dan kertas dalam pot kramik. Ayah juga membuat kolam ikan hias.


Cat rumah dipilih sesuai dengan selerahku putih dan biru untuk bagian depan. Biru dan merah muda untuk bagian dalam. Dan khusus kamarku sengaja dicat dengan biru, putih dan merah muda.


Dari dulu aku tidak pernah suka rumah besar yang bertingkat. Entahlah, aku enggak punya alasan khusus, tapi menurutkan jika terjadi sesuatu akan sulit untuk melewati turun tangga.


Menyeret koper ke kamar aku tersenyum disambut pigura diriku saat yang dulu dipajang pada kamar kontrakan rumah lama. Foto saat pertama kali aku mendaki gunung Sibayak berdua dengan Dandi. Aku enggak percaya bisa sampai ke puncak melihat ini pertama kalinya aku bercinta dengan alam.


Saat pindahan dulu kamar ini belum diisi apapun. Melihat kini ada tempelan foto polaroid bersama lampu tumblr sudah pasti Dila melakukan dekorasi.


“Kak, itu tas-tasnya bawa kamar semua apa gimana?” mama berdiri di bingkai pintu menatap aku yang masih asik menyelisik kamar. Aku tersenyum kepada mama. Meletakan koper di sudut depan lemari pakaian lalu ikut mama ke luar kamar. Menatap dua tas jinjing yang berisi buah tangan dari Bandung.


“Ini isinya baju dan ini makanan. Oleh-oleh dari Bandung. Besok bagikan kalau ada saudara yang datang. Letak di kamar mama saja ya?”


Mama dibantu Dila membuka tas jinjing dan memilah mana yang akan dibagi. Aku mengerutkan kening merasa ada yang aneh dengan rumah. Seperti ada yang kurang dan hilang.


“Ayah di mana?” tanyaku yang membuat Dila ataupun mama berhenti dan menatapku. Mama mengalihkan pandang diikuti Dila. Aku menunggu jawaban.


“Ayah pergi dengan temannya tadi. Ada kerjaan.” Hanya firasat atau emang benar, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan di sini.


Mengambil satu keripik aku melemparkannya pada mantan yang merangkap jadi teman Dila. Pria yang tadi sibuk dengan ponselnya kaget menerima serangan dariku. “Makan keripiknya, diam mulu dari tadi.” Ujarku tersenyum sinis.


“Dea mau ke kamar deh. Capek banget pengin tidur dulu.”


Di kamar bukannya tidur aku malah membuka lemari kaca yang menjadi rumah untuk kumpulan novel, cerita, dan juga puisi-puisi yang dulu aku beli. Aku menatap kembali novel terakhir yang aku tulis sebelum pindah ke Bandung dan memutuskan berhenti menulis. Tidak berhenti sebenarnya. Aku masih tetap menulis hanya saja tidak lagi dikirim ke penerbit.


Di bagian bawa lemari aku menemukan album foto usang. Foto kumpulan ayah dan ibu menikah dulu bersama dengan foto aku dan Dila yang masih kanak-kanak. Foto saat aku duduk di bangku taman kanak-kanak dengan berbagai lomba yang sering aku ikuti juga foto saat duduk di bangku sekolah dasar.


Mataku menyelisik album sekolah menengah pertama yang menampilkan wajahku saat pertama kali masuk sekolah yang mengingatkanku kembali pada pertemuan dengan Naufal dan kedekatan kami. Lelaki jawa itu selalu sukses membuat kelas ramai dengan lelucon yang dia berikan. Aku berhenti pada foto yang samar dalam ingatan.


Aku, Naufal, Dewi, Arhan dan seorang lelaki yang namanya terlupa dalam ingatan. Siapa? Sakit memikirkannya aku kembali mendapati foto Naufal yang berdiri di bawah tiang basket. Aku ingat ini, foto  usai pertandingan sepak bola dulu. Saat Naufal kalah dan dia kena marah dengan temannya.


Sekolah biasa mengadakan perlombaan antar kelas saat memperingati hari kemerdekaan, hari guru, pun hari menjelang bagi raport. Hari itu, dua hari usai ujian semester ganjil di kelas dua, aku masuk rumah sakit untuk operasi amandel. Tidak seorangpun teman yang tahu aku di rumah sakit.


“Kau datangkan nanti saat acara turnamen?” tanya Naufal saat kami minum es di lapangan sepulang sekolah karena capek mendayung sepeda. Hanya Naufal yang minum Es, aku menghindar dengan mengatakan membawa tumbler sendiri.


“Enggak tahu. Kenapa?”


“Datang enggak?”

__ADS_1


“Enggak tahu Naufal! Emang kenapa?”


“Jawab dulu datang atau enggak?”


“Ish, enggak. Kan kita udah selesai ujian, malas banget datang ke sekolah enggak ngapa-ngapain. Mending di rumahlah.”


“Dasar pemalas! Harus datang pokoknya, aku mau ikut turnamen.”


“Dih, emang bisa main?”


“Makanya datang dan saksikan!”


Sayangnya hari itu aku enggak datang karena operasi dan saat bagi raport aku lebih memilih diam di rumah membiarkan mama mengambil raportku .


Aku dengar berita kekalahan itu saat masuk di semester genap. Naufal terlihat mendiamiku sampai akhirnya entah dari mana dia mengetahui perihal operasi amandelku dan dengan kurang ajarnya dia melemparku pakai botol minuman kaleng. Bagai wartawan dia mengeluarkan pertanyaan yang sangat malas untukku jelaskan.


“Loh, katanya mau tidur.” Ibu berdiri membawakan buah yang telah dipotong.


“Lihat album lama dulu.”


“Terima kasih ya, ma.” Mama tersenyum mengusap kepalaku.


“Tidur dulu, nanti lihat lagi. Kamukan capek.”


Membasuh wajah dan mengganti pakaian aku menghampiri kasur. Menyalakan kipas angin yang terpasang di dinding kamar. Tersenyum menatap langit-langit tempat bola lampu terpahat.


Dari kelas satu SMP sampai kelas tiga aku selalu mendapat kelas yang sama dengan Naufal. Sayangnya, ketika masuk SMA Naufal pindah ke Jawa dan lanjut sampai kuliah di sana. Kita masih tetap sering ngobrol lewat pesan dan bertemu saat dia kembali ke Medan.


Pernah ada hari di mana aku mendaki dengannya dan Dandi marah. Padahal dibanding Dandi, Naufal lebih berpengalaman soal mendaki. Di Jawa, Naufal bahkan sudah mengibarkan bendera di puncak gunung Semeru.


Bicara tentang mereka tidak akan habis.


Pernah ada hari Naufal bilang akan mengajakku ke Rinjani. Tidak hanya Rinjani, dia bilang jika aku ke Jawa dia akan membawaku berpetualang. Fotonya saat di Sabana Merbabu adalah pesan terakhir yang dia kirim sebelum mulai menjauh dariku.


Kupikir itu karena dia sibuk. Lama-lama aku terbiasa dengan keasingan yang kurasa di awal. Bahkan hingga berbulan tidak mendapat pesan darinya jadi terasa biasa saja. Walau tetap terasa berbunga saat dia mengirim pesan meski hanya berupa ucapan maaf untuk selamat lebaran idul fitri.


Berita kepergian luka tanpa obat. Aku tidak yakin akan mencintai orang lain jika tiap hal yang kulakukan mengingatkan pada dirinya. Terlalu banyak hal yang sudah aku lewati dengannya. Sampai-sampai ketika menjalin hubungan dengan lelaki lain aku merasa ‘aku dulu seperti ini dengan Naufal’ dan hal itu membuatku jadi enggan menjalin hubungan.


***

__ADS_1


Aku terbangun saat jam dinding berbunyi menunjukkan hari sudah pukul empat pagi bersamaan dengan perut keroncongan. Ah, aku telah melewatkan makan malam. Membersihkan diri ke kamar mandi aku keluar menuju dapur mencari makanan yang bisa dimakan.


Nasi goreng kampung dengan telur dadar kurasa cukup mengganjal perut yang lapar. Usai membersihkan peralatan makan dan menghabiskan sepiring nasi goreng aku kembali ke kamar. Membongkar isi koper dan mulai merapikan sedikit-sedikit.


Menemukan tas carrier berisikan sepatu dan sandal gunung, senter, sleeping bag, matras dan tendanya juga peralatan masak, makan dan minum yang dulu pernah kupakai untuk mendaki membuat sebagian diriku tertarik untuk main ke gunung lagi. Melihat bagaimana bintang-bintang berkumpul. Merasakan debaran demi mencapai puncak dengan angin yang sibuk memeluk menghadirkan dingin.


Suara ketukan pintu dari ibu yang menyuruh bangun untuk bersiap sholat shubu membuatku kembali merapikan tas carrier dan menyimpanya kembali dalam lemari. Aku mengambil wudu’ dan pergi ke ruang sholat yang sudah diisi ayah dan ibu. Dila sedang masa istimewa.


Usai menunaikan kewajiban sebagai umat muslim aku memutuskan untuk pergi ke lapangan merdeka dengan mengendarai motor yang biasa Dila pakai. Ini bukan hari minggu jadi hanya beberapa orang yang terlihat melakukan lari pagi. Biasanya kalau hari minggu lapangan ini akan ramai dipakai untuk orang yang berolahraga dan juga jualan. Akan ada senam, lari, bersepeda, lapangan ini tidak pernah sepi di minggu pagi sampai malam.


Dan saat sabtu malam menuju minggu anak muda yang kasmaran, ataupun yang gila foto untuk dimasukkan ke sosial media akan meramaikan lapangan ini. Enggak cukup sampai di sana, anak-anak yang tergabung dalam organisasi atau komunitas biasanya juga akan meramaikan lapangan ini.


“Ku pikir salah ngenali orang, ternyata emang si Dea. Apa kabar? Lupa?” aku yang sedang duduk usai menegak air mineral menatap lelaki yang kini duduk di samping kanan mengisi bagian kosong bangku lapangan.


“Bang Ridho. Aduh, lama enggak jumpa ya kita. Ya ampun, apa kabar bang?” ularan tangan disambut bang Ridho dengan ramah.


Bang Ridho senior di SMAku dulu yang sering ikut dengan aku dan Dandi naik gunung. Lebih tepatnya kami yang sering ikut bang Ridho ngetrip bareng teman travelnya. Ke pantai, gunung, bahkan ngamen dengan bayaran berupa sampah dulu sering kami lakukan. Kami akan sengaja ngamen dan siapa yang nonton harus membayar kami dengan sampah. Ini sebenarnya demi mengurangi buang sampah sembarangan.


“Sehat. Bukannya kamu tinggal di Bandung ya?”


“Baru aja kemarin sampai di Medan. Aku rencana mau kerja di Medan aja biar sekalian jaga orang tua.”


“Jaga orang tua itu artinya kamu belum menikah?”


“Hahahaha. Belum ada yang mau, bang.”


“Bacotmu itu bilang enggak ada yang mau. Yakin ni aku banyak cowok yang sudah kamu tolak cintanya. Enggak merendah untuk meroket.” Aku tertawa sebagai jawaban.


“Masih sering ke gunung?”


“Aduh, sejak di Bandung aku enggak lagi main ke gunung.”


“Ah, sayang banget dong. Di Jawa banyak gunung malah enggak main ke gunung.”


“Teman kantorku enggak ada yang main ke gunung, bang.”


“Masa? Kamu aja yang kurang bergaul pasti. Aku ajak naik gunung malam minggu mau enggak?”


“Malam minggu ini?”

__ADS_1


“Iyalah.”


“Mau bangetlah!”


__ADS_2