
Setelah perjalanan melintasi samudera dan benua akhirnya Mama Joice dan Bayu sampai di bandara terakhir. Mereka berdiri menunggu sopir pribadi yang sedang mengambil mobil di tempat parkir.
Sebuah sedan berlogo lingkaran biru putih keluaran terbaru seri 7 berhenti tepat di hadapan mereka. Paman Jo, sopir pribadi yang sudah bertahun - tahun menjadi orang kepercayaan keluarga Bayu. Sejak Papanya masih hidup.
" Bagaimana perjalanan Anda Nyonya Joice? " Sapa Paman Jo kepada Mama Joice. " Cukup melelahkan Johannes ( nama lengkap Paman Jo). "
Mama Joice duduk di belakang Paman Jo dan mengambil tissue untuk mengusap dahinya yang mulai berkeringat karena cuaca cukup panas, matahari cukup terik sore itu dengan warna emasnya.
" Golden Hours. " Gumam Bayu. " Nikmatilah waktumu." Mama Joice menoleh kearah Bayu yang duduk disampingnya.
Semasa Bayu sekolah, dia sering menikmati waktu sore hari di balkon rumahnya. Yang menghadap ke laut lepas. Namun karena Papanya meninggal dan Mama Joice memilih untuk tinggal di luar negri. Maka rumah itu dijual.
Dan Bayu memilih tinggal di apartement pusat kota untuk tempat singgahnya. Ini mempermudah Bayu akses ke kantornya. Lebih efisien waktu.
Jarak kantor Bayu dan apartemen hanya bersebelahan dan masih satu gedung. Bayu tidak akan terkena dampak macet ibukota. Dan selalu datang on time saat meeting.
" Apakah Mama lelah? " Bayu memijit pelan pundak Mama Joice. " Tentu saja aku lelah, aku sudah bukan anak muda lagi. Yang meskipun menempuh perjalanan panjang. Masih sempat berkumpul dengan teman - teman untuk sekedar minum kopi di Coffeeshop. Pergilah kalau kamu mau pergi, aku mau beristirahat setelah ini. "
Bayu tersenyum penuh kemenangan, Mama Joice sudah memberinya lampu hijau untuk keluar menemui teman - temannya.
" Mama yang terbaik. Cup. " Bayu memeluk Mamanya dan mencium pipinya. " Kamu sama seperti Papamu, pandai merayu. " Mama Joice tertawa dan menepuk lengan Bayu.
" Sibuk? " Bayu mengirim pesan ke nomor Andrew. " Kenapa? " Satu pesan dari Andrew masuk ke ponsel Bayu dengan cepat. Ternyata saat yang sama Andrew akan menelpon Bayu. Menanyakan kehadirannya di pesta pertunangannya.
__ADS_1
Tak sabar Andrew langsung menekan tombol untuk menelpon Bayu. Bayu yang saat itu juga hendak menelpon Andrew sangat kebetulan dengan panggilan masuk dari Andrew.
" Gimana Ndrew? " Sesaat setelah Bayu menyentuh ikon hijau di layar ponselnya. " Dimana lo Bay? Lo dateng kan Men? Came on, apa kamu berpikir akan melewatkan pesta pertunangan sahabatmu ini?" Andrew mengendurkan dasinya dan melepas jas nya.
Ponsel di telinganya ia tumpu dengan pundaknya. Setelah Andrew melepas jas nya dan keluar dari ruangannya. Rheia melambaikan tangannya, Andrew menyambutnya dengan melebarkan kedua lengannya dengan jas di genggamannya.
Andrew memeluk Rheia yang berjalan menuju arahnya dan memeluknya. " Sebentar Bay, ada yang mau ngomong sama kamu." Andrew memberikan telponnya kepada Rheia.
" Siapa?" Bisik Rheia kepada Andrew. Andrew menunjukkan nama di layar ponselnya. Dengan segera Rheia meraih ponsel Andrew " Tuan Bayu, Anda datang kan? Apakah kesibukan Anda lebih penting dari pesta pertunangan sahabat Anda? "
Belum mendapat jawaban Rheia melanjutkan obrolannya, " Kamu akan menyesal melihat betapa cantiknya sahabatku nanti di hari pertunanganku dan kamu tidak sempat berfoto dengannya. Dengan gaun yang sudah kupilih untuknya nanti mendampingiku saat acara. "
" Maafkan aku Rheia, sebenarnya aku ingin sekali datang. Tapi....." Belum sempat Bayu memberi penjelasan Rheia sudah menyahut, " Baiklah kalau begitu Tuan Bayu Samudera. Mungkin Anda adalah orang yang super sibuk. Jadi tidak dapat hadir di pesta pertunanganku. " Rheia mengembalikan ponsel yang ia pegang kepada pemiliknya.
" Nih, temen kamu susah sekali hadir ke acara pertunangan kita." Rheia memasang wajah cemberut.
Sampai di depan lift, Andrew mematikan telponnya. " Bagaimana? Apa dia bisa datang? " Rheia masih penuh harap Bayu bisa datang.
Jawaban yang sama sebelum Andrew menutup telponnya. " Dia bilang tadi aku usahakan. Tapi tinggal besok, bagaimana dia mengusahakan? "
Bayu tersenyum menutup telponnya, dia sengaja tidak memberitahukan bahwa dia sudah sampai dan akan hadir besok.
Mamanya di sebelahnya hanya menggelengkan kepala tahu akan anaknya yang suka mengerjai teman - temannya.
__ADS_1
Anjani baru saja keluar dari kamarnya saat ayahnya baru saja masuk kedalam rumah. " Papa sudah pulang? " Papanya tersenyum, " Kebetulan meeting ditunda. Makanya Papa pulang lebih cepat."
" Papa sudah memesan makanan via online. Kamu tunggu saja, Papa mandi sebentar. Nanti kalau sudah datang. Kamu bisa minta tolong pelayan siapin makanannya. Untuk kita makan malam. " Papa Reihan segera masuk ke kamarnya.
Bel rumah Anjani berbunyi, seorang pelayan tanpa diminta langsung mengambil makanan karena tadi Tuannya sempat memberi tahunya sebelum berbicara dengan Anjani tadi. Dengan segera dia menyiapkan makanan untuk makan malam.
Papa Reihan keluar dari kamar dan sudah terlihat segar karena habis mandi. Papa Reihan sudah mengenakan baju rumah yang santai. Kaos polos berwarna putih dan celana selutut berbahan soft jeans.
Anjani sudah menunggu di meja makan karena tadi membantu pelayannya untuk menyiapkan makan malam. Papa Reihan menghampiri Anjani dan duduk di kursi biasa tempat tuan rumah duduk.
Papa Reihan membeli dim sum untuk makan malam. Sebuah kompor portable untuk meja dan diatasnya panci dari bahan aluminium stainless sudah penuh dengan sayuran dan seafood.
Anjani dan Papa Reihan membuka mangkuk mereka, " Papa mau Anjani ambilin? " Papa Reihan mengangguk, " Boleh, kuahnya yang banyak ya?" Anjani tertawa pelan, " Yah, Papa sudah berasa mesen di abang tukang bakso aja. "
" Hehe,, Papa sih tidak merasa seperti itu. Tapi kalau kamu merasa begitu ya bolehlah buat bahan tertawa. " Papa Reihan tertawa lebar.
Setelah makan malam selesai, " Anjani kenyang sekali. Terimakasih Pa. " Papa Reihan senang Anjani mulai tertawa lagi setelah beberapa hari ini terlihat sering melamun dan tidak fokus diajak bicara. Papa Reihan hanya menebak mungkin sedang ada masalah dengan Bayu. Hanya waktu itu saatnya belum tepat untuk bertanya.
Kali ini Papa Reihan mencoba menanyakannya kepada Anjani, " Sayang, beberapa hari ini Papa kehilangan senyum dan tawa kamu. Apa ada sesuatu yang mengganggu di fikiranmu? Kamu bisa cerita ke Papa. "
Anjani diam, " Kok Papa bisa tahu ya? Padahal beberapa hari ini. Aku sudah berusaha menyembunyikannya dari Papa. " Gumam Anjani tanpa berani mengutarakannya.
" Hem, itu Pa. Mikirin pertunangan Rheia. " Anjani berusaha mencari topik yang sekiranya dapat mengalihkan perhatian Papa Reihan.
__ADS_1
" Papa tahu? Gaun yang akan dipakai Rheia sangat indah. Tempatnya di outdoor penuh dengan bunga mawar. " Anjani menggambarkan detail pesta pertunangan Rheia.
" Tidak mungkin kalau hanya urusan itu sampai membuatmu murung. Tapi tidak apa - apa, mungkin kamu belum siap bercerita. Baiklah Papa istirahat dulu. Nanti kalau kamu sudah siap. Kamu bisa cerita ke Papa. " Papa Reihan hendak bangkit dari duduk.