
Pagi hari Bayu sudah bangun, keluar dari kamarnya. Melihat beberapa kado untuk anak - anak itu kemudian meletakkannya lagi.
Bayu ke dapur dan menyeduh secangkir kopi. " Sudah bangun kamu, Bay ? " Bayu mengangguk, " Sudah, Ma. Mama sudah rapi, tidak mau sarapan dulu? " Bayu berjalan ke arah Mamanya.
" Mama harus menjemput Anjani dulu, baru kesana bersama - sama. " Mama Joice meletakkan tasnya di sofa. " Mama mau kopi? " Bayu meraih cangkir kosong dan menunjukkan kepada Mamanya.
" Teh hangat saja. " Mama Joice duduk di sofa dan memeriksa tasnya. Setelah dirasa lengkap, Mama Joice menutup kembali tasnya.
Bayu menyeduh air panas dan mengambil satu teh seduh lalu mencelupkan kedalam cangkir yang berisi air panas. Bayu mengambil tiga sachet gula rendah kalori dan meletakkannya di cawan kecil samping cangkir teh serta sebuah sendok teh.
" Anjani sudah bangun, Ma? " Bayu menghampiri Mamanya untuk meletakkan cangkir teh. " Sudah, dia juga sudah siap. "
Bayu menyesap kopinya yang dibawa ke meja tempat dia dan Mamanya duduk. Setelah minuman mereka habis. Bayu membantu Paman Jo membawa barang bawaan Mamanya dari apartement atas menuju ke mobil Mamanya.
Setelah melihat mobil Mamanya berlalu, Bayu masuk kedalam mobilnya untuk segera menuju kantor cabang miliknya.
Pagi ini Bayu mengatur meeting dengan beberapa manager tentang sumbangan untuk pembangunan rumah belajar.
Andrew yang semalam mengecek pekerjaan karyawan melalui laptop nya tertidur di sofa panjang ruang kerjanya di rumah. Begitu bangun Andrew segera bersiap - siap ke kantor.
Anjani yang sempat sarapan roti tawar dan meminum segelas susu segera berdiri di pintu rumahnya. Mama Joice memintanya untuk segera siap agar tidak membuang waktu.
Mobil yang Mama Joice tumpangi masuk ke halaman rumah Anjani. Anjani yang sudah siap, dengan segera masuk ke dalam mobil.
" Pagi Tante. " Anjani membuka pintu mobil dan tersenyum menyapa Mama Joice. Mama Joice mempersilahkan Anjani masuk. " Masuk sayang. Kamu sudah sarapan? " Anjani mendudukkan dirinya disamping Mama Joice.
" Sudah Tante. Aku meminum segelas susu dan sepotong roti. " Anjani menggenggam tangan Mama Joice, " Tante sudah sarapan? "
" Sudah, tadi Bayu membuatkan teh panas. " Mama Joice menepuk - nepuk pelan tangan Anjani.
__ADS_1
Paman Jo melajukan mobilnya menuju perkampungan kumuh tempat Anjani biasa mengajar. Anjani menunjukkan rute lewat sebuah aplikasi. Paman Jo hanya tinggal mengikuti petunjuk arahnya.
Mama Joice dan Anjani membicarakan makan siang anak - anak nanti. Anjani setuju dengan rencana Mama Joice.
" Apa selama ini tidak ada donatur yang ingin menyumbang untuk anak - anak ini? " Anjani menggeleng pelan. " Ada pihak yang akan mendirikan mall megah di daerah situ. Namun harga beli tanah tidak sebanding. Itu sebabnya warga menolak. Dan pernah ada donatur yang berpura - pura menyumbang tapi ternyata hanya ingin para orangtua anak - anak itu melepaskan tanah mereka."
" Hemhh.. " Anjani mendengus pelan. " Kasihan anak - anak itu. Terkadang mereka curiga dengan orang - orang baru yang akan berbuat baik. "
Mama Joice tersenyum, " Kamu tenang saja Anjani, anak - anak lebih peka dengan mereka yang berhati tulus. " Mata Anjani berbinar, " Terimakasih atas kebaikan Tante. "
" Sama - sama sayang. " Anjani berhambur ke pelukan Mama Joice.
" Bay, kamu akan membuat rumah belajar? " Tanya Andrew melalui sambungan telepon. " Iya, bagaimana menurutmu? " Bayu ingin mendengar pendapat Andrew.
" Bagus Bay, apa boleh aku turut menyumbang? " Andrew tertarik dengan rencana Bayu.
" Boleh saja. Infokan saja apa yang ingin kamu sumbangkan. Atau kalau perlu data anak - anak disitu, buku baca atau kelengkapan alat tulis. Kamu bisa menghubungi staff ku. Dia akan memberikan datanya untukmu." Bayu sedang memeriksa beberapa berkas. " Baiklah, nanti aku hubungi lagi. " Andrew menutup telponnya.
" Selamat pagi Nyonya Joice, saya senang akan kunjungannya. Mari silahkan. " Bu Welas menunjukan arah untuk masuk ke rumahnya.
Ketika sedang berjalan bersama, " Saya sungkan, rumah saya sangat kurang layak untuk tamu seperti Nyonya. " Bu Welas merendah. " Jangan begitu, niat kita kan sama. Demi anak - anak disini. "
Paman Jo menunggu di mobil. Sampai nanti diberi aba - aba untuk mengeluarkan barang - barang. Barulah Paman Jo membawanya.
" Ini gubug saya Nyonya. " Bu Welas mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumahnya. Mama Joice duduk di kursi usang terlihat tambalan disana sini. Namun Mama Joice tidak risih dengan kondisi itu.
Meskipun sempit, Bu Welas rajin membersihkan rumahnya sehingga tetap terkesan rapi. Mama Joice memandang sekeliling rumah Bu Welas. Terpampang foto anak - anak dan beberapa ada Anjani di dalamnya.
" Tante mau minum ? " Anjani menawarkan minuman untuk Mama Joice. " Nanti saja. " Mama Joice masih belum haus. " Itu mereka datang. " Bu Welas menujuk rombongan anak - anak yang biasa datang untuk belajar.
__ADS_1
" Selamat pagi. " Sapa mereka serentak. " Mama Joice menoleh. Anak - anak dengan pakaian sederhana berdesak - desakan masuk ke rumah Bu Welas.
" Hayo, cium tangan dulu. " Bu Welas mengajarkan mereka. Satu per satu anak - anak itu mencium tangan Anjani dan Mama Joice.
Mama Joice menelpon catering untuk segera datang. Sambil menunggu catering, Mama Joice ingin mendengar satu per satu mereka memperkenalkan diri.
Giliran anak terakhir pihak catering telah sampai. Mama Joice yang sudah mempersiapkan semua. Pihak catering masuk kerumah Bu Welas. Cukup untuk anak - anak makan disitu.
Anjani, Mama Joice dan Bu Welas ikut makan disitu. Paman Jo sudah dipesankan nasi kotak sehingga bisa makan di mobil.
Setelah selesai acara makan - makan. Paman Jo yang sudah di telpon Mama Joice segera datang dan memberikan barang - barang berupa alat tulis kebutuhan mereka.
Selesai semuanya selesai Bayu datang. " Hallo anak - anak. Apa kabar kalian semua? " Anak - anak menjawab serempak, " Kabar baik." Anjani segera berdiri, " Kamu menyusul kami kesini? " Anjani yang masih tidak percaya dengan kedatangan Bayu masih terus menatap Bayu.
" Itu putra saya Bu, namanya Bayu. " Mama Joice memperkenalkan kepada Bu Welas. " Oh ini putra Nyonya Joice? Tampan sekali. " Bu Welas berdiri bersama Mama Joice lalu berjalan kearah Anjani. Bu Welas menyenggol pundak Anjani dengan pundaknya. Anjani tersipu malu.
" Bang, abang pacar kak Anjani ya? " Celetuk salah seorang anak disitu." Kenapa kamu bertanya begitu? " Bayu berjongkok agar tinggi mereka sejajar.
" Karena aku suka kak Anjani, dia baik juga cantik. Jadi kalau Abang mau jadi pacar kak Anjani lawan aku dulu. " Bayu terkekeh dengan anak kecil di depannya.
" Baiklah, abang kalah dari kamu. " Bayu masih menahan tawanya. " Bagus, Abang tidak boleh membawa kak Anjani pergi dari sini. Kami masih perlu kak Anjani. Jangan bawa kak Anjani kami. Aku akan melindungi kak Anjani. " Anak itu membusungkan dadanya.
" Aku tidak akan membawa kak Anjani bersamaku kalau dia tidak mau. Biar kak Anjani yang memilih nanti. " Bayu berdiri.
Seorang ibu berteriak memanggil anaknya, " Iya Makkk..." Anak di depan Bayu menyahut. Anak itu berlari ke arah ibunya. " Jaga adek mu. Emak mau masak sambil nyuci. " Anak itu membopong adek nya masuk kedalam rumah.
Semua yang ada disitu tertawa terbahak - bahak.
....
__ADS_1
Terimakasih Readers atas dukungan,
like, komen, dan vote nya 🙏🏼.